Kaget sebelum Nikah Diculik Dulu, Wayang Kulit Bikin Istimewa

Kelvin Apriansyah dan Puteri Maharani. Foto: Kumaidi/Sumatera Ekspres

Kelvin Apriansyah dan Puteri Maharani patut berbangga. Pemuda pemudi asal Sumsel ini memiliki pemahaman keberagaman Indonesia lebih luas dari pada pemuda di usianya. Dia sudah keliling Indonesia melihat berbagai keragaman budaya Nusantara melalui program Kemenpora, Kirab Pemuda 2017.

MENGELILINGI Indonesia tidak pernah terbayangkan bisa dilakukan Kelvin Apriansyah maupun Puteri Maharani. Biayanya tentu besar karena Indonesia merupakan gabungan ribuan pulau. Belum lagi kewajiban menimba ilmu yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Mengingat, keduanya masih belajar di sekolah tingkat atas yang saat ini sedang disibukkan dengan ujian sekolah.

Namun, keduanya bisa mengelilingi Indonesia tanpa dipungut biaya sepeser pun. Perjalanan mereka juga terjamin. Baik makanan, akomodasi maupun kesehatan. Semua dipantau karena status mereka adalah undangan Kemenpora mewakili dari Provinsi
Sumsel dalam program Kirab Pemuda 2017. Total ada 72 peserta dari 34 provinsi yang dibagi dua kelompok zona. Zona 1 dan zona 2. Kelvin dan Puteri tergabung di zona 2.
Dia menyisir Indonesia dari timur mulai dari Rote, Nusa Tenggara Timur, menuju titik terakhir Blitar. Selama di Blitar pada 6-8 Desember, aktivitas dikonsentrasikan selain di rumah dinas kepada daerah juga di Pemakaman Bung Karno dan tempat wisata Kampung Cokelat.

“Gak nyangka sudah dua bulan saya meninggalkan orang tua dan aktifitas keseharian serta teman-teman di Palembang. Terutama orang tua yang berat melepaskan saya keliling Indonesia. Namun rasa kangen harus saya pendam demi mengetahui Indonesia dari dekat,” terang Kelvin dengan mata berkaca-kaca di Kampung Cokelat, Blitar.

Baca Juga :  Kirab Pemuda JPI Sedot Perhatian Warga

Pengorbanan Melvin sepadan dengan apa yang didapatkan. Bahkan lebih. Kelvin mengaku takjub karena Indonesia ternyata luas dengan keanekaragaman budaya, suku, bahasa, etnis yang melimpah. Belum lagi sumber daya alam yang menggiurkan. Sebagai orang Palembang yang jarang melihat laut, karena di Palembang hanya ada Sungai Musi, Kelvin mengaku surprise melihat luasnya laut Indonesia. Kegalauan yang dirasakan sejak berangkat pun berubah menjadi ceria.

“Ternyata luas juga laut kita. Kami yang lebih sering melihat sungai Musi menjadi pengalaman tersendiri melihat hamparan laut lepas di Indonesia. Dimana-mana laut,” ungkapnya. “Kami juga melihat bagaimana masyarakat Papua. Ternyata gak semua pakai koteka. Semua sudah sama seperti apa yang kita pakai sehari-hari demikian juga harga makanan di sana gak jauh beda dengan di sini. Paling beda tiga ribu atau lima ribu,”
lanjutnya.

Kelvin harus kembali mengakui ketakjubannya atas kekayaan budaya Indonesia. Terutama saat masuk Lombok. Di suku Sasak, masih ada tradisi menculik gadis sebelum dinikahi. “Ceritanya, jika laki-laki sudah pengen nikah, dia harus menculik wanita yang diinginkan. Lalu membiarkan keluarga perempuan menjemput untuk bertamu di keluarga laki-laki kemudian membicarakan tanggal pernikahan. Gadis yang diculik harus
direstui ke jenjang pernikahan,” kenang pelajar kelas 3 SMKN 2 Palembang ini.

Baca Juga :  Bhinneka Tunggal Ika Harus Jadi Nafas Kegiatan Pemuda

Kelvin mengakui, pengorbanan yang telah dilakukan mendapatkan feed back yang luar biasa dari yang dipikirkan di awal. Diakuinya, perjalanan keliling Indonesia semalam dua bulan itu membuatnya tidak hanya belajar geografi dan keberagaman tapi sudah langsung masuk dalam tingkatan praktek. “Apalagi dalam zona 2, penganut agamanya lengkap. Kami dari muslim selalu diingatkan sholat saat jam sholat dari teman kami yang nonmuslim. Demikian juga bagi nonmuslim, kami ingatkan untuk jalankan kewajibanya saat waktu sholat tiba,” jelasnya.

Lain lagi dengan Puteri Maharani. Pengalamannya keliling Indonesia membuatnya tidak bisa menghilangkan kenangan dari sambutan Pemerintah Daerah Tegal. Saat masuk daerah penghasil telur asin itu, peserta kirab disambut wayang kulit. Pertunjukan wayang
membuatnya melek betapa hebatnya Indonesia dengan budaya yang adiluhung itu.

“Penyambutan di Tegal luar biasa. Ada seni wayang. Pertunjukan wayang inilah yang membuat saya senang. Kemudian saya juga terkesan saat di Kalimantan. Saya tidak
pernah melihat tarian dayak yang enerjik dan kemarin saya melihatnya secara langsung. Luar biasa senangnya. Itu pengalaman yang sangat berkesan dan berharga dan yang pasti tidak akan bisa dimiliki oleh pemuda lainnya di Sumsel. Selama di kirab juga saya mendapatkan pengalaman menari saman dari Aceh. Saya belajar langsung dari pemuda Aceh. Saya menampilkan kesenian itu di saat malam hiburan di Lapangan Satriyan Blitar. Saya akan menukarkan apa yang saya dapatkan ke pemuda di Sumsel,” terang Puteri yang masih sekolah di SMKN 4 Palembang.

Baca Juga :  Baca Kitab Kirab Pemuda Pecahkan Rekor MURI

Puteri mengaku, awalnya berat ikut Kirab Pemuda. Tapi kekuatan ada setelah guru sekolah meyakinkan apalagi Puteri telah menjadi duta Sumsel dengan masuk peserta kirab. “Setelah ini, saya dan Kelvin akan memikirkan bagaimana cara membangkitkan campur tangan pemuda dalam pembangunan Indonesia. Kemudian juga menularkan apa yang kami terima selama kirab. Kami ingin ilmu dna pengalaman yang kami dapatkan bisa
bangkitkan semangat pemuda di Sumsel,” tegasnya. (kmd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!