Leicester City

207
Pemain Atletico Madrid, Antoine Griezmann, duel dengan pemain Leicester City, Wilfred Ndidi. Foto: Reuters

MADRID – Kekhawatiran Diego Simeone sebelum laga benar-benar jadi kenyataan.
Leicester City mampu menyulitkan anak asuhnya sekalipun Ateltico Madrid bermain di depan publiknya sendiri di Vicente Calderon, Madrid, Kamis dini hari kemarin WIB (13/4). Ya, Atletico menang 1-0 atas Leicester.

Bahkan, Atletico yang berjuluk Los Rojiblancos itu hanya bisa memastikan kemenangan lewat titik putih. Terjadinya pun cukup kontroversial. Karena, pelanggaran yang dilakukan oleh gelandang Leicester Marc Albrighton kepada striker Atletico Antoine Griezmann terjadi di area luar kotak penalti. Meski, jatuhnya Grizi – sapaan akrabnya – di dalam kotak penalti.

Grizi sendiri yang mengeksekusi hadiah penalti pada menit ke-28 itu. Puaskah Simeone? Tidak. ”Karena mereka klub yang kokoh di kandang sendiri. Leg kedua akan menjadi duel yang sengit, sulit, dan memaksa kami berjuang keras,” sebut Simeone saat diwawancarai beIN Sports setelah laga.

Pelajaran dari leg pertama kemarin sudah dipikirkan Simeone. Apalagi 45 menit pertama ketika Leicester mampu bertahan cukup rapi dan disiplin. Selain gol dari hadiah penalti, tak ada gol lain yang ditambahkan Gabi dkk, sekalipun mereka bisa mendominasi penguasaan bola dan jumlah tembakannya.

Simeone sudah dapat meramalkan perlawanan Leicester, Rabu dini hari mendatang WIB (19/4). ”Mereka akan mengontrol arus jalannya pertandingan dengan dukungan dari pendukung mereka. Namun, kami harus mampu menjalaninya dengan perasaan di mana kami mampu main dengan nyaman,” lanjut pelatih yang masuk jadi kandidat pelatih timnas Argentina itu.

Baca Juga :  Selamat ya, MU Lolos ke Semifinal Liga Europa

Benar kata Simeone. Masih ada teror di King Power – kandang Leicester. Ingat apa yang dialami Sevilla sebagai sesama klub dari La Liga pada babak 16 Besar lalu. Pada leg pertama di Spanyol, mereka juga mengalahkan Leicester, sama seperti yang dilakukan Atletico. Di Seville, Leicester tumbang 1-2.

Nah, begitu ganti melawat ke East Midlands – kawasan markas Leicester, Sevilla disikat 2-0. Bedanya, tidak seperti Los Nervionenses – julukan Sevilla, Atletico mengawalinya dengan cleansheet. Itu cleansheet ke-16 dari 18 laga kandangnya di Liga Champions. ”Ini penting tidak kebobolan berapa gol pun (pada leg pertama),” tekannya.

Ingat, sepanjang Liga Champions musim ini publik King Power selalu pulang menonton laga klub kesayangannya selalu dengan senyuman. Karena, Leicester tidak pernah gagal meraih kemenangan setiap bermain di kandangnya sendiri. Empat kali bermain home, keempatnya bisa diakhiri dengan kemenangan.

Dikutip BBC Craig Shakespeare sebagai tactician Leicester menganggap skor 0-1 bukan yang dia harapkan sebelum pertandingan. ”Kami datang untuk mencoba mendapatkan gol away tapi kami sudah melihat betapa hebatnya permainan Atletico sebagai tim top,” puji pelatih yang akrab disapa Shakes itu.

Ini kekalahan kedua beruntun Shakes dalam delapan laga pertamanya setelah mengganti Claudio Ranieri. Sebelumnya, Leicester tumbang 2-4 di Premier League atas Everton (9/4). Dia meminta pemainnya untuk mengambil pelajaran dari permainan taktikal Atletico kemarin. ”Dan pemain sudah mendapat pesan bahwa mental dan fisik sudah kami capai di sana (Madrid), kami sudah punya catatan bagus di King Power, itu tandanya kami belum habis,” klaimnya.

Baca Juga :  Polisi Tangkap Tersangka Pelaku Bom Dortmund

Bagaimana dengan penalti kontroversial yang diberikan wasit Jonas Eriksson untuk tim tuan rumah? Pelatih berusia 53 tahun itu penalti tersebut sudah membuyarkan game plan yang dia siapkan sebelum laga. ”Keputusan yang mengecewakan. Ini momen kunci. Seharusnya dia (Eriksson) hanya memberi tendangan bebas dari luar kotak penalti,” kecamnya.

Shakes menyebut wasit seperti hanya menebak-nebak keputusannya itu. Padahal apabila melihat tayangan ulangnya, Grizi memang jatuh di luar kotak penalti. ”Keputusan seperti inilah yang harusnya dia ambil dengan benar,” lanjutnya. Keluhan senada juga dikatakan oleh Kasper Schmeichel.

”Nyatanya, kami harus menerimanya. Mungkin saja mereka bisa mencetak golnya lewat tendangan bebas. Hanya, akan jauh lebih mudah bagi mereka untuk mencetak gol dari penalti,” keluhnya. Schmeichel kemarin melakukan dua kali penyelamatan, lebih banyak dari upaya Jan Oblak yang tidak melakukan satu pun penyelamatan. (ren/ion)

Diskusi & Komentar

More News!