Ketat Kontrol Atlet

LATIHAN: Pusat pelatihan bulu tangkis terbaik, terlengkap, dan termegah di Asia, PB Djarum. Foto: Evan/Sumatera Ekspres

KUDUS – Bicara soal PT Djarum pasti langsung teringat dengan PB Djarum. Pusat pelatihan bulu tangkis terbaik, terlengkap, dan termegah di Asia. Serta miliki segudang prestasi. Mampu menelurkan banyak atlet dunia.
Di antaranya, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Praveen Jordan, Debby Susanto, Kevin Sanjaya, Ihsan Maulana, Gloria Emanuelle, dan Muhammad Ahsan. “Trik kusus untuk ciptakan atlet berprestasi tidak ada. Kami hanya terapkan manajemen klub dengan baik, ” kata pelatih tunggal putra U-13 PB Djarum, Engga Setiawan, saat menerima rombongan cultural visit media gathering 2018, Rabu (11/7).
Mulai dari mengurus dan menyiapkan segala kebutuhan atlet untuk juara dunia. Mulai latihan, gizi dukungan pembelajaran sekolah dan fasilitas berstandar internasional. “Termasuk soal disiplin para atlet sangat ketat,” ucapnya.
Menurutnya, pembinaan disiplin punya peraturan khusus. Harus menatap hidupnya. Setiap jam ada aturan yang boleh dan tidak. “Dalam latihan disiplin ketat. Kami arahkan ke profesional. Mereka tahu jalannya. Tidak bisa santai-santai,” sambungnya.
Hal senada diungkapkan pengurus PB Djarum, Yusril. Pihaknya mendukung penuh dan memberikan fasilitas lengkap untuk bisa menciptakan atlet berprestasi. Salah satunya membangun Gedung Olahraga (GOR) terbaik, termewah dan terlengkap di Asia. GOR seluas 29 ribu meter persegi di atas lahan seluas 43 ribu meter persegi itu dibangun sejak 2004. Diresmikan 2006 oleh Ketua Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) waktu itu, Sutiyoso.
GOR dengan 16 lapangan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas. Mulai perkantoran pengurus, ruang pijat untuk atlet yang cedera agar bisa langsung diatasi. Ada juga ruang fitnes untuk tambahan latihan atlet. Serta ruang makan dan dapur.
“Makanan di sini kami olah sendiri, disajikan sendiri. Didampingi ahli gizi. Selalu kontrol atlet apakah kurang gizi atau kelebihan,” kata pengurus PB Djarum, Yusril kemarin.
Dia menambahkan, GOR PB Djarum di Kudus khusus untuk atlet tunggal putra dan putri. “Untuk ganda dipusatkan di Jakarta,” sambungnya. Seluruh atlet PB Djarum seluruh menginap di asrama termasuk atlet asli Kudus. Tujuannya untuk memudahkan mengontrol atlet. Mulai pola latihan, istirahat dan gizi.
“Asrama ada 20 kamar. Satu kamar untuk dua sampai tiga orang. Total atlet khusus di Kudus ada 94 orang. Meliputi 50 atlet putra dan 44 orang putri,” imbuhnya. Mereka diambil dari perekrutan. Baik melalui jalur audisi ke daerah-daerah. Seperti tahun ini final akan digelar di Kudus September nanti. Tahun lalu dari sekitar 25 ribu peserta diambil 20 orang.
“Karena prinsip kami walaupun sedikit tapi yang terbaik. Dan dididik dengan maksimal maka hasilnya akan maksimal,” sambungnya. Cara kedua melalui jalur prestasi. Ketika tim pelatih mengikuti kejuaraan di Indonesia sekaligus melakukan pemantauan. “Barangkali ada atlet daerah yang bagus dipanggil untuk ikut seleksi. Kalau mumpuni akan direkrut,” lanjutnya.
Tidak hanya fokus olahraga saja. Para atlet juga harus berprestasi di pendidikan umum. Namun, untuk biaya sekolah umum ditanggung sendiri orang tua atlet. “Sepekan kami dua kali libur. Saat libur biasanya para atlet memanfaatkan untuk kursus agar tak ketinggalan pelajaran. Kalau hari biasa, kami meminta dispensasi dari sekolah. Misalkan latihan sore sekolah pagi. Begitu sebaliknya,” pungkasnya.
Atlet asal Palembang, Ruzana (13), mengakui disiplin di PB Djarum sangat ketat. Sehingga, atlet tertempa untuk selalu disiplin dan mandiri. Tidak bisa manja dan bermalas-malasan.
“Sangat jauh perbedaannya dengan sebelum ke sini. Harus mandiri. Latihannya keras dan disiplin tinggi. Tapi bagus untuk menempa diri kita. Sangat bersyukur dan tak menyangka bisa gabung di PB Djarum,” ungkap atlet yang meraih juara pertama kejuaraan Milo 2017 U-13 di Pontianak ini. (gsm/ion/ce3)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!