Mal-Bandara Gunakan Sky Bridge

Ilustrasi

PALEMBANG – Konsep tangga untuk pembangunan light rail transit (LRT) akhirnya sudah disepakati. Rencananya, ada lima jenis tangga yang digunakan. Namun khusus bandara dan mal bakal menggunakan sky bridge.

Kepala Bidang Perkeretaapian Dinas Perhubungan (Dishub) Sumsel, Afrian Jhon, mengatakan, tangga untuk LRT awalnya memang masih berubah. Namun saat ini sudah memasuki desain akhir untuk tangga di LRT sepanjang 22,5 km tersebut. “Sudah dirapatkan dan ada desain akhir,” katanya kepada Sumatera Ekspres, kemarin (12/10).

Menurut Afrian, awalnya tangga LRT ini menggunakan ramp. Namun setelah dikaji di lapangan, untuk ramp harus menggunakan lahan yang cukup panjang. Terutama pada lahan milik warga. “Kalau untuk lahan milik pemerintah tidak ada masalah, tapi kalau lahan warga perlu waktu untuk pembebasan,” ungkapnya.

Makanya, beberapa titik yang tidak di lahan pemerintah dan area yang sempit dilakukan kajian. Disepakati, dari 13 stasiun tersebut menggunakan lima jenis tangga untuk turun naik penumpang. Yakni ramp, tangga biasa, travelator, lift dan eskalator. Ia mencontohkan, ada stasiun yang menggunakan tanggan dan juga lift. Lalu, eskalator dan ramp.

Sedangkan untuk titik di pusat perbelanjaan (mal) menggunakan eskalator, lift, dan juga ramp. Kemudian, ada juga yang menggunakan sky bridge, yakni di bandara, RSUD Provinsi, Palembang Icon Mall, Pasar Cinde, dan stasiun Jakabaring dan (Depo) OPI Mall. “Untuk titik tadi dipastikan ada sky bridge dan sudah mendapatkan izin,” tegasnya.

Masih kata Afrian, penentuan tangga tersebut berdasarkan beberapa kajian. Di antaranya, tingkat keramaian stasiun, lahan, kenyamanan hingga manfaat stasiun dan lainnya. “Banyak faktor dipertimbangkan agar keberadaan stasiun ini bermanfaat,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Project Management Unit Percepatan Penyelengaraan LRT Palembang, Ahmad Wahidin, menambahkan, pembiayaan pembangunan tangga LRT ditanggung PT Waskita Karya dan termasuk pada kontrak awal pengerjaan Rp10,9 triliun. “Sistem pembiayaan LRT ini menggunakan sistem design and build. Artinya, mendesain dan membangun sesuai dengan kebutuhan,” pungkasnya.

Sementara itu, progres tiga proyek untuk Asian Games 2018 di Bandara SMB II sejauh ini masih 35 persen. Seperti sky bridge hingga kini sedang tahap pekerjaan pengecatan rangka baja untuk atap. Sementara untuk proyek fix bridge kini tengah dalam pengerjaan struktur dan pemasangan conveyor belt untuk area check in bandara.

“Kalau persentase memang belum banyak mengalami perubahan. Masih menunggu penyelesaian struktur. Selain juga menunggu penyelesaian pabrikasi dari rel sky bridge,” ungkap General Manager (GM) PT Angkasa Pura 2 Bandara SMB II, Iskandar Hamid, didampingi Project Manager Sky Bridge dan Fix Bridge Bandara SMB II, Khaerul, kemarin.

Dijelaskannya, nantinya untuk pekerjaan besar meliputi pemasangan baggage handling system dan tiga unit garbarata (jembatan penghubung dari pesawat menuju sky bridge) hingga kini tengah dalam tahap pabrikasi di PT Bukaka, Cileungsi, Bogor. “Nantinya dibuatkan dua unit eskalator, dua unit travelator, serta satu unit lift untuk mempermudah turun naiknya penumpang dari dan menuju sky bridge,” ucapnya. (yun/kms/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!