Jadi Pelabuhan Pengumpul

Budi Karya Sumadi.

PENGEMBANGAN Pelabuhan TAA tak lagi penuh tanda tanya. Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, menargetkan Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA) beroperasi paling lambat akhir tahun ini. Pelabuhan yang terintegrasi dalam kawasan ekonomi khusus (KEK) TAA.

Fungsi pelabuhan tersebut sebagai pelabuhan pengumpul komoditas sebelum diekspor atau impor. Jika target itu tercapai, maka Pelabuhan TAA menyusul pelabuhan penyeberangan yang sudah cukup lama beroperasi untuk rute TAA-Tanjung Kelian, Muntok (Babel).

Dicanangkan sejak 2014, Pelabuhan TAA akan menjadi pelabuhan pengumpul komoditas ekspor maupun impor. PT Pelindo II ditunjuk sebagai operatornya. Tahun ini, telah digelontorkan anggaran dari pusat sebesar Rp178 miliar. Lantaran KEK belum berkembang, Pelabuhan TAA pun tak kunjung beroperasi.

Budi Karya Sumadi mencoba menjawab pertanyaan publik seputar masa depan Pelabuhan TAA tersebut? Katanya, jika pelabuhan itu sudah beroperasi, barulah akan dicari solusinya. “Pelindo II yang menyusun feasibility study (FS)-nya. Saya kasih waktu satu bulan untuk melihat apa yang bisa dilakukan,” tuturnya. Berikut kutipan wawancara eksklusif Sumatera Ekspres dengan Menhub.

Apa rencana Anda terhadap Pelabuhan TAA?

Sebenarnya, Pelabuhan TAA ini direncanakan sebagai pelabuhan samudera, dapat disandari kapal besar. Dengan begitu, pelabuhan itu menjadi tempat bongkar muat barang untuk ekspor dan impor. Kalau sudah beroperasi nanti, diharapkan komoditas dari daerah seperti Jambi, Bengkulu dan sekitarnya akan kumpul di TAA, baru dibawa ke Tanjung Priok untuk diekspor.

Untuk itu, pelabuhan akan dilengkapi dengan gudang dan fasilitas lain. Pelabuhan ini memiliki posisi strategis dalam dunia kemaritimn nasional. Namun kita masih menghadapi beberapa kendala di lapangan untuk mewujudkannya.

Apa saja kendala itu?

Baca Juga :  Hujan Sebentar, Jl Kol H Barlian Banjir

Saya lihat draft (kedalaman) perairannya cuma 4-5 meter. Sementara untuk menjadi pelabuhan samudera, minimal harus punya kedalaman sekitar 10 meter. Saat ini, wilayah pelabuhan hanya bisa dimasuki kapal-kapal dengan bobot sekitar 464 GT. Kendala lain seperti sedimentasi sekitar dermaga dan akses jalan menuju dermaga yang belum diaspal. Belum lagi, pembebasan lahan yang belum juga selesai.

Apakah solusi masalah itu?

Ada dua hal yang mungkin dilakukan. Pertama, dilakukan pengerukan hingga mencapai kedalaman sekitar 10 meter. Namun, upaya itu akan sulit dan mahal. Kedua, kita rencanakan pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat yang berlokasi sekitar 4 km dari TAA. Harus berani melakukan pembangunan itu.

Jadi, solusi mana yang didahulukan?

Karena sudah banyak yang berencana berinvestasi di Pelabuhan TAA, jadi akan segera kita wujudkan. Targetnya, Desember mendatang sudah bisa dioperasikan. Untuk mengoperasikan itu, saya sudah menunjuk PT Pelindo II sebagai operatornya. Mereka sudah siap.

Investor mana yang tertarik mengembangkan Pelabuhan TAA?

Mengenai investor saya tidak tahu. Tapi rasanya ada BUMD untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) TAA. Kalau pelabuhan, sementara ini saya menunggu Pelindo II menyelesaikan program operasional untuk TAA.

Apa yang dilakukan dalam waktu dekat?

Saya minta sekarang ini mengerjakan Pelabuhan TAA dengan fasilitas yang ada. Dan nanti Pelindo II akan selesaikan program untuk Pelabuhan TAA. Saya kasih waktu sekitar dua bulan untuk menyelesaikan feasibility study (FS)-nya.

Selain Pelindo II siapa saja yang dilibatkan?

Pemda Sumsel sudah membuat semacam BUMD, perusahaan pengelola KEK. Saya minta Pelindo II berkoordinasi dengan BUMD itu untuk merencanakan lebih lanjut tentang pengembangan pelabuhan. Bisa kolaborasi dengan pihak swasta. Saya pikir untuk fasilitas lainnya menyusul saja karena ada kondisi tertentu kita harus menunggu time table dari Pelindo II untuk segera mengoperasikan pelabuhan itu.

Baca Juga :  Alex Noerdin Jenguk Korban Penembakan Oknum Polisi

Setelah beroperasi, apakah Pelabuhan TAA bisa menjadi pelabuhan ekspor-impor?

Kita tidak boleh terlalu berlebihan bicara soal pelabuhan internasional. Karena dalam tatanan kemaritiman, ada yang namanya hub internasional. Di Indonesia, ada tiga pelabuhan yang ditetapkan sebagai hub internasional yakni Tanjung Priok (Jakarta), Kuala Tanjung (Sumatera Utara) dan Patimban (Jawa Barat).

Apakah TAA berpeluang jadi hubungan internasional?

Kita tidak perlu mempermasalahkan itu. Jadi, sekali sudah ditetapkan sebagai pelabuhan samudera tidak harus (hub internasional). Barang bisa lewat Jakarta atau Kuala Tanjung. Kecuali untuk barang-barang tertentu. Ada alasan sisi ekonomi yang mendasari menjadi hub internasional.

Apa alasan sisi ekonomi tersebut?

Jika kita keluar (ekspor) dengan volume-volume relatif kecil, maka skala nilai ekonomisnya tidak kompetitif. Akhirnya hanya bisa ke Singapura. Karena kapal berlayar antarbenua, perlu jumlah yang besar untuk diangkut sehingga menjadi ekonomis. Jadi kalau kapal-kapal kontainer itu, bayangkan sekali angkut itu 10 ribu boks kontainer, dan minimal itu dari satu tempat harus 2.000 kontainer. Apakah ada di sana (TAA)? Kalau tidak ada, kita koordinasikan saja dengan Priok atau Kuala Tanjung.

Tetap ada peluangkah untuk TAA?

Kita lihatlah nanti posisinya. Kalau ternyata industri tertentu dari Sumsel seperti CPO atau komoditas lain berkembang pesat, kita bisa langsung (ekspor). Tidak usah lagi lewat Tanjung Priok.

Apa rencana lain?

Kami juga merencanakan pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat yang berlokasi sekitar 4 km dari TAA. Namun itu jadi target jangka panjang karena yang diprioritaskan saat ini adalah Pelabuhan TAA. (ran/ce1)

Baca Juga :  AHY Disambut Muchendi

Perusahaan (Investor) yang Sudah MoU dengan PT SMS

Perusahaan Unit Usaha Lokasi Proyek

PT Sriwijaya Tanjung Carat Pengembang Lokasi KEK TAA-Pelabuhan Tanjung Carat
PT Pusri Palembang Pupuk Pelabuhan Tanjung Carat
PT Indorama Petrokimia Pelabuhan Tanjung Carat
PT DEX Indonesia Refinery (kilang minyak) Pelabuhan Tanjung Carat
PT Indocoal International Pembangkit Listrik KEK TAA
PT Hydro Cipta Energi Pengolahan air payau-limbah cair KEK TAA
Bank SumselBabel Perbankan KEK TAA

Sumber: PT SMS

Proyek KEK TAA-Pelabuhan Tanjung Carat

Nilai Proyek : Rp50 triliun
Lokasi : Kecamatan Banyuasin II
Luas : KEK TAA 2.030 hektare, Tanjung Carat 2.202 hektare.
Pembebasan Lahan : Tahap I 217 hektare, sudah bebas 66,13 hektare senilai Rp40 miliar.
Pengelola : BUMD PT Sriwijaya Mandiri Sumsel KSU PT Sriwijaya Tanjung Carat.
Pengerjaan : Tahap I, akhir 2017-Juni 2018 (pembebasan-pematangan lahan)/pembangunan infrastruktur.
Tahap II, mulai Juli 2018 (sosialisasi dan pembangunan proyek industri).
Fasum : Listrik 2×30 MW, air bersih, jalan kawasan.
Zona Kawasan : Empat (pengolahan ekspor, logistik, industri, energi).
Mobilitas Barang : Pelabuhan Tanjung Carat (200.000 DWT)/Pelabuhan Peti Kemas TAA (5.000 DWT).
Panjang/Kedalaman Pelabuhan : Tanjung Carat 19 km/20-25 meter (existing 10-15 meter), TAA 50 meter/10 meter (existing 10 meter).
Penyerapan Tenaga Kerja : 300 ribu pekerja.

Keterangan : – Proyek KEK TAA sudah digagas 14 gubernur sejak zaman Belanda.
– Pencanangan KEK TAA Tahun 2014 berdasarkan PP 51/2014.
– Jatuh tempo Juni 2017, diperpanjang pemerintah 1 tahun jadi Juni 2018.

Sumber: PT SMS

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!