Kertas Pembawa Kebahagiaan

Karya: Haya T. Fauziah

Bagian-1

Angin terus bertiup kencang kearah barat seraya awan yang semakin muram. Kesunyian yang sedari tadi terus mengusik membuatnya terus merasa kehilangan harapan.
Kertas yang bisa membawanya pada kebahagiaan pun sudah lusuh. Ia menghela napas panjang, tidak mungkin ia harus meninggalkan seseorang yang sangat ia cintai sedang dalam masa yang sulit.
‘’Jadi, bagaimana Galih?’’
Ibu tua itu menarik napas dan tersenyum. Ia mengerti apa yang dikhawatirkan anak muda ini. Ibunya yang sakit-sakitan dirumah, ia tidak mungkin meninggalkan ibu tercintanya. Tapi, ia juga bingung akankah ia menolak sebuah lomba yang mungkin dapat mengubah nasibnya.
Ibu tua itu lantas menepuk pundaknya. ‘’Bawa pulang kertas itu, beritahu ibumu!’’
Galih bangkit dari tempat duduk, beranjak pulang kerumah. Seharusnya diumurnya yang masih belia, Galih masih bisa bermain petak umpet, mengejar layang-layang di petang hari bersama teman-temannya. Namun, sejak Ayahnya meninggal Galih harus berkerja banting tulang menghidupi keluarga.
Tidak lebih dari lima belas menit, Galih sampai di rumah. Ia membuka pintu dengan pelan berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi berdecit pada pintu tua itu.
‘’Bu,’’ panggil Galih. ‘’Jika aku pergi ke kota, akankah Ibu mengizinkanku?’’
Ibunya membuka mata dan menatap Galih. ‘’untuk apa?’’
‘’Untuk mengejar kebahagiaan.’’
Sudut bibir Ibunya perlahan-lahan terangkat dan menganggukan kepalanya. Galih juga tersenyum sebagai tanda terimakasih.
‘’Kejar apa yang kamu impikan Nak, adikmu bisa mengurus Ibu.’’
‘’Tapi, Bu,’’ pundak Galih menurun dan senyumnya pun perlahan pudar ‘’Bagaimana jika aku tidak berhasil?’’
‘’Anakku, hidup itu penuh perjuangan. Hidup itu keras, tapi cobalah untuk tidak cemas. Kita memang tidak kaya, kita juga tidak punya harta yang banyak. Tapi, kita punya hati yang tulus dan kita punya harapan, maka dari itu, berjuanglah semampumu.’’ Si Ibu mengusap lembut kepala Galih.
Galih lantas berpamitan kepada Ibunya dan kembali menemui Ibu tua yang memberinya kertas tadi.
‘’Bu Lana, Ibu saya mengizinkan untuk pergi lomba ke kota!’’ Galih berteriak senang seraya berlari ke arah Ibu Lana.
Ibu Lana tersenyum lega, ia sangat menyukai sifat Galih yang periang, pantang menyerah juga pintar. Galih sering ikut lomba di desanya, dulu memang Ibu Lana mempunyai niat untuk membawa Galih ke kota, tetapi ia teringat bagaimana keadaan Ibu Galih.
‘’Pulanglah, besok bersiap-siap pagi hari, Ibu akan menjemputmu.’’
Galih berpamitan pulang kerumah tanpa sedikit pun senyum bahagia itu lepas dari wajahnya. Senandung dari mulutnya terdengar di sepanjang jalan.
Malamnya, setelah memasukkan baju yang akan dibawanya ke kota, Galihduduk dipinggir jendela kamar. Menatap langit yang berwarna hitam pekat, menambah kesunyian malam. Tiba-tiba Galih sadar betapaia rindu kepada sosok seorang Ayah. Udara dingin malam yang menusuk kulit pun sudah tidak terasa lagi. Ayah Galih adalah sosok yang dikenal tegas dan disiplin.
Ayah meninggal karena kecelakaan saat kerja, Ia bekerja sebagai kuli bangunan. Galih ingat saat itu semua orang menangis di samping jasad Ayah. Ia hanya bisa terdiam, tidak berani melihat wajah Ayah yang pasti berwarna putih pucat. Sebenarnya, Galih tidak ingin kehilangan Ayah, apalagi Ayah adalah tokoh idolanya di dunia.
Sekarang Galih tahu, hal yang paling menakutkan di dunia adalah kehilangan. Maka dari itu, Galih takut dengan kondisi ibunya sekarang yang sedang sakit-sakitan.
‘’Kak Galih waktunya makan.’’ Rina menepuk pundak Galih, membuatnya terkejut. Galih beranjak menuju dapur untuk makan malam. Galih dan Rina hanya makan malam berdua karena Ibu sekarang dalam kondisi sakit dan kakinya susah untuk digerakkan.
‘’Kakak ingin ikut lomba dan pergi ke kota?’’ Rina berhenti makan sambil menatap Galih.
‘’Hanya beberapa hari dan Kakak akan segera pulang, kalau menangkan lumayan.’’
Rina melanjutkan makannya, ia tidak berniat membahas tentang lomba itu. Galih menatap curiga Rina, biasanya Rina selalu penasaran dan terus bicara sepanjang makan, namun malam ini berbeda, Rina terlihat murung. Galih pun ikut diam, sesuap demi sesuap nasi mengisi perut kosongnya.
Paginya, Galih berderap menuju kamar Ibunya untuk berpamitan. Perlahan-lahan Galih membuka pintu kamar, ternyata Ibu sudah bangun. Galih mendekat kearah Ibunya dan mendekap beliau lama.
‘’Galih, kamu harus hati-hati disana,’’ Ibu terbatuk-batuk dan memegangi kepalanya. Tubuhnya akhir-akhir ini mengurus dan wajahnya berubah menjadi putih pucat. ‘’Tetap bersama Ibu Lana dimanapun ya ….’’
Galih hanya mengangguk. ‘’Iya, Bu,’’ jawabnya. Galih menatap beliau dengan rasa iba, ibu yang telah melahirkannya. Galih kadang kala merasa tidak enak pada Ibunya karena tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Semakin hari kondisi Ibu Galih tambah parah.
‘’Kak, Bu Lana sudah datang.’’ Rina memasuki kamar Ibu.
Galih menoleh, lalu berdiri memandang Ibu. ‘’Bu, Galih berangkat dulu, ya,’’ katanya sambil memeluk dan mencium tangan Ibunya.
Bagian-2
Galih dan Rina berjalan menuju halaman depan rumah. Galih melihat Rina dengan ekspresi kecewa, tiba-tiba Galih merasa iba kepada adiknya. ‘’Nanti, Kakak akan pulang,’’ kata Galih, ‘’Rina, yang rajin belajarnya!’’
Rina tersenyum mendengarnya. Galih jarang bisa mengobrol dengan Rina karena ia ikut banting tulang mencari uang. Kadang berjualan, kadang membantu tetangga, apa saja dilakukan.
Perhatiannya sekarang terfokus pada Bu Lana dan suaminya. Mereka membawa sebuah mobil yang sudah terlihat cukup tua. Dengan naik mobil seperti itu pasti biaya pergi dan pulang jauh lebih murah.
Galih meletakkan barang-barangnya di dalam mobil dan segera naik ke dalam mobil. Galih melamun menatap rumahnya. Rumah sederhana peninggalan Ayah untuk mereka.
Tiba-tiba ia kembali teringat saat ayahnya meninggal, ketika semua orang menatapnya iba. Mengatakan bahwa Galih harus menjadi seseorang yang tegar dan Galih sudah mencoba itu, tapi, sampai sekarang pun ia kadang ingin menangis mengingat semua itu. Tak terasa air mata meleleh dipipinya.
Mesin mobil dinyalakan membuat Galih kembali sadar. Dia menatap Rina yang tersenyum dan melambaikan tangan. Mobil perlahan-lahan mulai melaju membuat Galih menarik napasnya panjang.
Galih berdoa semoga saja ia bisa menang lomba menulis dan menjadi penulis hebat seperti impiannya selama ini.
Esoknya, mereka sampai di Jakarta. Ibu kota Negara Indonesia. Perjalanan panjang ini membuat Galih lelah, ia tidak bisa tidur mengingat keadaan Ibunya dirumah. Galih sangat ingin menang, membanggakan Ibu dan adiknya.
Galih turun dari mobil, ia melihat banyak anak-anak yang terlihat memakai sepatu dan seragam mahal, ada juga yang turun dari mobil mewah. Ini adalah hal yang baru bagi Galih, jarang ada mobil di desanya juga anak-anak yang membawa telpon genggam hanya ada beberapa.
‘’Galih, ayo masuk ke gedung!’’
Galih masuk ke gedung sambil menatap anak-anak lain. Bu Lina menyuruhnya untuk duduk diantara anak-anak lain. Dengan langkah ragu, Galih berjalan kearah tempat duduknya. Galih mulai mempertanyakan kembali, apakah pergi ke Jakarta, jauh-jauh dari desa akan mengubah nasibnya.
Setelah gedung sudah penuh, beberapa orang membagikan lima kertas polos putih berukuran A4. Galih menatap kertas itu, sekarang dibenaknya hanya terlintas wajah Ibu dan Rina. Galih lantas teringat kata-kata Ibu pada saat itu. Ia harus berjuang semampunya, jangan mudah pantang menyerah. Kejarlah impian hingga Galih bisa meraihnya.
Galih tersenyum lebar, ia mengeluarkan pena hitam dari dalam tasnya dan mulai menulis. Galih terus menulis tanpa henti, tiba-tiba saja ia mendapat kepercayaan diri dari Ibunya tadi. Penanya menari tanpa henti di atas kertas, kata demi kata meluncur dengan lancarnya.
Waktu terus berjalan tanpa henti, lima belas menit lagi waktu menulis akan habis. Masih setengah halaman lagi dan ceritanya akan selesai. Beberapa anak juga sudah terlihat bercakap-cakap dengan temannya. Galih mempercepat kerjanya agar tepat waktu. Selama tiga jam terakhir tidak ada kendala dalam ide untuk Galih, idenya berjalan lancar seperti harapan.
Sepuluh menit kemudian cerita yang ia buat selesai, cepat-cepat Galih mengumpulkan hasil tulisannya.Ia lantas langsung duduk kembali dan melihat seorang anak perempuan yang duduk di sebelahnya. Ia memakai kaca mata berwarna putih, wajahnya terlihat serius saat mengerjakan ceritanya, tiba-tiba sajaanak perempuan itu menatap Galih dengan pandangan bertanya.
‘’Kenapa?’’ Tanya perempuan itu membuat Galih jadi salah tingkah.
‘’Kapan kita bisa tahu pemenangnya?’’
Ia membenarkan kaca matanya. ‘’satu jam lagi akan diumumkan hasilnya.’’
Galih hanya menganggukan kepalanya.
Semua peserta sekarang berdiri menunggu pengumuman siapa yang akan menjadi juara. Ini pertama kalinya Galih ikut lomba menulis di kota seperti ini, hal itu membuat Galih semakin takut.
Beberapa saat kemudian, seorang pembawa acara naik ke atas panggung. Galih mulai merasa risih, jantungnya terus berpacu. Pembawa acara itu tersenyum kearah peserta dan ia mulai mengoceh panjang lebar membuat Galih semakin tidak sabar menunggu hasilnya.
‘’Sekarang saya akan mengumumkan juara lomba menulis tingkat kota Jakarta,’’ Ia membuka amplop berwarna putih dan membacanya. ‘’Juara ketiga diraih oleh Charlie Andrea,’’ semua orang bertepuk tangan dan tersenyum riang. Anak yang bernama Charlie itu naik ke atas panggung dan menerima sebuah piala.
‘’Juara kedua dimenangkan oleh Aluna Aqila,’’ sahut pembawa acara. Galih mencari perempuan yang bernama Aluna Aqila dan siapa yang menduga. Perempuan yang duduk di sebelahnya tadi adalah juara kedua. Galih lantas bertepuk tangan riang.
‘’Dan, inilah yang kita tunggu-tunggu sang juara. Juara pertama diraih oleh,’’ pembawa acara itu membuka amplop berwarna putih dan tersenyum. ‘’Galih Bintang Kurniawan.’’
Sekarang Galih, ibu dan Rina sedang berkumpul di kamar Ibu. Ibu dan Rina tak henti-hentinya memuji Galih yang berhasil mendapat juara pertama. Karya Galih juga akan dimasukkan ke beberapa majalah dan koran. Galih juga ditawari seorang penerbit untuk bekerja sama menerbitkan sebuah novel.
Ibu mengusap kepada Galih. ‘’Perjalananmu masih panjang, Nak. Jadilah anak yang bisa membanggakan Ibu dan juga Ayah. Kejar impianmu dan jangan pernah merasa puas ataupun sombong.’’
Rina memeluk piala yang didapatkan Galih erat-erat. ‘’Eh, Kak, memangnya cerita apayang Kakak tulis? Rina penasaran.’’
Galih tersenyum dan menatap Ibu. ‘’Tentang, seorang ibu yang mempunyai hati tulus.’’

Baca Juga :  Yuk, Sukseskan Weh Island Night Carnival

Biodata
Nama Haya Trissa Fauziah
SMA Negeri 6 Palembang
Jl. Kebun Bunga No. 69 Gang melati Putih RT. 39 RW 13
Kel. Kebun Bunga Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!