PALEMBANG – Geliat bisnis hiburan di Palembang jadi magnet para investor untuk datang. Terbaru, salahsatu artis dangdut, Ayu Ting Ting juga meresmikan tempat karaoke keluarga di kawasan PS Mall. Menambah pilihan bagi warga Palembang, investasi di industri hiburan di kota Palembang ini telah muncul beberapa tahun kebelakang.

Beberapa tempat, bahkan sampai ganti manajemen dan ganti nama untuk tujuan bisnis agar semakin dikenal. Kenyataan pahit bahkan harus dihadapi beberapa diantaranya, sehingga mereka tak mampu menghadapi persaingan bisnis. Masalah keamanan dan kenyamanan cenderung jadi yang utama bagi para penikmat hiburan di Palembang.

Sebut saja, kasus terkait keamanan di diskotek Dharma aAgung. Meski beberapa kali telah berganti manajemen, sistem keamanan yang kendur membuat pengunjung enggan datang. Terbaru, seorang DJ tewas disana sehingga semakin menambah image negatif bagi tempat hiburan malam. Kendati demikian, disisi lain, memasuki triwulan pertama 2017 capaian Badan Pengelolaan Pajak Daerah (BPPD) Kota Palembang mengungkapkan jika sektor hiburan telah berhasil melampaui target, yakni diatas 25 persen.

Dari sisi kepatuhan membayar pajak, para pemilik tempat hiburan ini cukup patuh akan tanggung jawabnya. Kedepan, Kepala BPPD, Shinta Raharja mengatakan akan lebih memaksimalkan upaya persuasif dalam penagihan. (aja)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (29/3). 

 

PALEMBANG–Sejumlah pembenahan masih akan terus dilakukan di kawasan trotoar wisata Sudirman.Sehari pasca dilaunching Walikota Palembang Harnojoyo, Kepala Dinas Pariwisata, Isnaini Madani mengungkapkan, pihaknya akan merangkul pemilik toko di kawasan sekitar trotoar tersebut untuk menjual pernak-pernik pendukung pariwisata.

Semisal, kerajinan tangan dan tekstil khas Palembang. Sebab, kedepan trotoar wisata ini diharapkan tidak hanya dikunjungi oleh muda-mudi kota Palembang, melainkan pula wisatawan lokal dan mancanegara.

“Sudah kami komunikasikan dengan travel guide, untuk membawa wisatawan menikmati hiburan dan kuliner di kawasan trotoar wisata Sudirman ini. Sehingga, dengan dukungan pemilik toko yang buka sampai malam dan menjual pernik pariwisata akan melengkapi kawasantersebut,”kata Isnaini dibincangi Kamis (23/3).

Ia menjelaskan, jika rapat evaluasi secara menyeluruh bersama stakeholder, pegiat seni dan kuliner yang terkait akan segera dilakukan. Kendati demikian, pascalaunching, trotoar wisata Sudirman tersebut akan mulai aktif di akhir pekan ini. (aja)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3).

 

MUSI RAWAS-Wacana normalisasi objek wisata Danau Aur di Kecamatan Sumberharta, Kabupaten Musi Rawas (Mura), membuat masyarakat cemas. Warga takut dengan adanya normalisasi, objek wisata di Danau Aur akan ditutup dan kehilangan pengunjung.

Supri, seorang pedagang di Danau Aur yang sempat di bincangi menuturkan, mereka sudah mendengar mengenai adanya upaya pemerintah daerah yang akan melakukan normalisasi di Danau Aur tersebut. Menurutnya, otomatis kegiatan yang dilaksanakan pemerintah tersebut akan menutup lapak-lapak usaha yang selama ini sudah dirintis.

"Ya jelas kalau di normalisasi, objek wisatanya akan di tutup dan kami tidak bisa beraktivitas. Kami tidak tahu teknisnya bagaimana, tapi
informasi normalisasi secepatnya akan di lakukan pemerintah," katanya, Rabu (15/3).

Dia mengaku kecemasan tersebut juga dirasakan oleh sejumlah pedagang lainnya yang berada di sekitar lokasi objek wisata Danau Aur.

Selain informasi normalisasi para pedagang juga mengaku sudah santer mendengar adanya upaya pemerintah daerah untuk membuat objek wisata tandingan di Danau Gegas, Kecamatan Sukakarya. (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (16/3). 

 

MUARADUA– Makin maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangan di sepanjang jalan sekitar Pasar Tradisional Banding Agung, Kelurahan Bandar Agung,  dianggap mengganggu jalan bagi pengunjung wisata Danau Ranau. Tak mau keberadaan pedagang makin membuat kondisi pasar semrawut, Camat Banding Agung turun tangan langsung menertibkan para pedagang kaki lima agar kembali menempati lokasi los yang telah tersedia di dalam pasar.

Penertipan para pedagang kaki lima yang itu dilakukan Camat Banding Agung, Samsyul Basri SSos MM di dampingi langsung unsur muspika dan Kepala Pasar, Agus Cahyono. Penertiban sendiri tidak mendaptkan perlawanan melainkan berjalan aman dan tertib. Para pedagang mau pindah dari lapak di tepi jalan karena lokasi pasar yang disediakan tetap strategis dan masih mudah dijangkau.

Dalam penertiban itu, Camat Banding Agung meminta para pedagang kembali menempati lokasi pasar inpress, terkecuali jika kondisi pasar inpres tidak mampu menampung para pedagang, maka para pedagang boleh berdagang di sisi jalan.

“Hanya saja tetap memperhatikan lingkungan dan sarana jalan umum jangan sampai mengganggu lalu lintas,”ujarnya.

Basri SSos MM menjelaskan, penertiban dilakukan karena keberadaan pasar Banding Agung yang terletak langsung di Tepi Pantai sudah mengganggu pengguna jalan. Bukan saja itu, dampak aktivitas pasar itu terhadap lingkungan membuat tepian danau menjadi kotor.  (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (15/3)

 

MUARADUA- Belum maksimalnya pengelolaan sejumlah sarana perasana pendukung di kawasan wisata Danau Ranau, membuat Bupati OKU Selatan meminta pihak pengelolaan sejumlah fasilitas seperti mes dan objek yang terdapat di kawasan wisata Danau Ranau dipihak ketigakan.

Langkah itu diambil agar pengelolaan kawasan wisata Danau Ranau benar-benar bisa memberikan efek lebih baik tentunya dalam hal meningkatkan pendapatan bagi daerah. “Dengan dikelola oleh orang yang memang ahlinya dan professional, tentu dampaknya akan meningkatkan nilai tambah bagi PAD,”kata asisten II yang mendampingi langsung Bupati bertemu dengan pihak PT Varieta Pusri di Palebang, Senin (13/3).

Dikatakan Rahmat, keinginan Bupati Popo Ali itu sangat sederhana, bagaimana agar sejumlah pengelolaan sejumlah asset dan potensi besar di kawasan wisata Danau Ranau bisa dioptimalkan. Muaranya Danau Ranau bisa memberikan efek bagi Kabupaten OKU Selatan khusunya bagi pneingkatan prekonomian masyarakat di sekitar Danau Ranau. (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (14/3). 

 

MUSI RAWAS-Suasana objek wisata alam andalan di Kabupaten Musi Rawas (Mura), persinya di Bukit Cogong, Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, semakin terabaikan. Sejumlah sarana maupun fasilitas umum yang dibangun pemerintah daerah, semakin tidak karuan akibat tidak terawat rusak di makan zaman.

Cukup banyak dana yang digelontorkan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan serta pelestarian alam di sekitar objek wisata alam Bukit cogong. Baik itu pembangunan gazebo, fasilitas bermain anak-anak, tribun pentas, siring air terjun, dan kolam renang, mushola, lapak pedagang dan jalan setapak.

Namun semua fasilitas yang sudah tersedia tersebut, saat ini tidak digunakan lagi. Karena objek wisata alam di Bukit Cogong sudah mulai dilupakan pengunjung. Lantaran tidak terawat, sejumlah fasilitas tersebut sebagian mengalami keruskan, seperti gazebo, kandang hewan, serta fasilitas umum lainnya.

Mar, warga yang melintas di sekitar objek wisata yang sempat dibincangi, menuturkan, sepinya pengunjung Bukit Cogong bukan hanya di hari-hari kerja, namun saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu, kondisinya juga sama.

"Sejak satu tahun terakhir tidak ada lagi pengunjung yang ke sini, padahal sudah banyak fasilitas yang dibangun pemerintah. Sayang banyak bangunan yang tidak terawat," katanya, Senin (13/3).  (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (14/3). 

 

TEBING TINGGI - Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Empat Lawang tahun ini akan berencana membangun dan mempercantik objek wisata air Sungai Musi, Pantai Terusan, yang berada Desa Terusan Lama, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.

"Tahun ini Pantai Terusan yang ada di Desa Terusan Lama akan kita bangun Dermaga Jeti yang bisa digunakan untuk event-event perlombaan air. Dananya bantuan dari pusat," ujar Kepala Dispar Empat Lawang, Hj RR Endang, Rabu (8/3).

Kemungkinan besar Dermaga Jeti tersebut akan digunakan saat lomba serapungan (berhanyutan dengan bambu) dalam rangka HUT Kabupaten Empat Lawang yang sebentar lagi diadakan. Selain itu juga akan digunakan saat event Internasional Musi Triboatton.

"Dermaga Jeti nantinya bisa digunakan untuk lokasi start lomba Serapungan dan Musi Triboatton. Rencananya start Musi Triboatton tidak lagi di Desa Tanjung Raya karena kejauhan," jelas Endang.

Dilanjutkannya kalau untuk masalah lahan warga, itu sudah tidak menjadi kendala lagi. Psalnya Warga Desa Terusan Lama yang berada di lokasi Pantai Terusan tersebut, sudah siap menyiapkan tanahnya. (eno)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (9/3). 

 

Siapa tak kenal Kampung Al-Munawwar di Kelurahan 13 Ulu? Saat ini, lokasi tersebut semakin familiar setelah diresmikan Gubernur Alex Noerdin sebagai destinasi wisata religi di metropolis. Apa saja perubahan yang terjadi?
------
Fajar Wiko – Palembang
-----

Deretan paving block terbaris rapi menyambut kedatangan tamu. Dari pintu gerbang masuk, ke bagian tengah hingga belakang kampung yang tembus ke pinggir Sungai Musi. Tak seperti dulu, saat masih berlantai semen yang dihiasi sejumlah pecahan akibat termakan usia. Pengecatan juga telah dilakukan di rumah-rumah warga keturunan Arab, yang diperkirakan telah masuk ke Bumi Sriwijaya lebih 300 tahun silam.
Kampung Al-Munawwar, sudah tak seperti dulu. Lingkungannya kini semakin bersih. Sejumlah tempat sampah juga telah disediakan atas bantuan Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel dan Pemkot Palembang.
Termasuk sebuah fasilitas kesehatan yang diberi nama Klinik As-Syifa 2. Nama tersebut sangat lekat dengan warga setempat, yakni bahasa Arab yang berarti kesembuhan. Keberadaan klinik itu untuk mengakomodir keperluan masyarakat sekitar akan fasilitas kesehatan. Selain nantinya untuk menyambut tamu yang datang berkunjung.
Seperti yang diungkapkan Abdurrachman bin Muhammad bin Al-Munawwar, Ketua RT 24, yang juga keturunan langsung dari pendiri kampung. Ia mengungkapkan, sejak dicanangkan pemerintah sebagai salah satu destinasi wisata, kunjungan dan pemasukan bagi warga perlahan meningkat.
Seperti saat koran ini datang kemarin, secara kebetulan Abdurrachman tengah menyambut kedatangan Ny Wahyu Bintono, istri Kapolresta Palembang AKBP Wahyu Bintono Hari Bawono. “Inilah yang kita tonjolkan. Tidak ada yang mau dilebih-lebihkan. Memang sekarang makin banyak yang datang. Rata-rata mereka tahu dari informasi di internet. Ada juga yang dari mulut ke mulut. Awalnya dari Festival Gerhana Matahari tahun lalu,” bebernya.
Sebab, diakui Abdurrachman, Kampung Al-Munawwar memang salah satu Kampung Arab yang lengkap, dengan objek wisata pemandangan sungainya. Meskipun di Palembang masih banyak lagi Kampung Arab lainnya. “Ini tentunya punya daya tarik yang juga bisa dimaksimalkan,” tuturnya.
Abdurrachman mengaku, dirinya juga tetap menjaga silaturahmi dengan rekan dan kerabatnya yang lain. Sehingga, warga keturunan Arab di Palembang siap memberikan dukungan bagi pembangunan, khususnya terkait kemajuan pariwisata di metropolis dan Sumatera Selatan (Sumsel).
“Selama ini memang orang luar tahunya Palembang atau Sriwijaya dominan dengan keturunan Cina, juga warga Asli Palembang. Padahal, ada juga keturunan Arab. Karenanya, melalui program-program pemerintah, keberadaan Kampung Al-Munawwar ini makin dikenal,” jelasnya.
Kini, program yang akan dijalankan oleh Abdurrachman yakni meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di lingkungannya. Peningkatan tersebut menyangkut kemampuan berbahasa dan sikap terhadap orang lain atau tamu (hospitally). Seperti cara menyambut tamu yang datang. Karena, sebut dia, pengunjung yang datang tidak hanya dari Palembang dan Sumsel, dari dari Indonesia dan luar negeri. “Pastinya mereka memiliki sikap dan budaya yang beragam,” jelasnya.
Termasuk juga, ungkap dia, mengenai rencana Pemkot Palembang menunjuk rumah salah satu warganya untuk menjadi homestay bagi para wisatawan mancanegara (wisman). Kendati belum yakin 100 persen mengenai rencana tersebut, Abdurrachman mengaku, harus dibicarakan sematang mungkin.
Kekuatiran Abdurrachman beralasan. Karena selama ini kehidupan masyarakat di Kampung Al-Munawwar, khususnya urusan keagamaan sangat terjaga. Bila rencana homestay itu berjalan, lanjut Abdurrachman, dengan adanya percampuran budaya dan informasi, ditakutkan akan memberi pengaruh negatif bagi warga asli Kampung Al-Munawwar.
“Jadi, kami masih akan membahas lagi dengan pemerintah. Kami juga masih berembuk. Apalagi di sini, rumah masih ditinggali. Sehingga belum bisa untuk memberikan satu rumah khusus bagi pendatang,” jelasnya.
Pada bagian lain, Kepala Dinas Pariwisata Sumsel Irene Camelyn Sinaga yang beberapa waktu lalu dibincangi mengungkapkan, Kampung Arab Al-Munawwar merupakan satu dari beberapa objek wisata yang terdapat di bantaran Sungai Musi. “Itu juga dikoordinasikan dengan Pemkot Palembang, dalam hal ini lurah yang kami mintakan bantuan untuk ajukan homestay pada rencana kita ke depan,” imbuhnya. Pemilihan homestay nantinya berdasarkan penilaian yang dilakukan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani juga mengakui, kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab Kampung Al-Munawwar semakin terkenal. Karenanya, ia mengaku, pihaknya juga berpromosi melalui jejaring sosial di dunia maya.
Tak hanya bagi lokasi tersebut, tetapi uga lokasi lain yang memang punya daya tarik dan potensi wisata untuk dikembangkan. Apalagi, usai Asian Games pada 2018 mendatang atau pada 2019, Pemkot Palembang menargetkan kunjungan 2,5 juta wisatawan. “Kami punya peranan mempromosikan, didukung pula oleh masyarakat melalui jejaring sosial. Sehingga daya tarik wisata di Kota Palembang semakin dilirik. Tujuannya memang untuk meningkatkan kunjungan,” ujarnya. (*/ce1)

‎MUSI RAWAS-Sejumlah warga di Kelurahan Sumber Harta, Kecamatan Sumberharta, Kabupaten Musi Rawas (Mura), mengeluhkan kerusakan jalan yang terjadi persis di depan objek wisata Danau Aur. Warga mengaku sering terjadi kecelakaan tunggal karena adanya genangan air yang menutupi lobang di jalan sering mengganggu pengguna jalan.  

Budiman (33),  warga Kecamatan Sumberharta yang sempat dibincangi menuturkan, kondisi kerusakan jalan yang terjadi di depan lokasi objek wisata Danau Aur sudah lama terjadi. Bahkan kondisinya saat ini semakin parah seiring meningkatnya intensitas curah hujan dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya sudah sewajarnya pemerintah daerah melakukan perbaikan dijalan tersebut, karena kerusakan berada persis di depan lokasi objek wisata Danau Aur.

"Rusaknya sudah lama, semestinya diperbaiki. Jangan dibiarkan begitu  saja, kerusakan jalan juga terjadi ke arah STL Ulu Terawas sana," katanya, Rabu (1/1).

Warga mengaku cukup prihatin dengan kondisi kerusakan jalan, khususnya di wilayah Kecamatan Sumberharta. (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (2/3). 

 

PALEMBANG - Kondisi Sungai Musi, saat ini telah masuk dalam kategori tercemar berat. Bahkan bisa dibilang memprihatinkan. Kondisi pencemarannya sudah masuk kategori berat berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (LHP) Provinsi Sumsel sepanjang 2016.
Kepala Dinas LHP Provinsi Sumsel, Edward Chandra didampingi Kabid Pengendalian Pencemaran, Pengelolaan Sampah, B3 dan Limbah B3, Dani Fachrial mengungkapkan, sepanjang aliran sungai dari Pulokerto (Gandus) sampai ke kawasan Borang, dipenuhi limbah industry dan domestik (masyarakat). Sehingga butuh kerja ekstra semua lapisan untuk melakukan pembenahan pencemaran bisa diatasi. Langkah pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Perkotaan yang digagas Dinas PUPR Kota Palembang bisa dijadikan solusi.
“Di samping itu, warga di bantaran sungai maupun anak sungai juga harus diedukasi. Kita tahu pencemaran tak hanya dipengaruhi oleh cuaca, tapi juga ekosistem yang ada di sekitar sungai, industri maupun masyarakat,” katanya.
Untuk industry yang berada di tepi Sungai Musi, lanjut Edward, sebagian besar telah memeiliki pengolahan limbah yang sesuai peraturan yang berlaku. Karenanya, pencemaran saat ini didominasi limbah domestik yang berasal dari masyarakat.
Untuk itu, agar lebih efektif, ungkap dia, warga di bantaran sungai juga dibuatkan IPAL komunal. Sebab, sepanjang 2016, Dinas LHP Sumsel ayng melakukan pemantauan di 72 titik sungai seluruh Sumsel dengan metode storet. Hasilnya, 41 lokasi tercemar berat dan 31 lokasi tercemar ringan.
Sungai Musi, berada di bagian yang tercemar berat. Edward mengungkapkan, ada tiga titik pantau di sepanjang Sungai Musi di kawasan Kota Palembang. Yakni kawasan Pulokerto (Gandus), kawasan Jembatan Ampera, dan Borang. Di ketiga titik pantau itu, jika dibiarkan kondisinya bisa mengkhawatirkan.“Penilaian tersebut didasarkan pada Pergub. Jika berdasarkan Kemeneg LHK, bisa turun, karena status Sungai Musi di pusat masuk kategori nomor dua,” lanjutnya.
Terpisah, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, Hadi Jatmiko mengungkapkan, pihaknya selama ini telah mengampanyekan terkait pencemaran Sungai Musi. Pengawasan oleh pemerintah melalui instansi terkait semestinya lebih diperketat kendati telah memiliki IPAL sendiri. Sebab, limbah domestic hanya sebagian kecil dari pencemaran yang terjadi. “Dengan tidak diawasi secara ketat, tidak ada jaminan jika perusahaan-perusahaan tersebut tidak membuang limbah mereka ke sungai musi. Belum lagi banyaknya tongkang batubara saat ini yang mencuci dengan air sungai. Masyarakat justru jadi korban,” tegasnya.
Bahkan, Walhi Sumsel juga memiliki data mengenai temuan-temuan terkait pencemaran sungai. Beberapa wilayah yang berada di sekitar lokasi pembuangan limbah industri, hotel dan restoran mengalir ke sungai. Ini menyebabkan warga di sekitarnya terpapar penyakit kulit. Banyak pula ikan yang mati akibat rusaknya ekosistem.
“Masyarakat akan lebih mudah dengan edukasi dan bantuan teknis. Tapi perspektif yang harus diubah adalah pengawasan terhadap industri. Belum lagi kalau bicara pariwisata, jelas beban yang dihadapi adalah untuk meningkatkan kualitas air sungainya,” tukas Hadi didampingi Manajer Database dan Informasi, Hairul Sobri. (aja/ce1)

Halaman 1 dari 22

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca