JAKARTA- Warga Bukit Duri merasa kecewa dengan sikap cuek duet pemimpin Jakarta Basuki T Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Pasalnya, keduanya terkesan tidak peduli dengan banjir yang menggenangi Bukit Duri sejak beberapa hari lalu.

Bagaimana tidak, pasangan petahana itu tidak pernah sama sekali menyambangi warga yang tengah tertimpa musibah banjir. Ahok lebih memilih 'cuap-cuap' di media soal banjir ketimbang melihat langsung ke lapangan.

Warga justru memuji Kapolda Metro Jaya M Iriawan dan Pangdam Jaya Teddy Lhaksamana yang turun langsung ke lapangan melihat penderitaan warga dan memberikan bantuan.

"‎Bapak Kapolda dan Pangdam (Jaya) jauh lebih responsif. Saat air datang dinihari, paginya Kapolda dan Pangdam sudah ada di sini (Bukit Duri). Melihat warga yang mengungsi karena banjir," kata Ketua RW 1 Bukit Duri, Hartono (57) di Aula Garuda yang menjadi lokasi pengungsian, Jumat (17/2).

Hartono mengatakan, Iriawan dan Teddy Lhaksmana datang bersama rombongan BPBD DKI Jakarta dengan membawa sejumlah bantuan berupa mie instan, selimut, matras dan sejumlah makanan untuk dibagikan kepada warga yang terdampak banjir.

Lebih lanjut Hartono mengatakan, saat pemungutan suara Pilgub Jakarta lalu pasangan petahana mendapat suara terbanyak di wilayahnya. Tapi sekarang terbukti, Ahok-Djarot tidak punya perhatian kepada warga Bukit Duri.

Hartono, sebagai perwakilan warga menganggap pemimpin di DKI saat ini sama sekali tidak berempati.

"Kalau saya sih kecewa dan jangan pada saat bencana ya. Kalau rakyat senang ya pemimpin ikut senang, dan kalau rakyat sakit seharusnya pemimpin merasakan sakit. Pak Ahok empatinya itu lebih dibutuhkan," kata dia mengakhiri. (ipk/rmol)

PALI - Tiang listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) Area Lahat Rayon Pendopo, di tepian jalan Desa Benakat Minyak, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang mengalami miring dan memberikan ancaman tersendiri bagi para pengendara yang melintas dibawahnya akhirnya kembali berdiri tegak.

Manager PLN Areal Lahat Rayon Pendopo, M Ikhsan mengatakan, meskipun medan menuju lokasi tiang listrik milik PLN yang kemiringan cukup sulit ditempuh oleh petugasnya, namun tidak menyurutkan para petugas PLN yang sudah diperintahkan untuk segera memperbaiki tiang listrik tersebut.

"Petugas kita berjalan kaki menuju lokasi tiang listrik yang miring, karena akses jalan menuju ke lokasi tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Tapi meski demikian petugas kita akhirnya berhasil memperbaiki tiang tersebut dan kini kembali berdiri tegak," ungkapnya, Jumat (17/2).

Sementara, Anjas, salah satu warga setempat mengungkapkan, setelah tiang listrik tersebut diperbaiki, kini warga sekitar tidak lagi khawatir. Karena, sebelumnya warga tidak berani untuk melintas di jalan tersebut ketika musim hujan disertai angin sedang berlangsung. (ebi)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Sabtu (18/2). 

 

BANYUASIN – Banjir yang melanda sejumlah daerah perairan seperti Kecamatan Muara Padang, Muara Sugihan, Air Salek dan Makarti Jaya mulai berangsur surut. Apalagi intensitas hujan yang sebelumnya terus turun, sekarang mulai setop. ”Sehingga tidak ada genangan air, banjir tidak bertambah tinggi,” ujar Muliar, warga Desa Sumber Makmur, Kecamatan Muara Padang, kemarin (16/2).
Masih kata Muliar, kalau banjir ini termasuk paling tinggi pada tahun ini. Jadi ia cukup terkejut dengan situasi seperti ini, karena sebelumnya tidak pernah mengalaminya.”Tiba–tiba genangan air masuk rumah, walaupun tidak begitu tinggi hanya beberapa cm,”tuturnya.
Diakuinya sampai saat ini belum ada tindakan pemerintah untuk meninjau bahkan memberikan bantuan kepada warga yang terkena banjir ini. “Akibat kejadian ini, gabah milik petani termasuk milik saya terancam busuk. Karena tidak dapat dijemur setelah terkena air, bisa mencapai puluhan juta kerugian akibat banjir ini,”tuturnya.
Senada diungkapkan Abdul Karim, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Muara Padang, mengatakan kalau banjir mulai surut.”Warga desa sendiri mulai beres–beres,”jelasnya. Namun masih ada beberapa desa kata Karim, yang masih tergenang cukup tinggi. ”Tapi berangsur surut,”terangnya.
Ia sendiri heran sampai saat ini tidak ada tanggapan atau respons dari pemerintah, terkait bencana banjir ini. Memang banjir ini tidak menyebabkan rumah terendam hingga tinggi, atau menyebabkan korban jiwa.”Tapi ini banjir yang cukup tinggi, dibandingkan tahun sebelumnya,”bebernya. Dan ada sebagian warga yang mengungsi ke rumah tetangga, karena rumahnya masih ada yang tergenang banjir.
Camat Air Salek, Zainudin mengatakan kalau hanya ada satu desa yang melapor terkait banjir ini.”Hanya ada satu desa yang melapor yaitu Desa Damar Mulan banjir hingga 50 cm, sedangkan desa yang lain tidak ada laporan. Mungkin karena genangan airnya tidak begitu tinggi dan tidak mengganggu aktivitas warga,”ujarnya.
Terpisah, Kepala Kesbangpol Banyuasin Indra Hadi ketika dikonfirmasi mengatakan berdasarkan laporan dari kecamatan yang terkena genangan air tersebut, kalau itu hanya banjir sebentar. Jika hujan berhenti, dipastikan airnya akan surut.” Menurut pak camat banjir tersebut hanya sebentar. Jika hujan berhenti, maka airnya pun akan surut. Banjir itu sendiri disebabkan air pasang berbarengan dengan intensitas yang cukup tinggi,”singkatnya.(qda/lia/ce4)

MUBA - Partisipasi pemilih dalam Pilkada Muba 2017 sejumlah TPS (tempat pemungutan suara) sangat rendah. Diyakini, salah satu penyebabnya karena hujan yang mengguyur Muba sepanjang waktu, tepatnya di Kecamatan Bayung Lencir, kemarin (15/2).
Bahkan, ironisnya ada TPS yang jumlah warga menggunakan hak pilihnya tidak sampai 10 persen seperti terjadi di TPS 05, Desa Mangsang Bayung Lencir. Dari 472 mata pilih terdaftar, hanya 29 orang menggunakan hak pilih. "Sampai hampir jam 12 siang baru lima warga mencoblos, baru setelah agak siangan ada yang mulai datang," ujar sumber koran ini yang ikut memantau TPS tersebut.
Di TPS kecamatan lain, selain faktor cuaca diduga juga karena tidak ada yang membantu ngasih atau ganti 'uang ongkos'. "Jadi males memilih. Apalagi ini cuaca hujan dan medan susah," ujar warga Babat Supat, Suryadi, kemarin. Jadi, kata dia, mending di rumah daripada nyoblos dan harus basah-basahan.
Ketua PPK Bayung Lencir, Siwaruddin mengakui minimnya partisipasi tersebut. "Tapi, panitia TPS setempat sempat meminta tambahan waktu memilih, namun tidak bisa kami penuhi. Karena TPS tetap harus mematuhi jadwal yang sudah ditentukan. Tetap ditutup meski pemilih baru sedikit," tukasnya.
Penyebab warga enggan mencoblos, lanjutnya, tak lain karena hujan sepanjang waktu pencoblosan ditambah medan ke lokasi sulit ditempuh dan berlumpur. "Padahal sosialisasi dan ajakan ke warga memilih sudah sering kami lakukan," cetusnya.
Diakuinya, tak hanya di Bayung Lencir, minimnya partisipasi juga terjadi di sejumlah TPS Kecamatan lain seperti Sungai Lilin maupun Babat Supat. Camat Babat Supat, Marko Susanto menambahkan di wilayahnya, tingkat partisipasi pemilih hanya 61 persen. "Seharian hujan dan jalanan macet, pengaruhnya besar," kata dia.
Pantauan Sumatera Ekspres, jalintim Palembang-Jambi yang melintasi Bumi Serasan Sekate ini memang macet parah, bahkan nyaris lumpuh seharian. Kemacetan terjadi mulai dari Simpang Bonot, Desa Babat Banyuasin sampai perbatasan Desa Sukamaju, Kecamatan Babat Supat atau mencapai belasan kilometer. Penyebabnya karena ada sejumlah kendaraan berat patah as dan terjebak di jalan rusak depan kantor Camat Babat Supat dan Desa Letang.
"Kita dari semalam Pak. Ini sudah jam 3 sore baru bisa tembus. Bawa barang dari Jakarta mau ke Medan," kata Irwan, seorang sopir truk. Kapolsek Babat Supat Iptu Zanzibar menerangkan macet mulai sejak jam 1 malam, Rabu (15/2) karena ada truk patah as. "Tapi kendaraanya sudah kita evakuasi dan arus mulai lancar," katanya kemarin.
Kondisi yang sama juga terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Sekayu. Tapi disini rendahnya partisipasi karena banyak warga binaan tidak terdaftar dalam DPT (dapat pemilih tetap). Pantauan Sumatera Ekspres, kemarin, tampak narapidana (napi) dan tahanan berbaju orange bergiliran masuk ke sebuah tenda besar, TPS 28 di lapangan Lapas sekitar pukul 09.20 WIB. Mereka satu persatu memperlihatkan surat undangan pencoblosan ke petugas TPS lalu menuju bilik suara.
Tapi yang tak punya surat undangan atau suket (surat keterangan), justru memilih berdiam di penjara atau ada juga yang berdiri di luar blok.
“Walaupun tengah jalani hukuman. Saya ikut menentukan pemimpin yang ada,” Rendra, seorang narapidana.
Ketua TPS 28, Deddy Avental, mengatakan dari 703 warga binaan Lapas Klas IIB Sekayu, hanya 239 warga binaan saja yang melakukan pencoblosan. "Awalnya jumlah DPT di sini mencapai 440 pemilih, tapi karena banyak warga binaan keluar masuk yang baru, jadi hanya 41 yang masuk. Sisanya mengantongi surat keterangan (suket),” tegas Kepala Lapas Klas IIB Sekayu, Urib Herunadi SH. Sebelumnya, pihaknya ajukan 510 warga binaan bisa memilih di lapas ini dan masuk DPT, tapi terjadi beberapa perubahaan.
Sementara, di TPS 1 Desa Layan juga banyak warga kurang antusis mencoblos karena lokasinya yang jauh. Dari jumlah DPT 365, yang mencoblos hanya 174 pemilih. “Kami sibuk mantang (sadap karet),” Marwan, warga
setempat. Sukri warga lain juga demikian. “Percuma milih pemimpin, jalan desa tetap berlumpur,” tegasnya. Telah berulang kali, berganti bupati dan
pemimpin, jalan Desa Layan tetap rusak.
Serupa di TPS 2 Desa Layan. Jauhnya TPS dari pemukiman warga dan jalan berlumpur ke sana buat sebagian warga enggang datang. Akibatnya, pemilih sangat minim. Dari 274 DPT, hanya 131 mencoblos. Tapi berbeda di TPS 28 Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu. TPS ini justru dipenuhi pemilih. Warga pun rela antri. Dari 195 DPT 195, pemilih mencapai 100 persen.
Beberapa TPS sebenarnya sudah mengupayakan agar partisipasi pemilih bisa lebih tinggi. Seperti yang dilakukan TPS 3 dan TPS 4 melakukan jemput bola pemilih. Petugas TPS, Linmas, dan polisi mendatangi pasien rawat inap RSUD Sekayu sekitar pukul 12.30 WIB.
Mereka membawa surat dan bilik suara keliling ruang rawat inap, mulai dari ruang rawat inap Sukai, Medang, Meranti, Petanang, Tembesu juga Kulim. Salah satu pemilih, pasien RSUD, Sudayani yang terbaring lemas di tempat tidurnya memperlihatkan e-KTP-nya saat petugas datang.
Petugas TPS lalu memberikan surat suara dan menutupnya pakai bilik suara. Sudaya pun ikut mencoblos menentukan pemimpinnya, meski tengah menjalani perawatan karena pendarahan. Tapi, di RSUD ini hanya 25 pasien mencoblos, karena TPS ini kehabisan surat suara. “Kita hanya bawa 10 surat suara,” kata Jeri Petugas TPS 3. Sementara petugas TPS 4 hanya bawa 15 surat suara.
Humas RSUD Sekayu, Andodi, mengaku merasa aneh surat suara bisa kekurangan. Padahal sebelumnya pihaknya sudah ajukan usulan. “Tak hanya pasien, pegawai RSUD juga ingin mencoblos,” ungkapnya. Apalagi, jumlah pasien rawat inap di sini cukup banyak mencapai 122 pasien, belum termasuk pegawai.
TPS 28 Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu juga ikut coba menarik simpati pemilih agar datang. Petugas menghiasi TPS dengan pernak-pernik serba merah muda untuk menampilkan nuansa Valentine, mulai dari tenda, sarung kursi, dan balon merah putih. “Unik dan luar biasa,” kata Erna, seorang pemilih. Ide kreatif ini buat banyak pemilih penasaran dan mau datang menyalurkan hak suaranya.
Ketua TPS 28, Kurniawan mengaku pihaknya sengaja menghadirkan TPS serba pink, karena di sini banyak pemilih muda. “Kita swadaya menghiasinya," kata dia. Tak ayal, lanjutnya, banyak warga yang datang. Dari 195 pemilih yang terdaftar di DPT, 108 pemilih sudah mencoblos sampai pukul 10.30 WIB, kemarin. TPS 6, Kelurahan Keluang, Kecamatan Keluang juga senada mempercantik TPS-nya dengan dekorasi menarik.
Keunikan berbeda di TPS 8 Jalan KHA Dahlan, Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu. Petugas TPS memakai blankon dan baju batik melayani pemilih, sehingga suasan Jawa cukup kental. Petugas TPS, Suharto, juga akui ini untuk menarik simpati masyarakat agar gunakan hak pilihnya.
TPS 6, Desa Sumber Rejeki juga sama. seluruh panitia kecuali Linmas mengenakan blankon dan pakaian tradisional Jawa. Bahkan ada acara kuda lumpingnya. "Warga di sini mayoritas orang Jawa, Mas. Selain melestarikan kebudayaan daerah, sengaja supaya warga mau datang," kata Ngabidi, Ketua KPPS 6. Di TPS 6, Kelurahan Sungai Lilin Jaya, Kecamatan Sungai Lilin seluruh panitia mengenakan pakaian muslim dan kain bawahan seperti adat melayu. "Ini semangat kita tampil beda," kata Darsono, Ketua KPPS setempat. (yud/kur/fad)

Semua cara telah dilakukan KPU Muba dan pihak terkait lain agar semua masyarakat yang masuk dalam DPT menyalurkan hak pilihnya. Namun, angka golput malah naik. Versi quick count, mencapai 39,72 persen. Naik hampir 10 persen dari pilkada yang lalu. Apa sebabnya?
-------------------
Yudi Afriandy dan Tomi Kurniawan – Muba
--------
HUJAN mengguyur sebagian besar wilayah Muba, hampir seharian. Padahal, kemarin (15/2), masyarakat Muba harus memilih pemimpin mereka untuk lima tahun ke depan. Mungkin karena itu banyak warga yang seharusnya mendatangi TPS memutuskan enggan nyoblos.
Misalnya di TPS 05 Desa Mangsang Bayung Lendir, Kecamatan Bayung Lencir. Dari 472 mata pilih, hanya 29 orang yang menyalurkan suaranya. Tak sampai 10 persen. "Hampir jam 12 siang, baru lima warga mencoblos. Setelah agak siangan, ada yang datang lagi," ujar sumber koran ini yang ikut memantau TPS tersebut.
Tak hanya karena cuaca yang kurang bersahabat. Ada faktor lain yang rupanya menyebabkan mata pilih enggan datang ke TPS. “Tidak ada yang ngasih ‘ongkos’, jadi males memilih. Ditambah hujan lagi,” ujar Suryadi, warga Babat Supat.
Dia memilih tetap di rumah dari pada nyoblos dan harus basah-basahan. Ketua PPK Bayung Lencir, Siwaruddin mengakui minimnya partisipasi pemilih. "Panitia TPS sempat meminta tambahan waktu, namun tidak bisa kami penuhi. Karena TPS tetap harus mematuhi jadwal yang sudah ditentukan. Tetap ditutup, meski pemilih baru sedikit," tukasnya.
Penyebab warga enggan mencoblos, lanjutnya, tak lain karena hujan yang turun seharian, kemarin. Belum lagi medan ke lokasi sulit ditempuh dan berlumpur. “Padahal sosialisasi dan ajakan ke warga memilih sudah sering kami lakukan,” cetusnya.
Diakuinya, tak hanya di Bayung Lencir, minimnya pemilih juga terjadi di sejumlah TPS pada kecamatan lain. Seperti di Sungai Lilin maupun Babat Supat. Camat Babat Supat, Marko Susanto menambahkan, partisipasi pemilih di wilayahnya hanya 61 persen. "Seharian hujan dan jalanan macet, pengaruhnya besar," kata dia.
Pantauan Sumatera Ekspres, Jalintim Palembang-Jambi yang melintasi Bumi Serasan Sekate ini memang macet parah. Bahkan, nyaris lumpuh seharian. Kemacetan terjadi mulai dari simpang Bonot, Desa Babat Banyuasin sampai perbatasan Desa Sukamaju, Kecamatan Babat Supat. Panjangnya belasan kilometer. Penyebabnya ada sejumlah kendaraan berat patah as dan terjebak di jalan rusak depan kantor Camat Babat Supat dan Desa Letang.
"Dari semalam, Pak. Ini sudah jam 3 sore baru bisa tembus. Bawa barang dari Jakarta mau ke Medan," kata Irwan, seorang sopir truk. Kapolsek Babat Supat Iptu Zanzibar menerangkan macet mulai pukul 01.00 WIB, Rabu (15/2). "Kendaraannya sudah kami evakuasi dan arus mulai lancar," katanya.
Kondisi yang sama juga terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Sekayu. Tapi di sini rendahnya partisipasi karena banyak warga binaan tidak terdaftar dalam DPT (dapat pemilih tetap). Pantauan Sumatera Ekspres, kemarin, tampak narapidana (napi) dan tahanan berbaju orange bergantian masuk ke sebuah tenda besar, TPS 28 di lapangan Lapas sekitar pukul 09.20 WIB. Mereka satu per satu memperlihatkan surat undangan pencoblosan ke petugas TPS lalu menuju bilik suara.
Tapi yang tak punya surat undangan atau suket (surat keterangan), justru memilih berdiam di penjara atau ada juga yang berdiri di luar blok. “Walaupun tengah jalani hukuman. Saya ikut menentukan pemimpin yang ada,” Rendra, seorang narapidana.
Ketua TPS 28, Deddy Avental, mengatakan dari 703 warga binaan Lapas Klas IIB Sekayu, hanya 239 warga binaan saja yang melakukan pencoblosan. "Awalnya jumlah DPT di sini mencapai 440 pemilih, tapi karena banyak warga binaan keluar masuk yang baru, jadi hanya 41 yang masuk. Sisanya 239 napi mengantongi surat keterangan (suket),” tegas Kepala Lapas Klas IIB Sekayu, Urib Herunadi SH.
Sementara, di TPS 1 Desa Lalan warga kurang antusis mencoblos karena lokasinya yang jauh. Dari jumlah DPT 365, yang mencoblos hanya 174 pemilih. “Kami sibuk mantang (sadap karet),” Marwan, warga setempat.
Sukri warga lain juga demikian. “Percuma milih pemimpin, jalan desa tetap berlumpur,” tegasnya. Telah berulang kali, berganti bupati dan pemimpin, jalan Desa Lalan tetap rusak.
Serupa di TPS 2 Desa Lalan. Jauhnya TPS dari permukiman warga dan jalan berlumpur ke sana buat sebagian warga enggan datang. Dari 274 DPT, hanya 131 yang mencoblos. Tapi berbeda di TPS 28 Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu. TPS ini justru dipenuhi pemilih. Warga rela antre. Dari 195 DPT 195, pemilih mencapai 100 persen.
Beberapa TPS sebenarnya sudah mengupayakan agar partisipasi pemilih bisa lebih tinggi. Seperti yang dilakukan TPS 3 dan TPS 4 melakukan jemput bola pemilih. Petugas TPS, Linmas, dan polisi mendatangi pasien rawat inap RSUD Sekayu sekitar pukul 12.30 WIB.
Mereka membawa surat dan bilik suara keliling ruang rawat inap. Mulai dari ruang rawat inap Sukai, Medang, Meranti, Petanang, Tembesu juga Kulim. Salah satu pemilih, pasien RSUD, Sudayani yang terbaring lemas di tempat tidurnya memperlihatkan e-KTP-nya saat petugas datang.
Petugas TPS lalu memberikan surat suara dan menutupnya pakai bilik suara. Sudaya pun ikut mencoblos menentukan pemimpinnya, meski tengah menjalani perawatan karena pendarahan. Tapi, di RSUD ini hanya 25 pasien mencoblos, karena TPS ini kehabisan surat suara. “Kita hanya bawa 10 surat suara,” kata Jeri Petugas TPS 3. Sementara petugas TPS 4 hanya bawa 15 surat suara.
Humas RSUD Sekayu, Andodi, mengaku merasa aneh surat suara bisa kekurangan. Padahal sebelumnya pihaknya sudah ajukan usulan. “Tak hanya pasien, pegawai RSUD juga ingin mencoblos,” ungkapnya. Apalagi, jumlah pasien rawat inap di sini cukup banyak mencapai 122 pasien, belum termasuk pegawai.
TPS 28 Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu juga ikut coba menarik simpati pemilih agar datang. Petugas menghiasi TPS dengan pernak-pernik serba merah muda untuk menampilkan nuansa Valentine, mulai dari tenda, sarung kursi, dan balon merah putih. “Unik dan luar biasa,” kata Erna, seorang pemilih. Ide kreatif ini buat banyak pemilih penasaran dan mau datang menyalurkan hak suaranya.
Ketua TPS 28, Kurniawan mengaku pihaknya sengaja menghadirkan TPS serba pink karena di sini banyak pemilih muda. “Kita swadaya menghiasinya," kata dia. Tak ayal, lanjutnya, banyak warga yang datang. Dari 195 pemilih yang terdaftar di DPT, 108 pemilih sudah mencoblos sampai pukul 10.30 WIB, kemarin. TPS 6, Kelurahan Keluang, Kecamatan Keluang juga senada mempercantik TPS-nya dengan dekorasi menarik.
Keunikan berbeda di TPS 8 Jalan KHA Dahlan, Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu. Petugas TPS memakai belangkon dan baju batik melayani pemilih sehingga suasan Jawa cukup kental. Petugas TPS, Suharto, juga akui ini untuk menarik simpati masyarakat agar gunakan hak pilihnya.
TPS 6, Desa Sumber Rejeki juga sama. seluruh panitia kecuali Linmas mengenakan belangkon dan pakaian tradisional Jawa. Bahkan ada acara kuda lumpingnya. "Warga di sini mayoritas orang Jawa, Mas. Selain melestarikan kebudayaan daerah, sengaja supaya warga mau datang," kata Ngabidi, ketua KPPS 6. Di TPS 6, Kelurahan Sungai Lilin Jaya, Kecamatan Sungai Lilin seluruh panitia mengenakan pakaian muslim dan kain bawahan seperti adat Melayu. "Ini semangat kita tampil beda," kata Darsono, Ketua KPPS setempat. (yud/kur/fad/ce2)

MUARA ENIM - Tingginya curah hujan akhir-akhir ini melanda Kabupaten Muara Enim, membuat jalan lingkar Kota Muara Enim makin tergerus longsor. Ditambah tingginya arus sungai membuat air terus mengikis tebing tersebut sehingga sebagian jalan amblas masuk ke dalam Sungai Enim.

Jalan lingkar Muara Enim yang tergerus longsor ini sudah terjadi sejak akhir tahun 2016 lalu. Namun hingga saat ini belum diperbaiki Pemkab Muara Enim. Meski begitu, Bupati Muara Enim Ir H Muzakir Sai Sohar mengaku pihaknya sudah turun langsung melihat kondisi jalan lingkar tersebut. Pihaknya sudah mendapatkan laporan di beberapa titik ruas jalan baik itu statusnya milik pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.

"Untuk jalan lingkar Muara Enim juga akan mendapat prioritas untuk diperbaiki," kata Muzakir, Rabu (15/2).

Menurut Muzakir, untuk jalan yang statusnya milik pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sudah dilaporkan agar bisa segera diperbaiki, terutama seperti di wilayah Semendo yang sampai putus akibat hujan deras. Namun untuk jalan yang statusnya milik kabupaten akan dilakukan perbaikan pada tahun ini. (roz)

JAKARTA – Potensi ketidakserentakan penyelenggaran Pilkada 2017 di 101 daerah, hari ini (24/2) muncul dari faktor eksternal. Yakni adanya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah. “Kalau secara administratif semuanya sudah beres, tapi itu (bencana alam, red) sulit diantisipasi,” ujar Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah, di Hotel Burobudur, Jakarta, kemarin.
Diakuinya, ada sejumlah daerah dilaporkan masih terkena dampak cuaca ekstrem, di antaranya Kabupaten Pandeglang, Lebak, Pati, dan sejumlah wilayah lain di Indonesia timur. Meski demikian, dia menegaskan kondisinya masih memungkinkan dilakukan pemungutan suara.
Karena itu, sebagai antisipasinya, pihaknya menginstruksikan agar dilakukan penyesuaian lokasi TPS jika sewaktu-waktu ada kondisi alam yang tidak terduga. “Nanti dilihat dari relokasi pemilihnya di sana, misalnya ditempatkan di pengungsian, nanti di sana akan didirikan,” imbuhnya.
Selain aman, tuturnya, syarat mendirikan TPS harus aksesibel. Meski dibayangi cuaca kurang bersahabat, mantan Ketua KPU Jawa Barat itu berharap semangat pemilih datang ke TPS tidak redup. Pasalnya, semakin tinggi tingkat partisipasi pemilih, kualitas dan legitimasi atas kepala daerah terpilih lebih kuat.
Dalam Pilkada kali ini, terangnya, KPU menetapkan angka partisipasi 77,5 persen. Angka itu meningkat dari capaian partisipasi Pilkada 2015 lalu di angka 69 persen. Dengan sejumlah upaya, dia optimis itu bisa tercapai. “Mudah-mudahan ekspektasi yang kita lakukan tercapai,” tuturnya.
Berdasarkan data dihimpun, adanya bencana alam sempat pengaruhi proses tahapan Pilkada. Di Pati misalnya, sejumlah TPS dilaporkan mengalami sejumlah pergeseran lokasi. Sementara di Banten, banjir yang menerjang sejumlah wilayah membuat distribusi logistik sempat terhambat.
Bagaimana di Sumsel? Staf BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Palembang, Dara Kasihairani mengatakan, hampir seluruh wilayah Sumsel juga diprediksi diguyur hujan hari ini. “Untuk wilayah Muba, Mura, Muara Enim, dan Lahat perlu diwaspadai adanya potensi hujan sedang hingga lebat, disertai angin kencang dan petir,” ujarnya.
Potensi hujan turun di siang hari. Intensitas curah hujannya sedang, 20-50 milimeter dan hujan lebat 51-100 milimeter. “Untuk Palembang diperkirakan akan hujan sejak pagi hari sampai siang,” bebernya.
Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Masykurudin Hafidz, mengatakan, adanya cuaca yang tidak stabil menjadi tantangan bagi penyelenggara. Pasalnya, antusiasme masyarakat memilih mengalami penurunan. Selain aspek antusiasme masyarakat, Masykur menilai kondisi cuaca juga bisa berdampak pada adanya mobilisasi oknum tertentu. “Kalau hujan, keinginan datang ke TPS malas. Maka potensi menggerakkan orang dengan uang bisa terjadi,” ujarnya.
Meski demikian, dia mengingatkan agar pemilih bisa tetap datang tanpa harus tergadaikan kemandiriannya. “Kemandirian pemilih melakukan pemungutan suara menentukan masa depan daerah,” ujarnya. Bukan hanya menggunakan hak pilih, dia juga menyarankan agar pemilih tidak langsung pulang. Melainkan, ikut mengawal pelaksanaan penghitungan suara. “Dengan menyediakan waktu di TPS, kita dapat mengawal proses pemungutan suara secara lebih jujur dan adil, serta memastikan suara kita di TPS tidak dicurangi,” tambahnya. Apalagi, hari ini telah ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah.
Terpisah, anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Daniel Zuchron menambahkan, hingga H-2 pemungutan suara, pihaknya masih menerima adanya sejumlah persoalan administratif yang belum klir. Di antaranya distribusi surat keterangan (suket) pengganti e-KTP belum terbuka maupun di temukannya formulir C6 bermasalah. “C6 bermasalah ditemukan di Bangka Belitung, Jakarta selatan, hingga Sulawesi Barat Karena berlebih jumlahnya,” ujarnya di Kantor Bawaslu RI, kemarin.
Sementara distribusi suket yang tertutup nyaris terjadi di semua daerah. Padahal, lanjutnya, dengan angka ditribusi yang terbuka, maka upaya pencegahan atas adanya upaya penyalahgunaan bisa dilakukan lebih dini. “Di beberapa lokasi kabarnya sudah ditindaklanjuti,” imbuhnya.
Selain yang bersifat administratif, persoalan lain yang masuk ke jajarannya menyangkut netralitas petugas penyelenggara di tingkat KPPS. Di beberapa wilayah, kasus dugaan keberpihakan KPPS banyak dilaporkan, di antaranya Jakarta Barat dan Mamuju.
Meski demikian, dia optimis, dalam waktu sehari dua hari ini sudah dilakukan sejumlah pembenahan oleh penyelenggara, sehingga saat pemungutan suara hari ini persoalannya relatif sudah lebih diminimalkan.

Coblos Pakai Hati
Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengingatkan pelaksanaan pilkada momentum kedaulatan rakyat. Untuk melaksanakannya, masyarakat diminta menggunakan hak pilihnya dalam pemungutan suara hari ini. “Jangan sampai kedaulatan ditukar sembako ataupun uang ratusan ribu,” kata Zulkifli.
Menurut Zulkifli, KPU dan Bawaslu diharap bisa menjadi wasit yang adil. Hal ini penting supaya pelaksanaan pilkada berjalan aman, tertib, dan damai. “KPU dan Bawaslu harus bisa mengawal, supaya pilkada berjalan jujur dan hasilnya legitimate,” ujar Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu.
Lebih lanjut, pilkada adalah ajang adu konsep dan gagasan. Pilkada adalah pertarungan demokratis antar anak negeri. Karena itu, perbedaan pilihan jangan sampai menjadi pemicu adanya perpecahan. “Pilihan boleh berbeda, tapi persaudaraan dan persatuan tetap yang utama,” tandasnya.
Ketua DPR RI Setya Novanto mengatakan, setiap pasangan calon (paslon) sudah menyampaikan visi misinya baik melalui kampanye maupun debat terbuka. Jadi, masyarakat sudah mengetahui sosok calon kepala daerah yang akan ikut berkompetisi dalam pilkada.
Menurut Ketua DPP Partai Golkar itu, saatnya rakyat memilih sesuai dengan hati nuraninya. Meski disertai dengan suasana hingar-bingar, kasak-kusuk dan riuh, cukuplah kebisingan yang menguras pikiran itu sebagai pembelajaran untuk semua. “Masa depan daerah kita dan masa depan bangsa dan negara kita berada di tangan rakyat sebagai pemilik suara,” ucapnya.
Dia menjelaskan, pilkada adalah ajang kontestasi yang sejatinya menghasilkan pemimpin yang betul-betul dipercaya mampu membenahi persoalan yang ada. Persoalan yang terkait dengan hajat hidup rakyat dalam menggapai kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Setnov mengajak masyarakat untuk menyalurkan hak pilih dengan jujur, bebas langsung dan rahasia. Tanpa intimidasi, tanpa rekayasa serta tanpa intervensi dari pihak manapun. Jadikan pilihan sebagai penentu kebaikan. “Untuk diri kita, untuk keluarga kita, untuk masyarakat kita dan untuk generasi kita masa depan,” paparnya.
Meski berbeda pilihan politik, kesatuan bangsa dan negara serta keutuhan sebagai sesama anak bangsa harus dikedepankan. Siapapun yang terpilih sebagai pemimpin adalah bagian dari rakyat. Pilkada serentak merupakan awal yang baik untuk meningkatkan kualitas demokrasi dan mengisinya dengan semangat kerukunan. “Perbedaan adalah sumber kekuatan, dan sebaliknya perpecahan hanya akan membuat tujuan berbangsa dan bernegara kita semakin jauh dari harapan,” tuturnya.
Pernyataan senada juga disampaikan Wakil Presiden RI Jusauf Kalla. JK menuturkan, pilkada yang damai merupakan dambaan seluruh rakyat. Masyarakat tidak hanya menginginkan kepala daerah yang berkualitas, namun juga suasana pesta demokrasi yang meriah nan sejuk. Kemeriahan dan kesejukan itu akan dibuktikan saat para pemilik suara menggunakan hak pilihnya di masing-masing TPS.
Karena itu, JK mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga agar proses pemungutan suara hari ini berjalan dengan damai dan lancar. Bagaimanapun, pilkada merupakan bagian dari proses demokrasi di Indonesia. “Demokrasi yang baik adalah demokrasi yang damai, bertanggung jawab, dan juga tentu bersifat rahasia dan bersih,” ujarnya.
Bila prosesnya bisa berjalan dengan baik dan lancar, lanjut JK, masyarakat akan mampu memilih dengan jernih sehingga menghasilkan pemimpin yang tepat. Kriterianya sederhana. Pemimpinnya baik, bersih, dan memang memiliki kemampuan untuk memimpin daerahnya masing-masing. Dengan demikian, barulah bisa dihasilkan kemajuan di tiap-tiap daerah.
Proses demokrasi yang meriah dan sejuk akan berdampak positif bagi masyarakat. Ujungnya tentu adalah kemajuan daerah. Karena untuk selanjutnya, kepala daerah terpilih bisa langsung bekerja tanpa disibukkan menyelesaikan persoalan yang terjadi selama pilkada. “Mari kita semua bersama-sama ke TPS dengan senyum, bahagia, mengharapkan pemimpin yang baik,” tambahnya.

Jokowi-JK ikut Nyoblos
Hari ini, sejumlah tokoh juga akan ikut serta memberikan suaranya di pilkada. Termasuk di antaranya Presiden Joko Widodo dan Wares Jusuf Kalla. Jokowi akan menunaikan hak suaranya bersama Ibu Negara Iriana Jokowi di Pilgub DKI Jakarta. Keduanya terdaftar sebagai pemilih di TPS 04 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.
Sementara, Wapres Jusuf Kalla sekeluarga akan nyoblos di dekat kediaman JK di kawasan Brawijaya Jakarta Selatan. JK, Mufidah Jusuf Kalla, dan tiga anaknya, yakni Chairani Jusuf Kalla, Muchlisa Jusuf, dan Solihin Jusuf Kalla terdaftar di TPS 03, Kelurahan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru Jaksel. (far/bay/lum/byu/uni/ce1)

TEBING TINGGI - Cuaca gerimis di malam hari dimanfaatkan para pelaku untuk melakukan tindakan pencurian trafo PLN. Namun aksi para pelaku yang diketahui berjumlah empat orang itu masih diketahui warga yang sedang jaga ronda malam. Percobaan pencurian tersebut terjadi, Minggu (12/2) sekitar pukul 02.30 WIB di Desa Martapura, Kecamatan Ulu Musi, Empat Lawang.

Saat itu warga yang sedang ronda malam melihat empat pelaku sedang sibuk melepaskan sebuah trafo PLN. Warga langsung menangkap para pelaku dan sempat dihakimi. Tapi nasib baik masih memihak para pelaku, mereka berhasil melarikan diri meskipun salah satu dari pelaku berinisial Ed sudah kena bacok.

"Ya benar, kejadiannya di Ulu Musi. Para pelaku sudah kami kantongi identitasnya dan masih dalam pengejaran," kata Kapolres Empat Lawang, AKBP Bayu Dewantoro, Senin (13/2).

Dijelaskan Bayu, pihaknya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengamankan barang bukti (BB), mengejar pelaku dan mengecek di Puskesmas jikalau pelaku melakukan pengobatan di Puskesmas, namun pelaku tersebut tidak ada.

"Kerugian belum bisa di taksir karena masih menunggu pihak PLN. PLN sebagai korban belum lapor tapi kita masih selidiki lagi untuk cari alat bukti lainnya," jelasnya. (eno)

KAYUAGUNG - Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bina Bersama, Desa Benawa, Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), melaksanakan panen raya di areal pertanian terbesar di kecamatan tersebut, Selasa (7/2).

Ketua Panitia Pelaksana, Edwar yang juga sebagai Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) setempat, menjelaskan areal sawah yang dipanen telah menggunakan sistem tanam Jarwo 4:1 dengan memakai benih unggul infari 30 yang disemai. Potensi areal persawahan di Desa Benawa, lebih dari 1.000 hektare, baik itu berupa sawah tadah hujan maupun lebak dan merupakan areal persawahan terluas di Kecamatan Teluk Gelam.

Dari luas potensi tersebut, saat ini sudah dimanfaatkan sebsar 686 hektare dan ditambah 21 hektare lahan cetak sawah baru sehingga total 707 hektare. Dari jumlah tersebut, lebih dari 400 hektare sudah melaksanakan tanam dua kali dalam satu tahun atau yang biasa disebut IP-200.

“Dukungan maupun bantuan yang selama ini telah diberikan oleh pihak dinas, baik berupa alat pertanian handtraktor, bibit, pupuk, atau bantuan lainnya sangat bermanfaat bagi petani,” ungkap Edwar.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura, Syarifuddin SP MSi, menambahkan, jika petani berhasil maka akan dapat meningkatkan penghasilan serta daya beli masyarakat. Sehingga apa yang diamanatkan Bupati OKI H Iskandar SE membangun OKI dari Desa guna menuju masyarakat Maju Mandiri dan Sejahtera (Mandira) segera terwujud. (gti)

MURATARA-Petani di wilayah Kabupaten Muratara, rata-rata sampai saat ini masih mengandalkan sawah tadah hujan. Petani mengaku belum bisa panen dengan maksimal, lantaran sawah mereka masih terkendala masalah kekeringan. 

Herman, Ketua Kelompok Tani ‎Kelurahan Karang Jaya, mengaku saat ini petani di wilayah ini hanya bisa melakukan panen padi sekitar dua kali dalam satu tahun. Menurutnya, produksi padi bisa lebih maksimal jika saluran irigasi yang mengaliri sawah mereka berjalan dengan lancar. 

"Kalau sekarang sawah kita masih kering, petani di sini cuma bisa mengandalkan sistem pompanisasi dan sawah tadah hujan. Jadi kita ambil air dari bendungan lalu di pompa ke sawah-sawah," katanya, Jumat (3/2). 

Petani Kelurahan Karang Jaya berharap, pemerintah, betul-betul memperhatikan nasib mereka. Pasalnya, eksistensi petani padi di wilayah Muratara kurang menonjol dan kalah bersaing dengan petani lain seperti petani karet atau petani sawit.

"Di Muratara saya rasa memang masih minim untuk produksi beras, karena di wilayah kita warga lebih banyak berkebun karet. Rata-rata petani kita mengandalkan sawah tadah hujan," katanya.  (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Sabtu (4/2).

 

Halaman 1 dari 23

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca