| Berkah Tukang Servis Payung Keliling |
|
|
|
| Selasa, 27 Juli 2010 20:06 | |||||||||||||||||||||||||||||||||
Di hari tuanya, KA Ujang M yang berusia 86 tahun terus
menjajakan keahliannya memperbaiki payung yang rusak demi bertahan hidup. Setiap hari, dengan setia ia berkeliling membawa gerobak tuanya mencari pelanggan yang ingin memperbaiki payung.------------------------------------------------ YUDHI AFRIANDY – BUKIT KECIL ------------------------------------------------ Dengan wajah lelah dan berkeringat, pria yang akrab disapa Ujang ini duduk di warung makan yang terletak di pojok Jl Pangeran Sabekti Kelurahan 26 Ilir Kecamatan Bukit Kecil. Ia tengah beristirahat sembari makan satu potong roti, setelah lima jam berkeliling di kawasan Kambang Iwak, menanti pelanggan yang hendak memperbaiki payung rusak. Hampir, selama 64 tahun ia dikenal sebagai tukang servis payung, terutama di musim penghujan seperti sekarang ini. Dengan cekatan, ia memperbaiki payung yang rusak kendati tanpa menggunakan bantuan kacamata. Dalam sehari, ia mampu memperbaiki payung hingga puluhan jumlahnya, namun karena sudah tua ia terpaksa membatasi hanya lima buah saja. Ongkos untuk memperbaiki sebuah payung tergantung dari berat atau tidak kerusakan, namun biasanya sekitar lima ribu rupiah untuk satu payung. Uang dari jasa memperbaiki payung, ternyata mampu menghidupinya. “Sehari saya bisa mengantongi 20 hingga 30 ribu per harinya,” ujar pria lajang ini, kemarin (27/7). Ia pun bertekad tidak ingin berhenti untuk menjadi tukang service payung, selain untuk mencari nafkah, dengan bekerja bisa mengisi hari-hari tuanya dengan kegiatan yang bermanfaat. Menurutnya, musim hujan tak selalu dianggap ancaman. Bagi para tukang servis payung keliling seperti dirinya, datangnya musim hujan bisa diartikan berkah yang menjelang hidupnya. Setiap hari, Ujang terus bersemangat menjajakan jasanya. Dengan gerobak tuanya, kakek tua renta ini berkeliling kampung menawarkan jasa. Berprofesi sebagai tukang servis payung bagi pria kelahiran Palembang ini merupakan suatu bentuk pengabdian selain tentunya untuk menghidupinya. “Saya langsung bekerja begitu sejumlah ibu rumah tangga menyodorkan payung rusak milik mereka untuk diperbaiki,” tuturnya, dengan mata berkaca-kaca menandakan dirinya tak mampu lagi bekerja di usia senjanya.(*)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||

KECAMATAN
-
Kecamatan Plaju Tidak Kebagian Telur
Hari terakhir pasar murah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel untuk ...
-
PT Pos Siapkan Kartu Lebaran Gratis
Kartu lebaran mulai coba dibangkitkan kembali oleh PT Pos. Sejak era SMS ...
-
SMAN 6 Gelar Baksos
Sebagai sekolah berbasis Imtak (Iman dan Takwa) SMA Negri 6 Palembang ...
-
Pasukan Kuning Dapat Bantuan Lebaran
Pasukan kuning Kota Palembang dapat tersenyum lega. Karena Pemkot Palembang ...
-
Remajakan 6 km Pipa Minyak
Beberapa hari belakangan sejumlah petugas dari PT El Nusa Palembang sibuk ...
-
Bakar Bendera Malaysia, Polisi Berang
Demo anti Malaysia masih terus bergulir. Kemarin (3/9), puluhan warga yang menamakan ...

Terbanyak Dibaca
- Harga Baru Mitra Bisnis Sumatera Ekspres (25573)
- Tamara Bleszynski Main Film Panas (21048)
- Harga Baru Society Biz Sumatera Ekspres (20697)
- Tamara Bleszynski Main Film Dewasa (18783)
- Kemungkinan Memang Luna Maya? (10613)
- 2010, Gaji TNI Naik Lima Persen (8656)
- Anang-Syahrini “Berjodoh” (7748)
- “YU Itu Bukan Yuniza Umirtuningsih!” (7504)





Di hari tuanya, KA Ujang M yang berusia 86 tahun terus
menjajakan keahliannya memperbaiki payung yang rusak demi bertahan hidup. Setiap hari, dengan setia ia berkeliling membawa gerobak tuanya mencari pelanggan yang ingin memperbaiki payung.












