Jauh-Jauh Mencari Surga

Izzah Zen Syukri

Ini kisahku, kawan. Saat itu aku dianjurkan untuk operasi karena suatu penyakit. Menurut medis, penyakit ini hanya dapat disembuhkan melalui jalan itu. Dari pagi aku sudah menjalani puasa sebagaimana saran dokter. Menjelang asar, kami menuju rumah orang tua untuk meminta izin. Kami sampaikan kepada abah apa yang akan kujalani malam nanti. Kata abah, “Mintalah doa kepada ibumu!”
Biasanya dalam keadaan apa pun aku selalu meminta doa ibu, baik hal yang remeh temeh apalagi jika menghadapi masalah berat. Kali ini kami khawatir berita mengejutkan ini akan membuat jumlah yang sakit menjadi bertambah. Kami khawatir ibu terserang jantung. Namun, keyakinanku tetap seperti dulu, meminta doa ibu.
Mula-mula kami bicara soal takdir dan ketentuan Allah. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali kusampaikan tentang masalah yang berat itu. Dengan ringan ibuku berkata, “Pergilah ke si Fulan. Kau kan sering mengantar orang ke sana”. Seperti terhipnotis dengan kata-kata dan doa ibu, kami pun menurutinya. Sore itu aku langsung diterapi. Sebelum Subuh keajaiban pun terjadi. Doa ibu sungguh mustajab.
Rupanya, jauh sebelumku hal senada dialami oleh seorang pemuda. Saat Rasulullah Saw sedang berbincang dengan para sahabat, bertandanglah seorang pemuda dengan wajah berduka. Pemuda itu menceritakan bahwa dirinya sedang menghadapi persoalan berat. “Doakan aku wahai Rasul,” kata sang pemuda memelas.
“Apakah ibumu masih ada?” Tanya Baginda Rasul.
“Sudah meninggal, Ya Rasul,” jawabnya.
“Bagaimana dengan ayahmu?”
“Beliau masih ada,” ujar anak muda itu.
“Pulanglah. Mintalah doa kepada ayahmu,” saran Baginda Rasulullah saw.
Setelah pemuda itu meninggalkan majelis Rasul, Beliau saw bersabda kepada para sahabat, “Andaikan ibunya masih hidup, maka semua masalahnya akan selesai”.
Tabik untuk para ibu sedunia. Tabik untuk ibu-ibu di seantero nusantara. Ibu-ibu adalah insan nomor satu, insan pilihan Allah. Tidak semua orang bisa terpilih sebagai pemeran ibu di dunia ini. Oleh sebab itu, para ibu umumnya amanah dan ikhlas dalam menjalani profesinya sebagai ibu. Sejak di dalam kandungan, kepayahan ditanggungnya, keletihan ditahannya. Yang ada adalah keindahan karena rahimnya telah dipilih Allah menjadi tempat bersemayam hamba Allah. Bahagia hatinya karena dipercaya Allah untuk mengemban amanah. Saat menyusui pun tidaklah mudah, berat luar biasa. Ibu dalam keseharian biasa berselimut lelah. Namun, dijalaninya dengan tabah.
Demikianlah sosok ibu. Dalam cerewetnya ada doa. Dalam marahnya, ada doa. Dalam hening malam, saat putra putrinya telah dipeluk mimpi, ia tak lepas berdoa. Kesuksesan seorang anak lahir dari doa orang tuanya, terutama ibunya. Bahkan, dalam salah satu hadis Rasulullah saw menyatakan bahwa tsalaatsu da’awaati laa turaddu da’watul waalidi wa da’watus shooimi wa da’watul musaafiri ‘ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: 1) doa orang tua, 2) doa orang yang berpuasa, dan 3) doa musafir.
Terkenang kita pada beberapa tokoh penting dunia. Mereka sukses karena doa ibu mereka. Sebut saja Syekh Abdurrahman Assudais. Ketenarannya sebagai Imam Masjidil Harom karena doa ibunya. Demikian pula perawi hadis terkenal, Imam Bukhori. Kepandaiannya dalam menghafal dan menguasai hadis Rasulullah karena doa ibunya. Bahkan, matanya yang dulu tak bisa melihat, sembuh karena khusyuk dan ikhlasnya doa sang ibu. Demikian pula pemuda Nu’man yang bercita-cita menjadi saudagar besar seperti ayahnya, kalah oleh doa sang bunda yang menginginkannya menjadi ulama terkemuka. Terkenallah ia dengan sebutan Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi. Belum lagi beberapa tokoh hebat lainnya yang tak dapat disebutkan satu per satu.
Saudaraku, tak perlu jauh-jauh mencari surga. Di rumah ada surga yang terbentang buat kita. Orang-orang yang masih memiliki orang tua, laksana mempunyai surga. Keduanya adalah cahaya yang akan mengantarkan putra putrinya menuju surga yang hakiki. Tidak perlu jauh-jauh mengembara mencari ketenangan hati. Tidak perlu meminta doa kesana kemari. Selagi masih memiliki orang tua, selagi masih mempunyai ibu, cukuplah berbakti kepada mereka. Tanpa diminta pun mereka akan terus berdoa untuk kesuksesan kita hingga mereka menutup mata.
Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam acara Kick Andy, Jumat, 7 Oktober 2011 menceritakan bahwa ia sangat menghormati ibundanya, Hj. Ma’rufah. Saat ditanya Andy F. Noya tentang penolakannya terhadap Gus Dur untuk memimpin PKB, dengan sederhana dijawabnya, “Ibu saya ndak kasih”.
Gus Mus bahkan dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak melakukan solat istokhoroh untuk memutuskan sesuatu walau pelik sekalipun sepanjang masih ada ibu. Cukup pendapat dan doa ibundanyalah yang dipegangnya sebagai pedoman.
Betapa hebatnya kedudukan kedua orang tua di mata Allah. Allah pun berfirman di dalam Alquran surat Al-Isra’, ayat 32 Waqodho robbuka allaa ta’buduu illaa iyyaahu wabilwaalidaini ihsaanaa ‘Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua’.
Hal senada juga disampaikan Rasulullah Saw dengan sabda Beliau yang artinya “Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kaum kerabat yang paling dekat” (hadis riwayat Ibnu Majah).
Saudaraku, tempatkan ibu nomor wahid di hatimu dalam jajaran manusia. Dengan demikian, segala harapan dan cita-cita akan dimudahkan Allah Ta’ala. Peluk cium buat wanita yang telah mengandung, mendidik, dan memberikan warna dalam kehidupan kita. Selagi ibumu masih ada, sempatkan waktu untuk mengunjunginya dan memberikan yang terbaik untuknya. Janganlah datang sesal karena terlambat mencintainya. Tidak sepertimu, aku hanya dapat memandang makam ibuku. Selamat hari ibu. (*)

*Manager Ponpes Muqimus Sunnah, Palembang dan Dosen FKIP Unsri

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!