Ini Bentuk Kepedulian Fatayat Cegah Stunting

Pengurus Fatayat NU Sumsel. foto: anhar fahrurozi sumeks.co.id

PALEMBANG – Pengurus Wilayah (PW) Fatayat NU Sumsel gencar melakukan sosialisasi pencegahan stunting (tubuh pendek). Sebagai organisasi perempuan NU, Fatayat NU Sumsel ikut berperan aktif dalam melaksanakan program pemerintah untuk menurunkanangka stunting.

Ketua PW Fatayat NU Sumsel Dra Rima Andarsih MSi mengatakan, pihaknya peduli pencegahan stunting sesuai dengan program Fatayat mencakup Piker (Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi), Kespro (Kesehatan Reproduksi), Catin (calon pengantin), dan sebagainya.

“Stunting merupakan persoalan yang sudah lama menjadi konsentrasi Fatayat NU. Kami berkonsentrasi lebih banyak di lapangan dalam pencegahan stunting ini,” kata Rima di sela kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Sosialisasi Cegah Stunting di Aula gedung PWNU Sumsel, Sabtu(23/12).

Dijelaskan Rima, stunting adalah keadaan dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibanding anak lainnya. Anak yang stunting fungsi kognitifnya terganggu akibatnya prestasi di sekolah pun tidak maksimal.

“Untuk sosialisasi cegah stunting, kami mendorong para orang tua untuk memberikan asupan gizi bagi pertumbuhan anaknya, terutama 1.000 hari pertama kehidupan bayi atau usia golden age,” ujarnya.

Peran Fatayat NU sangat strategis untuk mengkampanyekan gizi pada masyarakat untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. “Kegiatan ini sebagai bagian dari partisipasi program kampanye gizinasional (KGN) dan di Fatayat NU adalah tugas bidang kesehatan dan lingkungan. Isu stunting menjadi program dan rekomendasi dalam Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU tahun 2017 di NTB,” jelasnya.

Baca Juga :  Kumpulkan Darah sebelum Ramadan

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sumsel, Ferry Fahrizal SKM MKM menyatakan, berdasarkan hasil pemantauan status gizi (PSG) yang dilakukan Kemenkes RI, angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Tahun 2016, 27,5 persen bayi di Indonesia berada dalam status stunting.

“Untuk di Sumsel sendiri, pada 2016 lalu, angka tertinggi stunting ada di wilayah OKI, kemudian disusul di Muratara,” tukasnya. (roz)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!