KEK Terganjal Izin PT SMS

BANGUN JALAN : Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembangunan jalan penghubung ke arah Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Api-Api, kemarin. Pelabuhan ini ikut menunjang fasilitas KEK TAA. Foto : KRIS SAMIAJI/SUMEKS

SUMSEL – Pembangunan di Provinsi Sumsel kian pesat. Tak hanya rencana di atas kertas, tapi provinsi ini mampu mewujudkan beberapa proyek infrastruktur strategis yang masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumsel Tahun 2015-2018.
Sebut saja proyek LRT (light rapid transit), jalan tol, jembatan, flyover, pelabuhan, rumah sakit, dan lainnya dengan total dana investasi mencapai Rp63,555 triliun. Beberapa proyek itu pun kini on progress dan diproyeksi bakal rampung tahun ini atau tahun depan. Terutama fasilitas pendukung Asian Games 2018. Meski begitu, Provinsi Sumsel ini masih harus bekerja keras karena masih ada PR beberapa proyek yang “lambat” jalan seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api dan Pelabuhan Tanjung Carat.
Padahal mega proyek ini begitu penting untuk memajukan ekonomi, membuka kawasan industri baru (hulu dan hilir), juga membuka jalur transportasi darat dan laut. Karena itulah Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel, Joko Iman Sentosa, menyebut apa yang sudah diprogramkan harus direalisasikan. “Akan kita kebut tahun ini dan tahun depan. Momentum HUT Ke-71 menjadi penyemangat kami untuk melakukan evaluasi dan mewujudkan semua proyek itu,” ujarnya kepada koran ini, kemarin.
Diakui Joko, konsep pembangunan di Sumsel saat ini bergeser ke skala prioritas yakni penyelesaian infrastruktur Asian Games seperti LRT, jalan tol, RSUD Provinsi Sumsel, Jembatan Musi IV dan VI, pembangunan venues, dan fasilitas lainnya. “Memang semuanya belum selesai, tapi secara umum hampir rampung,” terangnya.
Hanya memang, aku Joko, yang masih jadi PR memang penyelesaian KEK TAA dan Tanjung Carat. Lalu penyempurnaan beberapa ruas jalan dan pembayaran utang kepada mitra. “Tapi kita sudah mendapat angin segar karena pemerintah setujui Tanjung Carat bagian KEK TAA,” sebutnya. Pengembangannya harus dikawal agar terealisasi karena operasionalnya akan memacu ekonomi dan menarik investasi.
“Sejauh ini giat pembangunan di Sumsel melampaui provinsi besar di Sumatera, yakni Sumatera Utara (Medan),” jelasnya. Indikator majunya Sumsel juga bisa dilihat tren pertumbuhan ekonomi yang membaik, contohnya 2016 lalu mampu tumbuh 5,03 persen, bahkan 2017 proyeksi BI (Bank Indonesia) bisa lebih dari 6 persen.
Lalu apa masalah KEK TAA dan Tanjung Carat? Kemarin (18/5) koran ini kembali melakukan penelusuran ke kawasan KEK TAA, tepatnya di Desa Parit Ladok, Tanjung Lago dan Desa Teluk Payo Banyuasin II. Tapi pelaksanaan pembangunan di sana berjalan di tempat. Padahal lahan KEK di sana sudah dibebaskan, namun tidak ada aktivitas pembangunan sama sekali sejak 2 bulan terakhir.
“Tiga bulan lalu masih ada alat berat di lokasi ini (Desa Parit Ladok, red). Beberapa eskavator meratakan tanah yang katanya untuk pendirian kantor. Tapi dua bulan lalu pekerjaan dihentikan sampai sekarang,” kata Usman (50), warga setempat ditemui koran ini di lokasi pengupasan kelapa, Kamis (18/5) sore.
Menurutnya, lahan yang akan digunakan untuk KEK ini sudah dibebaskan terutama sebelah kanan jalan dari arah Palembang. Sedangkan bagian kiri belum diganti rugi pemerintah. Dari sana koran ini lalu menuju arah Pelabuhan Laut Peti Kemas tak jauh dari Koramil Sungsang dan Pelabuhan Penyeberangan Tanjung Api-Api (TAA). Di sana ada aktivitas, tampak puluhan petugas sibuk bekerja membangun jalan penghubung ke arah pelabuhan peti kemas. Di depannya juga sudah dibangun Pusat Distribusi Regional (PDR) TAA.
“Pelabuhan peti kemas sudah selesai dikerjakan. Sekarang kita sedang bangun pondasi jalan penghubung ke lokasi pelabuhan. Kalau tak ada halangan, tak lama lagi selesai,” terang Sudirman (45), seorang pekerja kontraktor, kemarin. Akses jalan menuju lokasi juga terus diperbaiki petugas sampai Pelabuhan Penyeberangan TAA. Tampak pula alat berat hilir mudik di lokasi.
Kepala Bidang Perencanaan Pengembangan Iklim dan Sistem Informasi Penanaman Modal BP3MD Sumsel, Ishak Juarsa, menjelaskan, saat ini pihaknya masih membangun pelabuhan peti kemas kapasitas rendah sejak 2016 lalu. Yang bangun Kementerian Perhubungan. “Lokasinya di PDR TAA. Tapi posisinya di luar KEK. Walau begitu ini salah infrastrktur pendukung,” ujarnya. Nah, untuk Pelabuhan Laut Tanjung Carat belum, tapi rencananya tahun ini.
Untuk pusat perkantoran di Teluk Payo, pihaknya memang baru melakukan pembebasan lahan. “Tapi belum ada pembangunan. Rencananya itu untuk kawasan perkantoran PT SMS (Sriwijaya Mandiri Sumsel), PT Sriwijaya Tanjung Carat, dan Administrator KEK,” terangnya.
Pembangunannya baru bisa dilakukan setelah PT SMS terbentuk. “Saat ini masih menunggu surat Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) terkait izin operasional BUMD,” ungkapnya. Diakuinya, PT SMS ini BUMD yang nanti menjalankan dan mengelola KEK TAA. Sudah direncanakan sejak tahun lalu, tapi kendala modal yang awalnya Rp1,2 triliun. Tapi penyertaan modal sudah direvisi menjadi Rp200 juta dan itu bisa disanggupi.
Selain menunggu pembentukan PT SMS, pembangunan KEK juga sempat terhambat belum adanya administrator KEK TAA. “Tapi itu sudah tak lagi masalah, tinggal PT SMS saja,” tuturnya. Jika semua selesai, maka dia berharap pembangunan bisa langsung dilakukan oleh PT SMS dengan modal awal dan asset lahan 66 hektare yang sudah dibebaskan tahun lalu.
Dikatakan, KEK ini nanti bisa jadi kawasan industri hulu dan hilir. “Kalau fasilitasnya sudah dibangun, kita yakin akan banyak investor minat. Sebenarnya sekarang sudah ada, beberapa investor bahkan sudah MoU sementara seperti Indorama, PGRC, dan lainnya yang memang serius. Selebihnya sebatas penjajakan,” bebernya. Tapi belum bisa kerjasama pembangunan, karena yang menjalin kerjasama dan mengeluarkan izin itu PT SMS dan administrator. “Ya, gimana investor mau masuk kalau kedua ini belum selesai,” ucap dia.
Terkait rencana investasi Pelindo untuk bangun pelabuhan, sebut Ishak, Pelindo itu BUMN yang ditunjuk pemerintah pusat, tentunya menjadi tanggung jawab bukan untuk berinvestasi. “Pemerintah harus ikut bertanggung jawab menyiapkan infrastruktur dasar seperti air, pelabuhan, bandara untuk menarik investor ke TAA. Bagaimana investor mau menanamkan modal kalau fasilitas di kawasan tersebut masih terkendala. Tentunya investor juga akan malas,” ujarnya.
Diketahui, KEK akan menempati lahan seluas 4.045 hektare, rinciannya lahan darat 2.030 hektare, termasuk Teluk Payo, dan reklamasi Tanjung Carat (untuk pelabuhan laut dalam) 2.015 hektare. Investasi pengembangan KEK TAA ini bisa mencapai sekitar Rp200 triliun. Untuk Tanjung Carat sendiri diperkirakan menelan dana Rp240 miliar dari dana APBN multiyears.
Staf Ahli Gubernur bidang Ekonomi dan Pembangunan, I Gede Bagus Surya Negara mengklaim KEK TAA tetap lanjut meski realisasinya baru 10 persen. “Tapi kita yakin KEK TAA selesai sesuai target, karena sampai Februari 2017 kemarin investor yang minat banyak seperti dari Tiongkok, Rusia, Australia, Dubai, dan negara lainnya,” tuturnya.
Mereka (investor, red) sudah datang mengecek langsung dan melakukan penjajakan. Mereka pun sudah membuat feasibility study (FS). Contohnya perusahaan Korea, Kogas sudah MoU dengan PDPDE. Mereka jalin kerja sama bidang energi. “KOGAS ready, waktu dekat segera melakukan pembangunan,” paparnya.
Kabid Infrastruktur dan Pengembangan Kawasan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumsel, Hendrian mengakui kalau Pemprov Sumsel tengah mengebut pembangunan infrastruktur jalan di dalam kawasan yang lahannya sudah dibebaskan. Tujuannya membuka akses. Tahun ini juga akan dibangun pergudangan. “Yang sudah ada PDR Kementerian Perdagangan RI. Konsepnya sebagai tempat distribusi, pergudangan, dan penumpukan barang,” bebernya.
Untuk megaproyek lain, sejauh ini berjalan meski masih menemui beberapa kendala. Contohnya LRT Palembang (23,5 km) yang sedang kontruksi dan penyelesaiannya 40 persen. Target Juni 2018 LRT bisa rampung. Ada lagi beberapa proyek tol, flyover, dan jembatan (lihat grafis).
Khusus Tol Palembang-Indralaya (Palindra) yang tergolong lebih cepat, kontraktor PT Hutama Karya bahkan menargetkan seksi 1 bisa operasional Juni nanti untuk menunjang arus mudik Lebaran. Manager Proyek PT Hutama Karya (persero) Divisi Tol Palindra, Hasan Turcahyo meyakini tercapai, apalagi seluruh pembebasan lahan untuk seksi I sudah rampung. “Secara fisik sudah selesai 80 persen. Sisanya kita kejar sebelum arus mudik. Saat ini kami tengah membuat persiapan di sekitar area jalan tol,” bebernya.
Di antaranya pembuatan pagar pembatas, rambu lalu lintas, lampu penerangan jalan, gerbang tol, gerbang akses dan lainnya. “Kalau instalasi listrik untuk penerangan jalan sudah siap. Tapi, kami masih perlu koordinasi lagi dengan PT PLN untuk pasokan listrik,” ungkapnya. Hanya memang untuk seksi II (Pemulutan-KTM Rambutan) baru 6 persen dan seksi III (KTM Rambutan-Indralaya) 61 persen. “Pembebasan lahan masih jadi hambatan, sempat ada konflik dengan pemilik lahan jadi terpaksa dihentikan,” ungkapnya.
Begitu pula pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sumsel yang disiapkan sebelum Asian Games 2018. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Lesty Nurainy, mengatakan, per 31 Desember 2016 lalu, pembangunan RSUD Provinsi sekitar 58 persen. Hingga akhir tahun 2017 ditarget pengerjaan fisik 80 persen. Selebihnya lanjut 2018. “Targetnya pembangunan harus selesai sebelum Asian Games nanti,” katanya. Sebab, April 2018 sudah harus soft launching. Tiga layanan unggulan akan dibuka yakni kardiologi, ortopedi, dan traumatologi. (yun/afi/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!