Kewajiban Menuntut Ilmu

BEGITU pentingnya ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam, sehingga ia ditempatkan sebagai bagian dari ibadah. Menuntut ilmu dijadikan kewajiban, dan terkait erat dengan nilai- nilai imani. Oleh sebab itu Allah Yang Maha Bijaksana menempatkan mereka yang beriman dan berilmu pada kedudukan yang mulia. Dinyatakan dalam firman- Nya :Niscaya Allah akan meninggikan orang- orang yang beriman di antara kamu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mngetahui apa yang kamu kerjakan. “ ( QS. 58 : 11 ). Di sini terlihat kaitan erat antara ilmu dengan nilai- nilai keimanan. Allah hanya akan menempatkan kedudukan orang- orang yang berilmu pada kedudukan yang mulia, hanya apabila ia adalah sosok orang yang beriman.
Sebagai bagian dari ibadat, maka dalam prosesnya menuntut ilmu itu tak dapat dilepaskan dari nilai- nilai Ilahiyah. Ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang terkait dengan nilai- nilai kebaikan, yaitu memiliki manfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dan lingkungannya. Sehubungan dengan itu, maka tingkat kepemilikan ilmu pengetahuan sejatinya harus seiring dengan peningkatan amal ibadah. Dinyatakan Rasul Allah Saw.: “ Siapa saja yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah amal ibadahnya, maka akan bertambah jauhlah dia dari Allah.” Hal ini menunjukkan, bahwa hubungan antara ilmu dan ibadat sama sekali tak dapat dilepaskan tuntutan dan bimbingan Allah Swt.Mereka yang mencintai ilmu pengetahuan, serta termotivasi untuk menuntut ilmu pengetahuan tersebut, sama sekali tak terlepas dari adanya faktor spiritual yang ikut melatarbelakanginya.
Faktor dimaksud adalah tuntunan dari Allah Swt. Oleh sebab itu para penuntut ilmu itu adalah mereka yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kedekatan tersebut dilakukan melalui peningkatan kualitas ibadah kepada- Nya.Semakin luas dan mendalam wawasan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang semestinya akan semakin tinggi pula frekuensi aktivitas peribadatannya. Demikian pula sebaliknya. Mereka yang memiliki tingkat frekuensi peribadatan yang tinggi itu akan memperoleh anugerah dari Allah Swt. tambahan pengetahuan, khususnya yang terkait dengan pemahaman nilai- nilai agama.
Dalam ajaran Islam, secara konseptual memang belajar dibedakan dari menunut ilmu. Belajar hanya berhubungan dengan proses pemberian dan penerimaan informasi. Sedangkan menuntut ilmu mencakup proses belajar dan latihan secara intensif, hingga terbentuk kemampuan profesional. Dalam konsep Islam, ilmuwan yang memiliki kemampuan profesional ini dikenal sebagai ulama. Ilmuwan yang memiliki otoritas bidang keilmuan tertentu dan memiliki “khasyyah “ ( rasa takut kepada Allah ). Dinyatakan Allah Swt., bahwa “ di antara hamba- hamba Allah yang takut kepada- Nya hanyalah para ulama. “ ( QS. 35: 28 ). Perasaan takut ( khasyyah ) tersebut muncul dalam diri ulama ini dikarenakan mereka menyadari secara mendalam, bahwa ilmu pengetahuan yang mereka miliki itu bersumber dari anugerah Allah Swt. Bukan semata- mata dari hasil kemampuan intelektual yang mereka miliki. Melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki itu pula mereka mampu melihat, mengobservasi, meneliti semua ciptaan Allah Swt. yang terdapat di alam raya, pada diri manusia yang terungkap dalam informasi Kitab Suci Al- Qur’an. Melalui pemahaman yang seperti itu ikut mengantarkan ulama menyaksikan kemahakuasaan Allah Swt., sehingga timbul rasa kagum. Puncak kekaguman ini pula yang melahirkan rasa khasyyah tersebut.
Dengan kedalaman ilmu yang dimilikinya itu, maka para ulama diharapkan mampu memecahkan permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat. Pemecahan masalah sosial yang sejalan dengan nilai- nilai ajaran agama, khususnya yang tekait dengan amar ma’ruf dan nahyi munkar. Menyebarkan aktivitas yang mengacu kepada kebaikan dan manfaat sesuai dengan ketentuan Allah dan tuntunan Rasul- Nya, hingga terhindar dari kemunkaran yang bakal menimbulkan keburukan. Selain itu pemahaman mengenai Kitab Suci dan nilai- nilai ajaran Islam yang mereka miliki, maka para ulama juga dituntut untuk mengaplikasikannya dalam sikap dan perilaku. Hanya dengan cara itu ia akan dijadikan panutan oleh masyarakatnya.
Merujuk pemahaman yang demikian itu, dalam pandangan Islam, ulama sebagai pewaris Nabi yang memiliki rasa khasyyah, serta menjadi panutan masyarakat adalah pula merupakan sosok ilmuwan yang harus dimuliakan. Kedalaman ilmunya menjadi rujukan masyarakat dalam masalah- masalah sosial keagamaan. Sementara rasa khasyyah yang tercermin dari sikap dan perilakunya menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dalam kondisi yang seperti itu pula para ulama menempat kedudukan yang penting dan mulia dalam pandangan masyarakat Muslim. Sejalan dengan semuanya itu, maka Rasul Allah Saw. sempat mengingatkan para penuntut ilmu berhati- hati dalam memantas diri. Dikemukakan beliau :“ Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bersaing dengan para ulama atau untuk berdebat dengan orang- orang bodoh, atau untuk menarik perhatian orang kepadanya, ia akan masuk neraka`
Hubungan timbal – balik antara ilmu dan ibadat terlukis utuh dalam kutipan Imam al-Ghazali terhadap pernyataan Rasul Allah Saw. : “ Ilmu itu imamnya amal, sedangkan amal makmumnya. “ Oleh sebab itu menurut Imam Ghazali ilmu itu pokok dan harus didahulukan dari ibadah, agaribadahtersebut dapat dilakukan dengan baik dan benar. Untuk beribadah dan menyembah Allah Swt. secara benar dan baik, terlebih dahulu harus mengenal “ siapa Tuhan dimaksud ? “ Pengenalan ini terhadap Allah Swt. sebagai Tuhan Yang Maha Esa, dan wajib disembah, bagaimanapun tidak “muncul secara spontan” dalam diri dan benak seorang Muslim. Pengenalan yang demikian itu harus melalui proses pencarian yang jelas, terarah dan berkesinambungan, yakni dengan ilmu.
Begitu penting kedudukan ilmu dalam menempatkan keabsahan ibadat. Sebab bagaimanapun keabsahan ini terkait dengan hakikat penciptaan manusia itu sendiri, yakni untuk mengabdi kepada Allah Swt. Maka bila aktivitas pengabdian dimaksud tidak sejalan dengan ketentuan Sang Maha Pencipta, sebagaimana yang telah diteladani oleh Rasul- Nya, maka pengabdian tersebut akan “tertolak “ Oleh sebab itu sebagai Utusan Allah Swt. guna menyampaikan Risalah- Nya kepada manusia, maka sungguh arif pernyataan yeng termuat dalam sabda beliau :“ Diberikan ilmu oleh Allah kepada orang- orang yang bahagia, dan tidak diberikan kepada orang- orang yang celaka.” Ilmu memang anugerah Allah Swt. bukan oleh usaha manusia semata yang didasarkan atas kualita kecerdasan otak manusia.
Maka sekiranya orang mengerjakan ibadah semaksimal apapun, tetapi tanpa didasarkan oleh ilmu pengetahuan, ia tergolong orang yang merugi, karena hasilnya hanyalah kelelahan dan pahalanya nihil.Oleh sebab itu bersungguh- sungguhlah dalam menuntut ilmu, meneliti dan mengikuti, serta mempelajarinya. Jauhilah kemalasan dan kebosanan dalam menuntut ilmu, karena akan membawa diri pada kesesatan. Ilmu dari segi bahasa berarti kejelaasann. Jadi ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Dalaam pandangan Al- Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk- makhluk lain, guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Manusia menurut Al- Qur’an, juga memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan siizin Allah. Oleh karena itu dalam pandangan Al- Qur’an ilmu terdiri atas dua macam. Pertama ilmu kasbi, yakni ilmu yang diperoleh melalui usaha manusia. Kedua, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia dinamai ilmuladunni, seperti yang dinyatakan dalam firman- Nya : “ Lalu mereka ( Musa dan muridnya ) bertemu dengan seorang hamba dari hamba- hamba Kami yang telah Kami anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” ( QS. 18 : 65 ). (*)

Baca Juga :  Keutamaan dan Keistimewaan Bulan Ramadhan

Oleh: Prof Dr H Jalaluddin MA
Mantan Rektor UIN Raden Fatah Palembbang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!