Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kemb...

Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kembangkan Pupuk Kompos

‎MURATARA - Kendati banyak peminat, pengelolaan kotoran hewan ...

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

PAGARALAM - Anggaran untuk pelaksanaan Pilkada 2018 di Sumsel mendapat...

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

PAGARALAM - Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati ‎Mkes mengi...

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

PAGARALAM – Meski dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (A...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan Tersangka

JAKARTA- Mantan Walikota Jakarta Barat Fatahillah akhirnya ditetapkan ...

Pertamina Punya Jubir Baru

Pertamina Punya Jubir Baru

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) masih melakukan rotasi di internal. ...

Nilai Tukar Rupiah Stabil

Nilai Tukar Rupiah Stabil

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masi...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selat...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selatan dan Afrika

SURABAYA - PT INKA (Persero) berambisi menguasai pasar perkeretaapian ...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan Online

JAKARTA - Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Harryadin Mahar...

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

JAKARTA - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenri...

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

SEKAYU – Permasalahan pembayaran gaji guru honorer SMA/SMK s...

Kejar Senjata Milik Teroris

Kejar Senjata Milik Teroris

JAKARTA— Densus 88 Anti-Teror berupaya melakukan antisipasi ...

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

JAKARTA – Kedatangan perwakilan Masyarakat Anti-Korupsi Indo...

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

JAKARTA – Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) tur...

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

LONDON – Investigasi teror Westminster berlanjut. Kemarin (2...

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

JAKARTA – Indonesia dan Prancis akan teken beberapa kesepaka...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkon...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkong

HONGKONG – Sosok Fidel Castro berbaring tenang di atas kasur...

Pasang QR Code di Produk Obat

Pasang QR Code di Produk Obat

JAKARTA – Pengawasan obat-obatan dan makanan diakui Badan Pe...

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

MARTAPURA – Tak ada lagi rasa takut kawanan bandit bersenpi ...

Perbankan Beri Kemudahan

Perbankan Beri Kemudahan

PALEMBANG - Pelaku perbankan memberi kemudahan dan biaya bunga ringan ...

PALEMBANG - Sinyal pergantian pelatih di tubuh Sriwijaya FC semakin kuat. Maret tinggal sepekan, belum ada tanda-tanda acara penandatanganan perpanjangan kontrak untuk mereka dilakukan. Padahal, kontrak pelatih Widodo Cahyono Putro beserta sang asisten, seperti Kusaeri, Francis Wewengkang, dan Hendro Kartiko, kedaluwarsa per 31 Maret nanti.

"Kontrak saya habis 31 Maret dan sampai saat ini belum tanda tangan perpanjangan kontrak. Fokus saya saat ini jalankan tugas sebagaimana durasi kontrak," ungkap pelatih Sriwijaya FC, Widodo Cahyono Putro, Jumat (24/3).

Lanjut Widodo, jika kontraknya nanti tak diperpanjang, itu haknya manajemen yang tentu sudah melewati berbagai pertimbangan. Yang pasti, selama di Sriwijaya FC, arsitek asal Cilacap ini mengklaim sudah bekerja semaksimal mungkin. "Jika nanti tak di sini lagi, kan memang kontrak saya sudah habis. Beda kasus jika kontrak saya masih lama, tapi diputus di tengah jalan," ucapnya.

Setali tiga uang dengan Hendro Kartiko. Pelatih kiper Sriwijaya FC ini juga belum bubuhkan tanda tangan perpanjangan kontrak. "Belum lama ini sudah ada komunikasi dengan manajemen. Semua pelatih, tidak hanya saya. Tapi, sampai saat ini belum ada tindak lanjut menuju penandatanganan kontrak," jelasnya.

Diakuinya, biasanya memang tidak sampai seperti ini. Sebulan atau beberapa pekan sebelum masa kontrak habis sudah ada perpanjangan kontrak. Informasinya, manajer dan para petinggi Sriwijaya FC lainnya sedang sibuk. Untuk saat ini, fokus kerja semaksimal mungkin jalankan tugas.

"Di internal kami, belum tahu akan ada perombakan di komposisi kepelatihan. Tapi jika memang ada, itu hak sepenuhnya manajemen. Kami mengikuti saja. Yang namanya kerja begini kan seperti pepatah orang Jawa bilang, hidup itu seperti ban, kadang di bawah dan kadang di atas," jelasnya. (kmd/ion/ce4)

 

PALEMBANG – Bangga produk lokal, begitulah kondisi Sriwijaya FC terkini. Di mana manajemen klub berjuluk Laskar Wong Kito mulai menggali talenta lokal untuk Sriwijaya FC U-21.

Ya, Laskar Wong Kito Junior, julukan Sriwijaya FC U-21, akan dihuni 100 persen pemain asli Sumsel pada Liga 1 U-21 2017. Bukan hanya pemain, melainkan juga jajaran pelatih tidak impor atau ambil pemain nonprovinsi terkaya kelima di era otonomi daerah ini.

Dari jajaran pelatih, pelatih kepala dihuni Robby Saud (eks PS Palembang), kemudian asisten pelatih Reza Pratama (pelatih PS Unsri), Jarot (eks Sriwijaya FC), serta pelatih kiper Fauzi Toldo (eks Sriwijaya FC). Produk lokal memancing antusias talenta-talenta Sumsel. Mereka terpanggil untuk memberikan yang terbaik bagi skuat jersey kuning.

Seperti pada seleksi kedua Sriwijaya FC U-21 di Stadion Madya Bumi Sriwijaya, Kamis (16/3), total 542 peserta ikut bersaing. "Untuk seleksi tahap kedua, pasti akan berat, karena dari seluruh peserta akan kita kerucutkan menjadi 25 pemain yang lolos. Mereka akan kita gabung dengan 26 pererta yang lolos gelombang 1, kemudian akan dikerucutkan lagi," kata Bambang Supriyanto, ketua panitia seleksi.

Bambang mengatakan, untuk seleksi kali ini talenskoting menggunakan metode Youth Soccer Australia. Juga dibantu dua pelatih Sriwijaya FC, Francis Wawengkang dan Khusairi. Yakni setiap pemain akan melewati lima tantangan, mulai dari dribling, zigzag, penilaian kelenturan tubuh, kontrol bola, passing dan shooting. (ion)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (17/3). 

 

PALEMBANG - Selalu ada yang beda dari Sriwijaya FC. Musim ini klub berjuluk Laskar Wong Kito akan melaunching skuat di mall. Ada dua alternatif pilihan pusat perbelanjaan di kota metropolis. Antara Palembang Icon (PI) atau Palembang Indah Mall (PIM).

"Kita coba sesuatu yang baru. Jika tiga musim terakhir launching di stadion, musim ini spesial kita launching di mall. Tempatnya belum fix kalau tidak di PI ya PIM," kata Nirmala Dewi, direktur Marketing dan Sponsorship PT Sriwijaya Optimis Mandiri (PT SOM), Selasa (14/3).

Waktu launching di rencanakan 25 Maret nanti.

"Yang pasti akhir Maret sudah dilaunching. Kita masih menyesuaikan agenda pak presiden klub Dodi Reza Alex," tambah wanita berparas cantik ini.

Konsep acaranya sama seperti tahun lalu akan memperkenalkan pemain pada publik. Nanti satu persatu pemain dikenalkan dengan mengunakan jersey resmi musim depan. Selain pemain juga akan diperkenalkan jajaran pelatih, ofisial dan manajemen.

"Nanti juga sekaligus kita launching jersey terbaru yang akan diperagakan model gadis-gadis cantik," tambah dia.

Yasser Arafat, manajer marketing dan sponsorship menambahkan pihaknya akan mengundang fans, dan juga para suporter. Baik Sriwijaya Mania, Singa Mania, atau Simanis Ultras Palembang.

"Tidak ketinggalan para sponsor. Bank Sumsel Babel, Toramoka, PTBA, PDPDE, PGN, PT TEL, OKI Palp and Paper, dan juga Pocari sweet. Kita akan melibatkan interaksi dengan pengunjung mall. Ya nanti para pemain bisa menyapa pengunjung," tambah dia.

Untuk hiburan panitia pelaksana berencana untuk mendatangkan artis ibukota. "Nah untuk artis masih belum fix. Kita masih terus godok persiapannya. Yang pasti nanti akan ada kejutan," terang dia. (ion)

PALEMBANG – Skuat Sriwijaya FC belum sempurna menuju kick off Liga 1 2017. Klub berjuluk Laskar Wong Kito itu masih butuh uji coba untuk matangkan permainan Yu Hyun Koo dan kawan-kawan.

Meski telah menjalani empat pertandingan di ajang pramusim Piala Presiden 2017, ternyata belum cukup. Anak asuh Widodo C Putro masih perlu pertandingan untuk mengetes level progres pemain.

Sekretaris Tim Sriwijaya FC, Achmad Haris mengatakan, agenda uji coba telah disiapkan sebanyak tiga kali di Palembang. "Tim harus melakukan pemanasan dengan adu tanding karena persiapan kompetisi Liga 1 harus ditunjang agar maksimal," kata Haris, Jumat (10/3).

Namun laga uji coba tidak dilakukan di luar Palembang seperti melakukan tur atau training center (TC). Pihaknya akan mengundang para calon lawan ke markas Laskar Wong Kito, Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring.

"Dua sampai tiga kali tim akan melakukan uji coba, itu kami jadwalkan segera. Ada beberapa tim sudah menawarkan untuk uji coba. Tentunya kita usulkan mereka saja yang ke sini," ungkapnya.

Skuat Jakabaring memang sudah mendapat sejumlah tawaran untuk melakukan uji coba dalam waktu dekat. Tidak hanya dari klub lokal di Palembang, tetapi juga klub yang berada di luar Sumsel. "Kemarin sempat ada tawaran dari Batam, lalu Lampung. Namun, kita masih menimbang dan menyesuaikan dengan program pelatih," jelasnya lagi.

Selain dua daerah tersebut, pihaknya juga baru saja mendapat tawaran melakukan uji coba dengan klub asal Kalimantan Selatan, Martapura FC. "Kemungkinan melawan Lampung terlebih dulu, baru bertemu Martapura FC," tambahnya.

Pihak Martapura FC, diakuinya, sudah menghubungi secara lisan melalui Isnan Ali, eks pilar Sriwijaya FC, di era kepelatihan Rahmad Darmawan. Sementara itu, Isnan Ali saat dihubungi membenarkan Martapura FC berencana akan melakukan uji coba melawan Sriwijaya FC. Isnan menyebut timnya membutuhkan lawan berkualitas.

"Semua tahu reputasi Sriwijaya FC. Selain itu, kami pun punya hubungan baik selama ini. Nanti juga Martapura FC sebenarnya akan melakukan pemusatan latihan di Jakarta. Jarak Palembang tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan sekali penerbangan. Itu salah satu pertimbangannya," ujar wing bek terbaik era tahun 2007/2008 itu. (cj11/ion/ce4)

PALEMBANG - Hilton Moreira sejauh ini memang menjadi tumpuan lini depan Sriwijaya FC. Koleksi golnya besama Alberto Goncalves jadi senjata andalan membobol gawang lawan.
Ketergantungan tim berjuluk Laskar Wong Kito terhadap Hilton memang cukup besar. Artinya, ada atau tidak adanya Hilton memang cukup menentukan hasil pertandingan. Sayangnya, dengan karakter mantan penggawa Persib Bandung ini, yang terkadang "nakal" kerap membawa kerugian untuk tim Sriwijaya FC.
Seperti pada babak penyisihan Piala Presiden 2017, Sriwijaya harus menerima kenyataan pahit tidak bisa menurunkan Hilton di laga ketiga kontra Pusamania Borneo FC, (18/2).
Itu karena pemain nomor punggung 10 itu terganjal sanksi akumulasi kartu kuning. Menariknya, dua kartu kuning yang didapat Hilton dalam laga kontra Barito Putra (13/2) dan Bali United (7/2) dalam situasi bukan krusial.
Pelanggaran justru didapat saat bola berada di pertahanan lawan. Banyak anggapan, pelanggaran yang seharusnya tidak diterima justru harus didapat Sriwijaya FC. Tatapi anggapan ini justru dibantah Manajer Sriwijaya FC, Nasrun Umar. Menurutnya, hal-hal tersebut di lapangan sulit diprediksi sesuai karakter Hilton.
"Saya selalu bicara dengan para pemain kunci kita, salah satunya Hilton. Saya melihat, tidak ada rasa ingin kenakalan itu. Jadi, saya tahu kejadian di lapangan murni situasional," beberanya.
Dia pun menganggap bahwa, karakter Hilton yang meledak-ledak di lapangan biasa di dalam diri seorang pemain. Tackling atau berduel jadi bagian di sepak bola. "Tetapi jika satu pemain selalu diberi hukuman tidak adil oleh wasit, menurut saya semua pemain akan berontak. Jadi, wajar jika Hilton kesal seperti itu kemarin," ungkapnya. (cj11/ion/ce4)

PALEMBANG - Widodo Cahyono Putro masih bisa tenang meski hanya mampu bawa Sriwijaya FC sampai delapan besar Piala Presiden 2017. Manajemen masih percaya dengan kualitas arsitek asal Cilacap, Jawa Tengah, tersebut. Dia tetap diberikan kesempatan menukangi tim berjuluk Laskar Wong Kito meski ekspektasi manajemen untuk juara di turnamen pramusim tidak terpenuhi.

"Bukan berarti kami tidak tahu sikap para pencinta Sriwijaya FC terhadap kegagalan Sriwijaya di Piala Presiden. Tapi memang belum ada alasan tepat untuk tidak memakai jasa Widodo. Apalagi kami menyadari, persiapan di Piala Presiden mepet dan pemain baru komplet h-1 pertandingan, bahkan Bio (Paulin) baru latihan sehari di Bali," terang Sekretaris Tim Sriwijaya FC, Ahmad Haris, Jumat (3/3).

Diakui Haris, manajemen telah menggelar rapat internal menatap Liga 1. Nanti hasil dari rapat tersebut akan disampaikan ke Widodo. Mantan arsitek Persela Lamongan dan Persegres Gresik United itu baru balik ke Palembang, Minggu (5/3). Sehari kemudian Widodo dipanggil menghadap manajemen.

"Kami masih percaya kepada Widodo. Kami juga akan support dia setelah datangkan pemain sesuai keinginan dia. Tapi jika ada kejuaraan lagi, apakah turnamen atau kompetisi, itulah yang akan jadi penentuan nasib Widodo di Sriwijaya FC," tukas pengusaha travel ini.

Dari informasi yang diterima Haris, setelah Piala Presiden, segera disusul Liga 1. Artinya, hasil dari Liga 1 inilah yang akan menjadi penentuan nasibnya. Agar tim solid, dari kacamata manajemen, kata Haris, ada beberapa masukan yang harus dibenahi Widodo. Pertama adalah kesolidan lini belakang. Selama Piala Presiden, Sriwijaya FC termasuk tim dengan pertahanan paling rapuh. Dalam empat pertandingan selama penyisihan grup hingga delapan besar, gawang Sriwijaya FC sudah kebobolan lima kali.

Rinciannya, 2 gol saat imbang 2-2 lawan Bali United, 1 gol saat menang 2-1 atas Barito Putera, kemudian 1 gol saat kalah 0-1 dari Pusamania Borneo FC. Semuanya itu terjadi di penyisihan grup 4 di Stadion I Wayan Dipta Gianyar Bali. Tim berjuluk Laskar Wong Kito kembali kebobolan sekali saat kalah 0-1 dari Arema FC pada delapan besar di Stadion Manahan Solo. "Lini belakang terutama harus dibenahi. Selain itu ada hal lain yang nanti akan disampaikan ke Widodo," ujarnya.

Sementara itu, pelatih Widodo Cahyono Putro mengaku, masih optimistis dengan skuat yang dimiliki. Bahwa mereka bisa menghadirkan trofi juara ke Jakabaring. "Saya masih yakin dan percaya dengan pemain yang ada. Kami yakin bisa juara karena yakin itu harus," terang Widodo, belum lama ini. (kmd/ion/ce4)

PALEMBANG – Sriwijaya FC batal pakai Stadion Serasan Sekate, Sekayu, Musi Banyuasin. PT Sriwijaya Optimis Mandiri (PT SOM), selaku pengelola Sriwijaya FC, akhirnya menemukan solusi perihal penggunaan home base tim berjuluk Laskar Wong Kito itu pada kompetisi resmi Liga 1 2017.

Sekretaris PT SOM, Faisal Mursyid, menanggapi adanya protes tiga kelompok suporter, yang ingin pertandingan tetap digelar di Palembang. Itu karena dua stadion utama Palembang, Gelora Jakabaring, dan Stadion Madya Bumi Sriwijaya, direncanakan renovasi bersamaan untuk persiapan Asian Games XVIII/2018.

Pihaknya langsung menghubungi PU Cipta Karya sebagai pelaksana renovasi Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ) dan Stadion Madya Bumi Sriwijaya jelang Asian Games. "Kami sudah mendapatkan solusinya. Karena kami menanggapi protes kemarin dari adik-adik kami, para suporter Sriwijaya FC," tutur Faisal, kemarin (1/3).

Faisal menjelaskan, renovasi akan dimulai pertengahan Maret ini. Nah, pihaknya meminta proyek dilakukan fokus ke Stadion Madya Bumi Sriwijaya terlebih dulu sehingga tim Sriwijaya FC bisa tetap menggunakan Stadion Gelora Jakabaring (GSJ) awal-awal kompetisi Liga 1 nanti. "Setelah renovasi Stadion Bumi Sriwijaya selesai, kita bisa pindah ke Bumi Sriwijaya dan renovasi di Jakabaring baru dilakukan," paparnya.

Menurut pria asal Padang ini, pembangunan stadion hanya bersifat renovasi, bukan melakukan perombakan besar-besaran seperti dilakukan di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Stadion di Palembang hanya sekitar 30 persen renovasi, khususnya tribun dan rumput.

"Pembangunan juga paling memakan waktu empat bulan. Kita juga dulu pernah pas Asian University Games, masih ada yang bekerja, tapi tim Sriwijaya FC tetap bertanding, bisa saja kan," tuturnya.

Terkait kebijakan Presiden Sriwijaya FC, Dodi Reza Alex, untuk pindahkan kandang ke Sekayu, diakui Faisal, hanyalah opsi. Tentunya hal terburuk apabila skuat Jakabaring sulit menemukan solusi.

"Hanya berupa plan B kalau memang kita tidak bisa di Palembang. Tentunya akan ada opsi lain. Tapi, kami tetap perjuangkan agar Sriwijaya FC berlaga di Palembang. Sebab, regulasi AFC tidak akan mengizinkan liga resmi (liga domestik) berlaga di stadion yang tidak layak," pungkasnya.

Sebelumnya, opsi memindahkan homebase membuat kelompok suporter meradang. Mereka dengan kompak melakukan pemboikotan di pertandingan kasta tertinggi Liga 1. Sriwijaya Mania (S-Man), Singa Mania, dan Ultras Palembang tidak akan memberikan dukungan selama laga di Liga 1. (cj11/ion/ce4)

SOLO - Wasit kembali menjadi kambing hitam kala Sriwijaya FC gagal memenangkan pertandingan. Kali ini, korps pengadil lapangan disalahkan setelah tim berjuluk Laskar Wong Kito gagal melangkah ke babak semifinal Piala Presiden 2017.
Mereka dipaksa harus akhiri perjuangan di turnamen pramusim setelah dipaksa mengakui ketangguhan Arema FC 1-0 pada babak delapan besar di Stadion Manahan Solo, semalam (26/2). Sebelumnya, Sriwijaya FC kerap salahkan kinerja wasit di Torabika Soccer Championship (TSC) A 2016.
Bahkan sampai manajemen pernah melampiaskan kekesalannya kepada wasit Iwan Sukoco. Untuk pertandingan semalam, Sriwijaya FC menumpahkan kekesalannya kepada wasit Abdul Rahman Salasa.
“Saya gak mau bohong. Saya kasihan kepada pemain. Mereka sudah berlatih keras. Tapi begini. Tadi (semalam) ada bola mengenai tangan dan itu handball. Tapi tidak dinyatakan handball oleh wasit. Saya gak tahu apakah ada peraturan baru soal handball,” ungkap Pelatih Sriwijaya FC Widodo Cahyono Putro penuh kekesalan usai pertandingan.
Diakui Widodo, ada pelanggaran lain yang mestinya menguntungkan Sriwijaya FC. Yakni saat Slamet Budiono dilanggar pemain Arema di menit awal pertandingan di kotak terlarang. Namun wasit membiarkan saja.

“Saya sudah berusaha tidak emosi. Saya sudah berjanji gak emosi kepada keluarga dan semuanya, tapi gak bisa. Saya kasihan kepada pemain kalau begini,” ujarnya. “Kalau saya cukup di sini (emosinya), nggak tahu kalau manajemen,” tambahnya.
Namun terlepas dari penilaian Widodo terhadap wasit, dia mengakui bahwa anak asuhnya tidak bisa menjalankan instruksinya dengan mulus. Terutama saat memanfaatkan keunggulan pemain sejak menit 78. Ketika itu, Arema FC harus main dengan 10 pemain karena Ferry Aman Saragih dikartu merah.
“Peluang kami ada sejak babak pertama melalui Slamet Budiono yang kemudian ditekling di kotak penalti lawan. Setelah Arema kehilangan satu pemain, pemain buru-buru menyerang. Mereka langsung mengumpan lambung bola ke depan tanpa melalui gelandang,” ujarnya. “Saya juga masukkan Ridwan dan Marcho Maraujie untuk menyerang dari sisi sayap karena Arema menumpuk pemain di tengah. Tapi memang Arema lebih unggul,” lanjutnya.
Pelatih Arema FC, Aji Santoso semringah usai pertandingan. Kemenangan menjadi lebih spesial karena berjuang dengan 10 pemain ketika menyisakan 12 menit. Bonusnya, Arema mampu menyudahi kutukan tidak pernah menang ketika tampil di Manahan.
“Alhamdulillah, Arema menang dengan 10 pemain ketika pertandingan sisakan 12 menit. Gol yang dicetak Adam Alis menurut saya luar biasa. Alhamdulillah, Arema lolos semifinal,” ungkap Aji.
Meski menang, Aji mengakui anak asuhnya sempat tertekan dengan gaya permainan Sriwijaya FC. Terutama ketika main dengan 10 pemain. “Ini pelajaran buat saya. Di laga selanjutnya boleh tensi pertandingan panas, tapi pemain harus tetap dingin. Kemenangan ini mematahkan tradisi Arema gak pernah menang di Manahan,” terangnya yang akan terbang ke Padang pada 28 Februari untuk menantang Semen Padang pada semifinal 2 Maret nanti usai Semen Padang kalahkan Bhayangkara FC 1-0. (Kmd/ion/ce1)

SEKAYU – Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring akan direnovasi Maret nanti. Markas Sriwijaya FC itu dipoles demi menyambut Asian Games XVIII/2018. Ya, stadion terbaik kedua di Indonesia ini akan menjadi tempat penyisihan cabang olahraga sepak bola, baik pria maupun wanita, pada pesta olahraga antarnegara-negara Asia tersebut.
Lantas ke mana Laskar Wong Kito akan mengungsi sementara? Sebelumnya beredar kabar, anak buah Widodo C Putro akan pakai Stadion Bumi Sriwijaya, Kampus, dalam arungi kompetisi resmi Liga 1 2017. Namun, ternyata wacana tersebut salah.
Klub kebanggaan masyarakat Sumsel ini ternyata lebih memilih hijrah ke Sekayu, Musi Banyuasin. Yu Hun Koo dan kawan-kawan bakal maksimalkan Stadion Serasan Sekate. Presiden Sriwijaya FC, Dodi Reza Alex, sudah menawarkan dan menunjuk home base Persimuba Musi Banyuasin ini menjadi kandang baru skuat Jakabaring.
“Penunjukan stadion ini lantaran sangat layak menjadi home base Sriwijaya FC. Ya, nanti latihan dan pertandingan Sriwijaya FC juga dilaksanakan di Serasan Sekate sembari menunggu Gelora Sriwijaya selesai renovasi,” ucap DRA, sapaan akrab Dodi Reza Alex.
Dodi menginginkan virus perhelatan bola nasional itu bisa langsung dirasakan masyarakat di kabupaten dengan jargon Mati Dem Asal Top tersebut. “Kita menginginkan Stadion Serasan Sekate terpampang dan terkenal di berbagai media televisi yang ada,” tambah bupati Musi Banyuasin terpilih ini.
Kondisi itu pastinya menjadi ajang promosi gratis bagi Kabupaten Muba. Pihaknya pun masih memperjuangkan Serasan Sekate untuk diakreditasi PT Liga Indonesia sebagai operator Liga 1.
Dodi pun telah mengutus perwakilan PT Sriwijaya Optimis Mandiri (PT SOM), selaku pengelola Sriwijaya FC, melakukan pengecekan kelayakan stadion di Kota Sekayu itu. “Tentu saja, apa yang kurang akan dipenuhi,” tandas suami Thia Yufada ini.
Terpisah, Pj Bupati Muba, Yusnin SSos MSi, melalui Plt Sekda Muba, Drs Apriyadi MSi, membenarkan, Presiden Sriwjaya FC, Dodi Reza Alex, telah menunjuk Stadion Serasan Sekate sebagai home base Sriwijaya FC. “Telah turun tim teknis melakukan pengecekan lapangan,” ungkapnya.
Stadion berkapasitas 5 ribu penonton itu memiliki kondisi lapangan yang representatif. Hanya saja, perlu perbaikan fasilitas, seperti ruang press conference, ruang ganti pemain, dan perbaikan lampu. Mengenai akomodasi pemain, telah dipersiapakan Wisma Atlet dan tamu di Hotel Ranggonang Sekayu.
“Kita akan lakukan perbaikan fasilitas yang dibutuhkan sesuai kemampuan daerah yang dimiliki,” tegasnya. (yud/ion/ce4)

 

SOLO - Siapa yang gak tahu Arema FC. Tim legendaris yang telah melahirkan banyak pemain top nasional dengan suporter fanatik, Aremania. Tim yang didapuk sebagai juga raja turnamen karena koleksi delapan trofi turnamen.

Namun melawan tim berjuluk Singo Edan, Sriwijaya FC dilarang minder pada babak delapan besar Piala Presiden 2017 di Stadion Manahan Solo, Minggu besok (26/2). “Kadang tim itu takut duluan sebelum bertanding jika berhadapan dengan Arema, ya karena nama besarnya. Padahal sebenarnya tim ini sama saja. Sama dengan lainnya. Jadi kita gak boleh takut. Justru harus lebih bersemangat dan penuh keyakinan bahwa Sriwijaya FC bisa menang,” tegas Winger Sriwijaya FC, Talaohu Abdul Mushafry ketika dihubungi, Jumat (24/2).

Mushafry pernah menjadi bagian tim Sriwijaya FC yang menaklukkan Arema di Stadion Manahan Solo. Sejarah itu terukir di semifinal Piala Presiden 2015. Tim berjuluk Laskar Wong Kito melenggang ke final usai kalahkan Arema 2-1 di leg kedua di Solo. Gol Sriwijaya FC diukir Asri Akbar dan Mushafry. Sementara gol Arema dilesatkan Lancine Kone. Saat itu, Sriwijaya FC bahkan unggul lebih dulu.

Mushafry juga bisa berbicara bahkan tahu luar dalam Arema karena pernah dua musim membela panji Arema pada kompetisi edisi 2010 hingga 2012. Dikatakannya, Arema sejak dulu sampai sekarang tidak berubah. Ini karena pemainnya gak banyak berubah di setiap tahunnya. Jika pun toh harus berubah hanya satu atau dua pemain saja untuk menambal kekurangan.

Dengan materi yang nyaris sama setiap tahunnya, mereka mudah menjaga karakter bermainnya. Tim asal Kota Apel ini suka bermain agresif. Ya, mereka tipe tim yang suka sekali menyerang ketimbang bertahan. Karakter ini didukung dengan stok pemain cepat macam Dendi Santoso, Esteban Vizcarra, Fery Aman Saragih, Dendi Santoso, Fellipe Bertoldo, dan ada juga pemain yang pandai menjaga bola seperti Cristian Gonzales.

“Dengan kelebihannya Arema itu, justru membuka ruang bagi kami untuk bisa masuk ke pertahanan mereka. Saat mereka menyerang, banyak ruang di belakang longgar terutama sayap. Kami harus bisa melakukan itu,” tegasnya.

Satu hal lagi yang harus dilakukan Sriwijaya FC adalah jangan takut membalas serangan Arema. Dengan kelebihan permainan agresifnya, Arema justru suka jika bermain melawan tim bertahan. Agar tidak memanjakan pemain penyerang Arema, Sriwijaya FC harus keluar menyerang.

“Harus bermain normal. Memang harus merasa main di kandang jika ingin menang, itulah yang kami lakukan saat kalahkan Arema di Piala Presiden lalu. Bahkan saat ini Sriwijaya FC lebih kuat dari saat itu. Ketika itu kami hanya diperkuat pemain asing Yu Hyun Koo dan Abdoulaye Maiga sementara di depan saya dan Patrich (Wanggai). Kini kami punya Hilton dan Beto juga Hyun Koo. Dibantu pemain lokal, kami seharusnya bisa raih kemenangan,” tandasnya.

Pelatih Sriwijaya FC Widodo C Putro sendiri sudah paham dengan karakter main Arema FC. Terutama musim ini yang diasuh Aji Santoso. “Aji suka bermain dengan mengandalkan bola-bola pendek jarak dekat kombinasi satu dua sentuhan. Ini yang harus kami waspadai selain bola dari sayap,” ingat Widodo.

Hanya, ada kabar yang kurang mengenakkan di kubu Sriwijaya FC. Komposisi tim terancam tidak bisa lengkap menyusul belum fitnya Ahmad Maulana dan Bio Paulin. Bio alami cedera otot di belakang lutut yang diterimanya saat laga pamungkas Grup 4 melawan Pusamania Borneo FC. (kmd/ion/ce1)

 

Halaman 1 dari 28

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca