Kertas Pembawa Kebahagiaan

Karya: Haya T. Fauziah

Bagian-2

Galih dan Rina berjalan menuju halaman depan rumah. Galih melihat Rina dengan ekspresi kecewa, tiba-tiba Galih merasa iba kepada adiknya. ‘’Nanti, Kakak akan pulang,’’ kata Galih, ‘’Rina, yang rajin belajarnya!’’
Rina tersenyum mendengarnya. Galih jarang bisa mengobrol dengan Rina karena ia ikut banting tulang mencari uang. Kadang berjualan, kadang membantu tetangga, apa saja dilakukan.
Perhatiannya sekarang terfokus pada Bu Lana dan suaminya. Mereka membawa sebuah mobil yang sudah terlihat cukup tua. Dengan naik mobil seperti itu pasti biaya pergi dan pulang jauh lebih murah.
Galih meletakkan barang-barangnya di dalam mobil dan segera naik ke dalam mobil. Galih melamun menatap rumahnya. Rumah sederhana peninggalan Ayah untuk mereka.
Tiba-tiba ia kembali teringat saat ayahnya meninggal, ketika semua orang menatapnya iba. Mengatakan bahwa Galih harus menjadi seseorang yang tegar dan Galih sudah mencoba itu, tapi, sampai sekarang pun ia kadang ingin menangis mengingat semua itu. Tak terasa air mata meleleh dipipinya.
Mesin mobil dinyalakan membuat Galih kembali sadar. Dia menatap Rina yang tersenyum dan melambaikan tangan. Mobil perlahan-lahan mulai melaju membuat Galih menarik napasnya panjang.
Galih berdoa semoga saja ia bisa menang lomba menulis dan menjadi penulis hebat seperti impiannya selama ini.
Esoknya, mereka sampai di Jakarta. Ibu kota Negara Indonesia. Perjalanan panjang ini membuat Galih lelah, ia tidak bisa tidur mengingat keadaan Ibunya dirumah. Galih sangat ingin menang, membanggakan Ibu dan adiknya.
Galih turun dari mobil, ia melihat banyak anak-anak yang terlihat memakai sepatu dan seragam mahal, ada juga yang turun dari mobil mewah. Ini adalah hal yang baru bagi Galih, jarang ada mobil di desanya juga anak-anak yang membawa telpon genggam hanya ada beberapa.
‘’Galih, ayo masuk ke gedung!’’
Galih masuk ke gedung sambil menatap anak-anak lain. Bu Lina menyuruhnya untuk duduk diantara anak-anak lain. Dengan langkah ragu, Galih berjalan kearah tempat duduknya. Galih mulai mempertanyakan kembali, apakah pergi ke Jakarta, jauh-jauh dari desa akan mengubah nasibnya.
Setelah gedung sudah penuh, beberapa orang membagikan lima kertas polos putih berukuran A4. Galih menatap kertas itu, sekarang dibenaknya hanya terlintas wajah Ibu dan Rina. Galih lantas teringat kata-kata Ibu pada saat itu. Ia harus berjuang semampunya, jangan mudah pantang menyerah. Kejarlah impian hingga Galih bisa meraihnya.
Galih tersenyum lebar, ia mengeluarkan pena hitam dari dalam tasnya dan mulai menulis. Galih terus menulis tanpa henti, tiba-tiba saja ia mendapat kepercayaan diri dari Ibunya tadi. Penanya menari tanpa henti di atas kertas, kata demi kata meluncur dengan lancarnya.
Waktu terus berjalan tanpa henti, lima belas menit lagi waktu menulis akan habis. Masih setengah halaman lagi dan ceritanya akan selesai. Beberapa anak juga sudah terlihat bercakap-cakap dengan temannya. Galih mempercepat kerjanya agar tepat waktu. Selama tiga jam terakhir tidak ada kendala dalam ide untuk Galih, idenya berjalan lancar seperti harapan.
Sepuluh menit kemudian cerita yang ia buat selesai, cepat-cepat Galih mengumpulkan hasil tulisannya.Ia lantas langsung duduk kembali dan melihat seorang anak perempuan yang duduk di sebelahnya. Ia memakai kaca mata berwarna putih, wajahnya terlihat serius saat mengerjakan ceritanya, tiba-tiba sajaanak perempuan itu menatap Galih dengan pandangan bertanya.
‘’Kenapa?’’ Tanya perempuan itu membuat Galih jadi salah tingkah.
‘’Kapan kita bisa tahu pemenangnya?’’
Ia membenarkan kaca matanya. ‘’satu jam lagi akan diumumkan hasilnya.’’
Galih hanya menganggukan kepalanya.
Semua peserta sekarang berdiri menunggu pengumuman siapa yang akan menjadi juara. Ini pertama kalinya Galih ikut lomba menulis di kota seperti ini, hal itu membuat Galih semakin takut.
Beberapa saat kemudian, seorang pembawa acara naik ke atas panggung. Galih mulai merasa risih, jantungnya terus berpacu. Pembawa acara itu tersenyum kearah peserta dan ia mulai mengoceh panjang lebar membuat Galih semakin tidak sabar menunggu hasilnya.
‘’Sekarang saya akan mengumumkan juara lomba menulis tingkat kota Jakarta,’’ Ia membuka amplop berwarna putih dan membacanya. ‘’Juara ketiga diraih oleh Charlie Andrea,’’ semua orang bertepuk tangan dan tersenyum riang. Anak yang bernama Charlie itu naik ke atas panggung dan menerima sebuah piala.
‘’Juara kedua dimenangkan oleh Aluna Aqila,’’ sahut pembawa acara. Galih mencari perempuan yang bernama Aluna Aqila dan siapa yang menduga. Perempuan yang duduk di sebelahnya tadi adalah juara kedua. Galih lantas bertepuk tangan riang.
‘’Dan, inilah yang kita tunggu-tunggu sang juara. Juara pertama diraih oleh,’’ pembawa acara itu membuka amplop berwarna putih dan tersenyum. ‘’Galih Bintang Kurniawan.’’
Sekarang Galih, ibu dan Rina sedang berkumpul di kamar Ibu. Ibu dan Rina tak henti-hentinya memuji Galih yang berhasil mendapat juara pertama. Karya Galih juga akan dimasukkan ke beberapa majalah dan koran. Galih juga ditawari seorang penerbit untuk bekerja sama menerbitkan sebuah novel.
Ibu mengusap kepada Galih. ‘’Perjalananmu masih panjang, Nak. Jadilah anak yang bisa membanggakan Ibu dan juga Ayah. Kejar impianmu dan jangan pernah merasa puas ataupun sombong.’’
Rina memeluk piala yang didapatkan Galih erat-erat. ‘’Eh, Kak, memangnya cerita apayang Kakak tulis? Rina penasaran.’’
Galih tersenyum dan menatap Ibu. ‘’Tentang, seorang ibu yang mempunyai hati tulus.’’
Biodata
Nama Haya Trissa Fauziah
SMA Negeri 6 Palembang
Jl. Kebun Bunga No. 69 Gang melati Putih RT. 39 RW 13
Kel. Kebun Bunga Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!