PALEMBANG - Jl Kolonel H Barlian Km 9 di kawasan Sukarami selalu menjadi langganan banjir. Hujan yang mengguyur Palembang, Kamis (23/2) pukul 17.00 WIB menyebabkan banjir di kawasan Sukarami. Padahal, hujan yang turun hanya sekitar 30 menit. Namun ketinggian air yang merendam Jl Kolonel H Barlian Km 9 mencapai 30 cm.

Pengendara kendaraan roda dua yang melintas dari arah kota menuju Sukarami terpaksa berjalan lambat untuk mencari jalan yang tinggi dan tidak dalam terendam air.

Fahmi, salah satu warga menyesalkan seringnya banjir merendam kawasan Sukarami. Seharusnya pemerintah membuat drainase di sepanjang jalan sehingga air mengalir dan tidak menggenang. "Dari dulu Jalan Haji Barlian ini banjir kalu ujan," kata Fahmi. (dom)

PALEMBANG - Persatuan Bulutangkis (PB) Sumatera Ekspres menggelar latih tanding dengan PB Mandiri Badminton Club di lapangan bulutangkis PB Anugerah Padang Selasa, Kamis (23/2) malam.

General Manager Harian Sumatera Ekspres H Mahmud mengatakan bahwa latih tanding yang digelar dengan PB Mandiri Kanwil untuk menjalin silaturahmi dua perusahaan. Bank Mandiri Kanwil memiliki klub bulutangkis, sedangkan Sumatera Ekspres juga memiliki klub.

"Karena itu kita gelar latih tanding untuk menjalin silaturahmi," kata Mahmud.

Latih tanding tersebut dihadiri Direktur Operasional Harian Sumatera Ekspres H Muslimin, General Manager H Mahmud, Manajer SDM dan Umum Hamka Abdullah, Manajer Advertising Area Palembang Sutan Reno Irawan, dan pemain PB Sumeks lainnya. Dari Mandiri Badminton Club hadir Manager Credit Card Chairi Ramanova, Credit Risk Manager Daryono Harsyah, RBC Manager Pusri Syarifudin Syukri, Operation Manager, Wahyu, dan pemain Mandiri Badminton Club lainnya. (dom)

Penyanyi asal Palembang yang merengkuh kesuksesan di Jakarta tak banyak. Salah satunya Bariah Hamed. Di era 1990-an, namanya sempat berkibar di belantika musik dangdut Melayu dengan salah satu hitsnya, Bali Tersenyum.
----
KMS ACHMAD RIVAI - Palembang
-----
SEORANG wanita paruh baya dengan menggandeng anak kecil usia 5 tahunan terlihat keluar dari dalam rumah almarhumah Hj Zainab Ahmad, pendiri grup kasidah modern IKKI Grup di Jl Merdeka, beberapa hari lalu. “Waalaikumsalam,” ucapan lirih wanita parobaya yang keluar nyaris tertatih dari dalam rumah dengan kondisi ringkih. Ternyata, dialah Bariah Hamed, salah satu penyanyi dangdut kharismatik yang pernah dimiliki Sumsel, khususnya Kota Palembang.
Ya, di masa jayanya, putri sulung pasangan musisi almarhum Abdullah Munawwar dan almarhumah Hj Zainab Ahmad ini pernah dielu-elukan. Dia juga menjadi idola kawula muda di era 1990-an.
Darah seni tarik suara memang sudah mengalir dari kedua orang tuanya. Terlebih karena ayahandanya, almarhum Abdulah Munawwar saat itu memimpin Himpunan Orkes Melayu Dangdut Palembang (Homep).
“Waktu kecil hingga remaja sering ikut Umi (almarhum Hj Zainab Abdullah) pentas dengan IKKI Grup. Yang paling sering jadi langganan penyanyi di kampanye pemilu Golkar. Karena kebetulan Umi aktif sebagai pengurus AMPI, salah satu organisasi sayap kepartaian Golkar kala itu,” kenang Bariah memulai perbincangannya di ruang tamu rumah orang tuanya.
Selain aktif bernyanyi dari panggung ke panggung, Bariah juga seringkali ikut dalam berbagai kontes dan lomba lagu dangdut Melayu serta kasidah modern. Ia juga langganan juara. Karenanya, namanya berkibar dan pamor di antara penyanyi di Palembang kala itu.
Hingga akhirnya, pada pertengahan 1990, dirinya mencoba peruntungan di tingkat nasional. Dia mengikuti ajang Lomba Cipta Lagu Dangdut Indonesia (LCLDI) di Surabaya yang diikuti ratusan penyanyi pendatang baru dari seluruh Indonesia. Di ajang itu, Bariah Hamed meraih juara tiga tingkat nasional.
“Sejak keberhasilan merebut juara tiga di ajang tersebut, tawaran manggung di tingkat nasional hingga membuat album terus mengalir. Bahkan, saya akhirnya gabung dengan Persatuan Artis Melayu Indonesia dipimpin Raja Dangdut H Rhoma Irama,” tukas penyanyi kelahiran Palembang, 19 Februari 1962 ini.
Hingga di pengujung kariernya, tak kurang dari belasan album lagu dibuat Bariah. Di antaranya Bali Tersenyum bersama gabungan artis tahun 1991, Terima Kasih Tuhan (1996). Selain dua album yang terlebih dulu dibuatnya, yakni Umi-Abah (1990) serta Tak Direstui (1991). Bariah yang bersuamikan almarhum Hamed Baharun, pengusaha kayu gaharu yang meninggal pada 2011 dan dikaruniai empat orang anak. Masing-masing Fauzi, Rafika, Ramadhan, dan Farhan.
Mengenai perbedaan musik dangdut dan penyanyi dangdut di zamannya dengan saat ini, Bariah sempat terdiam sesaat. “Kalau di zaman saya dulu, sebagai penyanyi dangdut, kita dituntut menunjukkan kualitas vokal yang paling utama. Tetapi saat ini sepertinya hal itu tak terlalu penting. Yang penting temponya, terlebih saat ini sudah ada organ tunggal,” bebernya.
Dari sisi performance penyanyi di eranya, Bariah mengakui juga dituntut untuk tampil glamor. Namun mereka harus tetap berpakaian resmi dan sopan. Ini tentunya sangat berbeda dibandingkan penyanyi sekarang yang seolah-olah glamour segala-galanya. “Saya tidak mau komentar. Tapi bisa dilihat sendiri bedanya penyanyi dangdut di zaman saya dengan penyanyi dangdut saat ini,” tuturnya sambil tersenyum.
Namun, kesuksesannya sebagai solois dangdut Melayu harus terhenti di tahun 2007. Kala itu, Bariah mengaku, dirinya divonis menderita kolesterol tinggi diikuti serangan stroke di tahun yang sama hingga kini.
“Karena kolesterol inilah yang membuat saya harus keluar masuk rumah sakit. Pernah sampai empat kali dalam seminggu saya harus keluar masuk rumah sakit di Jakarta. Memang saya akui, selama berkarier, saking banyaknya job kerap melalaikan kesehatan. Jadi ini sekaligus pesan bagi penyanyi pemula harus tetap jaga kesehatan,” imbuh penyanyi berusia 51 tahun ini.
Di pengujung 2016, karena usaha yang dirintis oleh almarhum suaminya dan dilanjutkan sang anak mengalami masalah finansial, Bariah mengaku sementara memutuskan memboyong seluruh anggota keluarganya pulang kampung. “Ya, itulah yang namanya roda kehidupan, selalu berputar. Yang terpenting bagaimana caranya agar kita dapat senantiasa bersyukur, tidak boleh mengeluh. Tolong doanya untuk kesembuhan penyakit saya ini,” kata Bariah dengan suara pelan didampingi salah seorang cucunya. (*/ce2)

PALEMBANG - Di Jl Mekar Sari/Rompok Raya, Kelurahan Lebong Gajah, Kecamatan Sematang Borang, Palembang terdapat sebuah rumah berukuran tak lebih dari tipe 36 dan berdinding batako.

Di rumah tersebut puluhan anak-anak tengah belajar membaca dan bernyanyi yang diajarkan oleh Aiptu Sabirin bersama istrinya, Monalisa yang merupakan anggota Polwan, dan Wak Hawa selaku pemilik rumah.

Hiruk-pikuk semangat anak-anak yang belajar itulah yang menyambut kedatangan Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono HB, Rabu (22/2). Kepedulian anggota Bhabinkamtibmas Lebong Gajah itu membuat Kapolresta ingin melihatnya lagsung dan memberikan bantuan.

"Kita berikan bantuan berupa lemari, rak buku, buku-buku pengetahuan umum, dan donasi untuk pemilik rumah yang dijadikan tempat mengajar," kata Wahyu.

Hal itu dilakukannya, tak lain sebagai upaya untuk meningkatkan kampuan anak-anak yang tidak lulus sekolah. "Jadi mereka kesehariannya di sela-sela kegiatan diberikan pelajaran khususnya pengetahuan umum yang dilaksanakan setiap sore hari," jelasnya.

Dirinya pun bangga, karena itu merupakan ide dari anggotanya karena yang bersangkutan merupakan Bhabinkamtibmas dan istrinya anggota Polwan.

"Mereka mengajak anak yang tidak mampu sekolah, setiap sore berkumpul dan memberikan pengajaran," jelasnya.

Hal itu pun akan diterapkan ke Polsek lain sesuai dengan situasi dan kondisi yang berbeda. "Yang jelas, kita sangat mendukung anggota yang melakukan tugas sosial dan bakal memberikan bantuan secara bertahap," lanjutnya.

Aiptu Sabirin pun mengaku awalnya dirinya hanya mendata anak-anak yang putus sekolah. "Berjalan waktu, karena tempat ini jauh dari SD sehingga anak yang putus sekolah tidak mau sekolah lagi. Jadi saya berusaha mengajari mereka," akunya.

Dirinya dengan Hawa membentuk kelompok belajar dan seiring berjalan waktu sering terkendala masalah buku dan mendapatkan buku dari masyarakat yang dikumpulkan. "Saat ini ada sekitar 25 murid yang sudah dilakukan sejak Desember 2016 lalu," tandasnya. (chy)

PALEMBANG - Baru enam bulan menghirup udara bebas Fedriansyah (20) kembali ditangkap, lantaran nekat menjambret Redo (22) di kawasan PS Mall Palembang, Selasa (21/2) sekitar pukul 21.00 WIB.

Diungkapkan warga Jl Sukawinatan, Lr Perjuangan, RT 52, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami Palembang ini, sebelum menjambret, dirinya baru pulang dari rumah istrinya di Jl Dwikora II.  Dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Sukawinatan, terlintas dibenaknya untuk menjambret karena butuh uang untuk menebus mas kawin yang ia gadaikan.

"Korban lagi di pinggir jalan sedang menelepon, kemudian langsung saya tarik HP-nya," kata tersangka Fedriansya saat gelar tersangka dan barang bukti di Mapolsekta Ilir Timur (IT) I, Rabu (22/2).

Setelah berhasil mendapatkan satu unit HP merek Oppo, tersangka lansung kabur ke Jl Anwar Sastro. Ternyata korban mengejar sambil berteriak dan ia pun dikepung oleh warga.

"Saya butuh uang untuk menebus mas kawin sebesar Rp700ribu," ujarnya. (wly)

PALEMBANG - Pungli ada dimana-mana, juga ditemukan pungli yang dilakukan pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) Kota Palembang.

Tak senang dengan pungli yang dilakukan oleh pendampingnya, empat orang perwakilan penerima PKH ini pun melaporkan pungli sekaligus pemalsuan tanda tangan yang dilakukan oleh Yandiarni Tri Puteri SE sebagai pendamping PKH dan Ketua kelompoknya Ferra.

Di hadapan petugas SPKT Polresta Palembang, Selasa (21/2), Ana, salah satu penerima PKH mengaku pihaknya tak terima dengan kejadian yang dialaminya itu. "Tanggal 9 Februari lalu, kami cair dana PKH. Tapi ada satu nama anak kami yang tidak masuk," kata Ana (37).

Dengan kejanggalan itu, dirinya pun bertanya dengan pendamping PKH-nya melalui telepon. Namun SMS dan BBM tak dibalas, mencoba menelpon pun tidak diangkat. "Sedangkan waktu kami pencairan dia tidak mendampingi kami dan kelompok lain sudah ada pendamping semua," terangnya seraya menyebut pendampingnya itu pun mengharuskan pencairan hanya bisa dilakukan di konter Hellen di kawasan Tangga Buntung.

Lebih lanjut, Ana yang merupakan penerima PKH dari 35 Ilir Tangga Buntung ini diamini tiga penerima PKH lainnya. Mereka mengaku karena tak ada tanggapan dari pendampingnya, Ana cs mendatangi Dinsos mempertanyakan mengapa anak-anak mereka tidak masuk dalam kategori penerima PKH itu.

"Sudah dua kali anak kami yang SD tidak masuk namanya, padahal satu anak Rp112.500," terangnya.

Setelah mereka melapor ke Dinsos Sumsel, ternyata nama anak-anak mereka ini masih tercantum di data penerimaan PKH. "Pas dibuka masih ada namanya, mereka juga bilang semuanya tergantung dengan pendampingnya," jelasnya lagi.

Di hadapan petugas, dirinya pun membenarkan kalau pendampingnya itu, selalu meminta uang Rp20ribu-Rp140 dengan didatangi ke rumah-rumah setelah pencairan dilakukan.

Lebih lanjut, setelah pihaknya mendatangi Dinsos kota di Jl Merdeka, pejabat Dinsos Palembang pun mengatakan kalau pihaknya akan segera memanggil terlapor dan segera mempertemukannya dengan terlapor. "Katanya seminggu bakal dipanggil sedangkan sampai sekarang sudah sepuluh hari belum dipanggil," terangnya.

Karena lama menunggu tanpa kepastian, mereka pun mendatangi Dinsos Palembang, Jumat (17/2) lalu dan pejabat di Dinsos pun memperlihatkan surat penyataan tanpa ada pungutan yang ditanda tangani oleh tujuh orang termasuk dirinya. "Kami terkejut, padahal kami tidak pernah menanda tangani surat itu," jelasnya.

Di tujuh orang yang melakukan tanda tangan tersebut, pihaknya pun sudah mendatanginya dan ternyata semuanya juga mengaku tidak pernah melakukan tanda tangan itu. "Sampai sekarang tidak ada niat baik dari mereka, jadi terpaksa kami lapor polisi," jelasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Maruly Pardede mengaku pihaknya sudah menerima laporan. "Kita sudah terima laporannya, bakal segera kita usut," tandasnya. (chy)

PALEMBANG - Angka kecelakaan di perairan Palembang masih terbilang sedikit, dibandingkan kawasan perairan di perbatasan. Sepanjang 2016, di wilayah perairan antara Pulokerto sampai Pulau Salah Nama, hanya terjadi satu kali kecelakaan, yakni pada Desember 2016. Sebuah tugboat menabrak tiang pancang proyek pembangunan Musi IV.

Menurut Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono HB melalui Kasatpolair Kompol CS Panjaitan, untuk meminimalisir kejadian serupa ke depan, pihaknya terus mengintensifkan himbauan bagi masyarakat pengguna dan pengemudi transportasi air. "Dibandingkan kawasan Banyuasin dan perbatasan Sumsel-Bangka, wilayah perairan Palembang kejadiannya sedikit," kata Panjaitan, Selasa (21/2).

Karena itu, himbauan yang disampaikan ini rutin dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Perairan. Khusus pada pengguna transportasi di alur yang sempit, di bawah jembatan Ampera dan dikawasan sekitar pembangunan Jembatan Musi IV dan Musi VI. "Terlepas dari hal tersebut, anggota patroli kami juga kerap menyampaikan himbauan bagi masyarakat, sehingga kita harapkan angka kecelakaan air ini akan dapat terus ditekan," ujarnya.

Di lain pihak, Kepala Dinas Perhubungan Palembang Kurniawan melalui Kabid Angkutan Sungai dan Penyeberangan Syarifudin mengungkapkan bahwa pihaknya juga terus melakukan himbauan kepada pemilik angkutan air, untuk melengkapi alat keselamatan. Pelampung (life jacket), hingga alat pemadam api ringan. Meskipun tak jarang, himbauan ini terkesan diabaikan. (aja)

PALEMBANG - Permintaan suntik meningitis di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) mulai normal kembali. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung yang datang setiap harinya hanya 100 orang.

“Sudah jauh berkurang dibandingkan Desember dan Januari lalu. Karena masyarakat sudah banyak yang menunaikan ibadah umrah. Sejak Januari hingga hari ini (20/2) tercatat sudah 3.100 jemaah disuntik meningitis,” kata Kepala KKP Palembang H Marjunet M Kes, Senin (20/2).

Ditargetkan tahun ini permintaan suntik meningitis mencapai 18 ribu. Target tersebut  lebih sedikit dibanding tahun lalu yangmencapai angka 19 ribu. Karena puncak musim umrah sudah lewat.

"Kami tidak heran kalau terjadi antrean panjang seperti beberapa waktu lalu selama tiga bulan karena hal ini sudah sangat lumrah setiap tahun," ujarnya.

Mengenai stok vaksin? Kata Marjunet, cukup hingga setahun ke depan dan setiap tahun tidak pernah mengalami kendala dalam penyaluran stok vaksin tersebut. “Untuk pelayanan suntik meningitis bagi calon jemaah akan dilakukan puskesmas yang ditunjuk Dinkes masing-masing," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sumsel, Drs H M Alfajri Zabidi MPdI, melalui Kasubag Humas Informasi, Saefudin Latief mengungkapkan, permintaan suntik meningitis itu mengikuti jumlah jemaah yang melakukan umrah. Dan biasanya ada musimnya. “Ini sudah terjadi setiap tahun," tukasnya. (uni)

KAYUAGUNG - Kantor Kementerian Agama Kabupaten OKI bekerja sama dengan Kantor Imigrasi Palembang menggelar pelayanan pembuatan paspor haji secara mobile. Di kabupaten berjuluk Bumi Bende Seguguk ini terdapat 248 jemaah calon haji (JCH) memanfaatkan layanan tersebut yang dilakukan di Ponpes Darul Ulum, Lubuk Seberuk, Senin (20/2).

Kasi Lantaskim Imigrasi Palembang Erwin H mengatakan bahwa pelayanan paspor jarak jauh ini dilakukan guna mempermudah layanan bagi masyarakat. “Seperti arahan presiden bahwa ini bentuk pelayanan prima kepada masyarakat," kata Erwin.

Terlebih, di OKI banyak JCH yang daerahnya cukup jauh dari kantor imigrasi. Sehingga dengan adanya layanan ini menggunakan mobil keliling, bisa mempermudah masyarakat dalam pembuatan paspor.

"Setelah melakukan foto dan pemberkasan selanjutnya, pembuatan paspor akan diproses dan diambil oleh Kemenag OKI,"  ujarnya. (gti)

PULUHAN mahasiswi yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dari beberapa perguruan tinggi di Palembang menggelar aksi  menutup aurat dengan berhijab di Bundaran Air Mancur (BAM), Palembang, Minggu (19/2). Gerakan mari menutup aurat ini digelar untuk memperingati Hari Jilbab sedunia yang jatuh setiap 14 Februari. (kms)

Halaman 1 dari 39

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca