Kredit Mahasiswa Tak Bisa 0 Persen

Arahan Presiden Joko Widodo yang meminta perbankan membidik kredit pendidikan (student loan) direspon oleh sejumlah bank. Mulai BNI, Bank Mandiri, BTN, BRI bahkan bank daerah mulai bergerak.
——————

Salah satu bank yang telah merealisasikan imbauan tersebut adalah Bank Tabungan Negara (BTN). Saat ini, BTN sudah menggandeng 23 dari 80 perguruan tinggi di Indonesia.
Bagi yang telah bekerja sama, maka mahasiswanya dapat mengakses kredit dengan plafon Rp200 juta per orang. Suku bunganya flat 6,5 persen selama lima tahun.
“Ini menyambung arahan presiden agar bank pemerintah membantu dunia pendidikan,” kata Humas Bank BTN, Dodi, kepada Sumatera Ekspres, kemarin (12/4). Disinggung mengenai permintaan adanya bunga 0 persen, Dodi menuturkan hal itu terkait kebijakan pemerintah. “Bukan area kita untuk menjawab itu. Pada prinsipnya bank akan men-support jika itu jadi program pemerintah,” ujarnya.
Namun, secara logika perbankan tak mungkin menerapkan bunga 0 persen. Sebab, bank pada dasarnya mendapatkan modal dari penempatan dana masyarakat. Dana itu sendiri berbunga pasar. “Apakah kemudian bank bisa menyalurkan kredit atas dana itu tanpa harus ada bunga?” imbuh Dodi.
Terkait potensi non-performing loans (NPL) alias kredit bermasalah, Dodi tak mau berkomentar banyak. “Memang berpotensi, ya?” tanyanya. Bagi yang ingin mendapatkan kredit tersebut, mahasiswa dari perguruan tinggi yang telah bekerja sama dengan BTN sudah bisa mengaksesnya.
“Sejak kerja sama diteken, langsung bisa jalan. Jadi untuk mekanisme bisa langsung mendatangi cabang-cabang BTN terdekat,” ungkapnya.
Tahun ini, pihaknya menargetkan Rp500 miliar bisa terserap student loan ini. Namun, pada tiga bulan masa percobaan, dimulai bulan ini, dana yang disiapkan sekitar Rp100 miliar.
Mahasiswa yang bisa mengakses kredit ini mulai dari jenjang S1 sampai S3. Debitur KPR (Kredit Perumahan Rakyat), debitur non-KPR, dan non debitur dengan pendapatan tetap maupun tidak tetap juga dapat mengaksesnya.
Kredit pendidikan ini nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan. Di antaranya, biaya masuk sekolah atau kuliah, biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), daftar ulang, dan kebutuhan penunjang pendidikan lainnya.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebenarnya sudah lebih dulu meluncurkan program ini. Namanya, BRIguna Flexi Pendidikan. “Kredit ini menyasar mahasiswa S2 dan S3,” kata Pemimpin Wilayah BRI Palembang, Eko Wahyudi.
BRIguna Flexi Pendidikan berlaku untuk pekerja aktif yang sudah bertatus tetap dari instansi atau perusahaan, akan atau sedang menempuh pendidikan S-2 atau S-3. Sistem kredit pendidikan ini termasuk sistem khusus, anggaran feksibel, suku bunga ringan, serta murah.
Head of Bussiness Consumer BNI Wilayah Palembang, Anak Agung Gede Putra, menjelaskan, Rabu (11/4), pihaknya sudah meluncurkan produk student loan berbarengan dengan bank BUMN lain. “Sekarang, kredit yang biayai pendidikan mahasiswa itu bisa diakses di seluruh cabang BNI, termasuk di Sumsel,” jelasnya.
Student loan yang ada di BNI hanya untuk mahasiswa berprestasi. Pembiayaannya minimal Rp10 juta dan maksimal sesuai total beasiswa yang diperoleh mahasiswa tersebut. “Khusus untuk mahasiswa berprestasi yang mendapatkan beasiswa di universitas yang menyalurkan pembayaran beasiswanya melalui BNI,” jelasnya.
Dari prosedur di platform kredit ini, beberapa poin disebutkan untuk mahasiswa aktif S1-S3. Adapun syarat dari pencairan ini kredit itu yakni melampirkan surat rekomendasi dari universitas (pernyataan bahwa mahasiswa itu menerima beasiswa). Kemudian, kontrak pemberian beasiswa, dan penyaluran beasiswa melalui rekening BNI. “Adapun bunga kredit ini sebesar 8,4 persen,” ujarnya.
Pada prinsipnya, kredit serupa sempat digulirkan BNI seperti BNI Cerdas. Sasaran produk ini debitur yang sudah bekerja, tapi mau kuliah lagi.
Dia menerangkan, student loan ini dimaksudkan pemerintah untuk memberikan akses kepada mahasiswa untuk mendapatkan pembiayaan dari bank. “Apalagi pelajar atau mahasiswa ini ‘kan tulang punggung negeri kita untuk memajukan bangsa di masa mendatang. Karena itulah BNI perlu ikut berkontribusi,” ujarnya.
Ke depan, arah bisnis bank salah satunya menyasar market yang berbasis knowledge (pengetahuan). Khususnya kalangan anak muda. “Selain student loan, bisa juga perusahaan aplikator transportasi online berikut mitra mereka, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Head of Credit Card Bank Mandiri Regional II/Sumatera 2, Indro, menyatakan, untuk kredit sektor pendidikan yang langsung ke mahasiswa, saat ini belum ada programnya. Sekarang tengah digarap oleh bagian mikro “Sedang dipersiapkan soft loan untuk mahasiswa,” katanya
Yang sudah ada selama ini, kerja sama dengan perguruan tinggi negeri (PTN) berupa penampungan dana SPP mahasiswa dan APBN. Kemudian, pemberian kredit consumer loan kepada dosen dan karyawan PTN.
Sekretaris Perusahaan Bank SumselBabel (BSB), Faisol Sinin, menjelaskan, meski belum meluncurkan produk tersebut, tapi BSB sendiri sudah berencana mengeluarkannya. “Saat ini masih proses kajian. Kami susun dulu SOP (standar operasional prosedur)-nya,” ungkap dia.
Termasuk bagaimana mitigasi risiko produk, pengenaan bunga dan agunan (jaminan) ke mahasiswa. Juga izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setelah semua sudah clear, maka produk tersebut akan segera diluncurkan.
Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumsel, Rudi Hairudin, mengatakan, rencana kredit sektor pendidikan merupakan imbauan dari Presiden langsung ke perbankan. “Beberapa waktu lalu sudah di-follow up perbankan. Secara kelembagaan itu di luar domain BI,” katanya. Meski begitu, Rudi mengaku mendukung jika perbankan mau mengucurkan kredit ke sektor tersebut.
“Kami dukung sekali dan imbauan itu untuk ditindaklanjuti perbankan secara keseluruhan,” ujarnya. Namun dia belum mau berkomentar mengenai potensi kredit serta risiko kredit di sektor tersebut.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta perbankan menyediakan model kredit atau pinjaman kepada siswa atau mahasiswa kurang mampu. Model kredit ini dikenal dengan sebutan student loan. Keinginan itu disampaikannya saat bertemu dengan para pimpinan bank umum Indonesia di Istana Negara pertengahan Maret lalu.
Jokowi mencontohkan Amerika Serikat yang sudah menerapkan model student loan itu. Nilai outstanding seluruh kredit pendidikan negara Paman Sam itu telah melampaui pinjaman kartu kredit.
Kalau itu bisa diterapkan dan terjadi di Indonesia, maka kredit konsumtif akan pindah ke hal-hal yang produktif yang lebih bermanfaat. Wali Kota Solo itu berharap pengelolaan kredit perbankan bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat. Misalnya memberikan nilai tambah pada dunia pendidikan dan pengembangan intelektual anak bangsa.
Konsep student loan adalah pinjaman yang ditawarkan pihak perbankan kepada siswa untuk melunasi biaya yang berhubungan dengan pendidikan seperti biaya kuliah, tempat tinggal atau buku pelajaran. Biasanya pinjaman ini memiliki suku bunga yang lebih rendah dari pinjaman yang lain. Siswa atau mahasiswa tidak diharuskan untuk membayar kembali pinjaman ini sampai akhir masa sekolah atau kuliahnya. Biasanya, akan mulai dibayar atau dilunasi setelah mereka menyelesaikan pendidikan. (rip/fad/cj10/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!