Kim Jong Un ‘KW’ Hibur Masyarakat Singapura

RATUSAN orang terlihat berkumpul dan berbaris saling berdesakan di Bugis Junction Mall, Singapura. Penasaran, Jawa Pos pun berupaya menyelinap di tengah kerumunan. Ternyata, mereka tengah menonton dua sosok yang terlihat familier sedang beraksi di depan spanduk bertulisan The Real Trump Kim Summit.

Dua sosok itu mirip Donald Trump dan Kim Jong-un. Sekilas nyaris tidak ada bedanya Namun, mereka sebetulnya hanya impersonator atau peniru. Adalah Howard X yang ada di balik Kim Jong-un kw dan Dennis Alan di balik Donald Trump kw.

Keduanya terlihat sangat telaten menanggapi permintaan wefie pengunjung. Ada saatnya mereka foto masing-masing dengan pengunjung, tapi tidak jarang keduanya wefie bersama. Tampak sangat sopan dan lembut. Sebagai peniru, keduanya dapat dibilang sangat mahir. Howard misalnya. Berbekal badan gemuk, pipi chubby, dan kulit putih, dia sukses menyempurnakan peniruannya dengan style yang sangat serupa dengan Kim.

Mulai setelan pakaian hitam, pin bendera Korea Utara di dada, kacamata, hingga potongan rambut yang sama. Sama halnya dengan peniru Donald Trump, Dennis Alan. Dia datang dengan mengenakan setelan biru tua serta dasi merah. Juga dengan pin bendera Amerika di dada. Lelaki 64 tahun asal Chicago itu menyempurnakan penampilannya dengan rambut pirang yang dibuat model belah ke samping. Amat mirip dengan Trump.

Tampilnya dua impersonator tersebut di Bugis Junction merupakan pemanis menjelang pertemuan bersejarah kedua pemimpin besok. Pertemuan Trump-Jong-un gadungan itu sendiri digelar dan dipandu Vybes, sebuah perusahaan global yang bermarkas di Singapura.

Howard X kepada media mengatakan sengaja tampil akrab dengan Dennis Alan untuk mencairkan suasana. Menurut dia, di setiap perbedaan selalu terselip persamaan. “Saya akrab dengan Trump (Dennis) karena punya karakter yang sama,” ujarnya tanpa membeberkan karakter apa yang dimaksud.

Pria kelahiran Hongkong yang besar di Australia itu menambahkan, dirinya dan Dennis sengaja hadir untuk menurunkan ketegangan dalam KTT. Politik, lanjut dia, khususnya antara Amerika dan Korea Utara, saat ini terlalu kaku dan terkesan sangat menyeramkan. “Kita ingin menampilkan wajah politik menjadi seru dan lucu-lucu,” imbuhnya. (jpg)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!