Makan Idangan Masuk Paket Wisata

ADAT DAN BUDAYA: DPC APJI Kota Palembang berupaya melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Palembang, salah satunya dengan mengelar acara pranikah adat Palembang dan suguhan makanan idangan, di Rumah Limas, kemarin. FOTO: KRIS SAMIAJI/SUMEKS

PALEMBANG – Makan idangan tersaji di Rumah Limas, Jl Demang Lebar Daun, Palembang, kemarin (14/2). Ada nasi minyak, daging malbi, kari kambing, sambal buah, ayam kecam, pentol, dan makanan khas Palembang lainnya. Tamu yang berjumlah 4-6 orang dalam satu idangan lahap menyantap idangan sambil mendengarkan musik gambus.
Sebelumnya, tamu mengikuti arak-arakan calon pengantin pria hingga masuk ke rumah Limas. Lalu, bertemu calon pengantin perempuan yang menunggu di dalam kamar, keluar dan bersanding di pelaminan. Dilanjutkan tari pagar pengantin dan cacap-cacapan. DPC Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI) Palembang menyuguhkan simulasi tersebut untuk melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Palembang.
Ketua DPC APJI Kota Palembang, Hj Sulaiha SSos, menyatakan makanan Palembang bukan hanya pempek, masih banyak yang lainnya, termasuk makan cara idangan ini. “Makan idangan ini juga memberikan makna tersendiri. Yakni saat makan, sesama tamu dapat menjalin tali silaturami dan bercerita bagi yang memiliki waktu lebih luang,” paparnya.
Menurutnya, makan idangan ini juga sedikit demi sedikit mulai punah. Sehingga dalam waktu 40 hari ini, pihaknya bekerja keras untuk kembali memperkenalkan budaya Palembang yang wajib dilestarikan. “Di acara ini, budaya gotong royong juga tercipta karena secara bahu-membahu menyiapkan dan mengidangkan makanan untuk tamu,” tuturnya.
Pada Asian Games, Agustus mendatang, di Palembang, pihaknya juga akan menyediakan makanan khas Palembang berstandar internasional. Pihaknya juga akan bekerja sama dengan hotel agar mulai menyediakan makanan khas Palembang. Jadi, tamu– tamu dari negara lain bisa menikmati makanan khas Palembang,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel, Irene Camelyn Sinaga, mengatakan, dari tinjauan budaya, pelestarian kebudayan ini sangat penting. Apalagi dilakukan oleh masyarakat tanpa adanya bantuan maupun dana dari pemerintah. “Ini nilai pentingnya, mereka menyelenggarakan pra nikah, suap-suapan, suguhan ngidang tadi. Ini hal yang luar biasa, sangat menyentuh,” katanya.‎
‎Sedangkan ditinjau dari aspek pariwisata, kegiatan seperti ini merupakan sebuah atraksi yang seksi bagi wisatawan untuk datang lebih lama dan menghabiskan atau membelanjakan uangnya di Sumsel. “Ke depan, kita akan bekerja sama dengan APJI untuk mengembangkan ini,” terangnya.
Masih dikatakan Irene, pada Asian Games 2018 nanti, makan idangan ini akan dihadirkan dalam paket wisata Indonesia. “Inikan suatu pelestarian kebudayaan yang mampu mendatangkan tamu mancanegara, pasti akan kita libatkan,” tuturnya. (wly/air/ce3)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!