Jerat Kenyamanan “Kids Zaman Now”

Oleh: M Yuanda Zara*

SUMPAH Pemuda (SP), yang tahun ini memasuki tahun ke-89, adalah salah satu peristiwa penting di Indonesia. Kita memperingatinya dengan banyak cara dan umumnya difokuskan pada aspek sejarah, isi, dan artinya bagi Indonesia.
Ada satu elemen penting yang kurang diulas, padahal masih relevan di masa kini, bahkan pada masa depan. Yakni, generasi macam apa yang melahirkan SP? Atau dalam bahasa kekinian: bagaimana ”kids zaman old” berhasil sampai pada kebulatan tekad untuk tidak lagi berpikir tentang diri atau kelompoknya? Melainkan pada gagasan yang lebih luas untuk ukuran zamannya: tanah Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Dan bisakah ”kids zaman now” sampai pada pencapaian luar biasa leluhur mereka itu?
Ada tiga ciri utama yang tampak di antara para ”kids zaman old” yang berpartisipasi dalam SP. Pertama, mereka berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Pendidikan Barat dan Islam modernis memberi mereka berbagai macam pengetahuan dan keterampilan.
Sunario, penasihat Kongres Pemuda II yang melahirkan SP, adalah alumnus Universitas Leiden. Sedangkan M. Yamin, wakil Jong Sumatranen Bond, lulus dari Sekolah Tinggi Hukum Batavia. Adapun Kasman Singodimedjo, aktivis Jong Islamieten Bond, menimba ilmu di sekolah dokter STOVIA dan merupakan murid pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.
Pengetahuan mereka banyak dan bersifat komparatif. Diambil dari berbagai sumber seperti konsepsi Islam, Barat, dan kultur lokal Indonesia sendiri. Ide-ide itu mereka olah dan jadikan pisau analisis dalam memahami kolonialisme Belanda serta ketertinggalan dan perpecahan kaum pribumi.
Mereka menuangkannya dalam bentuk organisasi hingga publikasi. Bagi anak muda inisiator SP tersebut, yang berusia 20 hingga 30-an tahun, yang mereka cari bukan lagi kesenangan hidup ala anak muda zaman itu. Atau perasaan modern dengan mengikuti segala yang berbau Barat.
Mereka adalah kaum idealis yang sedikit sekali berpikir tentang sesuatu yang bersifat materiil. Dan lebih banyak merenungkan hal-hal abstrak, besar, serta kompleks. Mereka, misalnya, demi kepraktisan, bisa saja meyakinkan publik bahwa bahasa Belanda-lah yang paling berguna bagi pribumi pada zaman itu. Tapi, dalam kenyataannya mereka memilih mempromosikan bahasa ”baru”, bahasa persatuan: bahasa Indonesia.
Kedua, kesadaran kuat untuk mendorong terjadinya perubahan demi kepentingan yang lebih luas. Mereka memiliki sensitivitas terhadap situasi sosial dan politik yang ada. Situasi yang mengakibatkan terjadinya stagnasi, bahkan kemunduran, dalam masyarakat. Pengetahuan mereka tidak bersifat egois, tapi bercorak emansipatoris.
Artinya, ilmunya dimanfaatkan untuk kemajuan bersama. Mereka dengan cepat memahami situasi sosial politik yang ada dan menemukan bahwa ada yang salah dengan sistem kolonialisme Belanda serta sifat apatis pribumi. Persoalan tersebut tidak untuk didiamkan atau bahkan diterima begitu saja seperti yang terjadi pada kaum kromo (wong cilik) masa itu. Perubahan adalah sebuah keharusan. Salah satunya melalui persatuan para pemuda.
Ketiga, keinginan kuat untuk bergerak, baik dengan mengambil inisiatif maupun mengorganisasi diri. Ada banyak perbedaan di antara mereka, seperti suku, agama, maupun pandangan politik.
Di Kongres Pemuda II, para pemuda masih merepresentasikan organisasi kesukuan/kedaerahan/keagamaan mereka. Seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan Jong Islamieten Bond. Tapi, dalam berbagai rapat dan sambutan dalam acara itu, mereka sepakat bahwa penekanan mesti diberikan pada hal-hal yang mereka bagi serta cita-citakan bersama. Yakni persatuan, nasionalisme, dan keindonesiaan.
Lama setelah SP dideklarasikan, para tokoh pemuda yang menginisiatorinya masih tetap berbakti kepada Indonesia lewat berbagai macam cara. Sebagian menjadi birokrat. Misalnya M. Roem yang menjabat Mendagri dan J. Leimena yang keahliannya membuatnya berkali-kali ditunjuk sebagai menteri selama dua dekade pasca kemerdekaan. Ada pula yang aktif di organisasi kemasyarakatan (misalnya Kasman Singodimedjo di Muhammadiyah) serta memimpin partai politik, mulai Masyumi, PNI, hingga Partai Katolik.
Bagi mereka, SP memang sudah lama lewat. Tapi, spiritnya masih terasa dan menjadi pemandu mereka dalam pos masing-masing. Hanya Amir Syarifuddin dan Kartosuwiryo yang belakangan bersimpang jalan dengan menjadi pemberontak. Pertanyaannya kini, apakah ”kids zaman now” alias generasi muda kini bisa sampai ke level yang sama dengan para pendahulu mereka sekitar seabad silam dalam hal wawasan kebangsaan?
Belum pernah ada dalam sejarah Indonesia anak mudanya sedemikian banyak yang bisa baca-tulis, terkoneksi dengan dunia global, bisa berbahasa asing, dan memiliki akses luas pada wahana komunikasi paling mutakhir seperti di masa kini. Kelebihan itu membawa pada kenyamanan yang bisa membuat mereka enggan untuk berpikir serius dan kritis. Tentang hal-hal yang bisa mengganggu imaji mengenai kenyamanan itu: kemiskinan, korupsi, ketimpangan sosial, dan sebagainya.
Di lihat di media sosial, mereka sebenarnya cukup cerewet untuk mengkritisi berbagai persoalan bangsa. Namun, ide-ide mereka terasa dangkal dan lebih banyak bernuansa bullying daripada menawarkan solusi besar serta efektif. ”Kids zaman now” perlu terus diingatkan agar menggunakan kekuatan yang mereka punya tak hanya demi kemajuan dirinya. Tapi juga untuk kemajuan bangsa Indonesia dari mana mereka berasal, sebagaimana yang hampir seabad silam telah dipraktikkan leluhur mereka.
Bonus demografi di Indonesia diharapkan tak hanya menjadi ilustrasi soal banyaknya angkatan kerja produktif. Tapi seharusnya juga dapat dimaknai sebagai betapa luar biasanya sumber daya manusia di negeri ini yang akan menegaskan kembali komitmen pada tanah air Indonesia, kebangsaan Indonesia, dan bahasa persatuan bahasa Indonesia, baik kini maupun di masa depan. (*)
(* Sejarawan, PhD di Universiteit van Amsterdam)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!