Manfaatkan Komposit Karet, Naikkan Nilai Jual

Peserta seminar. foto: eko prasetyo sumeks.co.id

PALEMBANG – Besarnya potensi hasil perkebunan karet di Sumsel tidak membuat petani sejahtera. Pasalnya, meski produktivitas tinggi, harga komoditas unggulan Sumsel ini di pasaran dunia masih murah lantaran tingginya stok atau cadangan karet dunia. Mengantisipasi itu, Pusat Penelitian Karet bekerjasama dengan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Bappenas membuat suatu terobosan yakni membangun kanal blocking berbasis komposit karet alam. Kanal tersebut dibangun di areal perkebunan dan persawahan sebagai upaya mengatur tata kelola air di lahan gambut.

Direktur Pusat Penelitian Karet, Dr Karyudi mengatakan potensi gambut di Indonesia yang ada di tiga pulau yakni Sumatera, Kalimantan dan Papua seluas 15 juta hektar. Dimana persebarannya Sumatera seluas 43 persen, Kalimantan seluas 32 persen dan Papua 25 persen. Sekitar 30 persennya atau seluas 5 juta hektar dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan.

Nah, pemanfaatan lahan gambut berbeda dengan jenis lahan lainnya. Dibutuhkan pengelolaan air melalui metode kanalisasi. Selama ini, kanalisasi dilakukan dengan metode sederhana. Yakni dengan menahan air menggunakan kayu, besi atau beton. Tetapi, metode ini memiliki kelemahan lantaran kadar asam air gambut yang tinggi membuat bangunan penahan air mengalami kerapuhan. Sehingga perbaikan harus rutin dilakukan.

Baca Juga :  Warga Kabupaten ini Lirik Bawang

“Solusi dari permasalahan itu, pintu air atau blocking kanalnya dibuat dengan bahan dasar komposit karet. Sebab, bahan karet lebih tahan terhadap keasaman air gambut yang tinggi,” ujar Karyudi.

Menurut Karyudi, penggunaan komposit karet alam pada kanal bloking bisa menekan biaya perawatan. Pasalnya, usia komposit karet bisa bertahan 15-20 tahun. Sementara pintu air lainnya yang berbahan kayu atau besi hanya bertahan 4-5 tahun.

“Beton memang tahan lama. Namun, biayanya tinggi. Sehingga kurang efisien,” katanya.

Karyudi menuturkan metode pembuatan kanal blocking dengan komposit karet alam sudah diuji coba di dua daerah April 2017 lalu. Penggunaan komposiKabupaten Banyuasin dan Muara Enim. Hasil dari uji coba cukup efektif untuk mengendalikan permukaan air. “Keunggulan lainnya bahan baku karet sudah diproduksi di dalam negeri. Otomatis, dengan penggunaan karet komposit di seluruh lahan gambut bisa menambah permintaan dan menaikkan harga karet. Tak hanya itu, jika teknologi ini diterapkan di seluruh dunia maka permintaan akan karet juga semakin tinggi,” bebernya.

Dikatakannya, turunnya harga karet lebih disebabkan penggunaan bahan baku karet yang rendah. Sementara dari sisi penawaran cukup tinggi. Dimana stok karet dunia saat ini mencapai 21 juta ton. “Hal ini tidak sebanding dengan konsumsinya. Sehingga butuh inovasi dan terobosan baru terkait produk karet yang bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Baca Juga :  Pasang Spanduk Himbauan

Sementara itu, Project Team Leader ICCTF Bappenas, Sudaryanto mengatakan perkebunan yang berada diatas lahan gambut mengalami kendala minimnya sumber daya air. Sehingga kelembaban tanah kurang terjaga. Akibatnya, struktur tanah menjadi pecah serta dapat memicu kebakaran lahan. “Gambut sendiri menjadi penyebab emisi gas karbon paling besar di sektor lahan. Dimana 60 persennya berasal dari lahan gambut. Apabila lahan gambut dibiarkan kering, nantinya bisa melepas gas karbom ke udara. Disamping itu bisa menimbulkan bencana kebakaran hutan dan lahan,” terangnya.

Diungkapkannya, selain mengurangi emisi gas karbon, pengelolaan air di lahan gambut juga dapat mengurangi angka kebakaran lahan seperti yang terjadi di 2015 lalu. “Kalau lahannya lembab juga, tanaman yang ada diatasnya bisa tumbuh sempurna dan menghasilkan oksigen. Artinya selain berdaya ekonomis juga berperan dalam menjaga lingkungan,” ucapnya.

Sudaryanto berharap metode pengelolaan kanal ini dapat diterapkan oleh seluruh perusahaan perkebunan. “Kami sosialisasikan ke perusahaan, masyarakat serta pemerintah yang bergerak di sektor perkebunan. Jika perlus dibuat aturan khusus mengenai kanal bloking ini. Agar hasil karet petani bisa disalurkan  dan harganya dapat meningkat,” pungkasnya. (kos)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!