Kelebihan Kapasitas, Maskapai Seret Penumpang

NEW YORK – Lagi-lagi United Airlines panen kritik. Sebelumnya, ramai diperbincangkan karena menolak dua penumpang perempuan yang mengenakan legging karena dianggap tidak sopan. Kini, maskapai penerbangan Amerika Serikat (AS) itu dikecam karena tidak manusiawi saat memperlakukan salah seorang penumpangnya pada Minggu (9/4).
Pria yang berusia sekitar 60 tahun itu ditarik dari kursinya hingga terjatuh, lantas diseret ke luar. Dalam video yang beredar di dunia maya, saat ditarik, tampaknya lelaki berkacamata tersebut terbentur pegangan kursi. Bibirnya berdarah dan kacamatanya melorot.
Bajunya tertarik hingga menunjukkan pusarnya. Berselang 10 menit, pria berkacamata itu tetap berlari masuk ke kabin dalam kondisi berdarah. ”Bunuh saja saya. Bunuh saya. Saya harus pulang,” ujar penumpang itu dengan mulut berdarah dan berpegangan pada tirai di pintu pesawat.
Saat itu seluruh penumpang di pesawat dengan nomor penerbangan 3411 tersebut sudah memasuki kabin. Mereka bakal terbang dari O’Hare International Airport, Chicago, menuju Louisville, Kentucky. Namun, pada detik-detik terakhir sebelum keberangkatan, maskapai yang berdiri sejak 1926 itu ingin memasukkan empat stafnya. Mereka harus pergi ke Louisville. Jika tidak, penerbangan yang harus mereka tangani dibatalkan.
United menawarkan USD 400 (Rp5,3 juta), hotel, dan tiket penerbangan selanjutnya pada Senin (10/4) bagi empat penumpang yang secara sukarela menyerahkan kursi masing-masing. Tapi, tidak ada yang merespons. United sempat menaikkan tawaran dua kali lipat, tapi tetap tidak ada yang mau.
Tawaran naik hingga US$ 1.000 (Rp 13,3 juta). Karena tetap tidak ada yang mau, United akhirnya memilih empat penumpang. Tiga orang, termasuk istri penumpang yang diseret itu, mau turun dari pesawat.
Tapi, tidak demikian pria Asia yang juga dipilih itu. Dia bersikukuh tetap terbang. ”Penumpang tersebut mengatakan kepada kru pesawat bahwa dirinya adalah seorang dokter dan ada pasien yang menunggunya,” cuit akun Twitter @Tyler_Bridges yang mengunggah video tersebut.
Kru pesawat akhirnya memanggil tiga petugas keamanan untuk mengeluarkan penumpang itu. Tentu saja kritik membanjir begitu video tersebut viral. Tapi, United tak langsung meminta maaf. CEO United Oscar Munoz menulis kronologi masalah tersebut untuk internal pegawainya.
Dalam surat tersebut, Munoz merasa bahwa stafnya sudah sesuai prosedur. Dia menyebutkan bahwa si penumpang sudah diberi penjelasan dengan baik, tapi malah meninggikan suara dan menolak instruksi kru pesawat.
Dalam aturan penerbangan AS, maskapai memang diperbolehkan mendepak penumpang jika kebanyakan menjual tiket. Namun, biasanya tawaran untuk ganti jam penerbangan itu diberikan sebelum para penumpang memasuki pesawat. Sebagai ganti, maskapai memberikan iming-iming uang, tiket, dan berbagai hadiah lain.
Begitu kritik terus mengalir, Munoz akhirnya meminta maaf. ”Kami sudah menemui penumpang tersebut untuk berbicara secara langsung dan menyelesaikan masalah itu,” cuit Munoz di akun Twitter-nya Senin lalu. Petugas keamanan yang melakukan kekerasan terhadap si penumpang sudah dinonaktifkan sementara. Departemen Transportasi (DOT) AS juga tengah menginvestigasi kasus itu.
Di Tiongkok, netizen ramai-ramai menyerukan agar seluruh etnis Tionghoa memboikot United. Mereka mengira bahwa pria Asia yang diseret ke luar pesawat itu adalah etnis Tionghoa. Namun, menurut penumpang lain di penerbangan yang sama, pria tersebut berdarah Vietnam dan telah tinggal di AS selama lebih dari 20 tahun. (Reuters/AFP/CNN/sha/c11/any/air/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!