Ini Dampak Kebijakan FDS Bagi Jokowi di Mata NU

Aksi guru dan pengajar warga NU yang menolak FDS. foto: radar tasikmalayan/jpnn.com

SURABAYA – Kebijakan pemerintah yang menerapkan sekolah lima hari atau full day school  (FDS) secara ditolak Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah berharap Presiden Jokowi mendengarkan aspirasi tersebut.

Jika itu tidak, Mutawakkil menyebutkan suara pendukung Jokowi dari kalangan nahdliyyin (warga NU) Jatim bisa hilang.

“Selain menimbulkan kerugian pada dunia pendidikan, ini juga kerugian politik bagi Presiden Jokowi,” katanya pada Jawa Pos kemarin (12/8).

Mutawakkil menyatakan, selama ini NU memberikan dukungan penuh terhadap program maupun kebijakan pemerintah. Sebab, NU menilai kebijakan Jokowi bermanfaat bagi rakyat.

Namun, jika ada satu kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, NU tidak akan segan-segan mengritik, bahkan dengan cara keras. Mutawakkil juga mengakui, jasa Jokowi tidak sedikit.

Beberapa harapan besar nahdliyyin direspons secara positif oleh Jokowi. Contohnya adalah permintaan untuk menjadikan tokoh-tokoh penyebar Islam diberikan gelar kepahlawanan.

Seperti KHR As’ad Samsul Arifin dari Situbondo yang diberikan gelar pahlawan oleh Jokowi pada 2016. Jokowi juga menetapkan hari santri nasional setiap 22 Oktober, yang notabene merupakan aspirasi warga NU sejak lama.
Mutawakkil juga berharap Jokowi dan Mendikbud tidak menafikan fakta bahwa pendidikan karakter sudah lama diterapkan di pondok pesantren maupun madrasah diniyah.

Baca Juga :  Pak Bupati... Kok Hanya Dua ATM di Kabupaten

“Pendidikan karakter itu sudah ada di Indonesia sejak lama, namanya akhlakul karimah,” kata pengasuh PP Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, itu.

Prinsip di pesantren, sebelum siswa menerima ilmu, para kiai memasukkan doktrin-doktrin penghormatan terhadap ilmu, guru, dan sumber-sumbernya.

Serta membersihkan hati para santri dengan latihan-latihan spiritual. Sehingga meskipun mereka pandai, perilaku para santri tetap terjaga.

Selain itu, dia juga menyesalkan Mendikbud Muhadjir Effendy yang merasa telah mendapatkan dukungan dari kalangan pesantren hanya dengan beberapa kali kunjungan.

Ia menyebut dan memastikan bahwa seluruh pesantren di Jatim satu suara menolak full day school.

“Hanya dengan beberapa kali kunjungan, Menteri sudah merasa selesai melakukan sosialisasi,” pungkasnya. (tau)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!