Keluarga Berencana Pindah Usai Wiwid Menikah

Asworo dan Wiwid yang berencana menikah pada 5 September nanti. Foto: ist

Sejak ditemukannya jasad Chatarina Wiedyawati alias Wiwid, kediaman orang tua korban di Jl Gereja Atas No 106, RT 6 RW 4, Kelurahan Pasar Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Muara Enim sepi.

Pantauan Sumeks Online, Sabtu (20/5), rumah yang ditempati Paulus Slamet (ayah Wiwid) terkunci rapat. Paulus bersama istrinya, Elisabeth Tri Suwarni dan adik korban, Febri pergi ke Yogyakarta untuk memakamkan Wiwid.

Di sekitar perumahan lama PT Bukit Asam tersebut, hanya tampak ayam peliharaan Paulus. “Sudah beberapa hari Pak Paulus dan keluarganya pergi. Mereka sudah minta tolong Pak Mulyadi untuk mengecek dan mengunci rumah,” ujar Sirin (40), tetangga sebelah rumah Paulus.

Sirin mengaku terakhir kali melihat Wiwid dan calon suaminya, Asmoro berada di Tanjung Enim saat acara lomba kicau burung, tidak jauh dari rumahnya itu. “Itu sekitar satu bulan lalu. Asmoro jarang ke sini. Kalau datang, dia bawa mobil,” jelasnya.

Karena bekerja di Prabumulih, Wiwid juga jarang pulang ke rumah orang tuanya di Tanjung Enim. “Setahu saya, Wiwid itu orangnya ramah, lembut, dan supel. Saya kira dia tidak punya musuh atau masalah dengan orang lain,” ungkapnya.
Sedangkan Asmoro, tak terlalu dikenalnya.

Baca Juga :  Truffle Bikin Ketakutan

“Tapi dia orang Jawa, perawakannya sedang,” ucap Sirin. Sebagai tetangga, dia memang sudah tahu kalau Paulus dan keluarganya berencana pindah ke Yogyakarta. “Tapi sebelum pindah masih menunggu usai Wiwid menikah dan adiknya Febri lulus SD. Adiknya itu kan masih kelas VI SD Xaverius Tanjung Enim dan akan lulus tahun ini,” tuturnya.

Dia terkejut saat mendapat kabar anak tetangganya itu ditemukan tewas di Palembang. “Kami belum tahu motif dan penyebabnya. Kasusnya heboh, calon suami Wiwid katanya belum ditemukan,” kata Sirin.

Lanjut Sirin, Paulus dan keluarganya orang yang ramah. Mereka selalu berbaur dalam berbagai acara dan kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya. “Pak Paulus sudah tinggal di sini tahun 1980-an, saat masih bujangan dan bekerja di PTBA. Baru pensiun setahun ini,” tambahnya.

Tini (45), tetangga lain Paulus mengatakan, Wiwid sosok wanita yang baik, supel, dan ramah. Walaupun jarang ke Tanjung Enim, tapi dia sendiri menganggap seperti keluarga sendiri. “Belum tahu kapan Pak Paulus pulang lagi ke sini,” ucapnya.

Dia terakhir kali lihat Wiwid pulang ke rumah orang tuanya itu saat libur dalam rangka Kenaikan Isa Al Masih beberapa waktu lalu. “Ada acara di gereja dan waktu itu dia pulang bersama calon suaminya. Saat dapat kabar Wiwid tewas, kami sangat terkejut dan sedih. Tega sekali orang yang membunuhnya,” tukas Tini. (roz/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!