SEORANG warga asal Korea Utara (dua dari kanan) diamankan oleh polisi Malaysia karena dicurigai  sebagai tersangka dalam kasus terbunuhnya Kim Jong-nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Pria tersebut diketahui bernama Ri Jong Chol dan digelandang ke kantor polisi di Sepang, Malaysia, Sabtu (18/2). (*) Park Jung-ho/News1 via reuters. 

Apa yang dialami seorang warga Kebraon, sebut saja namanya Karin (38) di luar dugaan. Dia benar-benar merasa tertipu dengan seluruh warga orang di perumahannya.

Sebab, seluruh warga di perumahan tersebut kompak tidak memberitahu bila rumahnya menjadi ajang maksiat antara suaminya Donjuan (40) dan selingkuhannya Sephia (44).

========================
Umi Hany Akasah - Radar Surabaya
========================

Saat proses sidang gugatan cerainya digelar di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, pekan lalu, Karin berkali-kali menuntut untuk menjual rumah hasil kerjanya bersama sang suami.

Sayangnya, Donjuan enggan menjualnya karena ia merasa 20 persen dari rumah yang dibeli itu adalah hasil pemberian almarhum ibunya.

“Tapi, saya sudah ngeri lihat rumah itu. Bayangin saja, suami kelonan tiap hari sama Sephia, ya di rumah itu,” kata Karin dengan amarah membara di sela-sela sidang gugatan cerainya.

Diakui Karin, hatinya sekarang ini sedang rapuh. Sakitnya sungguh luar biasa. Tak hanya karena dikhianati suaminya, namun, tetangga, sahabat, tukang sampah, bahkan satpam di perumahannya juga mengkhianatinya.

Menurut ibu satu anak itu, rumah di Kebraon seyogianya adalah rumah pertama baginya.
Namun, karena sang suami sering dinas ke luar kota, maka Karin seringkali memilih tinggal di rumah ibunya yang sudah tua di kawasan Pandegiling.

Apalagi, Karin hanya dua bersuadara. Kakaknya menikah dan tinggal di Semarang. “Karena saya yang dekat dengan ibu, ya jadilah saya tinggal di sana,” ungkap Karin.

Anaknya juga sekolah di kawasan Surabaya Pusat, sehingga ia tak perlu jauh-jauh mengantarkan anaknya ketika tinggal di rumah ibunya.

Maka dari itu, ia menengok rumah Kebraon kadang dua kali dalam seminggu. Meski demikian, wanita yang juga guru itu mengaku cukup aktif berkomunikasi dengan warga sekitar.

Dia menitipkan rumahnya pada tetangga maupun satpam perumahan setempat. “Saya malah memberi uang bulanan sendiri ke satpam. Tetangga kanan kiri, dan kadang kalau ada kue, saya kasih ke orang se-RW,” jelasnya.

Kebaikan itu seakan dibalas dengan air tuba. Karin mengetahui jika rumahnya itu seringkali didatangi Sephia dan Donjuan. Suaminya yang seringkali mengaku dinas di luar kota, justru tinggal di rumah Kebraon bersama selingkuhannya.

“Warga tahu semua. Saya tahunya itu dari satpam baru. Ia menuduh kalau saya tamu dan bukan pemilik rumah, karena yang sering ke rumah itu justru wanita lainnya,” jelas Karin.

Seperti tersambar petir, Karin akhirnya menanyakan satu per satu pada tetangganya. Ternyata semuanya mengakui kalau Donjuan dan Sephia memang sering tinggal di rumah itu.
Warga menolak untuk memberi tahunya dengan dalih kasihan dengan Karin.

“Kasihan sih kasihan. Tapi, masak membiarkan perselingkuhan di kampungnya sendiri. Sudah enggak fair itu. Makanya sama enggak mau menengok lagi rumah kebohongan itu, “ pungkasnya.

(*/opi/jpnn)

PENDOPO - Warga Desa Benakat Minyak, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mulai dilanda keresahan. Pasalnya, ‎tiang listrik milik Perusahan Listrik Negara (PLN) Areal Lahat Rayon Pendopo, yang berdiri di tepian jalan menuju desa ini saat ini ternyata miring sehingga memberikan ancaman tersendiri bagi warga yang melintas di bawahnya. Miringnya tiang  PLN tersebut, diakui warga sekitar sudah terjadi sejak Agustus 2016 lalu. Dan warga sendiri telah menyampaikan hal tersebut ke pihak PLN Pendopo.

Anjas, warga Desa Benakat Minyak mengatakan bahwa kemiringan tiang listrik tersebut semakin hari semakin miring, dan membuat warga sekitar menjadi khawatir apabila tiang tersebut roboh, yang ditakutkan menimpa warga yang sedang melintas di musim hujan disertai angin kencang.

"Yang paling parah sudah tiga bulan terakhir ini. Dimana kemiringannya semakin condong. Jadi apabila ada hujan, kami tidak berani melintas di jalan yang berada di sekitar tiang tersebut. Apalagi posisi tiang itu persis berada di tikungan jalan," kata Anjas, Kamis (16/2).

Sementara itu, Manager PLN Areal Lahat Rayon Pendopo M Ikhsan berjanji akan segera memperbaiki tiang listrik yang miring di desa tersebut.‎ "Akan kita tindaklanjuti dan segera kita lakukan perbaikannya," tukasnya. (ebi)

MUARA BELITI - Masyarakat di wilayah Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas (Mura), merugi akibat lamanya pemadaman aliran listrik. Warga mengaku tidak memiliki persiapan karena pemadaman aliran listrik terlalu mendadak dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Hendrik (43) tukang las, asal Desa F Trikoyo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Mura menuturkan, pemadaman listrik berlangsung Rabu (15/2) sekitar pukul 07.30 WIB. Warga mengaku cukup kesulitan, karena ‎hingga pukul 15.00 WIB aliran listrik juga hidup. Padahal,  rata-rata masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten Mura, sangat ketergantungan dengan aliran listrik.

"Sekarang kami tidak bisa bekerja, ini banyak orderan terbengkalai karena mati lampu dari pagi. Saya tidak bisa berbuat banyak karena profesi kami mengandalkan aliran listrik," kata Hendrik.

Hendrik menuturkan, kerugian secara materi juga dikeluhkan oleh sejumlah warga lainnya. Bahkan sejumlah warga yang memiliki usaha warnet, las listrik, dan usaha lainnya memilih menutup lapak. Warga berharap pihak PLN segera melaksanakan perbaikan, sehingga pemadaman aliran listrik bisa diatasi dengan cepat.

"Kita tidak tahu apa penyebab aliran listrik padam. Tapi Jelas kami rugi tidak bisa melaksanakan aktivitas dan bekerja dengan maksimal," ucapnya.

Terpisah, Randy, kepala cabang PLN Rayon Muara Beliti menyatakan, pemadaman memang dilakukan secara serentak di tiga wilayah seperti Kota Lubuklinggau-Kabupaten Mura, dan Muratara. Menurutnya, ketiga wilayah ini mendapatkan suplai aliran listrik dari gardu induk yang berada di Pedatang Kota Lubuklinggau.

"Sekarang lagi ada kerusakan trafo di gardu induk Petanang mas. Jadi untuk melakukan perbaikan kita padamkan aliran listrik dulu," ujarnya. (cj13)

TEBING TINGGI - Warga Kabupaten Empat Lawang, khususnya di Kecamatan Tebing Tinggi bakal mendapat hiburan baru di bidang kesenian tradisional. Pasalnya, Rabu (15/2) telah diresmikan Paguyuban Kesenian Kuda Lumping Jaranan Kreasi Karang Taruna Bedeng Depo.

Peresmian yang digelar di lapangan dekat Stasiun Kereta Api Tebing Tinggi itu cukup menghibur warga sekitar, mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga orang tua. Peserta paguyuban menampilkan atraksi kuda lumping, tari reog serta atraksi ekstrem makan bambu, beling dan kebal dicambuk.

Ketua Umum Paguyuban Jaranan Kreasi Bedeng Depo, Supaham mengatakan paguyuban ini baru berdiri 15 September 2016 lalu. Anggotanya berjumlah 41 orang yang semuanya berasal dari warga Bedeng dan warga Depo, Kecamatan Tebing Tinggi, Empat Lawang.

"Kami ingin melestarikan seni tradisional asli Jawa ini di Empat Lawang dan kami merasa Empat Lawang masih kurang kesenian tradisionalnya. Mudah-mudahan paguyuban ini bisa diandalkan dan bisa menghibur warga Empat Lawang," kata Supaham. (eno)

MURATARA - Dua oknum warga di Dusun 1, Desa Karang Anyar, Kecamatan Muara Rupit, Kabupaten Muratara diciduk polisi karena kedapatan mengedarkan senjata api rakitan (Senpira). Salah seorang pelaku atas nama Hamdi (38) terpaksa dihadiahi timah panas karena melakukan perlawanan kepada polisi saat akan ditangkap. Satu tersangka lainnya diketahui bernama Muhamad (38) warga yang sama.

Dua tersangka ditangkap saat melakukan transaksi jual beli senpira di Jalan Lintas Sumatera, tepatnya di depan RSUD Rupit, Kecamatan Rupit, Selasa (14/2) sekitar pukul 04.00 WIB.

Penangkapan terhadap dua tersangka ini berawal dari informasi masyarakat mengenai maraknya aksi kriminalitas yang terjadi di Desa Karang Anyar terhadap pengguna jalan. Para pelaku kerap beraksi mengunakan senpira. Lalu pihak kepolisian mendapat informasi adanya warga yang melakukan jual beli senpira.

Selanjutnya, seorang anggota melakukan penyamaran untuk menjadi pembeli senjata ilegal tersebut. Setelah melakukan komunikasi dengan tersangka, mereka sepakat akan melakukan transaksi persisnya di depan RSUD Rupit dan menjual senpira ilegal dengan harga Rp3 juta per pucuk. Sampai di lokasi, anggota yang menyamar beserta sejumlah anggota lainnya turun dari kendaraan, lalu dihampiri oleh kedua tersangka. Tidak mencurigai si pembeli adalah polisi yang menyamar, kedua tersangka mengajak ke semak-semak untuk secepatnya melakukan transaksi dan membayarkan sejumlah uang yang telah disepakati.

Namun sayang, keduanya langsung di ringkus anggota Polres Mura yang saat itu dipimpin langsung oleh Kanit Pidum Ipda Bertu Harydka. (cj13)

MURATARA - Sejumlah warga di Desa Desa Biaro, Kecamatan Karang Dapo, Kabupaten Muratara, dihebohkan dengan munculnya api di rumah dinas Camat Karang Dapo, Senin (13/2) sekitar pukul 23.00 WIB. Api diduga disengaja disulut oleh oknum warga yang merasa tidak puas dengan kinerja pemerintah daerah.

Kapolres Mura AKBP Hari Brata melalui Kapolsek Karang Dapo AKP Yani menuturkan, saksi yang melihat pertama kali kejadian tersebut adalah Lurah Karang Dapo Sulpani yang saat itu tengah menginap di perumahan dinas camat Karang Dapo. Tiba-tiba saksi melihat adanya kobaran api yang muncul di ruangan tengah rumah.

Saksi berlari berusaha membangunkan camat Karang Dapo yang saat itu tengah tertidur di ruangan lainnya. Setelah kejadian itu, camat Karang Dapo mengamankan mobil yang diparkirkan di depan rumah dan membunyikan klakson untuk memberi tanda kepada warga adanya kejadian kebakaran. Setelah warga berdatangan ke rumah camat, api sudah berhasil dipadamkan. Atas kejadian itu tidak didapati korban jiwa dan hanya bagian plafon ruangan tengah yang terbakar. (cj13)

Baca selengkapnya Sumatera Ekspres Rabu (15/2)

PALEMBANG - Kerja keras warga yang tinggal di Perumahan Istana Arofatuna, Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Km 7 Palembang yang resah karena sering melihat buaya muncul di kolam ikan, terobati.

Buaya Sinyulong yang panjangnya 3,2 meter dan diameter 1,1 meter berhasil ditangkap warga, Selasa (14/2) sekitar pukul 11.00 WIB. Predator sungai itu tertangkap karena masuk perangkap jaring yang dipasang warga. Tak ayal, tertangkapnya buaya tersebut menarik perhatian warga.

Jamal, salah satu warga yang berhasil menangkap buaya mengatakan bahwa dia bersama rekannya sudah dua minggu ini mengintai hewan buas tersebut. Sudah beberapa hari warga melihat kemunculan buaya di permukaan air. "Baru hari ini (14/2) pacak ditangkap," kata Jamal. (dom)

Baca selengkapnya Sumatera Ekspres Rabu (15/2)

 

MUARA ENIM - Jalan lintas Desa Pancuringkih, Kecamatan Semende Darat Laut (SDL) yang menuju tiga kecamatan di Semende masih memperihatinkan. Soalnya, kondisi jalan longsor ini belum juga diperbaiki dengan pengerasan maupun cor beton atau aspal. Warga yang melintas di jalan ini, mengaku sangat was-was sekali, sebab kondisi jalan jika hujan sangat licin jika tidak berhati-hati. Padahal, jalan utama terdekat dari Kabupaten Muara Enim ini sangat penting bagi warga yang ingin keluar masuk menuju Kota Muara Enim.

"Kita berharap, kondisi jalan saat ini dapat segera direalisasikan pembangunannya," kata Khailani, warga yang melintas, Selasa (14/2).

Dikatakannya, jalan yang saat ini sudah dibuka membuat jalan baru, kondisinya cukup menanjak. Jika tidak berhati-hati, pengendara bisa tebalik dan tergelincir, khususnya kendaraan roda dua. Harapan warga, Pemprov Sumsel dapat mempercepat pembangunan jalan tersebut agar masyarakat tiga kecamatan tidak susah saat melintas.

Menurutnya, jika perbaikan jalan karena longsor ini tak kunjung dibangun, seakan-akan daerah Semende ini menjadi terisolir, karena kondisi jalan cukup susah dilewati. Apalagi di saat hujan, warga bisa mengurungkan niatnya untuk keluar dari Semende menuju Muara Enim.

"Dengan jalan sudah dibuka sudah cukup, tapi peningkatannya agar dapat sesegera mungkin," tuturnya.

Camat Semende Darat Laut (SDL) Fauzi S Sos menyatakan, kalau jalan tersebut memang sudah dijadikan prioritas provinsi untuk diperbaiki. Masyarakat diharapkan agar dapat bersabar. Memang kondisi jalan di saat hujan sangat licin, untuk itu pengguna jalan dapat berhati-hati saat melintas. (roz)

WARGA Kelurahan/Kecamatan Alang-Alang Lebar, Palembang sepertinya masih diragukan komitmennya dalam menjaga kebersihan. Betapa tidak, banyak warga membuang sampah di TPA dadakan yang terletak di Jl Jepang, Km 10,5 atau tepatnya di depan Gudang Dinas PU dan Tata Ruang Palembang.

Padahal, petugas Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Palembang sudah beberapa kali membersihkan TPA dadakan tersebut dengan mengangkut tumpukan sampah.

Dedi, salah satu warga mengaku kesal dengan ulah warga yang membuang sampah bukan pada tempatnya. Sudah tahu, pinggir jalan tersebut bukan TPA, warga masih saja banyak yang membuabg sampah. "Rata-rata sampah dibuang pada pagi hari," kata Dedi.

Dia berharap Pemkot Palembang menangkap warga yang membuang sampah sembarangan tersebut. Pelaku yang tertangkap langsung disidang melanggar Perda. "Harus ado efek jero biar warga dak sembarangan buang sampah," ujarnya. (dom)

Halaman 1 dari 24

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca