Liverpool 2 vs Tottenham 2

BUTUH CEPAT : Bek Liverpool, Virgil van Dijk mendorong penyerang Tottenham, Erik Lamela di kotak penalti pada lanjutan Premier League di Anfield, Liverpool, kemarin (5/2). FOTO : REUTERS/ANDREW YATES

Premier League Darurat VAR

LIVERPOOL – Kapan teknologi Video Assistant Referee’s (VAR) mulai diterapkan di Premier League? Paling cepat teknologi yang telah diuji cobakan dalam enam laga di Piala FA dan Piala FA itu baru dijajal di Premier League musim depan. Akan tetapi drama di Anfield kemarin WIB sudah jadi sinyal bagi Premier League, VAR tak boleh ditunda.

Itu setelah bentrok Premier League ke-52 Liverpool kontra Tottenham Hotspur dibumbui dua kontroversi di balik skor 2-2 (1-0). Kontroversi yang lebih menguntungkan Spurs. Pertama, kontroversi di balik penalti pertama Harry Kane pada menit ke-87. Kedua, kontroversi sebelum wasit Jon Moss memberi penalti kedua bagi Kane pada injury time menit kelima.

Penalti pertama diberikan setelah Loris Karius disebut melanggar Kane. Padahal, apabila dilihat dari tayangan ulang, HurriKane sudah dalam posisi offside. Moss sempat menyebut play on sebelum akhirnya dia berkonsultasi dengan Edward Smart, asisten wasit terdekat. Smart pun menyebut Kane on side.

Kedua, dari terjatuhnya Eric Lamela ketika berebut bola dengan Virgil van Dijk. Apabila dilihat dari tayangan ulang, kaki Van Dijk sempat sedikit mengenai Lamela. ”VAR harus segera diterapkan di Premier League,” desak Mark Lawrenson, mantan bek Liverpool yang jadi pundit di BBC Sports.

Dikutip di Mirror, Van Dijk menuding Kane dan Lamela berakting diving. ”Dia (Lamela) berlari ke arah saya dan saya coba menahan kaki saya. Dia malah mengarahkan tubuh ke depan bola, dan dia terjatuh,” ungkap bek termahal dunia dengan banderol mencapai GBP 75 juta (Rp 1,42 triliun) itu.

Dia menyayangkan sikap Moss yang tidak tegas. ”Wasit menyebut play on. Asisten wasit malah yang berkata sebaliknya. Ini keputusan yang harusnya dibuat wasit sebab posisinya lebih dekat. Sial,” tuturnya. Bagaimana dengan diving Kane? ”Offside atau tidak? Saya pikir dia telah berada dalam posisi offside,” tudingnya.

Yang pasti untuk penalti pertama Kane, pelatih Liverpool Juergen Klopp mengaku sudah mendengar pengakuan dari wasit Moss. ”Setelah laga berakhir, dia (Moss) mendatangi saya dan mengakui bahwa dirinya sudah membuat kesalahan. Dan itu jelas-jelas offside. Sungguh, ini tak bisa dipercaya,” ungkap Kloppo, kepada Sky Sports.

Klopp kecewa, karena keputusan kontroversi yang harusnya bisa dihindari jika teknologi VAR dipakai itu sudah menentukan hasil akhir. Andai tak ada penalti kedua, kemenangan sudah di depan mata Kopites. Karena, hingga injury time menit keempat, The Reds unggul 2-1 setelah Mohamed Salah mencetak gol keduanya pada injury time menit pertama.

Gol pertama Salah dicetak pada menit ketiga sebelum disamakan Victor Wanyama menit ke-80. ”Sayang laga seperti ini harus ditentukan dengan keputusan wasit. Selalu saja kami yang harus menerimanya, apa Anda pernah mendengar (wasit menjelaskan keputusannya)? Saya pun sampai harus menunggu setengah jam tapi tetap tak diizinkan masuk ruang wasit,” keluhnya.

Bahkan dua mantan wasit elit Premier League Graham Poll dan Mark Clattenburg punya pandangan berbeda. Poll dalam kolomnya di Daily Mail mengklaim keputusan Moss dan Smart benar. ”Dengan mata telanjang, Lamela terlihat diving. Orang yang tak menyaksikan replay-nya berkali-kali takkan yakin. Tapi, Smart bisa, dan dia benar,” ulas Poll.

Clattenburg, dalam tulisannya di The Times sebaliknya. Wasit yang kini sudah menjadi bagian dalam Komite Perwasitan Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) itu menilai putusan Moss salah dua-duanya. ”Ada sedikit sentuhan dengan Virgil tapi itu tidak harus diberi penalti,” klaim Clattenburg. (ren/ion)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!