>> Home
Dicat dan Diperbaiki
PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Ampera 2010 lalu, hingga ki...Readmore
Demo BBM Meluas
SUMSEL - Aksi demontrasi besar-besaran menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (...Readmore
La Furia Roja (Belum) Perkasa
RECIFE - Spanyol menunjukkan jati dirinya sebagai tim penguasa dunia. Menghadapi j...Readmore
Ahsan-Hendra Selamatkan Indonesia
JAKARTA - Indonesia tidak jadi malu sebagai tuan rumah di Djarum Indonesia Open 20...Readmore
Perampok Tembak Pedagang Emas
KAYUAGUNG – Kawanan perampok bersenjata api yang diduga berjumlah enam orang...Readmore
  • Dicat dan Diperbaiki

    PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Am...

  • Demo BBM Meluas

    SUMSEL - Aksi demontrasi besar-besaran menolak kenaikan h...

  • La Furia Roja (Belum) Perkasa

    RECIFE - Spanyol menunjukkan jati dirinya sebagai tim pen...

  • Ahsan-Hendra Selamatkan Indonesia

    JAKARTA - Indonesia tidak jadi malu sebagai tuan rumah di...

  • Perampok Tembak Pedagang Emas

    KAYUAGUNG – Kawanan perampok bersenjata api yang di...

NEWS UPDATE

Stop
Play
Obesitas Anak Cenderung Mengundang Penyakit

ANGGAPAN bahwa anak yang montok berarti sehat, terawat, dan sejahtera sudah lama menempel di benak orang tua bahkan diturunkan dari generasi ke generasi. Ibu-ibu muda saat ini bahkan berlomba-lomba memberikan nutrisi kepada anaknya agar menjadi montok seperti iklan di televisi dan tidak memikirkan dampaknya.
Menurut dr Aditiawati SpA (K) Konsulen Spesialis Anak Sub-Spesialis Endokrin dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA), RSMH Palembang, dampak obesitas pada anak biasanya mulai disadari ketika anak memasuki usia sekolah. Anak yang kegemukan cenderung kurang tangkas, cepat lelah, dan serba canggung di tengah kelincahan teman-temannya sehingga sering dijauhi temannya.
“Konsep yang salah jika anak yang gemuk dan montok adalah anak sehat dan terawat. Karena hal itu merupakan awal mulanya obesitas. Ditambah dengan persepsi yang salah terhadap prilaku makan dan pertumbuhan tubuh anak semakin memperburuk kondisi. Kita harus waspada ketika anak makan bukan karena lapar atau makan lebih menjadi suatu kepuasan fisik dan apabila anak kurang olah raga serta kebiasaan mengemil. Obesitas pada anak cenderung mengundang penyakit,” terang dr Aditiawati saat ditemui di sela-sela talkshow Obesitas Anak yang digelar oleh Laboratorium Klinik Prodia di Hotel Arista Palembang, Sabtu (14/7).
Penyakit yang menyertai obesitas disebut komorbiditas, yakni diabetes melitus tipe 2, gangguan metabolisme lemak (dislipidemia), penyakit jantung dan pembuluh darah, perlemakan hati, asma, gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur, dan tekanan darah tinggi. Dampak jangka panjang menimbulkan penyakit jantung, diabetes, dan kelumpuhan karena beban yang berat.
“Sekitar 50 persen anak dan remaja yang mengalami obesitas berisiko terkena sindrom metabolik, yaitu sekumpulan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan dua atau lebih gangguan. Yakni peningkatan trigliserida, penurunan kolesterol HDL, tekanan darah tinggi, dan peningkatan kadar gula darah,” ungkapnya.
Agar anak terhindar dari obesitas, sambung dr Aditiawati, yakni atur pola makan anak dengan makanan yang bergizi dan sehat. “Jangan biasakan anak mengonsumsi makanan yang berlemak tinggi, makanan yang siap saji, dan makanan yang tidak mengandung serat. Perbanyaklah mengonsumsi sayuran dan buah yang mengandung serat,” pungkasnya. (cj6/ce4)




Add this to your website
 

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078