Jadilah Hamba Pilihan Allah

Oleh : HM. Syarif Husain, SAg, MSi

Perlu kita ketahui, manusia-manusia terbaik adalah manusia pilihan Allah, bukan pilihan makhluk-makhluknya, Allah mengetahui tentang kelebihan dan kekurangan makhluk-Nya, karena Dialah yang menciptakan kita. Dialah Allah yang telah menciptakan kita dan mengetahui apa yang terbaik untuk kita,
Dia mengetahui perkara-perkara gaib, Dialah yang mengetahui tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, sebagaimana ditegaskan Allah SWT. surat al-Mulk ayat 14 artinya, “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”
Kita sering merencanakan suatu program yang menurut pandangan pribadi maupun kelompok bahwa program itu baik dan sudah matang untuk dieksekusi dengan sebuah kegiatan. Namun apa yang terjadi, ternyata hanya kegagalan yang ditemui atau bahkan berbanding terbalik dengan rencana yang sudah matang tersebut, ternyata kegiatan menjadi berantakan bahkan musibah datang menjelang, semua harapan dan cita-cita dari sebuah tujuan yang matang menjadi buyar.
Akan tetapi apabila hal tersebut terjadi pada kaum muslimin maka tentu hal itu akan dihadapinya dengan penuh kesabaran dan ketawakalan, mereka pasrah dan mengembalikan permasalahan kepada Allah, karena semua itu terjadi setelah langkah dan usaha dilakukan. “Apabila kalian sudah membulatkan suatu tekad/niat maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”.
Dan ketahuilah keputusan Allah yang terakhir itulah yang terbaik. Kenapa demikian? karena yang terbaik itulah sebagai pilihan Allah. Bukankah kita diingatkan dengan firman-Nya surat al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Bahkan dalam ayat berikut Allah mengingatkan kita agar bersabar apabila kita mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang direncanakan dan dicita-citakan. “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa: 19)
Sesungguhnya Allah SWT telah mengi’tibari kita dengan berbagai contoh kisah dalam al-Qur’an bahwa pilahan Allah adalah yang terbaik, hanya saja kita sajalah yang sering berprasangka buruk kepada Allah, memang kalau diukur dengan akal imajinasi terkadang di luar jangkauan, di luar nalar kita bahkan di luar daya hayal kita. Kisah-kisah yang disampaikan Allah dalam al-Qur’an ialah kisah-kisah terbai., tidak semata-mata Allah menampilkan kisah dalam al-Qur’an, akan tetapi pasti memiliki makna dan tujuan agar kita mampu menjadikan kisah itu menjadi tauladan.
Kita diingatkan dengan kalimat “wadzkur” dan ceritakan/kisahkanlah, seperti firman-Nya“dan ceritakanlah/kisahkanlah oleh kamu tentang nabi Idris , sesungguhnhya Dia termasuk nabi yang benar”, atau dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 3
Setiap manusia yang ingin naik kelevel yang lebih tinggi, lebih baik, lebih bermartabat tentu akan melewati seleksi, uji kompetensi atau test. Begitu juga orang yang beriman, apabila keimanann bertambah, Allah SWT., selalu memberikan ujian sesuai dengan kemampuan manusia tersebut. sebab orang yang beriman tidak hanya cukup pengakuan dibibir saja sebagai orang yang beriman sebelum Allah SWT, memberikan ujian.
Sebagaimana firman Allah SWT., dalam kitab al-Qur’anul Karim, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) dengan mengatakan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Ankabut : 2–3 )
Ini adalah salah satu bentuk dari konsekwensi keimanan kita kepada Allah, kalau kita beriman kepada-Nya hadapilah ujian yang datang menghampiri kita. Ini juga sebagi pembuktian sampai sejauh mana keimanan dan kesungguhan kita dalam beriman dan beribadah kepad Allah SWT. Jadikanlah hati dan keyakinan kita sebagai sumber utama untuk menghadapi berbagai ujian Allah, agar kita menjadi hamba pilihan Allah.
Ujian yang diberikan Allah kepada manusia tentu beraneka ragam. Seperti kita lihat beraneka ragamnya bentuk ujian kepada para nabi Allah. Umpamanya nabi Ibrahim AS. Beliau diuji oleh Allah agar menyembelih putranya Ismail. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Ash-Shaffat: 106).
Kita lihat endingnya, ternyata Ibrahim lulus dari ujian Allah, “Dan ingatlah tatkala Allah menguji Ibrahim dengan beberapa kalimat, maka ibrahimpun berhasil lulus dari ujian itu dengan sempurna”. Nabi Yusuf pun diuji oleh Allah, Beliau diusir dengan cara dibuang oleh saudara-saudaranya, difitnah manakala ia berada dalam lingkungan istana, bahkan Iapun dengan sabar dimasukan ke dalam penjara.
Lantas ujian berikutnya adalah balasan Allah atas kesabarannya menghadapi penyakit, adalah kisahnya nabi Ayub AS. Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai.
Kisah–kisah orang sukses dari ujian Allah dan menggapai keberhasilan, kemulyaan, keberuntungan karena telah menjadi manusia-manusia pilihan Allah. Lantas apakah kita menginginkan kemulyaan Allah itu datang menghampiri kita ? tentu jawabannya ingin, tapi ingat, tidak mungkin kita menggapai keberhasilan, keberuntungan, kebahagiaan dan kemenangan, manakala kita tidak sanggup menghadapi ujian Allah itu.
Maka tidak ada kata lain, kecuali kita menghadapi berbagai ujian Allah dan kita sabar serta bertawakkal kepada-Nya, Allah sedang mempersiapkan reward kepada manusia yang tahan uji dan mempersiapkan suatu kemenangan yang besar. Tidak ada manusia yang mulia, kecuali ia telah berhasil menghadapi berbagai ujian dari Allah SWT. (*)

*Kasi Pondok Pesantren Kemenag Sumsel

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!