| Tujuh Jam Berdiri di Bawah Terik Matahari |
|
|
|
| Rabu, 28 Juli 2010 02:18 | |||||||||
Wajah puluhan karyawan PLN yang datang dari berbagai
pelosok negeri, Selasa kemarin, tampak berseri. Mereka adalah karyawan yang berhasil melakukan berbagai inovasi untuk menanggulangi pemadaman listrik bergilir di daerahnya masing-masing.Ada yang berhasil memperbaiki pembangkit yang seharusnya mengeluarkan biaya Rp14 miliar, namun cukup dengan Rp1,4 miliar. Atas keberhasilannya tersebut, kemarin Presiden SBY mengundang mereka untuk datang minum teh bersama di Istana Negara. Undangan itu disampaikan oleh SBY setelah mendengar laporan Direktur Utama (Dirut) PT PLN, Dahlan Iskan, sembari memperkenalkan para karyawannya yang berhasil melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi pemadaman listrik bergilir itu. Salah satu di antara yang diperkenalkan Dahlan Iskan kepada Presiden SBY kemarin adalah Wahyu Bintoro, manajer PT PLN Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Ayah dua anak kelahiran Ketintang, Surabaya, 6 Mei 1968 ini pada Maret 2010 lalu, dijemur warga Tanjung Pinang selama tujuh jam di halaman kantornya, gara-gara seringnya listrik padam. Hukum rimba itu pernah dijalani suami Ny Amalia ini selama dua kali. Meski demikian, tak membuatnya dendam. Dia sadar bahwa marah warga itu karena listrik mereka selalu padam. “Gimana nggak marah, listriknya setiap hari padam. Tapi saya juga tak bisa berbuat banyak, karena memang kenyataannya demikian,” cerita Wahyu terkenang. Yang mengerikan, tutur alumnus Institut Teknologi Surabaya (ITS) 1979 yang kuliahnya mendapat beasiswa dari PLN ini, ketika dirinya dijemur di halaman kantornya, ribuan warga mengelilinginya sambil memaki-maki dan tertawa terbahak. Dia hanya bisa pasrah sambil berdoa agar tidak dibunuh oleh warga yang terlihat marah tersebut. Sedangkan puluhan karyawannya hanya bisa mengintip dari lantai tiga kantornya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sementara kaca-kaca kantor berantakan akibat amukan massa yang sudah menduduki kantor PLN tersebut. Puluhan polisi yang datang ke lokasi tak bisa berbuat banyak melihat keberingasan warga yang sumpek dengan listrik yang selalu padam tak mengenal waktu tersebut. Tak kurang dari 2.000 pengunjukrasa itu, kata Wahyu Bintoro, yang kemarin diundang khusus oleh Dirut PLN untuk menghadiri acara di Mataram, Lombok itu, mengelilinginya. Kata-kata jorok yang tak patut didengar diteriakkan di dekat telinganya. Sementara yang lain mengecam instansinya yang tak mampu menghadapi kekurangan setrum listrik. Keringat dingin membasahi tubuhnya mendengar cemohan warga yang marah tersebut. “Yang membuat khawatir, mereka rame-rame membunuh saya seperti halnya Ketua DPRD di Medan itu. Sambil memejamkan mata di tengah kepungan warga, saya berdoa semoga tidak dibunuh,” kenang Wahyu Bintoro yang bergabung sebagai karyawan PLN sejak 1999 tersebut. Bila Wahyu khawatir, itu bukan tak beralasan. Sebab, masyarakat Tanjung Pinang sudah tiga kali datang berunjukrasa di kantornya. Pertama unjukrasa warga itu masih sopan dan baik-baik saja. Yang kedua, sudah berbeda lagi. Selain menjemur Wahyu, juga merusak kaca kantor. Hanya saja saat dijemur yang kedua ini, tak terlalu lama, hanya sekitar lima jam. Tapi yang ketiga lebih sadis lagi. Pengunjukrasa tak hanya mengatasnamakan pelanggan PLN, tapi sudah membawa nama partai politik. Mereka pun lebih brutal. Kaca-kaca kantor hancur berantakan. Aparat kepolisian yang bertugas di sana tak mampu menghadapi keberingasan massa. Sampai-sampai Wahyu Bintoro membayar orang-orang tertentu untuk mengamankan dirinya agar selamat dari amukan massa yang sudah tak sabar dengan listrik yang tiap hari padam tersebut. Tak tanggung-tanggung, jemuran yang kedua ini mulai pukul 09.00 hingga pukul 16.00. “Mungkin warga sengaja menjemur dia, agar keluar strum dari tubuhnya,” kelakar Dahlan Iskan di hadapan Presiden SBY yang disambut tepuk tangan meriah dari anak buahnya. Yang diundang PLN pada acara kemarin itu tak hanya karyawan PLN. Tapi justeru yang lebih banyak adalah masyarakat, tokoh agama dan para bupati se-NTB. Gubernur Kalimantan Selatan juga tampak hadir. Menurut Wahyu Bintoro, pemadaman bergilir ini terpaksa dilakukan di Tanjung Pinang karena beban puncak listrik di sana 38 MW. Namun, kemampuan pembangkit hanya 28 MW, sehingga masih defisit 10 MW. Satu-satunya cara agar semua warga bisa menikmati penerangan listrik, dilakukan pemadaman bergilir. Wahyu membawahi Pulau Bintan dan Balai Karimun. Daerah tersebut, dari sisi ekonomi memang cukup tinggi, sehingga tak heran kalau terusik dengan listrik yang padam secara silih berganti tersebut. Namun, itu tinggal kenangan. Sekarang, PLN Tanjung Pinang sudah menambah mesin sehingga pemadaman bergilir pun telah berlalu. “Alhamdulillah sekarang tidak ada lagi pemadaman bergilir seperti dulu. Meski masih pas-pasan tapi sudah memadai,” ceritanya. Berbagai kesulitan anak buahnya itu kemarin diceritakan di hadapan Presiden SBY, sehingga mereka pun diundang ke Istana. “Saya mengundang kalian yang banyak membantu kesulitan masyarakat dalam bidang kelistrikan itu, untuk minum teh bersama di Istana Negara,” tutur SBY yang disambut tepuk tangan yang meriah oleh ratusan karyawan PLN yang memadati tenda acara. (*) Foto Wahyu Bintoro, manajer PT PLN Tanjung Pinang (nasaruddin ismail)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|

BERITA UTAMA
-
Dihibur Artis-Bintang Iklan
Menyambut Idulfitri atau Lebaran, sejumlah ...
-
Keselamatan Penumpang Prioritas
Keselamatan dan kenyamanan penumpang mudik ...
-
Standar Nasional, Minim Rambu
Memastikan tak ada hambatan di jalur lintas ...
-
Brimob Amankan Mapolsek
Sedikitnya 10 personel Brimob Petanang, Kota Lubuklinggau turun mengamankan Mapolsek Rawas Ulu yang ...
-
Ito Calon Kuat Pengganti BHD
Waktu pergantian Kapolri Jenderal Bambang...
-
M. Ariyo, Terapi Bocah Trauma
Mendongeng bagi saya bukan profesi. Itu hobi," ujar Ariyo saat ditemui Jawa Pos pada Rabu lalu (1/9)...
-
Parpol tak Bisa Intervensi
PDI Perjuangan langsung mengambil sikap atas penetapan 14 tersangka kasus suap cek perjalanan (trave...

Terbanyak Dibaca
- Harga Baru Mitra Bisnis Sumatera Ekspres (25573)
- Tamara Bleszynski Main Film Panas (21048)
- Harga Baru Society Biz Sumatera Ekspres (20697)
- Tamara Bleszynski Main Film Dewasa (18783)
- Kemungkinan Memang Luna Maya? (10613)
- 2010, Gaji TNI Naik Lima Persen (8656)
- Anang-Syahrini “Berjodoh” (7748)
- “YU Itu Bukan Yuniza Umirtuningsih!” (7504)





Wajah puluhan karyawan PLN yang datang dari berbagai
pelosok negeri, Selasa kemarin, tampak berseri. Mereka adalah karyawan yang berhasil melakukan berbagai inovasi untuk menanggulangi pemadaman listrik bergilir di daerahnya masing-masing.












