Krisis Spriitual Manusia Modern

Oleh: Ustadz Masagus A. Fauzan Yayan, SQ

Manusia modern dalam dirinya mengidap gangguan kejiwaan antara lain berupa kecemasan, kesepian, kebosanan, perilaku menyimpang, dan psikosomatis. Kecemasan (anxiety) ditandai oleh perasaan tidak aman, takut, dan sebagainya. Kecemasan banyak kita jumpai pada kaum perempuan, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, mulai dari masalah kegemukan hingga masalah jodoh, dan lain-lain.
Begitu pula perasaan tidak aman dapat dilihat dengan tingkah laku yang over protektif, yakni berlebihan dalam memproteksi diri seperti dijaga bodyguard, memagari rumah dengan tembok yang tinggi, gerbang dijaga security (satpam), atau anjing galak. Overprotektif bisa juga dilakukan dengan cara yang demikian tersembunyi seperti dengan  membuat birokrasi yang njelimet, agar dirinya tidak mudah tersentuh oleh siapa pun yang belum dikenal. Dan orang yang dihantui kecemasan, akan terus menambah alat proteksinya seperti pistol, memakai baju anti peluru, lain sebagainya.
Adapun rasa kesepian ditandai dengan munculnya perasaan tidak ada yang menemani dan dihantui oleh rasa bete. Mudah bosan disebabkan oleh rutinitas yang menjenuhkan seperti berangkat dari rumah ke kantor, pergi pagi pulang petang, dan seterusnya. Sedangkan perilaku menyimpang yakni melakukan sesuatu di luar kenormalan, seperti menyalurkan hasrat seksual kepada orang yang tidak tepat seperti ke sesama jenis, inses (hubungan seksual atau perkawinan antarsaudara sedarah), atau dengan cara-cara yang tidak lazim.
Psikosomatik merupakan gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial. Penderita psikosomatik biasanya selalu mengeluh merasa tidak enak badan, jantungnya berdebar-debar, merasa lemah dan tidak bisa konsentrasi. Wujud psikomatik bisa dalam bentuk sindrom, trauma, stres, ketergantungan pada obat penenang,  alkohol, dan narkotik.
Mengutip ramalan seorang psikolog terkemuka abad ke-20, William James.  Dalam bukunya yang terkenal, Varieties of Religious Experience yang terbit pada tahun-tahun pertama abad ke-20, dia menyatakan bahwa sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan menemukan kepuasan kecuali jika ia bersahabat dengan “Kawan Yang Agung” (The Great Socius).
Menurut W.  James, selama manusia belum berkawan dengan “Kawan Yang Agung” itu, maka selama itu pula ia akan merasakan kegelisahan, kekosongan, kecemasan, dan kesepian dalam hidup.  Kawan Yang Agung yang dimaksudkan oleh W.  James itu adalah Tuhan.
Sekalipun temannya banyak dan pergaulannya luas, namun ia tetap merasa sepi (hampa).  Ia kesepian dalam keramaian.  Keterputusan dengan Tuhan menjadi penyebab timbulnya perasaan terasing, gelisah, dan sebagainya.  Tuhan adalah sumber dari segala yang ada, sebagai alfa dan omega, asal dan kepada-Nya semua kembali. Karena itu, menurut Mulyadhi Kartanegara (Menyelami Lubuk Tasawuf, 2006), hanya dengan melakukan kontak terus-menerus dengan Sumber dan terus berupaya mendekatkan diri kepada-Nya, maka manusia boleh berharap mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup.  Kalau tidak, berharap saja pun merupakan kemustahilan.  Tuhanlah tempat kembali kita, Dialah tempat asal dan kampung halaman (tempat kita kembali) kita yang sejati. Bukankah Al-Qur’an sendiri berkata, “Milik Tuhanlah kita ini, dan kepada-Nya kita semua akan kembali,” (QS .Al-Baqarah [2]: 156)?
Sebenarnya, sejak pertama kali dicipta hingga nyawa akan dicabut kembali, kita diajak untuk selalu berusaha mendekatkan diri dan bersahabat dengan Allah Yang Mahaagung.  “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”  (QS. Al-Fajr [89]: 27–30).
Al-Qur’an bermanfaat untuk mengatasi pelbagai problem kehidupan manusia, terutama solusi krisis spiritual manusia modern. Menurut Dr. M. Darwis Hude—salah seorang pakar psikologi Qur’ani—di antara obat untuk mengatasi stres adalah dengan cara pengalihan emosi yaitu dengan cara dzikrullah (mengingat Allah) yang mana salah satu bentuknya ialah tilawah Al-Qur’an. Al-Qur’an bagaikan sebuah surat kepada manusia dari Kawan Yang Agung untuk lebih mengenal-Nya. Melalui Al-Qur’an, Allah mengirimkan pesan, nasihat, dan petunjuk kepada kita sahabat-Nya. Al-Qur’an hadir untuk mencerahkan dan menyingkap tirai kejahiliyahan.
Sebagaimana Allah swt berfirman, yang artinya: “Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan Kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf [7]: 2).
Dalam salah satu lirik lagu Tombo Ati yang diredaksi ulang oleh Emha Ainun Na-jib (lagu ini kemudian dipopulerkan oleh Opick) disebutkan bahwa obat hati itu ada lima macam, dan salah satunya adalah membaca Al-Qur’an. Kenapa Al-Qur’an bisa menjadi tombo ati?  Hal ini karena dilihat dari lima macam fungsi Al-Qur’an itu sendiri. Yakni, melembutkan, menenangkan, serta mengokohkan. Juga dapat menjadi nasehat dan obat tatkala hati sedih dan gundah. (*)

*Pembina Go-Hafidz Kiai Marogan, Pendiri Rumah Tahfidz Sumsel

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!