Kubu Yes dan No Sama Kuat

131
Recep Tayyip Erdogan

ANKARA – Besok adalah hari penentuan nasib bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Sekitar 55,3 juta warga yang mempunyai hak suara akan memilih menerima ataukah menolak referendum konstitusi yang diusulkannya. Yaitu, mengubah sistem konstitusi dari parlementer ke presidensial. Dengan perubahan konstitusi tersebut, Erdogan memiliki kuasa yang lebih besar untuk menentukan nasib Turki pada masa mendatang.
Ada 18 poin di dalam konstitusi yang bakal diubah. Salah satunya, pemilu parlemen berubah menjadi setiap lima tahun sekali bersamaan dengan pemilu presiden. Sebelumnya, pemilu parlemen dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Jumlah anggota parlemen ditambah, sedangkan usia untuk menjadi wakil rakyat diturunkan dari 25 tahun menjadi 18 tahun.
Erdogan juga akan memiliki kuasa lebih besar jika sistem presidensial disetujui. Kantor perdana menteri bakal dibubarkan. Erdogan juga bisa mendeklarasikan status darurat negara tanpa persetujuan kabinet. Draf bujet negara yang sebelumnya dirancang parlemen juga akan beralih ke presiden. Politikus 63 tahun itu pun bisa memperpanjang masa berkuasanya hingga 2029. Jumlah penduduk yang pro-kontra hampir setara.
“Jika kubu Yes menang, kita bakal menghadapi kerusuhan. Dia (Erdogan, Red) akan menjadi presiden bagi separo penduduk di negara ini saja,” ujar Nurten Kayacan. Ibu rumah tangga 61 tahun itu ikut dalam kampanye penolakan referendum di pelabuhan feri Istanbul kemarin (14/4).
Berdasar hasil polling sementara, perbedaan antara yang memilih Yes dan No sangat tipis. Lembaga survei Konda menyebutkan bahwa 51,5 persen penduduk setuju dan sisanya menolak. Margin of error dalam survei itu cukup tinggi, sekitar 2,4 persen. Konda mewawancarai secara langsung 3.462 orang dari 30 provinsi di Turki. Pengambilan sampel dilakukan pada 7-9 April lalu.
“Hasil polling juga menunjukkan 90 persen penduduk akan memberikan suaranya.” Demikian pernyataan Konda pada Kamis (13/4). Jumlah pemilih yang belum memutuskan pilihan menurun kalau dibandingkan dengan survei serupa pada Januari lalu. Yakni, dari 20 persen kini menjadi 9 persen saja.
Hasil polling Gezici Research Agency hampir serupa. Yang mendukung perubahan pada konstitusi mencapai 51,3 persen dan menolak 48 persen. Gezici mengambil sampel 1.400 orang di 10 provinsi pada 8-9 April lalu. Persentase pemilih yang belum menentukan sikap adalah 9,9 persen. Jumlah yang mendukung referendum menurun dari survei serupa yang dilakukan pada awal April. Saat itu dukungan penduduk mencapai 53,3 persen.
“Pemilih yang belum menentukan pilihannya ini memegang kunci hasil referendum nanti,” kata Kepala Gezici Research Agency Murat Gezici. Dia menuturkan, mendekati hari H pemungutan suara, orang sangat berhati-hati menunjukkan pilihan. Sementara itu, sembilan lembaga survei lainnya yang dirata-rata kantor berita Reuters menunjukkan bahwa 50,9 persen memilih mendukung Erdogan dengan referendumnya.
Di tempat terpisah, warga Turki di luar negeri memberikan suaranya sejak akhir Maret lalu. Waktu pemungutan suara di setiap negara berbeda-beda. Yang jelas, besok adalah waktu terakhir untuk memberikan suara, baik di dalam maupun luar negeri. Sebanyak 1,3 juta suara diaspora dari negara-negara Eropa telah tiba di Ankara.
Jumlah diaspora yang memberikan suara pada referendum naik drastis jika dibandingkan saat pemilu November 2015. Saat itu jumlah pemilih yang terdaftar mencapai 2,88 juta. Tetapi, yang memberikan suara hanya 40 persen.
Pada Rabu (12/4), Erdogan mengungkapkan bahwa 1,42 warga Turki di luar negeri sudah memberikan suara. Artinya, sekitar 50 persen telah menentukan pilihan. Padahal, waktu untuk memberikan suara masih tersisa dua hari lagi. Tingkat kehadiran warga Turki di luar negeri ke bilik-bilik suara sangat mungkin lebih dari 50 persen.
Beberapa lembaga polling menjelaskan, banyaknya diaspora yang memberikan suara bakal memberikan keuntungan bagi Erdogan. Sebab, mayoritas mendukung suami Emine Erdogan tersebut. (AFP/Reuters/sha/c14/any)

Diskusi & Komentar

More News!