Kue Basah Tiga Minggu, Kue Kering Setahun

MULAI DIJUAL: Sejumlah pedagang pasar mulai ramai jajakan kue kering dan kue basah jelang Lebaran dua minggu lagi. Foto: M Hatta/Sumatera Ekspres

Lebaran sekitar dua minggu lagi. Tak ayal, pedagang kue-kue basah dan kering di pasar-pasar pun mulai ramai. Namun pembeli harus waspada dengan indikasi kue berpengawet dan tahan lama. Karena bisa jadi itu malah berbahaya.
——————–

DI Pasar Cinde, sejumlah kue basah sudah dipajang di etalase pedagang-pedagang kue. Seperti bolu kojo, engkak lapis, lapan jam, lapis legit, cake pisang, cake pandan, dan lain sebagainya.
Beberapa pembeli pun tampak melihat-lihat dan menawar salah satunya di Toko Kue Yuli. “Harga kue basah ini sekitar Rp120 ribu per loyang ukuran 20×20 dan cake Rp50 ribu per loyang,” kata Resi (19), karyawan toko tersebut. Tapi dekat Lebaran, harganya masih bisa berubah karena pesanan biasanya meningkat.
Namun, kata Resi, semua kue yang mereka jual tanpa bahan pengawet karena hanya mampu tahan tiga hari, setelah itu cepat basi. “Makanan seperti ini kan biasanya langsung disantap,” ujarnya. Apalagi, kata dia, kue basah ini hasil home made langsung. “Ada langganan kami yang membuatnya sendiri. Dia selalu nitip kue untuk dijual setiap tahun,” ujarnya. Jadi dia tahu betul bagaimana proses produksinya.
“Kalau yang dipajang tidak kita stok banyak. Kami lebih banyak menerima pesanan kue, khususnya seminggu sebelum Lebaran,” ucapnya. Begitu juga Ita (32), pedagang kue kering yang juga menerima orderan kue basah seperti maksuba, engkak lapis, lapis susu, bolu nanas, bolu pisang legit, dan lainnya.
“Kalau kue basah, keluarga kami yang buat sendiri,” ujarnya. Itu pun harus dibuat mendekati Lebaran karena tidak bisa tahan lama dan tanpa pengawet. Tapi kalau kue kering, sejak awal Ramadan sudah dijajakan karena tahannya lama. Dijual mulai harga Rp30 ribu hingga Rp100 ribu per kg. “Kalau kue kering yang banyak dicari nastar dan skippy,” sebutnya.
Di Pasar 16 Ilir, pedagang kue basah juga sudah banyak. “Sekitar tiga minggu, kue ini masih tahan sampai Lebaran,” ujar Indah (35), pedagang kue kemarin. Tapi ditanya soal pengawet, dia menyangkalnya. “Saya cuma jual, kue ini dari supplier. Tapi mereka (supplier) bilang, kue ini aman tanpa pengawet,” ceritnya.
Untuk kue kering, Suryati pedagang di Pasar 26 Ilir mengaku, sejak awal Ramadan sudah menjual berbagai jenis kue yang langsung diambilnya dari supplier atau agen. “Kalau kue kering ini tahannya lama bisa sebulan lebih, makanya sudah jual awal-awal Ramadan,” ujarnya.
Tapi dia mengaku tak tahu kue tersebut berpengawet atau tidak. “Silakan rasakan sendiri. Enak kok kuenya, saya yakin tidak ada pengawet,” ujarnya. Ada kue skippy, semprong, bulan, rentak, nastar, cokelat, bangkit, tusuk gigi, aneka kacang. “Sekarang masih sepi yang beli, tapi H-7 nanti sudah mulai ramai,” ucapnya.
Di Pasar Km 5, kue-kue kering juga mulai dijual Rp60 ribu sampai Rp200 ribu per kg. Menurut pedagang kue Titik (43), kue kering ini dijual sesuai standar kualitasnya. Semakin enak rasanya, semakin mahal harganya. “Soal ketahanan kue kering bisa sampai setahun jika tertutup rapat,” ujarnya.
Di pasar modern, seperti JM Group pun sudah memasarkan beragam kue, namun baru kue kering saja. Apalagi kue kering ini bisa tahan sampai 6 bulanan.
“Kalau kue basah belum jual, karena daya tahannya tidak lama. Kami baru jual setelah dekat Lebaran,” ujar General Affair JM Group, Deny Mulyawan. Soal harga dijual mulai Rp20 ribu per kg dan untuk yang paket mulai Rp60 ribu. JM juga menawarkan banyak varian kue kering, kacang-kacangan, juga astor.
Terkait banyaknya ragam kue yang mulai dijual dan berpotensi berpengawet, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, Hj Hardiani Eni SKM, mengungkapkan, pihaknya akan segera melakukan antisipasi.
“Kita nanti akan sidak kue kering dan kue basah jelang Lebaran untuk melihat kandungan kue,” ujarnya. Itu agar masyarakat tak salah mengonsumsi kue. Karena kalau sampai mengandung bahan pengawet berbahaya justru bisa menggangu kesehatan.
Koran ini coba mengonfirmasi BBPOM Palembang via telepon dan SMS. Tapi sayangnya Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Palembang, Arnold Sianipar tidak merespon. (cj10/uni/aja/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!