PALI - Pepata lama yang mengatakan banyak anak banyak rezeki sepertinya hanya sekedar istilah belaka. Karena, ‎fakta di lapangan keluarga yang banyak anak justru rata-rata tergolong keluarga pra sejahtera atau keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan.

Untuk mendorong terwujudnya keluarga sejahtera di wilayah Bumi Serepat Serasan, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (BPPKBPPPA) Kabupaten PALI, terus mengajak masyarakat agar mengikut program Keluarga Berencana (KB).

Kepala DPPKBPPPA Kabupaten PALI, Dra Yenni Nopriani mengatakan, untuk mewujudkan itu pihaknya bahkan sampai penjuru di wilayah Kabupaten PALI, dimana sebelumnya Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) yang tersebar di seluruh kecamatan untuk menjangkau desa-desa mendata jumlah penduduk yang akan dilakukan pelayanan KB gratis.

"Kita data dahulu oleh petugas, setelah itu baru kita lakukan pelayanan KB gratis di tempat yang sudah di data. Pelayanan KB gratis ini kita lakukan terus menerus dan  terkadang dalam satu bulan kita lakukan tiga sampai empat kali," ujarnya, Selasa (28/3). (ebi)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (29/3). 

PEREMPUAN dan anak-anak menunggu untuk dirawat di Medecins Sans Frontieres (MSF) klinik di Thaker, Sudan Selatan. Warga ini  harus menunggu untuk mendapatkan perawatan medis di rumah sakit terdekat. Foto diambil Senin (20/3). (*) REUTERS/Siegfried Modola

JAKARTA - Proses mediasi sidang perceraian ustaz Al Habsyi dengan istrinya Putri Aisyah Aminah, tidak sesuai rencana. Putri memutuskan untuk tetap bercerai dengan suaminya Al Habsyi.

Putri mengatakan, tidak bisa lagi menjalani kehidupan rumah tangga dengan suami yang menikahinya pada 2006. Selain alasan poligami, ada hal besar yang membuat Putri keukeuh berpisah dengan ustaz Al Habsyi.

"Bagi saya ini cobaan untuk menguatkan saya dan menjadikan saya lebih baik lagi. Saya yakin ada hikmah di balik perceraian ini," kata Putri dalam infotainment, Selasa (28/3).

Putri dan suaminya akan menjalani proses sidang mediasi lagi Rabu (29/3). Harapan Putri, proses perceraiannya bisa berjalan lancar.

"Saya sudah ikhlas melepas ustaz Al Habsyi dengan wanita pilihannya. Saya juga tidak akan melarang dia bertemu anak-anak," ucapnya.

Putri menambahkan, anak-anaknya sudah mengetahui permasalahan orang tuanya. Apalagi Putri dan Ustaz Al Habsyi sudah pisah rumah sejak September 2016. (esy/jpnn)

JAKARTA- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kini tengah mengawasi Ayu Ting Ting dan keluarga, pascapelaporan Henry Baskoro (Enji) yang merasa dihalangi bertemu putri semata wayangnya Bilqis Khumairah Razak.

KPAI berpendapat, memisahkan anak dari ayah kandungnya ‎serta mengaburkan identitas (sang ayah), melanggar undang-undang dan HAM.

Namun, Ayu menegaskan punya alasan kuat mengapa dirinya berusaha menjauhkan Bilqis dari ayahnya. Ayu merasa ada upaya Enji untuk merebut Bilqis.

"Kenapa waktu masih di kandungan sampai perocot dicuekin. Giliran anaknya sudah besar, pintar, sehat, cantik, dan menggemaskan mau diperhatiin. Jangan maunya enak saja ya," kata Ayu.

Ayu pun tidak takut menghadapi Enji yang akan menggunakan berbagai upaya untuk mendapatkan Bilqis. Baginya, Enji sudah lama tidak ada dalam kehidupannya.

"Sudahlah, nggak usah utak-atik saya dan Bilqis yang sudah tenang. Kami juga kan tidak mengusik dia (Enji). Yang pasti saya akan berusaha menjaga Bilqis, merawat dia, kalau perlu saya sekolahin Bilqis sampai ke luar negeri," tandasnya. (esy/jpnn)

LAHAT - Rika (25), warga Desa Sukajadi, Kecamatan Pseksu, Kabupaten Lahat, geger, Rabu (22/3), sekitar pukul 15.00 WIB ditemukan tak bernyawa. Rika tewas tergantung dalam rumahnya. Kuat dugaan ibu muda itu nekat menghabisi nyawanya dengan cara bunuh diri
menggunakan tali nilon yang diikatkan di kayu penyangga atap rumah.

Peristiwa memilukan itu pertama kali diketahui Rita Mardalena (30), warga setempat yang hendak mengantar sayuran ke rumah korban. Setibanya di rumah korban Rita mendengar anak korban bernama Marisa (1,5) menangis dari dalam rumah. Dari dalam rumah terdengar Marisa memanggil ibunya itu, namun tidak ada jawaban.

Rita langsung masuk kedalam rumah, dan mendapati korban dalam keadaan posisi tubuh kaku leher terikat tali nilon berukuran kecil warnah hijau. Sedangkan Marisa berada dibawah tubuh ibunya yang sudah terbujur itu. Kaget bercampur takut, Rita langsung memberi tahu warga di sekitar rumah korban, yang membuat suasana geger.

Warga berbondong-bondong mendatangi kediaman korban, kemudian memotong tali yang terikat di antara tubuh korban dan kayu bagian atas di dalam rumah korban.

"Saat ditemukan korban bersama dengan anak perempuannya yang berumur 1,5 tahun, suaminya bernama Bujang Musakir umur 40 tahun, sedang berada di kebun," kata Kapolres Lahat, AKBP Roby Karya Adi SIk, disampaikan Paur Humas Ipda Sabar Tunut. (irw)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (23/3). 

 

LUBUKLINGGAU - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Lubuklinggau, Senin (20/3) menyambangi kediaman Adel (9) di Gg Bambu, RT 01, Kelurahan Senalang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II.

Kedatangan KPAI tersebut untuk melihat langsung kondisi Adel pasca kehilangan sosok Ibunya yakni Rina (34), yang tewas akibat terbawa arus di pembuangan air (siring) dekat rumahnya hingga terseret arus sejauh 200 meter ke muara sungai Kelingi. Almarhumah tewas saat hendak menolong putra bungsunya Irfan yang hingga hari ini belum ditemukan dan masih dilakukan pencarian disungai Kelingi.

Kajadian yang menimpa keluarga itu pada Kamis (18/3) sekitar pukul 18.00 WIB. Tak ayal, pihak KPAI Lubuklinggau mengkhawatirkan kondisi Adel, yang mana saat kejadian juga sempat terseret arus air di siring saat bermain dengan Irfan (adiknya), namun nyawanya dapat diselamatkan. Sedangkan Ibu dan dan adiknya tidak dapat diselamatkan.

"Jadi kita takut Adel memiliki trauma. Kita coba pulihkan dia," kata Ketua KPAI Lubuklinggau, Hamim.

Pihaknya  datang untuk memberikan pendampingan dengan menurunkan satu orang psikolog. Rencananya, proses pendampingan terhadap Adel oleh psikolog dijadwalkan selama tiga bulan dengan pertemuan satu minggu dua kali. (wek)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3) 

 

LUBUKLINGGAU - Giliran SDN 53 Megang dan TK Tunas Harapan, masih satu lingkungan di Kelurahan Megang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Senin (20/3) disambangi Ibu-ibu PKK Lubuklinggau yang diketuai Yetti Oktarina Prana.

Kunjungan itu terkait program pemberian makanan tambahan kepada anak-anak. Yang mana anak-anak mendapatkan makanan berupa susu, telur dan biskuit. Tim PKK juga memberikan edukasi kepada anak-anak tentang sentuhan yang boleh dan tidak boleh guna menghindari dari penculikan atau kekerasan terhadap anak.

"Kebetulan hari ini dengan Dinas Kesehatan, jadi pemberian makanan tambahan. Memang kita sengaja datang khusus, karena kita memanfaatkan pertemuan dengan anak-anak untuk memberikan edukasi-edukasi yang kita anggap perlu bagi anak-anak," jelasnya.

Yetti mengatakan, banyak nilai-nilai positif yang dapat ditanamkan kepada anak-anak. Salah satu diantaranya dengan cara menyenangkan lewat dongeng.

"Jadi tadi ada juga sentuhan dengan menyikapi tentang banyak kasus pedofil belakangan ini," bebernya. (wek)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3). 

 

TIDAK selamanya pasangan selebriti yang sudah bercerai, hubungan berakhir untuk selamanya. Namun tidak jarang ditemukan pasangan publik figur yang sudah bercerai, memutuskan untuk rujuk atas pertimbangan anak.

Berikut ini lima pasangan selebriti yang memutuskan untuk rujuk kembali menurut versi Selibriti Pagi.

1. Gusti Randa-Nia Paramita
Pasangan ini sudah dikaruniai empat orang anak. Setelah resmi bercerai karena alasan beda pendapat, pasangan ini rujuk kembali pada 2010 karena masih mencintai satu sama lain.

2. Tengku Riyan-Vira Yuniar.
Pasangan ini dikenal sangat romantis, tapi kemudian mereka bercerai pada Januari 2010 dengan alasan tidak harmonis. Namun, pasangan ini kembali rujuk di penghujung 2010.

3. Guntur Bumi-Puput Melati
Ini pasangan paling fenomenal. Keduanya sering dikabarkan cerai-rujuk, cerai rujuk. Selama menikah, Puput dua kali menggugat cerai. Terakhir gugatannya pada 2014, saat anak ketiganya lahir. Namun, kemudian mereka rujuk kembali.

4. Kiwil-Megi Wulandari
Dua tahun berpisah, akhirnya Kiwil dan Megi Wulandari kembali menikah pada 2015. Megi menggugat cerai Kiwil karena suaminya itu berniat menikah yang ketiga kalinya. Megi yang istri kedua menolak dimadu, tapi kemudian Megi menerima Kiwil dengan alasan masih cinta.

5. Gerry Iskak-Icha
Pernikahan Gerry Iskak dan istrinya Icha diwarnai perselingkuhan. Tak kuat dengan kelakuan Gerry, Icha pun menggugat cerai meski saat itu dirinya tengah hamil. Pascakelahiran putranya, Gerry dan Icha memutuskan rujuk lagi. Keduanya sepakat membesarkan putranya dan kembali menjadi pasangan harmonis.(esy/jpnn)

Keselamatan anak saat ini makin terancam. Ada yang diculik, dibius, hingga jadi korban kekerasan seksual. Belakangan, viral di media sosial (medsos), isu anak yang diincar untuk diambil organ dalamnya, lalu diperjualbelikan pelakunya. Masyarakat resah.
--------------------

Dua hari lalu, salah satu posting-an di Instagram membuat ngeri para orangtua. Isinya, “Info kriminal. Diteruskan info berikut ini agar kita lebih waspada dan hati-hati. Bagi saudara-saudara yang mempunyai anak kecil di bawah umur 10 tahun, jangan biarkan pergi main sendirian. Siang ini pukul 13.00 telah tertangkap seorang warga sipil yang berpura-pura menyamar menjadi orang gila.
Tenyata telah membawa seorang anak yang dimasukkan dalam karung. Ini di daerah pojok Cimahi . Kondisi anak sudah dimasukkan ke karung . Laki-laki ini berpura-pura menjadi pemulung di sekitar rumah kita. Setelah ditangkap pura-pura gila. Untung anak tersebut dapat diselamatkan. Harga satu anak dihargai Rp25 juta. Sekarang orang ini diamankan di Polres Cimahi....”
Namun, beberapa komentar menyebutkan kalau posting-an itu hoax alias kabar yang tidak benar. Dalam posting-an lain bahkan menyebutkan kalau organ dalam korban seperti jantung, hati hingga kelamin akan diperjualbelikan.
Memang, meski isu penculikan ini sudah menyebar luas di medsos, tapi belum ada bukti nyata. Namun, Kamis (16/3) sore, Mawar (16), siswi sebuah SMK di Palembang mendatangi Mapolresta Palembang. Dengan masih mengenakan seragam sekolah, dia mengaku baru lolos dari penculikan.
Penculikan dialaminya hari itu juga, pukul 14.30 WIB. Ceritanya, siang itu dia menunggu angkutan umum depan gerbang sekolah. Tiba-tiba, ada mobil Panther putih memepetnya.
Lalu ada penumpang mobil itu yang turun, lalu mengancamnya dengan senjata tajam (sajam). “Saya dipaksa naik mobil itu,” ungkap warga Sukarami ini. Setelah itu, dia dibawa entah ke mana. Di dalam mobil, korban melihat ada dua wanita dan tiga pria misterius yang terus mengancamnya.
“Rambut saya dijambak dan saya diancam dengan pisau di dalam mobil itu,” bebernya. Seorang wanita yang badannya bertato ikut menyiksanya. “Dia bahkan mengancam akan membunuh saya,” cetus korban.
Ketika mobil itu berhenti di kawasan Rumah Susun (Rusun) dekat PIM, korban berhasil melarikan diri ke arah belakang pusat perbelanjaan International Plaza (IP). “Saya minta tolong warga di sana dan menelepon ibu, minta jemput,” imbuh dia.
Kejadian ini ada kemiripan dengan penculikan terhadap Bunga (14), nama samaran, siswi SMK di Palembang pada 6 Maret lalu. Pagi itu, korban hendak pergi ke sekolah. Di Jl Semeru, Kecamatan Ilir Timur I, dia dipepet mobil Terios warna silver. Penumpang mobil pura-pura tanya alamat, tiba-tiba membekap hidungnya dengan tisu.
Diduga sudah dibubuhi obat bius, korban langsung tak sadar. Saat tersadar, dia sudah di dalam mobil. Rok sekolahnya robek dan pakaian atasnya terlepas. Diduga, saat pingsan, dua pria dalam mobil itu telah mencabulinya.
Selain isu penculikan, anak juga dibayangi ancaman kekerasan seksual. Seperti yang dialami Melati (16), siswi sebuah SMA di Ogan Ilir. Menjalin hubungan dengan pria beristri, remaja ini malah kehilangan mahkotanya.
Kejadiannya, 28 Februari lalu. Awalnya, korban diajak jalan. Lalu diberi minuman ringan. Usai minum, korban pusing, pandangannya kabur, kemudian pingsan. Saat tak sadar, korban dicabuli.
Beberapa hari lalu, Polda Metro Jaya membongkar kasus protitusi online dengan objek anak usia 2-10 tahun. Para tersangkanya ternyata memiliki kelainan yang sama, mengindap pedofilia. Para anggota grup berdikusi melalui facebook. Mereka diwajibkan berbagi dan menampilkan foto maupun video berkonten pornografi.
Kapolresta Palembang, Kombes Pol Wahyu Bintono HB melalui Kasatreskrim Kompol Maruly Pardede mengatakan, pihaknya akan menyelidiki kasus tersebut. Untuk isu penculikan terkait jual beli organ tubuh, Kabag Ops Polresta Palembang, Kompol Andi Kumara menegaskan, sejauh ini belum ada laporannya.
“Mudah-mudahan tidak terjadi di Palembang,” tegasnya. Direktur Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Sumsel Prasetijo Utomo mengatakan, pihaknya belum menerima laporan terkait kasus penculikan.
Apalagi terkait isu penjualan organ tubuh. “Belum ada kasus seperti itu (penjualan organ, red). Tapi, isu-isu yang beredar memang cukup meresahkan,” ujarnya. Ditegaskannya, Tim Rimau akan memonitor dan menindak segala bentuk kejahatan, termasuk penculikan.
Dia meminta masyarakat jangan mudah terpancing dengan isu yang beredar sebelum dibuktikan atau diuji kebenarannya. “Tapi tetap harus waspada. Segera laporkan jika ada tindak kejahatan atau yang mencurigakan,” imbuhnya. Sedangkan untuk melacak prostitusi online yang mungkin ada di Sumsel, Polda memaksimalkan cyber patrol.
Isu penculikan dan jual beli organ tubuh dari korbannya telah merebak pula di wilayah Sumsel lainnya. Seperti di Muara Enim. “Tapi kami belum terima laporan terkait itu,” ujar Kapolres Muara Enim AKBP Hendra Gunawan. Dia mengimbau warga untuk tidak
terprovokasi isu penculikan di sosmed.
“Yang penting, tetap berhati-hati, jaga diri dengan baik,” pintanya. Isu itu jika tidak disikapi secara benar, dapat memunculkan konflik. Terumata dengan warga pendatang atau orang baru yang tak dikenal.
Masyarakat diingatkan untuk waspada dengan lingkungan sekitar. Tapi jangan gegabah apalagi anarkis dan main hakim sendiri. “Kalau ada yang mencurigakan, segera lapor,” tandasnya.
Hendra juga mengingatkan para pelajar jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. Apalagi diimingi uang atau makanan. “Sebaiknya, saat pergi atau pulang sekolah bisa diantar dan dijemput keluarga,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Muara Enim, Muzakar MPd, mengatakan, pihaknya telah mengimbau ke semua sekolah sekolah agar lebih memperhatikan anak didiknya saat datang dan pulang sekolah. “Kami minta kepala sekolah datang lebih awal dan pulang terakhir,” tegasnya.
Untuk sekolah dasar (SD), hendaknya para guru memiliki kontak dari keluarga siswa yang bisa dihubungi dalam kondisi darurat. “Karena seringnya sekolah menjadi sasaran pelaku kriminal, kami juga minta pihak sekolah agar memiliki petugas keamanan sendiri. Sedapat mungkin berkoordinasi dengan keamanan kampung hingga Babinkamtibmas demi keamanan bersama,” ujarnya. Di OKU Selatan, isu penculikan anak juga tersebar luas. Menyikapi kekhawatiran para orangtua, Kapolres OKU Selatan AKBP Dra Ni Ketut Widayana Sulandari melalui Kabaq Ops Kompol Hasbullah Hamid menegaskan kalau informasi itu hoax alias berita bohong.
“Meski begitu, para orangtua harus waspada. Awasi aktivitas anak bermain di lingkungan rumah,” pesannya. Bila menemukan orang yang mencurigakan, pihaknya meminta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri. “Tetap tetang, jangan terpancing tanpa bukti. Kondisi wilayah OKU Selatan aman dan terkendali,” tegas Hasbullah. (chy/vis/roz/dwa/ce1)

PALI - Warga Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sejak tiga hari terakhir ini dilanda keresahan. Pasalnya, saat ini banyak beredar pesan berantai tentang adanya aksi penculikan, yang terus dikirim di dunia maya melalui beberapa pengguna aplikasi di android handphone warga.

Tampak terlihat dari isi pesan tersebut, meskipun berbentuk himbauan dan mengklaim bahwa dikeluarkan oleh aparat kepolisian. Namun, nyatanya dari isi tersebut mampu menimbulkan keresahan tersendiri, kepada para orang tua yang ada di Kabupaten PALI, terutama yang memiliki anak dibawah usia dewasa.

Adapun isi pesan tersebut, "‎Hati2 untuk warga Sumatera Selatan, khususnya bagian Perabumulih, Pendopo, Tanah Abang, Modong, dan desa2 sekitar untuk awasi anak, adik serta saudara kita , penculikan anak serta pemutilasian anak untuk ilmu hitam, perguruan ada di Sumatra Selatan warga peguruan sudah tersebar untuk mencari (menculik) untuk dijadikan salah satu kekuatan ilmu hitam, warga perguruan sudah tersebar di kecamatan2 di Muara Enim, Tanjung Enim, Lubuk Linggau , Prabumulih sudah ada korban, berita ini bukan main2, sekali lagi awasi anak, adik serta keluarga kita‎ #Kepolisian Palembang,Muara Enim, Prabumulih, Pali seluruh Sumatera Selatan khususnya.

Tika (30), salah satu orang tua yang bermukim di Talang Subur, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI mengungkapkan, bahwa himbauan tersebut justru membuatnya menjadi gelisah untuk membiarkan kedua anaknya bermain di luar rumah. Untuk itu, dirinya berharap aparat Kepolisian bisa memastikan kebenaran pesan tersebut. (ebi)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (17/3). 

Halaman 1 dari 21

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca