Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kemb...

Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kembangkan Pupuk Kompos

‎MURATARA - Kendati banyak peminat, pengelolaan kotoran hewan ...

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

PAGARALAM - Anggaran untuk pelaksanaan Pilkada 2018 di Sumsel mendapat...

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

PAGARALAM - Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati ‎Mkes mengi...

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

PAGARALAM – Meski dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (A...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan Tersangka

JAKARTA- Mantan Walikota Jakarta Barat Fatahillah akhirnya ditetapkan ...

Pertamina Punya Jubir Baru

Pertamina Punya Jubir Baru

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) masih melakukan rotasi di internal. ...

Nilai Tukar Rupiah Stabil

Nilai Tukar Rupiah Stabil

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masi...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selat...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selatan dan Afrika

SURABAYA - PT INKA (Persero) berambisi menguasai pasar perkeretaapian ...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan Online

JAKARTA - Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Harryadin Mahar...

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

JAKARTA - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenri...

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

SEKAYU – Permasalahan pembayaran gaji guru honorer SMA/SMK s...

Kejar Senjata Milik Teroris

Kejar Senjata Milik Teroris

JAKARTA— Densus 88 Anti-Teror berupaya melakukan antisipasi ...

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

JAKARTA – Kedatangan perwakilan Masyarakat Anti-Korupsi Indo...

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

JAKARTA – Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) tur...

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

LONDON – Investigasi teror Westminster berlanjut. Kemarin (2...

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

JAKARTA – Indonesia dan Prancis akan teken beberapa kesepaka...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkon...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkong

HONGKONG – Sosok Fidel Castro berbaring tenang di atas kasur...

Pasang QR Code di Produk Obat

Pasang QR Code di Produk Obat

JAKARTA – Pengawasan obat-obatan dan makanan diakui Badan Pe...

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

MARTAPURA – Tak ada lagi rasa takut kawanan bandit bersenpi ...

Perbankan Beri Kemudahan

Perbankan Beri Kemudahan

PALEMBANG - Pelaku perbankan memberi kemudahan dan biaya bunga ringan ...

PALEMBANG–Sejumlah pembenahan masih akan terus dilakukan di kawasan trotoar wisata Sudirman.Sehari pasca dilaunching Walikota Palembang Harnojoyo, Kepala Dinas Pariwisata, Isnaini Madani mengungkapkan, pihaknya akan merangkul pemilik toko di kawasan sekitar trotoar tersebut untuk menjual pernak-pernik pendukung pariwisata.

Semisal, kerajinan tangan dan tekstil khas Palembang. Sebab, kedepan trotoar wisata ini diharapkan tidak hanya dikunjungi oleh muda-mudi kota Palembang, melainkan pula wisatawan lokal dan mancanegara.

“Sudah kami komunikasikan dengan travel guide, untuk membawa wisatawan menikmati hiburan dan kuliner di kawasan trotoar wisata Sudirman ini. Sehingga, dengan dukungan pemilik toko yang buka sampai malam dan menjual pernik pariwisata akan melengkapi kawasantersebut,”kata Isnaini dibincangi Kamis (23/3).

Ia menjelaskan, jika rapat evaluasi secara menyeluruh bersama stakeholder, pegiat seni dan kuliner yang terkait akan segera dilakukan. Kendati demikian, pascalaunching, trotoar wisata Sudirman tersebut akan mulai aktif di akhir pekan ini. (aja)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3).

 

MUSI RAWAS-Wacana normalisasi objek wisata Danau Aur di Kecamatan Sumberharta, Kabupaten Musi Rawas (Mura), membuat masyarakat cemas. Warga takut dengan adanya normalisasi, objek wisata di Danau Aur akan ditutup dan kehilangan pengunjung.

Supri, seorang pedagang di Danau Aur yang sempat di bincangi menuturkan, mereka sudah mendengar mengenai adanya upaya pemerintah daerah yang akan melakukan normalisasi di Danau Aur tersebut. Menurutnya, otomatis kegiatan yang dilaksanakan pemerintah tersebut akan menutup lapak-lapak usaha yang selama ini sudah dirintis.

"Ya jelas kalau di normalisasi, objek wisatanya akan di tutup dan kami tidak bisa beraktivitas. Kami tidak tahu teknisnya bagaimana, tapi
informasi normalisasi secepatnya akan di lakukan pemerintah," katanya, Rabu (15/3).

Dia mengaku kecemasan tersebut juga dirasakan oleh sejumlah pedagang lainnya yang berada di sekitar lokasi objek wisata Danau Aur.

Selain informasi normalisasi para pedagang juga mengaku sudah santer mendengar adanya upaya pemerintah daerah untuk membuat objek wisata tandingan di Danau Gegas, Kecamatan Sukakarya. (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (16/3). 

 

MUARADUA– Makin maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangan di sepanjang jalan sekitar Pasar Tradisional Banding Agung, Kelurahan Bandar Agung,  dianggap mengganggu jalan bagi pengunjung wisata Danau Ranau. Tak mau keberadaan pedagang makin membuat kondisi pasar semrawut, Camat Banding Agung turun tangan langsung menertibkan para pedagang kaki lima agar kembali menempati lokasi los yang telah tersedia di dalam pasar.

Penertipan para pedagang kaki lima yang itu dilakukan Camat Banding Agung, Samsyul Basri SSos MM di dampingi langsung unsur muspika dan Kepala Pasar, Agus Cahyono. Penertiban sendiri tidak mendaptkan perlawanan melainkan berjalan aman dan tertib. Para pedagang mau pindah dari lapak di tepi jalan karena lokasi pasar yang disediakan tetap strategis dan masih mudah dijangkau.

Dalam penertiban itu, Camat Banding Agung meminta para pedagang kembali menempati lokasi pasar inpress, terkecuali jika kondisi pasar inpres tidak mampu menampung para pedagang, maka para pedagang boleh berdagang di sisi jalan.

“Hanya saja tetap memperhatikan lingkungan dan sarana jalan umum jangan sampai mengganggu lalu lintas,”ujarnya.

Basri SSos MM menjelaskan, penertiban dilakukan karena keberadaan pasar Banding Agung yang terletak langsung di Tepi Pantai sudah mengganggu pengguna jalan. Bukan saja itu, dampak aktivitas pasar itu terhadap lingkungan membuat tepian danau menjadi kotor.  (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (15/3)

 

MUARADUA- Belum maksimalnya pengelolaan sejumlah sarana perasana pendukung di kawasan wisata Danau Ranau, membuat Bupati OKU Selatan meminta pihak pengelolaan sejumlah fasilitas seperti mes dan objek yang terdapat di kawasan wisata Danau Ranau dipihak ketigakan.

Langkah itu diambil agar pengelolaan kawasan wisata Danau Ranau benar-benar bisa memberikan efek lebih baik tentunya dalam hal meningkatkan pendapatan bagi daerah. “Dengan dikelola oleh orang yang memang ahlinya dan professional, tentu dampaknya akan meningkatkan nilai tambah bagi PAD,”kata asisten II yang mendampingi langsung Bupati bertemu dengan pihak PT Varieta Pusri di Palebang, Senin (13/3).

Dikatakan Rahmat, keinginan Bupati Popo Ali itu sangat sederhana, bagaimana agar sejumlah pengelolaan sejumlah asset dan potensi besar di kawasan wisata Danau Ranau bisa dioptimalkan. Muaranya Danau Ranau bisa memberikan efek bagi Kabupaten OKU Selatan khusunya bagi pneingkatan prekonomian masyarakat di sekitar Danau Ranau. (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (14/3). 

 

MUSI RAWAS-Suasana objek wisata alam andalan di Kabupaten Musi Rawas (Mura), persinya di Bukit Cogong, Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, semakin terabaikan. Sejumlah sarana maupun fasilitas umum yang dibangun pemerintah daerah, semakin tidak karuan akibat tidak terawat rusak di makan zaman.

Cukup banyak dana yang digelontorkan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan serta pelestarian alam di sekitar objek wisata alam Bukit cogong. Baik itu pembangunan gazebo, fasilitas bermain anak-anak, tribun pentas, siring air terjun, dan kolam renang, mushola, lapak pedagang dan jalan setapak.

Namun semua fasilitas yang sudah tersedia tersebut, saat ini tidak digunakan lagi. Karena objek wisata alam di Bukit Cogong sudah mulai dilupakan pengunjung. Lantaran tidak terawat, sejumlah fasilitas tersebut sebagian mengalami keruskan, seperti gazebo, kandang hewan, serta fasilitas umum lainnya.

Mar, warga yang melintas di sekitar objek wisata yang sempat dibincangi, menuturkan, sepinya pengunjung Bukit Cogong bukan hanya di hari-hari kerja, namun saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu, kondisinya juga sama.

"Sejak satu tahun terakhir tidak ada lagi pengunjung yang ke sini, padahal sudah banyak fasilitas yang dibangun pemerintah. Sayang banyak bangunan yang tidak terawat," katanya, Senin (13/3).  (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (14/3). 

 

TEBING TINGGI - Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Empat Lawang tahun ini akan berencana membangun dan mempercantik objek wisata air Sungai Musi, Pantai Terusan, yang berada Desa Terusan Lama, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.

"Tahun ini Pantai Terusan yang ada di Desa Terusan Lama akan kita bangun Dermaga Jeti yang bisa digunakan untuk event-event perlombaan air. Dananya bantuan dari pusat," ujar Kepala Dispar Empat Lawang, Hj RR Endang, Rabu (8/3).

Kemungkinan besar Dermaga Jeti tersebut akan digunakan saat lomba serapungan (berhanyutan dengan bambu) dalam rangka HUT Kabupaten Empat Lawang yang sebentar lagi diadakan. Selain itu juga akan digunakan saat event Internasional Musi Triboatton.

"Dermaga Jeti nantinya bisa digunakan untuk lokasi start lomba Serapungan dan Musi Triboatton. Rencananya start Musi Triboatton tidak lagi di Desa Tanjung Raya karena kejauhan," jelas Endang.

Dilanjutkannya kalau untuk masalah lahan warga, itu sudah tidak menjadi kendala lagi. Psalnya Warga Desa Terusan Lama yang berada di lokasi Pantai Terusan tersebut, sudah siap menyiapkan tanahnya. (eno)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (9/3). 

 

Siapa tak kenal Kampung Al-Munawwar di Kelurahan 13 Ulu? Saat ini, lokasi tersebut semakin familiar setelah diresmikan Gubernur Alex Noerdin sebagai destinasi wisata religi di metropolis. Apa saja perubahan yang terjadi?
------
Fajar Wiko – Palembang
-----

Deretan paving block terbaris rapi menyambut kedatangan tamu. Dari pintu gerbang masuk, ke bagian tengah hingga belakang kampung yang tembus ke pinggir Sungai Musi. Tak seperti dulu, saat masih berlantai semen yang dihiasi sejumlah pecahan akibat termakan usia. Pengecatan juga telah dilakukan di rumah-rumah warga keturunan Arab, yang diperkirakan telah masuk ke Bumi Sriwijaya lebih 300 tahun silam.
Kampung Al-Munawwar, sudah tak seperti dulu. Lingkungannya kini semakin bersih. Sejumlah tempat sampah juga telah disediakan atas bantuan Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel dan Pemkot Palembang.
Termasuk sebuah fasilitas kesehatan yang diberi nama Klinik As-Syifa 2. Nama tersebut sangat lekat dengan warga setempat, yakni bahasa Arab yang berarti kesembuhan. Keberadaan klinik itu untuk mengakomodir keperluan masyarakat sekitar akan fasilitas kesehatan. Selain nantinya untuk menyambut tamu yang datang berkunjung.
Seperti yang diungkapkan Abdurrachman bin Muhammad bin Al-Munawwar, Ketua RT 24, yang juga keturunan langsung dari pendiri kampung. Ia mengungkapkan, sejak dicanangkan pemerintah sebagai salah satu destinasi wisata, kunjungan dan pemasukan bagi warga perlahan meningkat.
Seperti saat koran ini datang kemarin, secara kebetulan Abdurrachman tengah menyambut kedatangan Ny Wahyu Bintono, istri Kapolresta Palembang AKBP Wahyu Bintono Hari Bawono. “Inilah yang kita tonjolkan. Tidak ada yang mau dilebih-lebihkan. Memang sekarang makin banyak yang datang. Rata-rata mereka tahu dari informasi di internet. Ada juga yang dari mulut ke mulut. Awalnya dari Festival Gerhana Matahari tahun lalu,” bebernya.
Sebab, diakui Abdurrachman, Kampung Al-Munawwar memang salah satu Kampung Arab yang lengkap, dengan objek wisata pemandangan sungainya. Meskipun di Palembang masih banyak lagi Kampung Arab lainnya. “Ini tentunya punya daya tarik yang juga bisa dimaksimalkan,” tuturnya.
Abdurrachman mengaku, dirinya juga tetap menjaga silaturahmi dengan rekan dan kerabatnya yang lain. Sehingga, warga keturunan Arab di Palembang siap memberikan dukungan bagi pembangunan, khususnya terkait kemajuan pariwisata di metropolis dan Sumatera Selatan (Sumsel).
“Selama ini memang orang luar tahunya Palembang atau Sriwijaya dominan dengan keturunan Cina, juga warga Asli Palembang. Padahal, ada juga keturunan Arab. Karenanya, melalui program-program pemerintah, keberadaan Kampung Al-Munawwar ini makin dikenal,” jelasnya.
Kini, program yang akan dijalankan oleh Abdurrachman yakni meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di lingkungannya. Peningkatan tersebut menyangkut kemampuan berbahasa dan sikap terhadap orang lain atau tamu (hospitally). Seperti cara menyambut tamu yang datang. Karena, sebut dia, pengunjung yang datang tidak hanya dari Palembang dan Sumsel, dari dari Indonesia dan luar negeri. “Pastinya mereka memiliki sikap dan budaya yang beragam,” jelasnya.
Termasuk juga, ungkap dia, mengenai rencana Pemkot Palembang menunjuk rumah salah satu warganya untuk menjadi homestay bagi para wisatawan mancanegara (wisman). Kendati belum yakin 100 persen mengenai rencana tersebut, Abdurrachman mengaku, harus dibicarakan sematang mungkin.
Kekuatiran Abdurrachman beralasan. Karena selama ini kehidupan masyarakat di Kampung Al-Munawwar, khususnya urusan keagamaan sangat terjaga. Bila rencana homestay itu berjalan, lanjut Abdurrachman, dengan adanya percampuran budaya dan informasi, ditakutkan akan memberi pengaruh negatif bagi warga asli Kampung Al-Munawwar.
“Jadi, kami masih akan membahas lagi dengan pemerintah. Kami juga masih berembuk. Apalagi di sini, rumah masih ditinggali. Sehingga belum bisa untuk memberikan satu rumah khusus bagi pendatang,” jelasnya.
Pada bagian lain, Kepala Dinas Pariwisata Sumsel Irene Camelyn Sinaga yang beberapa waktu lalu dibincangi mengungkapkan, Kampung Arab Al-Munawwar merupakan satu dari beberapa objek wisata yang terdapat di bantaran Sungai Musi. “Itu juga dikoordinasikan dengan Pemkot Palembang, dalam hal ini lurah yang kami mintakan bantuan untuk ajukan homestay pada rencana kita ke depan,” imbuhnya. Pemilihan homestay nantinya berdasarkan penilaian yang dilakukan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani juga mengakui, kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab Kampung Al-Munawwar semakin terkenal. Karenanya, ia mengaku, pihaknya juga berpromosi melalui jejaring sosial di dunia maya.
Tak hanya bagi lokasi tersebut, tetapi uga lokasi lain yang memang punya daya tarik dan potensi wisata untuk dikembangkan. Apalagi, usai Asian Games pada 2018 mendatang atau pada 2019, Pemkot Palembang menargetkan kunjungan 2,5 juta wisatawan. “Kami punya peranan mempromosikan, didukung pula oleh masyarakat melalui jejaring sosial. Sehingga daya tarik wisata di Kota Palembang semakin dilirik. Tujuannya memang untuk meningkatkan kunjungan,” ujarnya. (*/ce1)

‎MUSI RAWAS-Sejumlah warga di Kelurahan Sumber Harta, Kecamatan Sumberharta, Kabupaten Musi Rawas (Mura), mengeluhkan kerusakan jalan yang terjadi persis di depan objek wisata Danau Aur. Warga mengaku sering terjadi kecelakaan tunggal karena adanya genangan air yang menutupi lobang di jalan sering mengganggu pengguna jalan.  

Budiman (33),  warga Kecamatan Sumberharta yang sempat dibincangi menuturkan, kondisi kerusakan jalan yang terjadi di depan lokasi objek wisata Danau Aur sudah lama terjadi. Bahkan kondisinya saat ini semakin parah seiring meningkatnya intensitas curah hujan dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya sudah sewajarnya pemerintah daerah melakukan perbaikan dijalan tersebut, karena kerusakan berada persis di depan lokasi objek wisata Danau Aur.

"Rusaknya sudah lama, semestinya diperbaiki. Jangan dibiarkan begitu  saja, kerusakan jalan juga terjadi ke arah STL Ulu Terawas sana," katanya, Rabu (1/1).

Warga mengaku cukup prihatin dengan kondisi kerusakan jalan, khususnya di wilayah Kecamatan Sumberharta. (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (2/3). 

 

PALEMBANG - Kondisi Sungai Musi, saat ini telah masuk dalam kategori tercemar berat. Bahkan bisa dibilang memprihatinkan. Kondisi pencemarannya sudah masuk kategori berat berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (LHP) Provinsi Sumsel sepanjang 2016.
Kepala Dinas LHP Provinsi Sumsel, Edward Chandra didampingi Kabid Pengendalian Pencemaran, Pengelolaan Sampah, B3 dan Limbah B3, Dani Fachrial mengungkapkan, sepanjang aliran sungai dari Pulokerto (Gandus) sampai ke kawasan Borang, dipenuhi limbah industry dan domestik (masyarakat). Sehingga butuh kerja ekstra semua lapisan untuk melakukan pembenahan pencemaran bisa diatasi. Langkah pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Perkotaan yang digagas Dinas PUPR Kota Palembang bisa dijadikan solusi.
“Di samping itu, warga di bantaran sungai maupun anak sungai juga harus diedukasi. Kita tahu pencemaran tak hanya dipengaruhi oleh cuaca, tapi juga ekosistem yang ada di sekitar sungai, industri maupun masyarakat,” katanya.
Untuk industry yang berada di tepi Sungai Musi, lanjut Edward, sebagian besar telah memeiliki pengolahan limbah yang sesuai peraturan yang berlaku. Karenanya, pencemaran saat ini didominasi limbah domestik yang berasal dari masyarakat.
Untuk itu, agar lebih efektif, ungkap dia, warga di bantaran sungai juga dibuatkan IPAL komunal. Sebab, sepanjang 2016, Dinas LHP Sumsel ayng melakukan pemantauan di 72 titik sungai seluruh Sumsel dengan metode storet. Hasilnya, 41 lokasi tercemar berat dan 31 lokasi tercemar ringan.
Sungai Musi, berada di bagian yang tercemar berat. Edward mengungkapkan, ada tiga titik pantau di sepanjang Sungai Musi di kawasan Kota Palembang. Yakni kawasan Pulokerto (Gandus), kawasan Jembatan Ampera, dan Borang. Di ketiga titik pantau itu, jika dibiarkan kondisinya bisa mengkhawatirkan.“Penilaian tersebut didasarkan pada Pergub. Jika berdasarkan Kemeneg LHK, bisa turun, karena status Sungai Musi di pusat masuk kategori nomor dua,” lanjutnya.
Terpisah, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, Hadi Jatmiko mengungkapkan, pihaknya selama ini telah mengampanyekan terkait pencemaran Sungai Musi. Pengawasan oleh pemerintah melalui instansi terkait semestinya lebih diperketat kendati telah memiliki IPAL sendiri. Sebab, limbah domestic hanya sebagian kecil dari pencemaran yang terjadi. “Dengan tidak diawasi secara ketat, tidak ada jaminan jika perusahaan-perusahaan tersebut tidak membuang limbah mereka ke sungai musi. Belum lagi banyaknya tongkang batubara saat ini yang mencuci dengan air sungai. Masyarakat justru jadi korban,” tegasnya.
Bahkan, Walhi Sumsel juga memiliki data mengenai temuan-temuan terkait pencemaran sungai. Beberapa wilayah yang berada di sekitar lokasi pembuangan limbah industri, hotel dan restoran mengalir ke sungai. Ini menyebabkan warga di sekitarnya terpapar penyakit kulit. Banyak pula ikan yang mati akibat rusaknya ekosistem.
“Masyarakat akan lebih mudah dengan edukasi dan bantuan teknis. Tapi perspektif yang harus diubah adalah pengawasan terhadap industri. Belum lagi kalau bicara pariwisata, jelas beban yang dihadapi adalah untuk meningkatkan kualitas air sungainya,” tukas Hadi didampingi Manajer Database dan Informasi, Hairul Sobri. (aja/ce1)

KONSEP berkebun di Agro Wali Tani tak hanya menghasilkan buah sesuai harapan, tapi juga jadi tempat wisata alternatif. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk membeli atau sekadar berfoto-foto gratis di kebun melon yang berlokasi di Jl Talang Jering, Kenten Laut, Banyuasin.
    Di lahan 6.000 meter persegi itu terdapat kebun buah melon putih (lokal), melon madu (honeydew melon), dan labu botol asal Filipina.  Lokasinya tidak jauh, sebelum SMAN 14 Palembang. Dari simpang Jl Pangeran Ayin, Kenten Laut, Banyasun, masuk ke lokasi kebun hanya 2 km.
      Hanya saja, tidak ada panduan khusus menuju kebun wisata buah tersebut. Patokannya, hanya plang Perumahan T36 Talang Jering Mas, masuk mengikui jalan cor yang hanya muat satu mobil, menyusuri ilalang dan perkampungan.
    “Memang bagi yang belum ke sini, agak susah nyarinya. Pokoknya setelah masuk, patokannya bangunan sarang walet ini,” ucap Sauri, pengurus kebun wisata melon, Rabu (1/2) lalu.  Saat koran ini datang, dia sedang menimbang buah melon yang hendak dibeli pengunjung.
    Kata Sauri, wisata kebun melon di Talang Jering ini termasuk baru. Sebelumnya, bosnya buka di Talang Jambe. Untuk di Talang Jering, baru mulai tanam sembilan bulan lalu. “Ada 6.000 batang yang ditanam, melon madu sekitar 2000 batang. Sisanya melon putih (lokal). Yang labu botol Filipina, cuma di tengah tempat jalan itu saja,” terangnya.
    Dikatakan, puncak panen buah melon ini pada Januari 2017 lalu. Kini, tinggal sisa dari buah yang sudah dipanen. “Waktu masa panen, hari Minggu bisa sampai 400 pengunjung yang datang. Mereka ya beli, sambil foto-foto,” ucapnya. Untuk melon putih, Rp18 ribu per kg, melon madu Rp25 per kg, dan labu botol Filipina Rp30 ribu per kg.
    Pengurus lainnya, Waluyo, sibuk memotong batang melon yang sudah dipanen. Menurutnya, batang melon masanya hanya satu kali panen. Seperti pohon pisang, ditebang setelah panen. Setelah pembersihan kebun, bulan ini juga mereka akan mulai menanam buah melon lagi.
    Dijelaskan, dari masa tanam ke panen, sekitar empat atau lima bulan. “Jadi mungkin panennya sekitar lebaran Idulfitri. Nah, bolehlah kalau mau beli buah atau berwisata pas panen,” imbuhnya.
    Sebelumnya, sambung Waluyo, batang melon dalam polybag, menjalar pada tiang bamboo yang ditancapkan. Tapi kini bambu telah diganti besi, supaya lebih awet.  “Sistemnya sudah hidroponik, jadi lebih mudah mengurusnya,” pungkasnya.  (air/ce4)

Halaman 1 dari 22

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca