JAKARTA- Warga Bukit Duri merasa kecewa dengan sikap cuek duet pemimpin Jakarta Basuki T Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Pasalnya, keduanya terkesan tidak peduli dengan banjir yang menggenangi Bukit Duri sejak beberapa hari lalu.

Bagaimana tidak, pasangan petahana itu tidak pernah sama sekali menyambangi warga yang tengah tertimpa musibah banjir. Ahok lebih memilih 'cuap-cuap' di media soal banjir ketimbang melihat langsung ke lapangan.

Warga justru memuji Kapolda Metro Jaya M Iriawan dan Pangdam Jaya Teddy Lhaksamana yang turun langsung ke lapangan melihat penderitaan warga dan memberikan bantuan.

"‎Bapak Kapolda dan Pangdam (Jaya) jauh lebih responsif. Saat air datang dinihari, paginya Kapolda dan Pangdam sudah ada di sini (Bukit Duri). Melihat warga yang mengungsi karena banjir," kata Ketua RW 1 Bukit Duri, Hartono (57) di Aula Garuda yang menjadi lokasi pengungsian, Jumat (17/2).

Hartono mengatakan, Iriawan dan Teddy Lhaksmana datang bersama rombongan BPBD DKI Jakarta dengan membawa sejumlah bantuan berupa mie instan, selimut, matras dan sejumlah makanan untuk dibagikan kepada warga yang terdampak banjir.

Lebih lanjut Hartono mengatakan, saat pemungutan suara Pilgub Jakarta lalu pasangan petahana mendapat suara terbanyak di wilayahnya. Tapi sekarang terbukti, Ahok-Djarot tidak punya perhatian kepada warga Bukit Duri.

Hartono, sebagai perwakilan warga menganggap pemimpin di DKI saat ini sama sekali tidak berempati.

"Kalau saya sih kecewa dan jangan pada saat bencana ya. Kalau rakyat senang ya pemimpin ikut senang, dan kalau rakyat sakit seharusnya pemimpin merasakan sakit. Pak Ahok empatinya itu lebih dibutuhkan," kata dia mengakhiri. (ipk/rmol)

BANYUASIN – Banjir yang melanda sejumlah daerah perairan seperti Kecamatan Muara Padang, Muara Sugihan, Air Salek dan Makarti Jaya mulai berangsur surut. Apalagi intensitas hujan yang sebelumnya terus turun, sekarang mulai setop. ”Sehingga tidak ada genangan air, banjir tidak bertambah tinggi,” ujar Muliar, warga Desa Sumber Makmur, Kecamatan Muara Padang, kemarin (16/2).
Masih kata Muliar, kalau banjir ini termasuk paling tinggi pada tahun ini. Jadi ia cukup terkejut dengan situasi seperti ini, karena sebelumnya tidak pernah mengalaminya.”Tiba–tiba genangan air masuk rumah, walaupun tidak begitu tinggi hanya beberapa cm,”tuturnya.
Diakuinya sampai saat ini belum ada tindakan pemerintah untuk meninjau bahkan memberikan bantuan kepada warga yang terkena banjir ini. “Akibat kejadian ini, gabah milik petani termasuk milik saya terancam busuk. Karena tidak dapat dijemur setelah terkena air, bisa mencapai puluhan juta kerugian akibat banjir ini,”tuturnya.
Senada diungkapkan Abdul Karim, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Muara Padang, mengatakan kalau banjir mulai surut.”Warga desa sendiri mulai beres–beres,”jelasnya. Namun masih ada beberapa desa kata Karim, yang masih tergenang cukup tinggi. ”Tapi berangsur surut,”terangnya.
Ia sendiri heran sampai saat ini tidak ada tanggapan atau respons dari pemerintah, terkait bencana banjir ini. Memang banjir ini tidak menyebabkan rumah terendam hingga tinggi, atau menyebabkan korban jiwa.”Tapi ini banjir yang cukup tinggi, dibandingkan tahun sebelumnya,”bebernya. Dan ada sebagian warga yang mengungsi ke rumah tetangga, karena rumahnya masih ada yang tergenang banjir.
Camat Air Salek, Zainudin mengatakan kalau hanya ada satu desa yang melapor terkait banjir ini.”Hanya ada satu desa yang melapor yaitu Desa Damar Mulan banjir hingga 50 cm, sedangkan desa yang lain tidak ada laporan. Mungkin karena genangan airnya tidak begitu tinggi dan tidak mengganggu aktivitas warga,”ujarnya.
Terpisah, Kepala Kesbangpol Banyuasin Indra Hadi ketika dikonfirmasi mengatakan berdasarkan laporan dari kecamatan yang terkena genangan air tersebut, kalau itu hanya banjir sebentar. Jika hujan berhenti, dipastikan airnya akan surut.” Menurut pak camat banjir tersebut hanya sebentar. Jika hujan berhenti, maka airnya pun akan surut. Banjir itu sendiri disebabkan air pasang berbarengan dengan intensitas yang cukup tinggi,”singkatnya.(qda/lia/ce4)

PALEMBANG – Kenaikan harga karet beberapa waktu belakangan ini, di khawatirkan hanya bersifat sessional atau sementara Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Eddy mengatakan, sebetulnya memang ada kekhawatiran bahwa penguatan harga ini bukan karena faktor perbaikan ekonomi di negara pembeli tetapi hanya karena pengaruh beberapa faktor, diantaranya panic buyer.
    “Maka dari itu, untuk menjaga momentum penguatan harga ini diperlukan kesepakatan negara penghasil karet untuk merundingkan bersama strategi pasar agar harga tetap bisa bertahan terus, seperti saat ini atau naik,” terangnya, kemarin (2/2).
    Alex menjelaskan, tren harga karet saat ini naik, karena saat ini isu masih akibat banjir di Thailand bulan lalu dan disambung gugur daun disana. “Buyer sedikit panik sehingga mereka aktif membeli untuk menjaga stok mereka. Dilain pihak spekulasi dari beberapa dealer juga mempengaruhi,” jelasnya.
Sedangkan imbas kebijakan AS, pasca Trump menjadi preesiden, menurutnya, masih belum terasa di sektor komoditas karet. “tapi kita tetap optimis bahwa apapun kebijaksanaan Trump, mereka tetap butuh karet. Hanya kekuatiran kalau ada AS menutup import ban dari Cina ini akan berakibat ekspor karet kita ke cina terganggu,” ujarnya.
Saat ini, negara tujuan ekspor karet Sumsel maish ke negara seperti AS, Cina, Eropa, Jepang, korea dan India. Dimana nilai total ekspor Sumsel pada tahun lalu menghasilkan 1 juta ton. “Untuk kondisi harga, Tren masih bagus, harga ada di sekitaran 2.35 usd perkilo,” tambahnya.
Dimana harga ini, kata Alex, trennya cukup positif, bergerak naik walaup kadang turun dikit. “Saat ini pembelian bokar di pintu pabrik sekitar 26.500 per 100 persen kering,” tandasnya.(cj10)

PALEMBANG - Distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke Kecamatan Muntok, sejak kemarin (31/1) mulai berlangsung normal. Itu setelah
tim BBPJN (Balai Besar Penyelenggaraan Jalan Nasional) V menyelesaikan pengerjaan jembatan balley di Desa Mayang, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat.
"Setelah jembatan sementara itu selesai pagi hari, kami langsung distribusikan BBM ke Kecamatan Muntok yang sempat terisolasi dan SPBU-nya kehabisan BBM," terang Officer Communication and Relations PT Pertamina Sumbagsel Siti Rachmi Indahsari, kemarin.
BBM itu diangkut dari Terminal BBM Pangkal Balam, Kota Pangkal Pinang ke Muntok. "Untuk melintasi jembatan balley masih diatur, tidak boleh terlalu sering karena sifatnya jembatan sementara," ujarnya.
Menurutnya, masing-masing kemarin siang pihaknya memasok 8 ribu liter premium ke 3 SPBU yakni Kampung Jawa, Pal 3 dan Pal 9. Jadi totalnya didistribusikan 24 ribu liter. "Hari ini premium dulu, karena stoknya kosong. Baru besok (hari ini, red) kita pasok secara bertahap solar, pertalite, dan pertamax," ungkap dia.
Untuk itu, sejak sore kemarin pun mobil tangki BBM sudah stand by lagi di TBBM Pangkal Balam dan mengisi pertalite juga pertamax series. "Kami juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak guna kelancaran distribusi ini," terangnya.
Selain itu, segala upaya ini juga sudah ditempuh Pertamina untuk menyalurkan BBM ke daerah terisolir. Hingga kemarin, percobaan melalui kebun sawit tidak berhasil. "Kalau ke depan masih ada kendala, kita siapkan alternatif pengiriman BBM lewat tongkang," terangnya. Dengan kondisi darurat bencana alam seperti ini, pihakya memastikan BBM SPBU kondisi aman. Mimie menambahkan untuk distribusi LPG dilakukan secara estafet menggunakan mobil pickup, saat ini juga sudah pulih dan berjalan normal. (cj10/fad)

MUNTOK – Entah sampai kapan ribuan warga Bangka Barat terbebas dari banjir. Setelah awal tahun lalu dihantam banjir bandang, kemarin (28/1), ribuan warga Bangka Barat harus kembali diungsikan lantaran rumah mereka kembali terendam banjir.
Hujan mulai Jumat lalu hingga kemarin (29/1) membuat sebagian wilayah Kota Muntok di Bangka Barat kebanjiran. Setidaknya 1.200 rumah terendam air akibat curah hujan yang sangat lebat. Empat jembatan juga mengalami kerusakan parah. Akses ke Kota Muntok dari Kota Pangkalpinang juga terputus total
Dari laporan wartawan Babel Pos (Grup Sumatera Ekspres) di lapangan menyebutkan, setidaknya empat desa di Kecamatan Muntok mengalami banjir yang cukup parah. Yakni Kampung Ulu, Culong, Belo Laut, dan Rubiah. Ketinggian air di sini mencapai 1 meter hingga 2 meter.
Dua unit jembatan di Desa Belo Laut Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat yakni di Dusun Terabek dan Dusun II putus akibat banjir. Dengan kondisi itu akses warga lumpuh total.
Anggota BPD Belo Laut Amri mengatakan kalau jembatan di Terabek putus total. Sedangkan di Dusun II masih menggantung karena pondasinya turun. Kondisi itu mengakibatkan tidak bisa dilalui kendaraan.
"Putus jembatannya jadi tidak bisa dilalui," ujarnya di lokasi banjir Belo Laut. Bahkan, di desa Belo Laut sempat meminta untuk disalurkan bantuan. Sebab, sekitar 1.500 warga di sini bisa kelaparan jika penyaluran makanan tidak segera dilakukan.
Amri mengatakan warga di dusun II jumlahnya lebih dari 1.000 orang. Masyarakat membutuhkan makanan siap makan karena akses jembatan terputus. Sebelumnya sudah disalurkan 150 nasi bungkus tapi itu masih kurang. "Kita masih memerlukan sekitar 1.000 bungkus lagi," ujarnya.
Lokasi yang parah juga terlihat di Pasar Muntok. Aktivitas pasar benar-benar terhenti. Apalagi ketinggian air sudah mencapai pinggang orang dewasa. Para pedagang lebih banyak menyelamatkan barangnya.
Ketua DPRD Hendra Kurniady, Camat Muntok Sukandi, Sekcam Mediar dan jajaran juga telah memantau sejumlah titik banjir. Danramil Muntok Mayor Inf Sahudi dan anggota juga turun langsung ke semua titik. Kapolres AKBP Hendro Kusmayadi mengatakan, sampai saat ini belum terdata jumlah rumah yang terendam. Selain rumah ada 1 jembatan di Mayang, satu juga di Kundi hampir roboh. Kalau di kecamatan lainnya dirinya belum mendapat laporan.
Satu rumah di kampung Teluk Rubia Muntok roboh diterjang air dan 1 orang penghuninya harus dievakuasi ke rumah sakit karena terendam lumpur. Air yang mulai naik sekitar pukul enam pagi membuat warga kalang kabut.
Katanya, banjir ini terjadi karena curah hujan yang tinggi ditambah air laut pasang. Selain merendam ratusan rumah dan toko banjir juga memutuskan jembatan di Desa Mayang Kecamatan Simpang Teritip Babar dan di Desa Kundi
"Satu rumah di Muntok roboh dan satu penghuninya dilarikan ke rumah sakit karena tertimbun lumpur tapi bisa diselamatkan," ujar Hendro saat meninjau di Kampung Culong.
Di Munto, air menggenangi rumah warga kampung Culong setinggi pinggang orang dewasa. Di kampung ini merupakan mayoritas Tionghoa membuat warga tidak bisa merayakan Imlek.
Sementara itu, Kepala Dinas PU dan Tataruang Bangka Barat Suharli kepada Babel Pos mengatakan bahwa ada 4 jembatan yang putus akibat banjir Sabtu (28/1), yakni di Desa Mayang Simpang Teritip 2, Desa Rambat 1, Desa Belo Laut 1.
Untuk di Mayang pihaknya sedang berkoordinasi dengan PU provinsi dan Balai Besar karena merupakan jalan nasional. Sedangkan untuk di Belo Laut dan Rambat pihaknya sedang menyiapkan jembatan darurat. "Sementara ada 4, sekarang kita sedang usahakan jembatan darurat," ujarnya di lokasi banjir Mayang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bangka Belitung telah menyiapkan jembatan balley dan alat berat bilamana dibutuhkan. "Kami siagakan jembatan balley dan alat berat dari Dinas PU (Pekerjaan Umum) jika memang nanti dibutuhkan," kata Koordinator Kedaruratan Bencana BPBD Provinsi Babel, Delwin.
Data yang didapat tadi malam, di Kota Muntok air perlahan mulai surut. Hanya saja akses menuju Kota Muntok dari Pangkalpinang belum bisa diatasi. Begitu juga sebaliknya. perjalanan dari Kota Muntok menuju Pangkalpinang terputus akibat akses jalan dan jembatan di Desa Mayang Kecamatan Simpang Teritip putus.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, banjir yang terjadi menyebabkan ratusan rumah terendam banjir dan 1.300 jiwa terdampak langsung. Tidak ada laporan korban jiwa dalam bencana ini.
”Masyarakat sudah dievakuasi ke tempat aman oleh BPBD Bangka Belitung, BPBD Bangka Barat dan tim gabungan. Saat ini pendataan masih terus dilakukan,” ujarnya kemarin. Kendati sudah mulai surut, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terkait ancaman banjir dan longsor.
Apalagi, BMKG telah mengeluarkan peringatan soal adanya potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir di beberapa wilayah. Seperti Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel) bagian tengah dan timur, Banten, Jabodetabek, Jogjakarta, Jawa Timur bagian Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantam Selatan, Kalimantan Timur bagian timur, NTT dan Sulawesi Tengah.
Peringatan ini, lanjut dia, menyusul adanya bibit siklon di pesisir barat Australia bagian utara. Konvergensi terdapat di wilayah Samudera Hindia selatan Bengkulu. Direktur Eksekutif Walhi Kep Bangka Balitung Ratno Budi mengatakan, banjir yang terjadi di wilayah Bangka Belitung sama dengan yang terjadi tahun lalu.
Pada 8 Februari 2016, puncak perayaan Imlek, hampir semua kabupaten dan kota di Bangka Belitung tertutup oleh genangan banjir. Terulangnya kembali bencana tersebut diakui menjadi kegagalan pemerintah untuk melakukan restorasi alam daerah dan aliran sungai selama ini. Terutama, wilayah hulu sungai yakni Kota Pangkalpinang. ’’Harusnya ada restorasi alam daerah hulu untuk mengembalikan daerah resapan air,’’ ujarnya.
Ekploitasi tambang dinilai memperparah sedimentasi sehingga daerah aliran sungai semakin dangkal dan rentan banjir jika curah hujan tinggi. Serta, banjir rob saat volume air laut meningkat. “Pemerintah seharusnya berhenti memberikan izin alih kelola lahan retensi air. Terutama di Kota Pangkalpinang yang sangat minim ruang terbuka hijau dan retensi air,’’ ungkapnya.
Saat ini ada sekitar 300 ribu lahan kritis pasca kegiatan penambangan yang perlu direhabilitasi. Dengan mengembalikan fungsi lahan tersebut, dia yakin bahwa bencana banjir tak akan terjadi terlalu sering. “Jangan hanya berpikir soal keuntungan industri tambang. Kalau sudah seperti ini, Sebab, masyarakat dan pemerintah harus menanggung beban biaya kerugian baik materil maupun imateril dari bencana yang terjadi,’’ tegasnya. (his/fiz/mia/bil/ce2)

PALEMBANG - Pemerintah Kota sepertinya kewalahan menghadapi genangan air yang terjadi saat hujan di sejumlah titik di kota Palembang. Beberapa bahkan sampai melumpuhkan arus lalu lintas, seperti diruas Jl Kol H Burlian. Dimana pada lokasi tersebut juga sedang dilakukan pembangunan Light Rapid Transit (LRT).

Untuk itu, pada Senin (9/1) digelar rapat koordinasi Pembahasan Pemasangan Kabel Box Culvert di sepanjang Jl Kol H Burlian, dan areal Pembangunan LRT. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Palembang menggelar rapat dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi, Waskita selaku pemegang proyek Light Rail Transit (LRT), Direktorat Lalu Lintas Polda Sumsel, serta pihak terkait.

Dalam rapat tersebut, dipaparkan sejumlah lokasi yang terkena dampak dalam musim penghujan. Setidaknya ada 32 titik, termasuk diantaranya yang dilintasi proyek LRT. Namun yang menjadi prioritas adalah empat titik di ruas Jl Kol H Burlian. Yakni KM 7, Punti Kayu, Darma Agung, Damri, dan simpang TAA.

"Empat titik ini yang menjadi prioritas (mendesak),"kata Kepala PUPR, Syaiful usai rapat. (aja)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (10/1). 

 

MATARAM-Belum hilang trauma dari banjir bandang, Bima, Provinisi Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali diguncang gempa bumi tektonik di hari Natal, kemarin (25/12). Dari analisis BMKG, gempa bumi terjadi pada pukul 14:23:57 Wita. Kekuatan gempa 3,7 Skala Richter dengan episenter terletak pada koordinat 8.28 LS dan 119.04 BT, pada kedalaman 10 km.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto menerangkan, dampak gempa bumi berupa guncangan lemah dirasakan di daerah Bima dalam skala intensitas II SIG BMKG atau (II-III MMI). Di daerah ini guncangan gempa bumi dirasakan beberapa orang.
Ditinjau dari kedalamannya, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal dan tidak berpotensi tsunami. Karena itu, masyarakat diimbau tetap tenang, dan terus mengikuti arahan BPBD dan BMKG. “Warga Kota Bima jangan terpancing isu karena gempa bumi yang terjadi ini tidak berpotensi tsunami,” tandas Agus.
Sementara itu, pascabanjir sebagian warga mulai kembali ke rumah untuk bersih-bersih dan mengamankan harta yang bisa diselamatkan. Tapi kerugian akibat banjir mencapai Rp979,3 miliar lebih. Nilai ini diperkirakan masih bisa bertambah, sebab proses pendataan masih terus dilakukan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB H Muhammad Rum mengatakan, banjir bandang yang terjadi beberapa hari berturut-turut (tanggal 21 dan 23 Desember), menyebabkan beberapa rumah dan fasilitas umum mengalami rusak parah.
Dikatakan, saat ini banjir sudah berangsur surut dan warga mulai bisa beraktivitas. Pos pengungsian berada di 19 titik dengan total pengungsi 6.030 orang. Jumlah terdampak keseluruhan lima kecamatan dengan 35 kelurahan. Sementara jumlah warga yang terdampak sebanyak 105.758 jiwa. ”Korban jiwa nihil,” katanya.
Saat ini, sebagian pengungsi sudah mulai kembali ke rumah masing masing. Mereka bahkan sudah membersihkan rumahnya dari sisa material banjir. Sementara perkantoran dan sekolah masih diliburkan. Aktivitas pasar juga belum terlihat.
Untuk pelayanan kesehatan, petugas medis menangani rawat jalan 929 kasus dengan penyakit ispa, gatal-gatal, diare, sementara untuk rujukan ke RSUD tiga orang. Status keadaan darurat sesuai SK Tanggap Darurat berlangsung dari tanggal 22 Desember 2016 hingga 5 Januari 2017.
Menurut Rum, mengatakan, ada beberapa kendala yang dihadapi di lapangan. Diantaranya, listrik yang menyala hanya di sekitar kantor Wali Kota, sementara di rumah-rumah warga belum menyala. Distribusi logistik terkadang di hadang oleh masyarakat yang belum menerima bantuan. ”Untuk mengantisipasi hal tersebut, ada pengawalan dari TNI/Polri,” katanya.
Sementara itu, Basrnas Kantor SAR Mataram mengerahkan satu Helicopter jenis BO.105.HR 15 19 untuk membantu droping logistik ke para pengungsi korban banjir.
Kepala Kantor SAR Mataram Nanang Sigit yang juga ikut terjun ke lapangan mengatakan, hal ini dilakukan karena beberapa akses ke lokasi pengungsian sulit dilalui melalui jalur darat. Sehingga langkah yang paling efektif hanya jalur udara. “Tadi heli kita sudah terbang mengangkut logistik dari lapangan Wali Kota Bima menuju Kecamatan Wawo,” katanya. (ili/ton/air)

 

PALEMBANG - Hujan yang mengguyur Palembang, Minggu (25/12) sejak pukul 02.00-07.00 WIB setidaknya membuat beberapa jalan di Metropolis terendam.

Salah satunya adalah Jl Kolonel H Barlian yang selalu menjadi langgan banjir. Di jalan ini setidaknya terdapat tiga titik yang terendam. Yakni di Km 6,5 depan Graha Pena, di Km 7 kawasan Darma Agung, dan di Km 9 Sukarami, tepatnya di depan pool bus Damri.

Ketinggian air di tiga titik banjir ini mencapai 30 cm. Praktis, seluruh kendaraan yang akan melintas harus mengurangi kecepatan. Sehingga terjadi kemacetan panjang. Tidak jarang, kendaraan roda dua mogok karena air membasahi busi.

Roni, salah satu warga mengatakan bahwa hampir seluruh jalan di Palembang banjir karena hujan yang terjadi sejak Minggu dini hari. "Jalan di kawasan SMA Kumbang (Kusuma Bangsa) juga banjir," kata Roni.

Dia berharap pemerintah cepat mengatasi masalah banjir yang terjadi di Palembang. Caranya dengan membuar saluran air di sepanjang jalan. Sebanyak apa pun air jika mengalir ke saluran atau drainase akan mengalir. Tidak menggenang di jalan. "Kalu banjir, jalan cepat rusak," kata Roni. (dom)

JPNN.com - Dua kali musibah banjir yang melanda Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat ratusan ribu warga mengungsi.

Data dari Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) menyebutkan, sebanyak 105.758 jiwa mengungsi akibat banjir sedalam 1-3 meter yang terjadi pada Rabu (21/12) dan Jumat (23/12).

Masyarakat yang awalnya sudah kembali ke rumah dari pengungsian, kembali mengungsi karena adanya banjir susulan pada Jumat siang. Akses komunikasi dan suplai listrik mati di Kota Bima. Akses transportasi terputus dan aktivitas ekonomi lumpuh. Perkantoran dan sekolah diliburkan.

Sesuai laporan Kepala BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Muhammad Rum, dampak banjir di Kota Bima menyebabkan 105.758 jiwa terdampak di 5 kecamatan (33 kelurahan) dan 104.378 jiwa mengungsi.

“Saat ini sebagian banjir telah surut. Hanya menyisakan genangan dan lumpur. Mayoritas telah pulang kembali ke rumahnya masing-masing. Perkantoran dan sekolah diliburkan. Aktivitas pasar belum ada yang buka karena juga ikut terendam banjir. Listrik masih padam dan jaringan komunikasi juga belum pulih. Kondisi ini juga menyebabkan kendala dalam penanganan,” ujar Mahammad Rum dalam laporannya.

Hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa meninggal dan hilang akibat banjir. Fasilitas kesehatan yang rusak meliputi 4 puskesmas, 29 puskesmas pembantu, 29 polindes dan 1 kantor labkesda. Obat-obatan dan sarana medis ikut terendam banjir sehingga diperlukan bantuan obat-obatan dan tenaga medis.

Upaya penanganan darurat banjir terus dilakukan oleh BPBD, BNPB, TNI, Polri, Basarnas, Kemenkes, Kemensos, Kemen PU Pera, Tagana, SKPD Kota Bima, NGO, dunia usaha, relawan seperti dari PKPU, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Senkom Polri dan lainnya, dan masyarakat. Masa tanggap darurat selama 14 hari yaitu 22/12/2016 hingga 4/1/2017.

Distribusi bantuan pangan disalurkan melalui kelurahan. Telah dibuka dapur umum lapangan di 4 lokasi oleh TNI, BPBD dan Tagana, dan rencana akan dibuka dapur umum lapangan di 2 lokasi oleh PMI. BPBD Provinsi NTB, Kabupaten Dompu, Sumbawa Barat juga telah mendistribusikan logistik.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei telah memerintahkan Deputi Logistik dan Peralatan BNPB untuk segera mengirim bantuan yang diperlukan BPBD.

“Tim Reaksi Cepat BNPB yang sudah ada di Kota Bima agar menghitung berapa kebutuhan logistik dan peralatan disana. Perkuat terus BPBD. Jangan sampai ada masyarakat yang kekurangan dan tidak mendapatkan bantuan,” kata Willem Rampangilei.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah makanan siap saji, permakanan, sandang, air bersih, terpal, tikar, selimut, obat-obatan, sarung, mukena, alat-alat kebersihan rumah tangga, dan lainnya.

Hujan deras yang mengguyur Kota Palembang berpotensi menyebabkan masalah kesehatan. Antara lain, diare, gatal-gatal, demam berdarah, hingga batuk dan flu. Karena itu saat hujan tiba, jangan lupa juga menyiapkan perlindungan diri agar tidak mudah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Dr Anton Suwindro mengatakan, air hujan yang mengguyur Palembang rentan membawa penyakit. Pasalnya, air hujan mengandung asam, karena perubahan cuaca yang tidak menentu, mulai dari panas, mendung, angin kencang hingga hujan.
“Kondisi cuaca seperti ini harus di waspadai sebab bisa terjangkit banyak penyakit akibat hujan, terlebih lagi pada anak-anak yang senang dengan turunnya hujan sehingga dapat berhujan-hujanan,” katanya.
Untuk mencegah penyakit di musim hujan, saran ia, selalu membawa payung. Basah-basahan saat hujan tiba bisa menyebabkan perubahan mendadak pada suhu tubuh sehingga bisa menyebabkan pilek, flu dan demam. Untuk menghindarinya, jangan lupa membawa payung ke manapun ingin pergi. “Ini bukan hanya cara terbaik terhindar dari hujan, tapi juga menghindari terhadap penyakit batuk, pilek, atau demam ketika terjebak hujan ketika berpergian ke luar rumah,” ujarnya.
Menurutnya, makan makanan sehat pun merupakan cara terbaik untuk melindungi tubuh dari penyakit. Bisa juga memasak sup panas untuk menyegarkan tubuh atau makan makanan yang kaya akan vitamin C untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta membantu mennyembuhkan flu serta infeksi yang diderita.
Waspada juga dengan diare, salah satu penyakit di musim hujan yang sering menyerang karena makan makanan yang terkontaminasi. Jadi, selalu ingat untuk mencuci buah dan sayuran secara menyeluruh sebelum mengonsumsinya.
Selain itu, untuk menjaga dari pilek, batuk, dan influenza, cuci tangan secara teratur merupakan cara terbaik mencegah penyebaran virus dan bakteri. Serta jaga diri dari berbagai penyakit yang mungkin menyerang. “Cuci tangan dengan benar menggunakan sabun di antara jari-jari, di bawah kuku, dan bagian atas tangan. Bilas dan keringkan tangan secara menyeluruh untuk menyingkirkan kuman,” jelasnya.
Konsumsi air bersih juga menjadi hal penting, penyakit yang terbawa air sangat umum terjadi selama musim hujan. Berhati-hati dari sumber air yang terkontaminasi karena bisa membawa penyakit yang ditularkan air seperti amoebiasis dan kolera. Jika tak yakin dengan sumber air, rebus atau beli air minum yang aman.
Serta menjaga kebersihan lingkungan juga sangat penting, karena demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit fatal yang disebabkan nyamuk. Ini jenis penyakit yang merajalela selama musim hujan. Jangan biarkan genangan air di sekitar dan buanglah hal-hal yang bisa meningkatkan perkembang biakan nyamuk. Jaga seluruh salurah air tetap bersih.
“Selain demam berdarah, leptospirosis juga merajalela selama banjir karena mungkin air mengandung air seni hewan yang menyebabkan infeksi. Hindari mengarungi banjir atau terkena air banjir agar Anda tetap sehat dan terlindungi dari penyakit,” pungkasnya. (qiw/nan)

 

Halaman 1 dari 21

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca