Jarang Buat Status Medsos, Puji Dikenal Religius

Dita Oeprianto bersama Puji Kuswati. foto: dok keluarga

SATU keluarga yang meledakkan bom di tiga gereja di Surabaya, Ahad (13/5) membuat Puji Kuswati, istri Dita Oeprianto itu menjadi perbincangan. Puji merupakan pelaku bom bunuh diri di GKI Jl  Diponegoro, Surabaya. Terlebih di media sosial beredar screenshot akun Facebook (FB) Puji Kuswati.

Akun media sosial (medsos) “pengantin” yang meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl Diponegoro Surabaya ini tertulis pernah bersekolah di SMAN 2 (Smada) Magetan.

Selain screenshot akun FB, beredar pula foto Puji bersama lima anggota keluarganya dengan background jendela berkelambu. Kelimanya disebut-sebut sebagai terduga pelaku pengeboman dua gereja di Surabaya lainnya: Gereja Santa Maria Tak Bercela dan Gereja Pantekosta.

Sosok yang diduga kuat Puji di foto itu tampak berkacamata, mengenakan setelan jilbab warna biru tosca dan full dress bermotif bunga warna ungu. Sedangkan laki-laki tepat di belakangnya adalah Dita Oeprianto suaminya. Sementara, dua remaja pria dan dua bocah perempuan adalah putra-putrinya.

‘’Saya tidak bisa memastikan. Tapi, kalau dari banyaknya kesaksian teman-teman, sepertinya memang Puji angkatan 1993,’’ kata Budi, salah seorang alumnus Smada, Senin (14/5).

Dia mengungkapkan, screenshot FB dan foto Puji itu tersebar di grup WhatsApp alumni Smada Magetan, Minggu malam (13/5). Grup berisi siswa angkatan 1993 jurusan fisika, biologi, dan sosial itu ramai membicarakan sosok Puji yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri.

Baca Juga :  Hadiri Rakernas, Arief Yahya Paparan Digital Tourism

Budi lupa-lupa ingat tentang sosok Puji lantaran jalinan pertemanan itu sudah terjadi 25 tahun silam. Karena itu, dia mengecek akun FB Puji untuk memastikannya. Ternyata, status keduanya adalah berteman bersama. Teman-temannya pun memberitahu ke dirinya bila Puji adalah teman kelas X.

Selama di sekolah, kata dia, Puji merupakan sosok pendiam dan terbilang siswi pintar. ‘’Waktu kelas XI jurusannya fisika. Dulu bisa masuk jurusan itu sangat sulit,’’ ucapnya sembari menyebut saat masih SMA fisik Puji termasuk kurus. Sedangkan dalam foto terlihat gemuk.

Penelusuran Radar Magetan lewat seorang teman Puji di FB, ibu empat anak itu jarang membuat status. Kalaupun ada, tulisan yang disampaikan berbau religius dan kebijaksanaan.

‘’Andaikan manusia itu tahu apa yang dibutuhkan di negeri akhir, pasti dia tidak menginginkan imbalan atas perbuatannya untuk dunia ini, tetapi dia akan mengharapkan imbalan atas perbuatannya untuk kehidupan akhirat.’’ Itulah status kali terakhir Puji yang di-posting pada 13 Mei 2015.

Kepala SMAN 2 Magetan Hari Amanto saat dimintai konfirmasi belum bisa memastikan apakah Puji pernah bersekolah di Smada. Sebab, baru menjabat sebagai kepala sekolah per Maret tahun lalu. Dia perlu membuka arsip data siswa di bagian tata usaha. Proses itu menurutnya butuh waktu lantaran Puji informasinya dari angkatan masuk puluhan tahun silam.

Baca Juga :  Pegiat Medsos Dukung Pariwisata

Pihaknya juga kesulitan mengorek informasi dari guru. Sebab, pengajar di era tersebut sudah pensiun. ‘’Kami sangat kecewa kalau memang betul alumnus siswa di sini. Masa to lulusan SMAN 2 sampai berbuat seperti itu,’’ paparnya.

Sementara itu, Kapolres Magetan AKBP Muslimin mengaku sudah mendengar informasi Puji diduga alumnus Smada. Pihaknya sudah mendatangi sekolah yang bersangkutan untuk meminta konfirmasi. Hasilnya, pihak sekolah memberikan bantahan. ‘’Jawaban pihak sekolah statusnya bukan alumnus,’’ kata mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.

Namun, Muslimin tidak membantah kasus bom bunuh diri di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo ada keterlibatan warga Magetan. Hasil kroscek, Sari Puspitarini, salah seorang terduga pelaku, dipastikan pernah tinggal di Jalan Sikatan, Kelurahan/Kecamatan Maospati.
Kendati demikian, pihaknya belum mengambil tindakan lebih lanjut dari informasi yang beredar melalui buku nikah di kantor urusan agama (KUA) Maospati itu. ‘’Kami belum ada informasi tertulis dan perintah mengambil tindakan. Kami hanya diminta monitoring,’’ paparnya. (cor/c1/isd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!