PALEMBANG - Kondisi Sungai Musi, saat ini telah masuk dalam kategori tercemar berat. Bahkan bisa dibilang memprihatinkan. Kondisi pencemarannya sudah masuk kategori berat berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (LHP) Provinsi Sumsel sepanjang 2016.
Kepala Dinas LHP Provinsi Sumsel, Edward Chandra didampingi Kabid Pengendalian Pencemaran, Pengelolaan Sampah, B3 dan Limbah B3, Dani Fachrial mengungkapkan, sepanjang aliran sungai dari Pulokerto (Gandus) sampai ke kawasan Borang, dipenuhi limbah industry dan domestik (masyarakat). Sehingga butuh kerja ekstra semua lapisan untuk melakukan pembenahan pencemaran bisa diatasi. Langkah pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Perkotaan yang digagas Dinas PUPR Kota Palembang bisa dijadikan solusi.
“Di samping itu, warga di bantaran sungai maupun anak sungai juga harus diedukasi. Kita tahu pencemaran tak hanya dipengaruhi oleh cuaca, tapi juga ekosistem yang ada di sekitar sungai, industri maupun masyarakat,” katanya.
Untuk industry yang berada di tepi Sungai Musi, lanjut Edward, sebagian besar telah memeiliki pengolahan limbah yang sesuai peraturan yang berlaku. Karenanya, pencemaran saat ini didominasi limbah domestik yang berasal dari masyarakat.
Untuk itu, agar lebih efektif, ungkap dia, warga di bantaran sungai juga dibuatkan IPAL komunal. Sebab, sepanjang 2016, Dinas LHP Sumsel ayng melakukan pemantauan di 72 titik sungai seluruh Sumsel dengan metode storet. Hasilnya, 41 lokasi tercemar berat dan 31 lokasi tercemar ringan.
Sungai Musi, berada di bagian yang tercemar berat. Edward mengungkapkan, ada tiga titik pantau di sepanjang Sungai Musi di kawasan Kota Palembang. Yakni kawasan Pulokerto (Gandus), kawasan Jembatan Ampera, dan Borang. Di ketiga titik pantau itu, jika dibiarkan kondisinya bisa mengkhawatirkan.“Penilaian tersebut didasarkan pada Pergub. Jika berdasarkan Kemeneg LHK, bisa turun, karena status Sungai Musi di pusat masuk kategori nomor dua,” lanjutnya.
Terpisah, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, Hadi Jatmiko mengungkapkan, pihaknya selama ini telah mengampanyekan terkait pencemaran Sungai Musi. Pengawasan oleh pemerintah melalui instansi terkait semestinya lebih diperketat kendati telah memiliki IPAL sendiri. Sebab, limbah domestic hanya sebagian kecil dari pencemaran yang terjadi. “Dengan tidak diawasi secara ketat, tidak ada jaminan jika perusahaan-perusahaan tersebut tidak membuang limbah mereka ke sungai musi. Belum lagi banyaknya tongkang batubara saat ini yang mencuci dengan air sungai. Masyarakat justru jadi korban,” tegasnya.
Bahkan, Walhi Sumsel juga memiliki data mengenai temuan-temuan terkait pencemaran sungai. Beberapa wilayah yang berada di sekitar lokasi pembuangan limbah industri, hotel dan restoran mengalir ke sungai. Ini menyebabkan warga di sekitarnya terpapar penyakit kulit. Banyak pula ikan yang mati akibat rusaknya ekosistem.
“Masyarakat akan lebih mudah dengan edukasi dan bantuan teknis. Tapi perspektif yang harus diubah adalah pengawasan terhadap industri. Belum lagi kalau bicara pariwisata, jelas beban yang dihadapi adalah untuk meningkatkan kualitas air sungainya,” tukas Hadi didampingi Manajer Database dan Informasi, Hairul Sobri. (aja/ce1)

KONSEP berkebun di Agro Wali Tani tak hanya menghasilkan buah sesuai harapan, tapi juga jadi tempat wisata alternatif. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk membeli atau sekadar berfoto-foto gratis di kebun melon yang berlokasi di Jl Talang Jering, Kenten Laut, Banyuasin.
    Di lahan 6.000 meter persegi itu terdapat kebun buah melon putih (lokal), melon madu (honeydew melon), dan labu botol asal Filipina.  Lokasinya tidak jauh, sebelum SMAN 14 Palembang. Dari simpang Jl Pangeran Ayin, Kenten Laut, Banyasun, masuk ke lokasi kebun hanya 2 km.
      Hanya saja, tidak ada panduan khusus menuju kebun wisata buah tersebut. Patokannya, hanya plang Perumahan T36 Talang Jering Mas, masuk mengikui jalan cor yang hanya muat satu mobil, menyusuri ilalang dan perkampungan.
    “Memang bagi yang belum ke sini, agak susah nyarinya. Pokoknya setelah masuk, patokannya bangunan sarang walet ini,” ucap Sauri, pengurus kebun wisata melon, Rabu (1/2) lalu.  Saat koran ini datang, dia sedang menimbang buah melon yang hendak dibeli pengunjung.
    Kata Sauri, wisata kebun melon di Talang Jering ini termasuk baru. Sebelumnya, bosnya buka di Talang Jambe. Untuk di Talang Jering, baru mulai tanam sembilan bulan lalu. “Ada 6.000 batang yang ditanam, melon madu sekitar 2000 batang. Sisanya melon putih (lokal). Yang labu botol Filipina, cuma di tengah tempat jalan itu saja,” terangnya.
    Dikatakan, puncak panen buah melon ini pada Januari 2017 lalu. Kini, tinggal sisa dari buah yang sudah dipanen. “Waktu masa panen, hari Minggu bisa sampai 400 pengunjung yang datang. Mereka ya beli, sambil foto-foto,” ucapnya. Untuk melon putih, Rp18 ribu per kg, melon madu Rp25 per kg, dan labu botol Filipina Rp30 ribu per kg.
    Pengurus lainnya, Waluyo, sibuk memotong batang melon yang sudah dipanen. Menurutnya, batang melon masanya hanya satu kali panen. Seperti pohon pisang, ditebang setelah panen. Setelah pembersihan kebun, bulan ini juga mereka akan mulai menanam buah melon lagi.
    Dijelaskan, dari masa tanam ke panen, sekitar empat atau lima bulan. “Jadi mungkin panennya sekitar lebaran Idulfitri. Nah, bolehlah kalau mau beli buah atau berwisata pas panen,” imbuhnya.
    Sebelumnya, sambung Waluyo, batang melon dalam polybag, menjalar pada tiang bamboo yang ditancapkan. Tapi kini bambu telah diganti besi, supaya lebih awet.  “Sistemnya sudah hidroponik, jadi lebih mudah mengurusnya,” pungkasnya.  (air/ce4)

MURATARA-Lembaga Seni Budaya Islam Indonesia (Lesbumi), membidik kabupaten Muratara sebagai destinasi wisata baru di Indonesia. Ketua Lesbumi Dr Marzuki menuturkan, pihaknya akan melakukan penilaian selama tiga hari di Daerah Otonomi Baru (DOB) ini, untuk menggali dan melihat langsung potensi wisata.

Potensi alam di wilayah kabupaten Muratara saat ini mulai dilirik oleh berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional. Daerah paling utara dari Provinsi Sumsel yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi dan Bengkulu serta bukit barisan ini, memang terkenal dengan panorama alam yang indah.

Ketua Lesbumi, Dr Marzuki yang menyambangi langsung wilayah Muratara menuturkan, setelah melihat beragam potensi di daerah pemekaran ini pihaknya menyatakan akan mengundang langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk melaksanakan berbagai kegiatan di Muratara. ‎Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan di kabupaten Muratara diantaranya, grand envend for awakening Muratara, Gala Dinner Ambasasadors and enterpreneurs, international journalism videografi and photo contest, contemporary tarditional islamic Arts Performance, Tourism Summit And National Product Expo dan Indie Movie Festival.

‎"Kegiatan yang dilaksanakan nantinya bersifatnya internasional, dengan launching kegiatan dilaksanakan di ibukota negara, Jakarta. Dan dilanjutkan kegiatan langsung di Kabupaten Muratara," katanya, saat melaksanakan tatap muka dengan bupati Muratara H Syarif Hidayat di ruang Bappeda Muratara, Senin  (30/1).‎  (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (31/1). 

 

JAKARTA – Melaka menaruh harapan besar terhadap jumlah kunjungan wisatawan dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Tahun lalu, pelancong dari Indonesia jumlahnya mecapai 678.572 orang atau meningkat 14,75 persen (591.324 orang). Jumlah tersebut menjadikan pelancong asal Indonesia memiliki potensi besar bahkan tahun lalu terbesar ketiga setelah Cina dan Singapura. Total jumlah wisatawan Indonesia yang ke Malaysia sendiri mencapai 2,45 juta orang.

“Pelancong kesehatan adalah penyumbang terbesar, dari 102.608 orang sebanyak 93.959 orang Indonesia untuk berobat dan cek kesehatan,”ujar Yab Datuk Seri Utama Idris Bin Haron, Ketua Menteri Melaka saat seminar dan travel mart pelancongan Melaka, Kamis (19/1).

Di Melaka, terdapat empat rumah sakit yang menjadi tujuan utama yakni Putra Specialist Hospital, Mahkota Medical Centre, Hospital Pantai dan Oriental Melaka Straits Hospital.

“Karena cost perawatan yang diberikan sangat efisiensi, perbandingannya separuh lebih dengan Singapura dan di Jakarta,” ungkapnya.

Namun, kedepannya tak hanya diharapkan pada tujuan kesehatan saja, tapi Melaka juga berharap pada bidang pendidikan. Terlebih tawaran yang diberikan dengan harga yang kompetitif.

“Saya berharap lebih banyak paket wisatawan Melaka dapat dijual sepanjang Travel Mart Jakarta kali ini, selain menjalin hubungan kerjasama erat kedua belah pihak dalam pelbagai bidang lain. Melalui kegiatan ini kami harapkan jumlah kunjungan dari Indonesia sebanyak 1 juta orang,” bebernya.

Tahun ini, kerajaan Melaka di bawah agensinya Tourism Melaka menargetkan 16,5 juta pelancong. Sebelumnya, jumlah kunjugan sebanyak 16,28 juta orang.

“Meningkat 545.222 orang atau 3,46 persen,” tambahnya.

Untuk 2020 mendatang, Malaysia sendiri menargetkan jumlah kunjungan sebanyak 36 juta orang. “Melaka meletakkan angka 20 juta sebagai sasarannya dalam tempo tersebut, optimis akan tercapai,” ungkapnya.(rei)

PAGARALAM – Meningkatkan kunjungan wisatawan, Pemerintah Kota Pagaralam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), sudah mengagendakan serangkaian kalender event wisata yang menjadi andalan.

“Serangkaian kalender event wisata yang sudah diagendakan dan menjadi andalan, yakni Jelajah Alam Besemah Motor Trail, Festival Kopi pada Oktober 2017 mendatang, juga kalender wisata Besemah Expo Juni mendatang, bertepatan dengan HUT Kota Pagaralam dan objek wisata bersifat keilmuan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pagaralam, Samsul Bahri.

Event wisata tahunan tersebut, sambung Samsul juga didukung pihak ketiga sebagai penyelenggara berbagai kegiatan. “Intinya, lebik baik satu event yang menjadi andalan, tapi berisi,” ujarnya. (ald)

Sebagai wisata kuliner di pinggiran Sungai Musi, warung makan kapal terapung menjadi daya tarik tersendiri bagi pengujung di sekitar Pasar 16 Ilir. Kondisi ini dimanfaatkan para pemilik warung nasi untuk mengais rezeki dengan menjual berbagai pindang pegagan yang tak asing untuk disantap pengunjung.
Mbak Sri, pemilik warung kapal terapung di kawasan Pasar 16 Ilir mengaku, sudah lima tahun ini membuka warung kapal terapung di pinggiran Sungai Musi. Menu utama yang disediakan adalah pindang. Bersama tiga pedagang lainnya, dirinya sengaja mengubah kapal kayu miliknya menjadi semacam warung makan.
Semua harga makanan yang ditawarkan termasuk murah. Seperti pindang patin, gabus, nila, dan ikan baung dijual Rp20 ribu per porsi.” Sementara untuk pindang tulang dijual Rp25 ribu per porsi,” terangnya saat diwawancarai koran ini sambil melayani pembeli, kemarin (13/1).
Warung yang beroperasi mulai pukul 06.00-18.00 WIB ini biasanya diserbu pengunjung di sekitar kawasan 16 Ilir mulai dari pedagang hingga serang ketek. Omzetnya, lanjut Sri, tergolong lumayan. “Kini saya sudah bisa mempekerjakan empat pegawai,” tuturnya sambil menolak menyebut angka penghasilannya per hari.
Meskipun kapal yang digunakan milik sendiri, tapi dalam sebulan ia harus membayar sewa lapak serta keamanan dan lainnya sekitar Rp2 juta. Selain itu, setiap dua tahun sekali, wanita yang tinggal di kawasan Jakabaring itu harus mengeluarkan biaya perbaikan kapal sebesar Rp10 juta. “Karena kalau tidak diganti, bagian lantai kapal akan rusak karena lama terendam dalam air,” tuturnya.
Saat ini, dari lima warung terapung yang jadi warung makan, kini hanya tinggal satu. “Karena sepi, makanya ditutup,” imbuhnya. Dirinya berharap keberadaan warung terapung tersebut dapat dipromosikan pemerintah sebagai bagian dari wisata Sungai Musi. Karena selain bisa menikmati pemandangan sungai sekaligus dapat menyantap makanan khas Palembang.
Irwan, salah satu pengunjung mengaku, kerap makan di warung kapal terapung karena harga makanan yang ditawarkan terjangkau. Meskipun dengan mudah pindang ditemukan di berbagai rumah makan di Metropolis, tapi suasana goyangan ombak di Sungai Musi yang membuatnya berbeda. “Sensasinya beda,” akunya. (uni/ce1)

MUSI RAWAS- Pesona objek wisata Danau Aur di wilayah Kecamatan Sumberharta, Kabupaten Musi Rawas (Mura), semakin berkesan. Pemerintah Daerah berjanji akan mengoptimalkan objek wisata alam ini dengan melibatkan semua pihak baik negeri maupun pihak swasta.

Suprihartin (46) seorang pengelola objek wisata Danau Aur menuturkan, saat ini keberadaan Danau Aur di mata masyarakat semakin memikat. Menurutnya, danau alam yang dulunya hanya difungsikan sebagai sumber kebutuhan air bersih sekarang sudah bisa menjadi sumber pendapatan ekonomi warga sekitar.

"Pengunjung sekarang tidak datang ke sini di waktu libur saja atau cuma pengunjung lokal. Tapi yang datang ke sini lebih banyak masyarakat dari luar daerah, setiap hari kami harus buka untuk sekarang alhamdulillah pengunjungnya sudah ramai jadi kami kebagian rezeki," katanya, Rabu (11/1).

Suprihartini mengaku, untuk menjamin kebetahan pengunjung di objek wisata alam ini, mereka memerlukan support dari Pemerintah, berupa sejumlah peningkatan fasilitas umum. (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (12/1). 

LUBUKLINGGAU - Walikota Lubuklinggau, H SN Prana Putra Sohe berkeinginan mewujudkan Kota Lubuklinggau dikenal di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel). Bahkan orang nomor satu di Bumi Sebiduk Semare itu berkeinginan agar kota Lubuklinggau dapat mengalahkan Palembang sebagai kota metropolis dalam skala kecil.

"Lubuklinggau bisa mengalahkan Palembang dalam skala kecil. Tidak hanya tahu Palembang saja, Lubuklinggau juga," kata Nanan saat bertemu Wakil GM harian Sumatera Ekspres, H Mahmud, Selasa (10/1).

Menurutnya, kota Lubuklinggau cukup banyak tempat destinasi wisata diantaranya objek wisata air terjun Temam dan kawasan wisata Bukit Sulap. Bahkan kawasan destinasi wisata Bukit Sulap sudah cukup dikenal. Sebab di Bukit Sulap juga pernah digelar lomba balap sepeda Nasional maupun Internasional.

"Mau sepedaan disitu, sangat oke," bebernya.

Disamping itu, Nanan berharap adanya kegiatan-kegiatan atau event sepeda di Bukit Sulap dapat mengenalkan atau mempromosikan kota Lubuklinggau. "Sumeks itu bukan di Palembang saja, di Lubuklinggau juga," celetuknya. (wek)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (11/1). 

 

PAGARALAM - Menindaklanjuti instruksi Walikota Pagaralam agar seluruh Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Kota Pagaralam untuk turun mensweeping sampah di kawasan wisata yang ada di Kota Pagaralam, tadi instruksi dari Wako tersebut sudah mulai dijalankan oleh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Pagaralam dengan langsung bergerak untuk mensweeping sampah tersebut.

Pantauan di lapangan, terlihat sejumlah ASN langsung bergerak untuk membersihkan sampah di kawasan perkebunan teh yang terletak di sepanjang Gunung Gare hingga Puncak Rimau. Walikota Pagaralam, Hj Ida Fitriati MKes,melalui Asisten II, Drs H Syafrani mengatakan, pembersihan ini menindaklanjuti instruksi Walikota untuk melakukan pembersihan sampah di kawasan wisata yang ada di Kota Pagaralam, khususnya daerah perkebunan teh.

“Pembersihan ini dilakukan di sepanjang jalan Gunung Gare sampai ke Tugu Rimau. Hal ini menindaklanjuti instruksi langsung dari Walikota, mengenai pembersihan di kawasan wisata yang ada di Kota Pagaralam," ujarnya.

Adapun pembersihan ini, lanjut Syafran,melibatkan sebagian ASN di lingkungan Pemerintah Kota Pagaralam. Hal ini dikarenakan di beberapa instansi masih melakukan pemindahan dan pembersihan di kantor masing-masing. (ald)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (6/1). 

 

MUARADUA- Sekitar 1500 biker dari berbagai provinsi di Indonesia bakal meramikan event Trail Adventure Jelajah Alam Serasa Seandanan (JASS) ke 6 yang diselenggarakan comunitas motor trail Muaradua Trail Adventure (MUTAR) 14-15 Januari mendatang.

Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten OKU Selatan, JASS ke 6 tahun 2017 yang mengusung misi promosi Wisata OKU Selatan itu akan dilaksanakan lebih spektakuler dari tahun-tahun sebelumnya. Panitia menyediakan hadiah utama (grandprize) satu unit mobil Daihatsu New Ayla, empat unit sepeda motor  KLX dan hadiah hiburan lainnya.

Ketua umum MUTAR, Tofan Maulana melalui Seksi Humas Ade Putra Martabaya  mengatakan, sampai hari ini lebih dari 800 peserta sudah mendaftar. Peserta tersebut berasal daria berbagai komunitas motor trail dari berbagai Provinsi di Indonesia. Seperti dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Jambi, Sumatera Utara, Lhoksmawe Aceh, Banten.

“Pastinya bakal diramaikan pula peserta dari dalam Sumsel yang saat ini sangat antusias untuk ikut event JASS ke 6 tahun 2017 ini,”kata Ade, pria yang lebih akrab disapa Jejen ini. (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (3/1).

 

Halaman 1 dari 21

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca