Luthfia Fataty, Ulet Menekuni Usaha Mutiara

Beri Ciri Khas Daerah, Pemasaran hingga Luar Negeri

Memulai usaha, bagi Luthfia Fataty yang penting tahu segmen dan potensi pasar yang dibutuhkan. Tidak heran, bisnis aksesori mutiara yang ditekuninya sudah sampai ke luar negeri.

———————————————–
ARDILA WAHYUNI – Palembang
———————————————-

SALAH satu stand yang ramai dikunjung pada pameran di Palembang Indah Mall (PIM) Sabtu (15/7) lalu, adalah aksesori. Mayoritas pengunjung para ibu-ibu. Melihat pajangan dalam etalase, berbagai aksesori terbuat dari mutiara berupa kalung, cincin, gelang, dan bros.

Stand berukurang 2×2 meter yang ramai dikunjungi itu, Pyo MutiaraQu. Milik Luthfia Fataty. Pyo, merupakan sapaan akrab Luthfia Fataty. Di sana terdapat kain dikombinasikan dengan kalung mutiara. Terlihat berkelas dan elegan. “Ini Mutiara dari Lombok,” kata penjaga stand.

Owner Pyo MutiaraQu, Pyo menceritakan, ia memulai kerajinan mutiara ini sejak 2013. Pada saat itu masyarakat tengah keranjingan menggunakan batu akik. “Awalnya, jualan batu akik juga untuk cowok maupun cewek. Saat itu batu akik lagi laris. Tapi saya kepikiran untuk berjualan aksesori untuk kaum perempuan,” katanya, belum lama ini.

Namun perempuan kelahiran Jember, 31 Maret 1988 itu sempat bingung mau menjual aksesori perempuan jenis apa. Akhirnya memutuskan mutiara. Alasannya, karena mutiara sangat digandrungi para perempuan. Juga karena ketika mutiara dikenakan sangat elegan serta masuk untuk seluruh umur.

Baca Juga :  Sah... Komunitas TLCI Terbentuk

Paling penting awet sepanjang zaman. “Saya putuskan mutiara dengan pangsa pasar dan segmen yang jelas yakni para perempuan mulai dari remaja hingga orang dewasa,” ucapnya.

Maka dari itu, lanjut istri dari David Ahmad Chofid tersebut, ia pun mulai rajin belajar membuat aksesori dari Mutiara. Tidak mengikuti kursus, melainkan ia hanya belajar secara otodidak dengan melihat dari YouTube dan membaca buku cara merangkai mutiara. “Satu demi satu, kerajinan mutiara dihasilkan dan menjadi banyak. Saya pun coba memasarkan, ternyata di luar dugaan direspon pasar,” kenangnya.

Sejauh ini, kata alumni Sastra Inggris Universitas Jember, produk yang paling favorit adalah mutiara air laut karena harganya yang tinggi dan bentuknya yang cantik shining dan awet. Namun harganya cukup mahal. Untuk kalung yang sedang digandrungi adalah mutiara air tawar yang dipadupadankan dengan batu giok.

Juga kalung mutiara air tawar dipadupadankan dengan kain songket atau jumputan dan kalung mutiara barok. “Karena kalung mutiara air laut mahal, maka aksesori kombinasi ini menjadi favorit juga karena harganya relatif terjangkau dibandingkan mutiara air laut, dan bisa dipakai di semua acara formil atau santai,” sebutnya.

Diakuinya, sama seperti usaha lain, usahanya pun mengalami kendala. Terutama pada bahan. Pasalnya, mutiara ia datangkan langsung dari Lombok, Ambon dan impor dari Tiongkok. Tergantung permintaan pasar. Tapi mutiara dalam negeri tetap menjadi primadona. “Tapi setiap produk buatannya, memiliki ciri khas Sumsel dan tentunya berbeda dengan produk lain dan negara lain,” katanya.

Baca Juga :  Demam Batu Akik Kembali Booming

Karena bahan dari luar, lanjut dia, ketika bahan ini terlambat tiba (tidak sesuai jadwal), maka ia pun kadang harus mengundur pembuatan kalung sampai bahan datang. Tapi semua itu kadang diakali dengan menyetok mutiara sehingga ketika ada permintaan dapat dipenuhi. Juga proses pembuatan yang cukup waktu panjang terkadang ia kesulitan mengatur waktu karena ia sebagai ibu rumah tangga harus menjaga anak-anaknya juga.

“Untuk membuat satu kerajinan tergantung apa yang dibuat. Kalau cincin bisa 15 menit sampai 1 minggu sedangkan kalung bisa 3 jam sampai 2 minggu,” terangnya. Kesulitan lain, ketika ada pesanan dalam jumlah besar dan sudah ada yang pesan seragam kalung dan butuh cepat. Ia pun kewalahan. “Saya masih kekurangan karyawan sebab untuk membuat kerajinan ini tidak mudah dan tidak bisa asal-asal pilih orang,” tambahnya.

Sejauh ini, pemasaran menggunakan online. Produknya pun tidak hanya di dalam negeri tetapi juga produknya sudah diekspor keluar negeri. Seperti Singapura, Thailand, Malaysia. Disamping, ia pun rutin mengikuti offline di bazar-bazar setiap acara yang diadakan oleh Pemerintah Sumsel/Palembang. “Seperti kemarin saya ikut pameran di Palembang Icon Mall, hari ini (kemarin, red) saya buka pameran di PIM lantai 1 dan beberapa pameran lainnya,” tuturnya. (*/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!