MUSI RAWAS-Banyak modus yang bisa dilakukan oleh pelaku kriminalitas dalam memperdaya korbannya. ‎Selasa (28/3) sekitar pukul 01.00 WIB, Rusman bin Inul (35), warga asal Desa Lubuk Dayang, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, diseret ke kantor polisi setelah mengantar pulang bocah SD.

Rusman merupakan buruh perusahaan kelapa sawit yang tingal di camp milik perusahaan di sekitar Desa Rantau Serik, Kecamatan TPK, ‎Kabupaten Musi Rawas (Mura). Awalnya Rusman beritikad baik mau mengantar jemput Bunga (9) bocah SD kelas dua, anak rekannya sendiri untuk pulang pergi sekolah, di Desa Kebur, Kecamatan TPK.

Rupaya niat baik tersebut hanya modus pelaku untuk mendekati korbannya. Buktinya, keluarga Bunga ngamuk setelah mendengar pengakuan anaknya dicabuli oleh pelaku. Awalnya, Bunga diantar pergi sekolah Senin (27/3) sekitar pukul 08.00 WIB, oleh Rusman. Sebelum pergi ke sekolah, Bunga dan Rusman mampir sebentar kerumah nenek Bunga untuk mengganti seragam sekolah dengan pakaian training.

Karena Nenek korban tengah berkebun jadi rumah dalam keadaan kosong. Korban langsung diantar ke sekolah, lalu pelaku menunggu di rumah nenek korban. Sekitar pukul 09.30 WIB, Bungan dijemput dari sekolah dan kembali kerumah neneknya. Pelaku enggan mengantarkan Bunga pulang kerumahnya dengan alasan kedua orang tuanya belum pulang bekerja.

Selanjutnya, Rusman meminta bunga menonton video porno yang berada di dalam handphone miliknya, sebagai syarat jika ingin pulang kerumah. Bocah polos tersebut mengiyakan saja permintaan Rusman dan ikut menonton video porno yang ditampilkan oleh pelaku.

Setelah puas menonton video dewasa tersebut, pelaku menyuruh korban memegangi batang kemaluannya. Awalnya Bunga enggan mengikuti intruksi pelaku, namun Rusman mengatakan hal itu lumrah seperti yang dilakukan artis di dalam video porno yang mereka saksikan tadi. (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (29/3). 

MUARADUA– Pasangan muda Apri dan istrinya Aida, warga Galang Tinggi, Kecamatan Mekakau Ilir sudah dua tahun berumah tangga, namun pasangan ini tak kunjung mendapatkan keturunan. Keinginan kuat keduanya untuk menimang sang buah hati pun harus dijalaninnya dengan melakukan berbagai upaya.

Tak ketinggalan dengan emminta pertolongan dengan salah satu orang pintar (dukun) yang mengaku bisa membantu keduanya untuk mendapatkan keturunan dalam waktu cepat. Naasnya, dukun yang diketahui bernama Tukirman malah melakukan perbuat cabul terhadap Aida yang tak lain pasien sekaligus krobannya.

Awal mula berhubungan dengan sang dukun saat korban berkenalan dengan seorang Tukirman yang konon katanya mampu memberikan keturunan dengan syarat yang tidak masuk di akal. Bermodalkan batu bulat lonjong sepanjang lebih kurang 3 cm dan kertas bertuliskan hurup Arab,  tersangka mengimingi korban agar melalui pengobatan yang dilakoninya.

Tepatnya pada Senin malam (12/3) lalu, tersangka sang dukun Tukirman mendatangi pondok korban. Tukirmanpun mulai melancarkan aksinya menggunakan alat yang dibawanya langsung. Disitulah dukun cabul ini melakukan perbuatan tak senonoh terhadap korbannya.

“Ceritenye mak ini malam itu tersaka mendatangi pondok kami, sekitar jam 9 malam, Korban mula- mula menjampi–jampi air di dalam gelas dan menyerahkannya kepada suami aku dan suami aku di suruh berjalan sejauh seratus meter, atau sekitar 10 menit, dan setelah suami aku keluar tersangka menyuruh aku membuka baju dan telanjang tanpa sehelai kain pun,”tutur korban Aida

“Dia (tersangka) menyaksikan sambil berdiri dihadapannya, setelah saya tak mengenakai pakaian, ia lalu mendekati dan meraba punggung, setelah itu aku di suruh nengkurap kemudian juga suruh tidur terlentang. Saat itulah dimasukanlah benda berupa batu lonjong ke kemaluan aku,”kata korban menceritakan.

Tidak sampai disitu, akal bulus sang dukung, kata korban tak puas disitu, iapun mengajak korban untuk melakukan hubungan badan.

“Dia juga sempat mengajak berhubungan badan dan aku dengan tegas menolak keinginannya, dengan mengancam agar aku tidak menceritakan apa yang dialami kepada suami aku,”ujar korban. (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (29/3). 

 

LUBUKLINGGAU - Mobil dump truk BG 8968 UR membawa muatan batu koral, Selasa subuh (28/3) sekitar pukul 04.45 WIB menabrak gerobak gorengan, warung soto dan tembok rumah warga yang berada dipinggir Jl Yos Sudarso, Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II. Tidak ada korban jiwa. Supir hanya alami luka di kaki akibat kena pecahan kaca.

Kejadian itu membuat kaget pemilik warung yang rumahnya hanya berjarak dua meter dari tempat kejadian perkara (TKP). Bahkan saat kejadian, pemilik warung soto dan sejumlah warga sekitar dekat lokasi langsung keluar rumah setelah mendengar suara tabrakan.

Pihak Satlantas Polres Lubuklinggau menduga, supir dump truk mengantuk saat membawa mobil dari arah simpang RCA menuju ke tempat kejadian perkara (TKP) dengan kecepatan tinggi dan hilang keseimbangan. Mobil dump truk-pun melaju kearah kiri, langsung ke atas trotoar dan menabrak beruntun yakni gerobak gorengan, warung soto dan tembok pagar rumah warga.

"Diduga supir ngantuk, langsung hilang keseimbangan, kearah kiri, naik trotoar dan menabrak gerobak gorengan, warung soto dan tembok pagar," kata Kapolres Lubuklinggau, AKBP Hajat Mabrur Bujangga melalui Kasat Lantas, AKP Sukiman. (wek)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (29/3). 

 

PALEMBANG - Masih ingat kejadian kasus  kematian Suprapto (44), warga Jl Sentosa, Gang Depok III No 19 RT 07, Kelurahan Talang Bubuk, Kecamatan Plaju pada  17 Juni 2015 lalu? Korban yang tewas dalam perjalanan ke RSMH, sebelumnya didapati mengalami luka bacok di depan WC umum 19 Ilir.

Kini pelakunya, Iwan (37) yang hampir genap dua tahun buron, akhirnya berhasil diringkus Unit Pidum Sat Reskrim Polresta Palembang, Senin (27/3) malam di depan Masjid Agung, Palembang. Saat itu tersangka sedang mencari penumpang becak motor.

Tersangka Iwan mengaku, malam itu, dirinya sama-sama minum alkohol. "Ada selisih omongan sedikit. Karena mabuk jadi kurang sadar," kata Iwan saat dibincangi di Mapolresta Palembang, Selasa (28/3). (chy)

JAKARTA – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memantau proses persidangan kasus korupsi elektronik KTP (e-KTP). LPSK berharap penegak hukum memastikan perlindungan bagi para saksi, diharapkan suatu kejahatan dapat terungkap melalui proses peradilan ideal.

Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai menyoroti perkembangan proses peradilan kasus korupsi KTP elektronik, dimana pada persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor), Jakarta Pusat, Kamis (23/3), salah seorang saksi tiba-tiba mencabut dan membantah semua keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

“Meskipun saksi mengaku terancam oleh penyidik saat di-BAP, keterangannya tidak serta merta dipercaya majelis hakim. Kemungkinan saksi mendapatkan tekanan dari pihak-pihak lain terkait megakorupsi ini juga terbuka. Karena itu perlindungan bagi saksi dalam kasus ini sangat diperlukan karena potensi ancamannya cukup tinggi,” kata Haris, Jumat (24/3).

Semendawai mengatakan, salah satu alasan dibentuknya LPSK yaitu membantu terwujudnya proses hukum yang ideal. Salah satunya dengan memastikan perlindungan dan hak-hak bagi saksi, khususnya dalam kasus korupsi. Karena itu dia mengimbau penegak hukum dapat memanfaatkan layanan perlindungan yang diamanatkan negara kepada LPSK.

Menurut Semendawai, pada saat pembacaan dakwaan, sejumlah nama, mulai pejabat, politisi hingga pengusaha disebut-sebut menerima percikan uang dari kerugian negara yang mencapai Rp2,9 triliun tersebut. Mengingat banyaknya pihak yang terlibat dalam kasus dengan kerugian negara terbesar yang ditangani KPK, ancaman terhadap saksi juga tinggi.

Apa yang terjadi pada saksi yang dihadirkan jaksa, yaitu mantan anggota  Komisi II DPR Miryam S Haryani, juga besar kemungkinan akan terjadi pada saksi–saksi lainnya. Apalagi, jika para saksi itu memang mendapatkan tekanan dari pihak tertentu untuk tidak menyeret nama-nama lain saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan.

Karena itu, LPSK menilai upaya KPK yang langsung menangkap tersangka lainnya, AA, sebagai langkah yang tepat. Hal ini dirasa penting mengingat potensi ancaman fisik atau intimidasi juga diterima tersangka AA juga terbuka. Apalagi, peran AA dalam kasus ini disebut-sebut cukup penting karena diduga menjadi pihak yang aktif membagi-bagikan uang.

Khusus bagi AA, Semendawai menilai terbuka bagi yang bersangkutan untuk mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC). Dengan menjadi JC, selain ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, seperti membantu penegak hukum mengungkap tersangka lain dan mengembalikan hasil kejahatannya, juga bisa mendapatkan perlindungan dan penghargaan lainnya. (ran)

‎MUARA BELITI - Pencarian korban hanyut di Sungai Kelingi, di Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura, berakhir sudah. Yensi (28), korban terakhir yang tenggelam di Sungai Kelingi sudah ditemukan‎ dan melengkapi hasil pencarian. Yensi ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, terlentang mengambang di aliran sungai sekitar 4 km dari tempat kejadian perkara (TKP), Jumat (24/3) sekitar 11.30 WIB.

Selanjutnya, jenazah korban langsung diamankan dan diberikan kepihak keluarga. Sekitar pukul 14.35 WIB, sejumlah masyarakat ramai mendatangi kediaman Yensi di RT 03, Kelurahan Muara Beliti, Kabupaten Mura. Karena korban sudah tenggelam selama tiga hari, jenazah korban sudah mengalami kerusakan dan mengeluarkan bau tidak sedap. ‎ 

Dengan menggunakan baju kemeja panjang hijau toska, celana merah pendek, dan kain selendang merah untuk menggendong anaknya yang terlilit di bagian punggung korban. Sejumlah masyarakat, membakar kayu bakar untuk membuat asap, sehingga menghilangkan bau danur yang keluar dari tubuh korban. ‎

Muin (53) paman korban menuturkan, pihak keluarga meminta otopsi karena menyikapi kematian korban yang tidak wajar. Rencananya, ‎setelah melakukan otopsi di RS Sobirin Kota Lubuklinggau, jenazah akan dimakamkan di sebelah pemakaman kedua anaknya di tempat pemakaman umum (TPU), di Kecamatan Muara Beliti.

"Kami akan visum dulu ke rumah sakit, setelah diotopsi jenazah baru dimakamkan. Kita ingin tahu apa motiv yang mengakibatkan korban meninggal, karena kematian korban kami anggap tidak wajar," kata Muin.

Keluarga mengaku masih bingung atas kronologis kejadian yang disampaikan oleh saksi korban. Karena saat kejadian minim saksi dan perahu yang mereka tumpangi sampai saat ini tidak pernah ditemukan.

"Tidak ada yang menemukan perahu itu, kita tidak tahu apakah korban benar-benar tewas tenggelam atau ada kejadian selain itu. Yang pasti ketiga korban tewas di sungai," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kejadian tersebut berlangsung Rabu (22/3) sekitar pukul 08.00 WIB, ketika Yensi, Reza (4), Alif, balita sepuluh bulan, dan Mori suami korban hendak pergi berobat bisul ke pusat kesehatan di Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri. Dari lokasi rompok mereka menyadap karet. Selanjutnya mereka menaiki perahu untuk memotong jarak tempuh, namun perahu tersebut bocor dan karam.

Ketiga korban, Yensi, Alif dan Reza tenggelam sedangkan Mori selamat. Kondisi sungai saat itu tengah surut dengan kedalaman sekitar 4 meter, dengan luas sungai 40 meter. Kedua korban Reza dan Alif ditemukan setelah satu hari pencarian di sekitar TKP dan Yensi baru ditemukan setelah tiga hari pencarian. (cj13)

TEBING TINGGI - Perbuatan cabul anak dibawah umur kembali terjadi di Kabupaten Empat Lawang. Kali ini korbannya berusia sekitar sepuluh tahun berinisial HK, warga Desa Puntang, Kecamatan Ulu Musi. Pelakunya warga yang sama yakni Sinarsih (45) yang bekerja sebagai petani.

Informasi yang berhasil dihimpun, kejadian pencabulan itu terjadi Minggu (19/3) lalu dan baru dilaporkan ke pihak kepolisian Rabu (22/3). Saat itu, korban baru pulang dari sekolahnya di Sekolah Dasar (SD) Negeri 5 Desa Puntang Kecamtan Ulu Musi. Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba korban dipanggil oleh pelaku untuk diajak ke rumahnya dengan berjalan kaki. Sampai di rumah pelaku, korban dipaksa melepas celana dan baju. Lalu korban dicabuli dengan memasukkan alat vital terduga ke kelamin korban secara berulang-ulang.

Akibat perbuatan tersebut membuat korban menangis. Setelah pelaku melakukan perbuatan bejatnya, korban diberi uang sebanyak Rp5 ribu oleh pelaku dan disuruh pulang ke rumah serta disuruh tidak melaporkan kejadian tersebut kepada siapapun. Namun perbuatan pencabulan tersebut, diketahui oleh orang tua korban setelah korban menceritakannya kepada orang tuanya.

Selanjutnya, orang tua korban mendatangi Polsek Ulu Musi, guna melaporkan kejadian yang menimpa anaknya itu. (eno)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Sabtu (25/3). 

MUSI RAWAS – Pencarian tiga korban hanyut di Sungai Kelingi, tepatnya wilayah Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, membuahkan hasil. Setelah satu hari satu malam, dua korban ditemukan mengambang di pinggir sungai.
Keduanya, Reza (4) dan Alif (10 bulan). Jasad kakak adik itu ditemukan sekitar pukul 04.13 WIB, kemarin (23/3). Tubuh Reza ditemukan di pangkalan perahu Dusun Seriang, sedangkan Alif tersangkut ranting di lubuk keramat, Desa Lubuk Rumbai.
Hingga sore kemarin, tim gabungan BPBD dan Basarnas serta pihak kepolisian bersama masyarakat masih terus melakukan pencarian. Korban yang belum ditemukan, Yensi (28), yang dua hari lalu tenggelam bersama kedua anaknya. Sedang Mori, suami korban yang juga ayah kedua bocah, selamat.
Keluarga Yensi menuding banyak kejanggalan dalam kasus ini. Saat kejadian, air sungai yang lebarnya 40 meter itu sedang surut. Selama menyadap karet, tidak pernah para korban melintasi sungai tersebut.
Alasan Mori mengajak istri dan kedua anaknya lewat sungai untuk berobat dianggap tidak logis. “Kakak korban sempat emosi karena ada kejanggalan,” kata Ema, tetangga Yensi.
Jenazah Reza dan Alif kemarin sudah dimakamkan di pemakaman umum RT 03, Kelurahan Muara Beliti, pukul 11.00 WIB. Keluarga berharap jasad Yensi segera ditemukan. Diketahui, Yensi merupakan anak bungsu dari pasangan Hatta dan Enap. Dia janda beranak satu yang dinikahi Mori sekitar 1,5 tahun lalu. dari pernikahan itu, Yensi melahirkan Alif.
Menurut Ema, warga tidak mengetahui secara pasti kronologis kejadian lantaran banyak isu yang berkembang seputar kasus itu. "Kita tunggu sajalah, biar kepolisian yang memprosesnya," timpalnya.
Camat Tuah Negeri, Henri membenarkan adanya dugaan kejanggalan dalam kasus
tersebut. Sampai saat ini, perahu yang dinaiki para korban belum ditemukan. Kepala Pelaksana BPBD Mura, ‎Paisol menuturkan, tim menggunakan sejumlah peralatan selam serta perahu karet untuk melakukan pencarian. Medan pencarian di lokasi dirasa cukup berat karena banyak bebatuan dan palung sungai.
Pihaknya menggunakan sistem manuver dan berusaha membuat ombak buatan untuk mengambangkan jasad korban ke permukaan air. Kapolsek Muara Kelingi, AKP Syarifudin mengungkapkan, pihaknya sudah memulangkan Mori ke Lubuklinggau, suami Yensi. Yang bersangkutan tidak ditahan.
"Untuk sementara kami simpulkan kasus ini kecelakaan murni. Tapi terus diselidiki,” ucapnya. Diwartakan sebelumnya, saat kejadian Mori mengajak istri membawa kedua anak mereka berobat. Reza, anak sulung mereka menderita penyakit bisulan. Naik perahu, mereka pun menyeberangi sungai. Belum mencapai tepian, perahu karam. Mori selamat, istri dan dua anaknya tenggelam.(cj13)

MUARA ENIM--Kasus pembunuhan terhadap Rahmadani (16) pada 5 Oktober 2014 silam direkonstruksi di halaman Polsek Gelumbang.Tersangkanya Eko Prawiro (19) menjalani 10 adegan rekonstruksi. Sedangkan korban dilakukan oleh peran pengganti. Pelaku dan korban merupakan teman dan sama-sama warga Inderalaya, Ogan Ilir.

Nah, sekitar seminggu yang lalu tersangka didampingi keluarganya menyerahkan diri ke Polsek Gelumbang. Berdasar adegan rekon, TKP pembunuhan di Jalan Arah PT Indralaya Agro Langgeng Desa Tanjung Baru Kecamatan Muara Belida, Muara Enim. Pelaku menusuk korban pada bagian punggung dengan menggunakan sajam jenis pisau secara berulang kali. Lalu pelaku melarikan diri sembari membuang pisau.

Bermula pada 5 Oktober 2014 korban dijemput oleh tersangka di rumahnya pada siang hari. Kemudian dengan menggunakan motor korban, keduanya berboncengan jalan-jalan. Lalu sampai malam korban belum pulang. Pada pukul 24.00 WIB, korban SMS ke tetangganya bernama Ujang yang isinya “Tolong jemputi aku, aku dak tahan lagi, bawa ambulan dan bawake air minum jugo".

Kemudian keluarga dan tetangga menemukan korban sudah tewas di TKP. Berdasar rekon, keributan antara tersangka dan korban terjadi karena keduanya salah paham. Dimana tersangka ingin pulang karena hari sudah malam sementara korban melarangnya. Lalu korban sempat memukul kepala tersangka. Kemudian tersangka melawan. Tersangka sempat menendang kemaluan korban sehingga korban tampak bersujud. Barulah tersangka menghujamkan pisau ke punggung korban sampai tewas. (roz)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3).

 

MUSI RAWAS-Pencarian dramatis tiga korban hanyut di Sungai Kelingi, di Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura, membuahkan hasil. Setelah melakukan pencarian selama satu hari satu malam, akhirnya dua korban atas nama Reza (4) dan Alif (balita 10 bulan), ditemukan mengambang‎ di pinggiran sungai.     

Kedua jenazah tersebut ditemukan masyarakat Kamis (23/3) sekitar pukul 04.13 WIB, tidak jauh dari lokasi perahu mereka karam dengan jarak sekitar 50 meter dari lokasi TKP. Reza ditemukan di pangkalan perahu Dusun Seriang, sedangkan Alif ditemukan tersangkut ranting di lubuk keramat, Desa Lubuk Rumbai.  

Pihak kepolisian, masyarakat serta tim dari BPBD dan Basarnas dari Provinsi Sumsel, saat ini masih melakukan pencarian terhadap korban Yensi (28), yang ikut tenggelam bersama kedua anaknya.

Informasi dihimpun, awalnya keluarga korban menuding banyak kejanggalan dari kasus ini. ‎Seperti saat kejadian air sungai tengah surut dan lebar sungai Kelingi sekitar 40 meter‎ dengan kedalaman 4 meter, korban tidak pernah melintasi jalur sungai selama bekerja menyadap karet. Serta alasan saksi korban mengajak korban beserta kedua anaknya melalui jalur sungai untuk berobat dianggap tidak logis.

Ema, tetangga korban yang sempat dihubungi menyatakan, jenazah kedua korban sudah dimakamkan di RT 03, Kelurahan Muara Beliti, Kecamatan Muara Beliti sekitar pukul 11.00 WIB. (cj13)

Baca selengkapnya di harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3).

      

Halaman 1 dari 35

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca