Ketimpangan Perlu Ditekan

90

JAKARTA – Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah di bidang ekonomi. Salah satunya ketimpangan dalam distribusi pendapatan.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio gini Indonesia pada tahun lalu 0,397. Sedangkan laporan Credit Suisse Global Wealth Report menyebutkan bahwa 10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 75,7 persen dari total kekayaan di negeri ini.
Menurut Oxfam Indonesia dan International NGO Forum on Indonesia Development (lNFID), faktor penyebab ketimpangan ekonomi adalah sistem perpajakan yang gagal mendistribusikan kekayaan. Selain itu, terdapat ketimpangan akses masyarakat desa dan kota terhadap infrastruktur yang memadai.
Upah murah juga membuat masyarakat sulit lepas dari jurang kemiskinan. Ditambah lagi, adanya political capture yang membuat orang kaya memiliki pengaruh yang lebih besar untuk mengubah aturan demi tujuan yang lebih menguntungkan mereka.
Untuk mengurangi ketimpangan, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bustanul Arifin meminta pemerintah meningkatkan akses masyarakat terhadap infrastruktur dan akses keuangan. Selain itu, pemerintah harus membuat kebijakan makroekonomi yang mendorong pemerataan serta distribusi lahan.
’’Untuk masalah ketimpangan lahan, pemerintah sebaiknya tidak sekadar bagi-bagi lahan. Bagaimana caranya agar lahan tersebut benar-benar bisa dimanfaatkan,’’ kata Bustanil Arifin dalam diskusi Menuju Ketangguhan Ekonomi di Bursa Efek Indonesia kemarin (4/4).
Akses pemberdayaan manusia dan teknologi juga perlu dibenahi agar kualitas SDM meningkat. Alasannya, akses terhadap sektor finansial, infrastruktur, dan teknologi langsung bersentuhan dengan masyarakat.
Di sektor finansial juga perlu ada lebih banyak produk keuangan yang bisa dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Pesatnya perkembangan teknologi juga memengaruhi pemerataan ekonomi. Jika tidak ada kebijakan yang mengendalikan penggunaan teknologi, dalam jangka panjang pemerataan akan terancam.
Misalnya, industri beralih dari menggunakan tenaga manusia menjadi tenaga robot. Hal itu memengaruhi serapan tenaga kerja, daya beli, dan pertumbuhan ekonomi.
’’Untuk bisa mengatasi permasalahan ini, kuncinya perubahan luar di SDM. Diperlukan SDM yang inovatif, kreatif, dan berjiwa entrepreneurship,’’ kata mantan Menko Perekonomian Chairul Tanjung (CT).
Perkembangan pola konsumsi masyarakat yang kini serba-online juga memengaruhi pemerataan. Maraknya e-commerce bisa memengaruhi bisnis ritel, pengusaha swalayan, hingga pedagang di pasar. ’’Lima tahun lalu kita tidak menyangka perusahaan ritel terbesar di dunia, Amazon dan Alibaba , tidak punya satu pun toko,” terangnya.

Baca Juga :  Ekonomi Sulit Tumbuh

’’Kita juga tidak menyangka perusahaan operator hotel dunia tidak punya satu pun hotel. Ini situasi perubahan yang luar biasa, perubahan yang tidak kita sangka,’’ pungkasnya. (rin/c17/noe)

Diskusi & Komentar

More News!