Kerja Adalah Ibadah

Dr H Rosidin Hasan

Oleh: Dr H Rosidin Hasan

ALHAMDULILLAH kita masih diberi umur yang panjang hingga kini sudah berada pada tahun 2018. Masa lalu adalah masa lalu yang tidak akan terulang kembali untuk kita melaluinya, maka jadikanlah sebagai muhasabah yang mampu untuk memahami dirinya sendiri (muhasabah alaa nafsihi).
Karenanya, kita harus menyongsong masa depan 2018 dan seterusnya (masa mendatang) dengan penuh optimis (Roja’) sehingga akan mendapatkan anugerah Allah yang lebih baik lagi sebagai bekal untuk kehidupan dunia yang fana bahkan untuk kehidupaan kekal diahirat. Untuk itulah kita perlu mengisi kehidupan ini untuk selalu beraktifitas dan bekerja.
Dalam Alquran banyak sekali nas-nas atau firman Allah yang yang selalu menekankan agar hambaNya selalu bekerja keras. Ayat-ayat yang berkaitan dengan kerja keras justru dibarengkan dengan keimanan (ya ayyuha alladzina amanu wa amilu), yang seakan seakan keimanan selalu berkorelasi dengan pekerjaan. Bagi seorang mukmin kerja tidak hanya sebagai bagian rutinitas keseharian yang hanya mendapatkan matrial sebagai pemenuhan hidup, tetapi kerja akan menjadi wasilah yang menjadikannya bentuk ibadah.
Ibadah secara etimologi adalah merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya sama menghambakan diri kepada Allah. Pemaknaan ibadah yang dimaksud seperti diungkapkan Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam tulisannya berjudul “Kategori Prinsip Dasar Islam”, yaitu: Pertama, ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya.
Kedua, ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, ini adalah tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan). Ketiga, ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, lahir maupun yang batin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap. Ia juga kemudian menjelaskan, bahwa ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan.
Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid, dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisa>niyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan, dan badan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia, +
Ibadah berarti penghambaan diri kepada Tuhan. Ibadah meliputi seluruh aktivitas manusia baik lahir maupun batin, individual maupun sosial. Ketika Tuhan mengatakan “Aku tidak menjadikan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku”, sejatinya sama sekali bukan dalam rangka kepentingan Tuhan. Dia tetaplah Dia Yang Kuasa, Yang Maha Besar, tidak berkurang atau berlebih, meski sejuta orang mengingkari-Nya atau memuja-Nya. Tuhan tidak membutuhkan pembelaan dari siapa pun. Ketika Nabi bersedih hati lantaran masyarakatnya tidak mengikuti ajakannya, Tuhan pun menegurnya sebagaimana dalam Q.S. Ali Imran [3]: 176.
Ibadah dipastikan untuk kepentingan dan kebahagiaan manusia sendiri di dunia ini dan di akhirat kelak. Aspek tersebut terkait pula dengan nilai-nilai manusia. Secara khusus manusia dipandang sebagai makhluk yang terdiri dari jasmani dan rohani dalam satu kesatuan. Segi jasmaninya mempunyai tuntutan dan kebutuhannya sendiri yang perlu dibenahi agar manusia dapat hidup dengan lurus dan selamat, segi rohani mempunyai tuntutan dan kebutuhan yang wajib dipenuhi agar hidupnya bahagia dan sejahtera.
Seiring dengan kerja adalah ibadah, juga tidak dapat lepas dari nilai motivasi spritual. Motivasi kerja dimiliki oleh setiap manusia, tetapi ada sebagian orang yang lebih giat bekerja daripada yang lain. Kebanyakan orang mau bekerja lebih keras jika tidak menemui hambatan dalam merealisasikan apa yang diharapkan. Selama dorongan kerja itu kuat, semakin besar peluang individu untuk lebih konsisten pada tujuan kerja. Ada juga yang lebih menyukai dorongan kerja tanpa mengharapkan imbalan, sebab ia menemukan kesenangan dan kebahagiaan dalam perolehan kondisi yang dihadapi dan dalam mengatasi situasi yang sulit. Al-Qur’ân memotivasi setiap muslim bekerja, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. At-Taubah [9: 105, yaitu:
“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Atas dasar itu, ada tiga unsur yang menjadikan hidup manusia itu berguna. Pertama, mengimplementasikan potensi kerja yang dianugerahkan Allah. Kedua, bertawakkal kepada Allah, dan memohon pertolongan-Nya ketika melaksanakan pekerjaan. Ketiga, beriman kepada Allah untuk menolak bahaya, kediktatoran, arogansi, dan kesombongan atas prestasi yang dicapai. Tujuan aktivitas kerja manusia pada sistem sekular adalah meraih laba sebesar-besarnya untuk menjadi masyarakat yang elitis, seperti yang diharapkan oleh kapitalisme, atau mengimplementasikan kelayakan materi secara rata bagi seluruh masyarakat sebagaimana dikehendaki oleh sosialisme.
Tujuan material semacam ini ternyata mendatangkan berbagai konflik diantara sistem-sistem ekonomi sekular. Apalagi, sistem-sistem itu berupaya untuk saling mendominasi. Konsep Islam tentang dunia sebagai ladang akhirat, memposisikan kepentingan materi bukan sebagai tujuan, namun sebagai sarana merealisasikan kesejahteraan manusia sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. al-Qas}a>s} [28]: 77 mengenai pentingnya menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
Syariat Islam kemudian mempunyai kebijakan tersendiri yang tidak berlandaskan pada individualisme seperti dalam sistem kapitalis, atau kolektivisme seperti dalam sistem sosialis. Dasar kebijakan Islam adalah keseimbangan dan keserasian antara kepentingan individu dan masyarakat. Sebagaimana diungkapkan dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 143, yang artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat pertengahan (wasatha)”.
Kendati kapitalisme memberi kebebasan mutlak bagi individu dalam menjalankan aktivitas ekonomi, ternyata konsep kebebasan mereka mengandung kelemahan mendasar. Kelemahan itu di antaranya adalah: pengalihan kegiatan manusia hanya pada perolehan keuntungan sebanyak mungkin tanpa mempedulikan kebutuhan pokok masyarakat, adanya problema pengangguran, dan krisis ekonomi. Pada kenyataannya, manusia berbeda dalam kemampuan bakat sehingga melahirkan dominasi kelompok kuat terhadap yang lemah yang menyulut kesenjangan sosial dan konflik antar kelas. Sedangkan sosialisme menjadikan kepentingan masyarakat sebagai tujuan, memprioritaskan kepentingan kelompok daripada individu, dan individu dijadikan jeruji bagi roda kelompok. Negara ikut campur dalam aktivitas ekonomi dan menguasai sebagian besar alat produksi dengan tujuan memenuhi kebutuhan umum, mengatasi pengangguran dan krisis ekonomi. Namun ideologi ini mencatat beberapa kelemahan, yakni: lemahnya semangat, gairah dan kompetisi individu, munculnya kesulitan-kesulitan dan tekanan-tekanan, dominasi kaum birokrat, dan lenyapnya kebebasan individu yang merupakan inti kehidupan manusia.
Sistem “pertengahan” Islam didasarkan pada keseimbangan antara kepentingan individu dan kelompok. Prinsip ini telah dinyatakan al-Qur’ân: “Tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi”, dan diperjelas Rasulullah saw. dalam kaidah syar’iyah, yakni: “Tidak merugikan diri sendiri dan tidak merugikan orang lain”, atau: “Tidak membahayakan diri sendiri dan tidak membahayakan orang lain”. Islam amat menekankan prinsip “pertengahan” yang memungkinkan kehidupan berjalan secara serasi dan damai. Mengintegrasikan pemikiran dan keyakinan serta sikap dan tindakan. Tidak memisahkan antara moral individu dan hubungan sosial. Menolak kerancuan atau kontradiksi kepribadian. Menolak sikap boros dan kikir. Islam mengajarkan, bahwa setiap pekerjaan dan kenikmatan yang baik dapat berubah menjadi ibadah jika disertai niat tulus untuk menjaga anugerah hidup dan memanfaatkannya, serta menghormati kehendak Sang Pemberinya. Jika iman merupakan ruh amal, maka amal merupakan tubuh iman. Memisahkan keduanya akan menghasilkan bentuk kehidupan yang timpang.
Orang yang beriman tetapi tidak bekerja, maka ia hidup dalam kehampaan dan kelumpuhan, tidak ada hasil konkrit dalam hidupnya, dan tidak ada tanda-tanda keimanannya. Sebaliknya, orang yang bekerja tanpa iman akan hidup seperti robot dan tidak mampu merasakan eksistensi nilai-nilai dibalik penciptaannya. Islam menetapkan bahwa amal tanpa iman adalah perjuangan sia-sia, bagaikan debu berhamburan ditiup angin kencang seperti firman Allah Q.S. Ibra>hi>m [14]: 18.
Dalam pengertian umum, amal dalam Islam merupakan aktivitas terpenting bagi seorang Muslim dalam kehidupan di dunia. Karena itu, konsep ini (dipadankan dengan iman) dijelaskan ratusan kali dalam al-Qur’ân. Setiap penjelasan tentang iman selalu dibarengi penjelasan tentang amal saleh. Bagaimana amal muslim menurut Allah? Kebaikan amal muslim menurut-Nya adalah jika disertai dengan pencarian keridlaan Allah. Seseorang tidak akan menerima keridlaan-Nya kecuali jika ia memegang komitmen terhadap petunjuk-Nya. Petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya bertujuan membimbing mereka merealisasikan keuntungan di dunia dan akhirat. Jadi amal dalam Islam, dalam berbagai bentuknya mempunyai tujuan ganda, yakni mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat. Dalam perspektif Islam, aktivitas kerja harus disertai komitmen untuk mematuhi petunjuk Allah yang digariskan al-Qur’ân dan dijabarkan as-Sunnah.
Islam telah menetapkan kerja bagi seorang muslim sebagai hak sekaligus kewajiban. Islam memerintahkan bekerja dan menganjurkan agar pekerjaan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah saw. berpesan agar seorang muslim berlaku adil dalam menetapkan gaji dan menepati pembayarannya. Pekerja yang menjalankan tugas dengan baik dihargai dengan gaji yang seimbang. Demikian pula, ia berpesan agar para pemimpin tidak merugikan para pekerja dalam bentuk apapun, termasuk tidak membebani pekerja di luar kemampuannya. Prinsip pertama yang ditegakkan Islam dalam mengatur masyarakat ialah agar setiap orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Semoga kerja kita senantiasa diberkahi Alloh dan menjadikannya sebagai ibadah. (*)

Baca Juga :  Keilmuan Agama dalam Al-Quran

*Ketua NU Kota Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!