>> Home Metropolis Sumsel Dalami Islam, Ulang Hafalan
Dicat dan Diperbaiki
PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Ampera 2010 lalu, hingga ki...Readmore
Demo BBM Meluas
SUMSEL - Aksi demontrasi besar-besaran menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (...Readmore
La Furia Roja (Belum) Perkasa
RECIFE - Spanyol menunjukkan jati dirinya sebagai tim penguasa dunia. Menghadapi j...Readmore
Ahsan-Hendra Selamatkan Indonesia
JAKARTA - Indonesia tidak jadi malu sebagai tuan rumah di Djarum Indonesia Open 20...Readmore
Perampok Tembak Pedagang Emas
KAYUAGUNG – Kawanan perampok bersenjata api yang diduga berjumlah enam orang...Readmore
  • Dicat dan Diperbaiki

    PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Am...

  • Demo BBM Meluas

    SUMSEL - Aksi demontrasi besar-besaran menolak kenaikan h...

  • La Furia Roja (Belum) Perkasa

    RECIFE - Spanyol menunjukkan jati dirinya sebagai tim pen...

  • Ahsan-Hendra Selamatkan Indonesia

    JAKARTA - Indonesia tidak jadi malu sebagai tuan rumah di...

  • Perampok Tembak Pedagang Emas

    KAYUAGUNG – Kawanan perampok bersenjata api yang di...

NEWS UPDATE

Stop
Play
Dalami Islam, Ulang Hafalan

Sebagai mualaf (orang yang baru memeluk Islam), Juanda dan Ahok juga berpuasa, sama seperti umat muslim lainnya. Mereka juga tarawih dan mendalami Alquran. Seperti apa?GAYA bicara Juanda tegas dan apa adanya. Sepintas terkesan cuek, namun jika sudah ngobrol panjang lebar, orangnya cepat akrab juga.
“Puasa Mas,” ujarnya tersenyum saat ditemui di sekretariat PITI Sumsel, kemarin. Ini tahun ketiga puasa bagi Juanda sejak ia memeluk Islam 2009 lalu.
Juanda berharap ibadah puasanya kali ini dapat lebih mendalami Islam. Terutama, bisa menjadi imam yang baik bagi keluarga.
Selama Ramadan, suami dari Lili Indah Permata Sari itu mengaku selalu meluangkan waktu di kantor untuk membaca Alquran. “Saya masih belajar baca Alquran, mas. Saat awal puasa kemarin baru beli Alquran terjemah. Saya ingin sekali lancar baca Alquran,” katanya lagi. 
Setiap Jumat sore, Juanda belajar fiqh dan mengaji di Masjid Nurul Hidayah, Cinde dengan Ustaz Ma’ruf Ibnu Ihsan.  Ketika salat Idul Fitri, Juanda mengaku selalu salat di Masjid Cheng Ho Jakabaring.
Kepada koran ini, ia juga menceritakan proses dirinya hingga masuk Islam. “Butuh waktu lama sebetulnya,” kata Juanda lagi. Dia mengenal Islam sejak di bangku sekolah. Merasakan tanda-tanda hidayah, diperolehnya sejak kelas V SD.
Menurut Juanda, awalnya ia sempat bermimpi selama tiga hari berturut-turut. Dalam mimpinya, ia mendengar  ada suara dari langit yang menyeru wahai umat manusia keluarlah kamu dan sujudlah kepada-Ku. “Terus diakhir mimpi ada suara terompet,” jelas pria yang mempunyai nama Islam Ahmad Farhan itu.
Setelah mimpi itu, Juanda kemudian sering bertanya dan sharing kepada teman-temannya tentang Islam. “Setiap ingin tidur, saya selalu berdoa untuk meminta tunjukkan agama yang benar. Tetapi waktu itu doanya sesuai dengan keyakinan agama Buddha,” ungkap Juanda yang mempunyai nama Buddha, Ciksiang.
Anehnya, tutur pria pria kelahiran Palembang 18 Oktober 1986 itu ketika dirinya mau diajak oleh teman sesama Buddha untuk mengucapkan ikrar pada agama Buddha atau semacam baptis pada agama Kristen, selalu ada rintangan dan halangan. “Saya merasa aneh juga, Kok ada saja halangan untuk mengucap ikrar. Dari sana saya terus berpikir.”
Keputusan untuk masuk Islam, jelasnya setelah melalui banyak proses. Apalagi waktu itu, orangtua belum memberi izin untuk masuk Islam. “Kebetulan waktu itu saya ketemu dengan istri saya sekarang. Saya sering sharing Islam dengan dia. Mertua saya juga turut memberi pengertian kepada orang tua saya. Sampai akhirnya saya masuk Islam pada 2009. Kemudian nikah pada 2010,” ungkap sulung dari dua bersaudara pasangan Alvian Said dan Reni Susilawati ini.
“Kalau puasa, saya sudah belajar menjalankannya sebelum masuk Islam. Tetapi masih bolong-bolong dulu. Saya  mulai bisa berpuasa penuh pada 2011. Awalnya memang sulit tetapi sekarang sudah terbiasa,” jelasnya. Dirinya mengakui, dengan berpuasa dapat mengendalikan diri dan lebih bersabar.
Sementara, Ahmadul Hadi atau yang familiar disapa ustad Ahok, tahun ini  merupakan puasa tahun ketujuh. “Lazimnya umat muslim saya berpuasa, tarawih, salat fardhu dan berdakwah,” tuturnya.
Ahok juga mengaku memanfaatkan Ramadan untuk mengulang hafalan Alquran. “Saya sudah hapal Alquran sejak dua tahun lalu,” ungkapnya.
Diakuinya, awal kenal Islam saat kakak perempuannya menikah dengan seorang muslim. “Saat itulah saya kenal Islam,” ungkapnya.
Kelas 3 SMP tepatnya tahun 2005, Ahok memberanikan diri masuk Islam. “Saat itu orang tua sangat menentang karena bertentangan dengan keyakinan leluhur,” kata mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam STAI al-Falah ini. “Pernah ketika salat disiram dengan air oleh orang tua dan sajadah beserta peci dibakar,” ungkapnya sedih.
Seakan haus akan Islam, tamat SMP, Ahok memberanikan diri keluar daerah untuk menuntut ilmu di Pesantren Rhaudatul Ulum, Ogan Ilir. “Orang tua sangat mengecam dan sangat menghalangi.”
Ahok selalu berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada kedua orang tuanya. “Saya sangat berharap bisa salat berjamaah dengan orang tua. Yang saya lakukan saat ini hanya menunjukkan akhlak yang baik sebagai seorang muslim,” katanya dengan mata berkaca. (cj7/cj9/ce3)




Add this to your website
 

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078