Kendala Modal, Pengaruhi Penghasilan

194
BERSANDAR: Kapal-kapal nelayan bersandar di tepi perairan Sungai Musi, dekat proyek Jembatan Musi IV. Menunggu waktu melaut sembari memperbaiki jala. Foto: Kris/Sumatera Ekspres

SUMSEL – Nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang mempunyai kontribusi besar kaitannya dalam mata rantai rangkaian ekonomi masyarakat banyak. Pemerintah pun menetapkan ranggal 6 April sebagai Hari Nelayan Nasional. Tapi, bagi sebagian nelayan sendiri masih awam dengan Hari Nelayan Nasional.
Program poros maritime yang digemakan pemerintah, ternyata tak sepenuhnya menyentuh kehidupan nelayan tradisional yang masih terus terpinggirkan. Dengan kondisi ini, apakah nelayan Indonesia ataupun Sumsel sudah sejahtera di Hari Nelayan Nasional ke-57 tahun ini?
Nelayan tradisional di Sungsang, Kabupaten Banyuasin, rata-rata mengaku masih terkendala modal. Tak mampu bersaing dengan kapal-kapal ikan di laut. Hasil tangkapan yang minim, jelas memengaruhi kesejahteraan. “Kami di Sungsang ini kebanyakan nelayan kecil, jadi hanya menggunakan satu jaring,” kata Trides, nelayan asal Sungsang.
Katanya, beda dengan nelayan lain yang memiliki modal banyak. Dengan hanya mengandalkan satu jaring, mau tak mau mereka terpaksa menggunakan jaring pukat harimau (trawl). Sementara, itu memang dilarang. “Jika sampai ditangkap dan disita, maka tidak akan lagi jaring untuk menangkap ikan,” tuturnya.
Senada dikatakan Takri, juga nelayan asal Sungsang. Mereka berharap Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuasin, dapat mengganti trawl milik nelayan. “Kami minta solusinya yaitu diganti, karena untuk membeli jaring tangkap ikan diperkirakan memerlukan biaya Rp10 juta hingga Rp20 juta,” ujarnya.
Menurut Takri, trawl yang digunakan para nelayan di Sungsang ini, bukan jaring pukat harimau yang berukuran besar, seperti yang digunakan para nelayan luar, Thailand, Vietnam, dan lainnya. “Ukurannya sangat kecil, beda seperti nelayan besar yang berasal dari luar Banyuasin,” terangnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuasin, Kosarudin, menegaskan nelayan dilarang pakai jaring pukat harimau (trawl) meski ukurannya kecil. Ini karena melanggar UU No.31/2004 tentang Perikanan, jo UU No.45/2009 pasal 8 dan 9 dengan ancaman hukuman 5 tahun denda Rp2 miliar.
Larangan penggunaan pukat harimau juga tertuang dalam Keputusan Presiden (Kepres) No.39/1980, di mana pukat harimau merusak sumber hayati laut. “Sebagian nelayan di Sungsang, masih ada yang gunakan pukat harimau. Tapi jumlahnya tidak banyak, mereka beroperasionalnya sembunyi-sembunyi,” aku Kosarudin, kemarin (5/4).
Selain pukat harimau di laut, pencari ikan dengan cara setrum atau potas juga akan berdampak pada ekosistem sungai.
Mengenai hasil produksi ikan di Banyuasin, sambung Kosarudin, pada 2016 sebanyak 87.490,68 ton ikan. Perinciannya 53.389,85 ton hasil tangkapan perairan, kemudian 34.100,83 ton dari budidaya. Meski jumlah produksi ikan tahun lalu itu, lebih rendah tinggi dari tahun 2015, yakni 84.791,25 ton.
“Jumlah ini masih jauh dari yang diharapkan, diperkirakan bisa mencapai 224.007,203 ton,” paparnya. Dikatakan, ikan yang memiliki daya jual atau nilai ekonomis yaitu ikan sebelah, peperek, manyun, kerapu, kakap, cucut, pari, bawal hitam, bawal putih, selar, kembung, tenggiri papan, tongkol, udang ronggeng/mesir, udang windu, udang jerbung, udang dogol, kepiting bakau, kerang darah, dan rajungan.
“Semuanya memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dan dijual keluar negeri. Sedangkan ikan yang biasa, dijual ke pasar oleh para nelayan,”imbuhnya. Mengenai program gemar makan ikan, pihaknya untuk sementara waktu menyetop program tersebut.
Kendati demikian, pihaknya akan selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk gemar makan ikan dengan memakai mobil keliling.”Hasilnya sangat baik, tingkat konsumsi makan ikan di Banyuasin mencapai 40 persen,”jelasnya seraya menambahkan untuk luas wilayah perairan Banyuasin yaitu sekitar 1.765 km persegi.(qda/air/tambah/ce4)

Diskusi & Komentar

More News!