Gigi Goyah Gara-gara DM PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Rachmat Aprianto   
Selasa, 10 November 2009 09:45
GANGGUAN neuropati (persarafan) yang paling sering menyerang penderita diabetes melitus (DM) adalah luka gangren di kaki atau tangan. Bagian tubuh lainnya, misalnya rongga mulut, mungkin juga mengalami neuropati. ’’Keluhan terbanyak adalah gigi goyah dan mukosa gingiva (gusi) kemerahan,’’ terang drg Soekamto SpPerio MS.
Spesialis periodontologi Siloam Hospital Surabaya (SHS) itu menyatakan, banyak pasien yang tak menyangka bila menderita DM. Mereka berobat karena gigi goyah. Setelah diobservasi enam bulan, ternyata, kadar gula pasien tersebut cukup tinggi.
’’Dikatakan menderita DM ketika pasien kontrol tiga kali dalam enam bulan. Kadar gulanya tetap di atas normal, meski telah minum obat penurun gula darah,’’ papar Soekamto. Menurut dia, gigi goyah bisa diatasi dengan teknik splinting. Yaitu, mengikat gigi yang goyah ke gigi di sebelahnya yang kukuh.
Proses awalnya, membuat alur pada gigi yang akan diikat untuk meletakkan polyethylene fiber. Bahan itu cukup kuat. Fungsinya, melekatkan gigi yang goyah ke gigi di sebelahnya. Artinya, beban kunyah yang diterima gigi goyah tersebut terbagi dengan gigi-gigi di sebelahnya. Dengan membagi beban tersebut, kerusakan gigi diharapkan tidak bertambah parah.
Polyethylene fiber itu, kata Soekamto, sebaiknya dikenakan sumur hidup. Jika pasien masih mengeluhkan gigi yang goyah, ada kemungkinan untuk menambah jumlah gigi penyangga. ’’Kalau masih goyah, ya perlu dievaluasi lebih lanjut,’’ujarnya.
DM yang tak terawat akan menimbulkan hipersalivasi (produksi air ludah berlebihan) atau sekresi ludah yang berkurang (xerostomia). Bila dibiarkan, xerostomia akan meningkatkan kemungkinan karies dan infeksi pada rongga mulut.
Alumnus FKG Unair tersebut mengungkapkan, penderita DM kerap mengeluhkan lidahnya yang terasa bebal, tebal, kering, dan bersensasi rasa terbakar. Keluhan itu membuat pasien tak bisa merasakan asin atau manis. Ketika diperiksa, lidah tampak membesar dan otot lidah terasa lebih lunak. ’’Terlihat juga bekas gigi pada permukaan lidah. Ini menunjukkan bahwa persarafan di lidah sudah terganggu,’’ terangnya.
Pasien selalu diminta menstabilkan kadar gula darah. Perawatan gigi dan rongga mulut dilakukan dalam kondisi steril. Selain itu, munculnya trauma diminimalkan. Bila membutuhkan operasi, pasien harus menjalani persiapan matang. Di antaranya, minum antibiotik 4-5 hari sebelum operasi plus menggunakan benang jahit yang tak terserap (nonabsorbable). ’’Diperlukan pemberian vitamin B dosis tinggi dan insulin hingga dua minggu pascaoperasi,’’ jelas Soekamto. (ai/nda)

Comments
Add New Search
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

HIDUP SEHAT

Stop
Play

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini780
mod_vvisit_counterKemarin4748
mod_vvisit_counterTotal430149

Sedang Online: 62
IP Anda: 38.107.191.106
Feb 09, 2010