Ini Misi Kemenpora Gelar Festival Olahraga Tradisional di Jambi

Penampilan salah satu peserta Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional di Jambi. foto: istimewa

JAMBI – Ada misi khusus yang dikejar di Festival Olahraga Tradisional tingkat Nasional di Jambi 7-9 Juli 2018. Apa itu? Kebahagiaan dan menggali aset budaya nusantara. Itulah esensi kegiatan ini. Bukan kalah atau menangkan pertarungan sekalipun ada penilaian.

Keceriaan dan kebahagiaan pun menjadi sesuatu yang murah didapat di Jambi selama kegiatan ini berlangsung. Bahkan di bawah terik matahari, mereka beraksi di Lapangan Kantor Gubernur Jambi. Di sanalah tempat dilangsungkannya event yang dipayungi oleh Kemenpora pimpinan Imam Nahrawi.

Di sini, festival diramaikan 18 provinsi dan dua kapubaten Jambi. Sebanyak 250 peserta menampilkan 19 permainan olahraga tradisional.

“Permainannya menarik dan unik. Main bola kecil tapi memasukkan bola ke keranjang pakai alat seperti centong,” kata Yusa Pratama, siswa kelas 2 MTS Jambi mengomentari permainan Pa’sodo Tompong Tompong dari Sulawesi Selatan.

Pa’sodo Tompong Tompong adalah olahraga tradisional di pesisir pantai Maros. Olahraga ini menyerupai permainan bola basket. Untuk membawa bola digunakan Pa’sodo (sejenis jala untuk menangkap ikan) dan memasukkan bola takraw ke dalam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu.

Kabupaten Bungo Provinsi Jambi juga tak mau kalah dengan permainan Antu Raung. Permainan yang dimainkan 9 orang atau harus ganjil ini mirip hadang. Butuh ketahanan fisik sekitar 75 persen. Masing-masing tim terdiri dari 4 orang dan satu orang sebagai penjaga Antu Raung (orang orangan sawah) yang berada di tengah.

Baca Juga :  Tari Topeng Semarakkan GPN Cirebon

Vinto Effendi, pelatih Antu Raung, mengaku, butuh riset enam bulan untuk meneliti cara bermain dan teknik sejarahnya. Timnya pernah tampil di Event Permainan Anak Melayu di Negeri Sembilan, Malaysia. Hasilnya, permainan Antu Raung keluar sebagai The Best Education. “Saya berharap permainan ini dapat dibakukan, jangan sampai aset olahraga tradiosnal ini diakui oleh Malaysia,” saran Vinto yang menyatakan Antu Raung telah masuk sebagai pelajaran ekstrakuler sekolah-sekolah di Kabupaten Bungo.

Permainan Obah Owah dari Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Jogjakarta juga mendapat aplaus dari penonton. Permainan yang biasanya dimainkan pada bulan purnama ini sekaligus menutup event gawean Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora itu.

Permainan ini mengunakan piranti yang ada saat panen padi. Ada orang-orangan sawah (memedi sawah), jerami, untaian padi, hingga alu, dan tenggok tempat padi. Permainan dibagi menjadi dua tim dan dimainkan empat orang.

Menurut Dewan Juri Suherman semua yang ditampilkan bagus-bagus, banyak yang unik dan menarik. Ketua Umum KOTI Pusat itu mengatakan Indonesia sangat kaya olahraga tradisional. Inisiatif Menpora menggalakan penggalian budaya olahraga di seluruh pelosok ini tentu sangat positif. Setidaknya tiap daerah wajib menjaga aset kekayaannya.

“Sistem penilaiannya yang terpenting adalah 40 persen nilai olahraganya yakni ada unsur gerak, teknis, 20 nilai budaya, sisanya kostum dan lainnya,” ujar Suherman.(kmd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!