Masih Terpuruk

SULIT BANGKIT : Airlangga Sucipto penyerang Sriwijaya FC (kiri) support Alberto Goncalves yang sedang tertunduk lesu usai pertandingan hadapi Perseru di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, tadi malam (2/8). FOTO : KRIS SAMIAJI/SUMEKS

PALEMBANG – Sriwijaya FC finis di posisi 15 klasemen akhir putaran pertama Liga 1 2017. Pada laga pamungkas klub berjuluk Laskar Wong Kito ditahan imbang Perseru Serui 0-0 (0-0) di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, tadi malam (2/8).

Seluruh penggawa kesebelasan kebanggaan masyarakat Sumsel keluar lapangan dengan kepala tertunduk usai wasit Rully Ruslin Tambunan meniup peluit terakhir. Terlihat dari mimik wajah para pemain tidak kuasa menahan sedih.

Bagaimana tidak, kemenangan yang diharapkan untuk mendongkrak posisi pekan terakhir gagal total. Pasukan besutan Hartono Ruslan itu, lagi – lagi harus menerima hasil imbang.

Berbagi satu poin bersama Perseru, menjadi imbang kempat kali secara beruntun pada laga terakhir. Hasil yang membuat Yu Hyun Koo bersama teman-teman, masih terpuruk, belum beranjak dari posisi 15 klasemen.

Kini pemilik titel double winner edisi 2007/2008 itu, koleksi 21 poin hasil 17 main, 5 menang, 6 imbang, dan 6 tumbang. Sebetulnya, dalam pertandingan tadi malam skuat Jakabaring tampil menekan sejak kick off.

Hanya saja, meskipun mendominasi namun tim jersey kuning sulit membongkar pertahanan tim tamu. “Kita bermain menyerang dan mendominasi selama pertandingan. Tapi kita kesulitan dalam membongkar pertahanan mereka. Tim juga sering kehilangan konsentrasi karena mereka sering mengulur waktu dengan pura-pura cedera,” kata pelatih Sriwijaya, Hartono Ruslan usai laga.

Hartono sedikit menyayangkan drama yang dipertontonkan para pemain Perserui yang selalu mengulur waktu. Kondisi itu, secara psikis sangat memengaruhi permainan anak buahnya yang juga sedikit terpancing emosi.

“Saya juga tidak tahu kenapa bermain seperti itu. Apa karena memang mereka dilatih untuk itu. Ya karena setiap kita mulai naik menyerang, mereka tidur. Selalu terjatuh. Itu membuat kita jelas cukup sulit,” tambahnya.

Di babak kedua, sebenarnya tuan rumah berpeluang mencetak angka setelah bek Perseru Bilibig Dian Mahrus handsball di kotak penalti. Namun, Alberto Goncalves yang menjadi algojo gagal jalankan tugas dengan maksimal. Tendangan penyerang asal Brasil itu terbaca dan mudah ditangkap penjaga gawang Suklasto Efendi.

Baca Juga :  Malaysia? Siapa Takut!

Tuan rumah kembali diuntungkan dengan diusirnya pemain Perserui Boman Aime gara-gara membuka baju saat pertandingan berlangsung pada menit 67. Namun masih saja unggul jumlah pemain tak mampu dimanfaatkan untuk menjebol pertahanan lawan.

Berkali-kali pergerakan para pemain depan Sriwijaya digagalkan barisan pertahan lawan. Sampai peluit akhir skor kacamata tetap tidak berubah. “Kami harus segera berbenah untuk hadapi putaran kedua. Jeda sangat singkat, 5 Agustus sudah harus jalani tandang melawan Borneo FC,” terang dia.
Satu poin sangat berharga bagi Perseru. “Kami sangat bersyukur dengan hasil ini. Kita tahu sangat sulit dapat poin di sini. Torehan satu poin sudah cukup meski belum bisa mendongkrak posisi kita,” ujar Pelatih Perseru Serui, Agus Yuwono.
Agus juga sedikit menampik anggapan jika anak asuknya tidak bermain fair play. Ia menganggap pemain yang selalu jatuh di lapangan, murni kondisi pemain yang sangat kelelahan.
“Saya tidak pernah menginstruksikan pemain untuk tidak fair dalam pertandingan. Itu murni kondisi karena bisa dibayangkan dengan jadwal padat yang kami alami, dan perjalanan jauh dari Serui memang sangat membuat kami lelah. Setelah ini pun kami harus berangkat ke Kalimantan karena Jumat langsung akan menghadapi Persiba,” tambahnya.
Disinggung mengenai insiden kartu merah yang dialami bek tengahnya Boman Bi Irie menit 67, Agus mengaku kecewa. Sebagai pemain asing, seharusnya dia tahu aturan seluruh di dalam pertandingan saat berlangsung. Melepas kaus, dengan alasan apa pun seperti memeras keringat, tidak pernah dianjurkan.
“Ini saya sesalkan dan akan menjadi evaluasi kita ke depan. Tidak boleh terjadi lagi di pertandingan ke depan,” pungkasnya.
Sementara itu, hal mengejutkan justru terjadi di tim Perseru Serui usai pertandingan berlangsung. Salah satu penggawanya tertangkap membawa tas punggung dengan logo Bintang Kejora.

Hal ini sempat membuat seluruh pemain Perserui sementara diamankan. Mereka dibawa sementara ke Polresta Palembang, untuk diinterogasi lebih lanjut.

Waswas ke Liga 2

BAGIAN lain, ada kekhawatiran yang beralasan dari suporter Sriwijaya FC melihat tim kebanggaannya saat ini. Mereka takut tim berjuluk Laskar Wong Kito terdegradasi ke Liga 2 musim depan.

Baca Juga :  Gebuk Kepahyang 7-2, Persimura ‘Incar’ Juara Liga3 Bengkulu

Sinyal itu, tampak setelah Yu Hyun Koo bersama kolega kesulitan menjauh dari kejaran zona degradasi. Apalagi Sriwijaya FC betah di papan bawah setelah hanya mampu koleksi 21 poin dari 17 pertandingan.

“Harapan kami Sriwijaya dapat bermain lebih baik lagi pada putaran kedua. Komposisi pemain yang pas dan solid sehingga Sriwijaya dapat mengejar juara di liga bergengsi. Itu saja, tidak ada permintaan lain hanya juara,” kata Henny Agustri Kusumawati Firmansyah, ketua S-MAN Angel.

Henny, sapaan akrabnya, ingin ada perombakan di jajaran pelatih. “Kalau bisa Papa Gumbs (Keith Kayamba Gumbs) bisa kembali ke Sriwijaya. Meski kami tahu Papa Gumbs sedang sekolah pelatih lagi di luar negeri dan sudah terikat kontrak dengan klub lain,” tukas Henny.

Agung Fachrurrozi, presiden Ultras Palembang minta agar manajemen Sriwijaya harus melakukan perbaikan dengan cepat. “Menurut kami, pemain belakang dan playmaker kebutuhan mendesak Sriwijaya FC saat ini. Dua pemain dengan bernaluri bertahan ini sangat dibutuhkan di putaran kedua. Kami khawatir jika gak segera berbenah Sriwijaya FC turun ke Liga 2,” terang Agung.

Rasa waswas itu, diakuinya, semakin menjadi-jadi jika melihat pergerakan manajemen Sriwijaya FC di transfer window. Manajemen baru bisa mengimpor bek asing asal Portugal bernama Vitor Manuel dos Santos Bastos.

Tapi statusnya belum jelas. Apakah marquee player atau pemain biasa. Jika pemain biasa, maka Hilton Moreira atau Alberto Beto Goncalves yang akan jadi korban. Tapi jika dia marquee player maka Tijani Belaid yang dilego. Sudah statusnya belum jelas, kualitasnya juga belum bisa dipastikan karena dia harus melalui proses seleksi.

Diakuinya, jika kualitas Vitor sesuai kebutuhan tim, bagus buat Sriwijaya FC. Lini belakang tambah kuat jika Bio Paulin juga bisa main. Dengan lini belakang yang kokoh akan menambah ketenangan para striker mencetak gol.

Baca Juga :  Senang Kendalikan Pertandingan

Mengingat, fokus para penyerang selama putaran pertama Liga 1 lebih sering turun membantu pertahanan. Contoh Hilton Moreira atau Beto sering mem-back up lini tengah saat diserang. Padahal Beto termasuk striker yang sudah berumur.

Sementara para gelandang sibuk membantu lini belakang. Kondisi ini diakuinya tidak ideal untuk tim sekelas Sriwijaya FC. Sementara kebutuhan pemain untuk posisi lainnya belum juga muncul.

“Jika melihat klub lain sudah agresif datangkan pemain untuk perkuat tim. Sementara Sriwijaya FC belum jelas siapa yang direkrut sementara untuk yang keluar sudah jelas. Maldini Pali dan Hendra Sandy. Jujur, kami belum puas dengan pergerakan Sriwijaya FC di transfer window ini,” tukasnya.

Kelompok suporter Sriwijaya FC lainnya, Singa Mania, juga gelisah dengan aksi manajemen di bursa transfer pertengahan musim ini. Skuat Sriwijaya FC belum menunjukkan perubahan berarti. Padahal putaran kedua sudah mulai 4 Agustus, sementara bagi Sriwijaya FC 5 Agustus dengan menantang tuan rumah Borneo FC di Kalimantan.

“Kami belum puas dengan pergerakan Sriwijaya FC di transfer window. Memang sudah didatangkan bek tengah asing, tapi belum tahu juga apakah dia pemain bagus atau gak. Marquee player atau gak. Kalau memang marquee player, masak iya mau diseleksi,” ungkap Ketum Singa Mania, Ariyadi Eko Neori, Rabu (2/8).

Sriwijaya FC memang butuh bek tangguh di jantung pertahanan. Rapuhnya pertahanan selama putaran pertama memaksa Sriwijaya FC kebobolan 21 gol. Itu menjadi kebobolan terbanyak ketujuh dari 18 tim Liga 1. Beruntung lini depan bisa mengimbanginya dengan menabung 21 gol juga ke gawang lawan. Manajemen juga dianggapnya belum bergerak menutup lubang di sektor lain. Ini karena sektor gelandang dilihatnya butuh penguatan. Terutama pos gelandang bertahan.

“Kami sih inginnya pemain yang datang gak butuh waktu lama adaptasi. Misal, pemain tersebut pernah satu tim dengan pemain yang akan menjadi tandem. Atau mungkin yang berkualitas dan punya nama. Biasanya pemain berkualitas cepat adaptasinya,” jelasnya. (cj11/kmd/ion/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!