Masuk E-Commerce, Online Sumbang 35 Persen

PROMO 12.12: Lazada sambut Harbolnas 2017 dengan menggelar promo 12.12 Diskon Harbolnas. Foto: Budiman/Sumatera Ekspres

Pengusaha UMKM di Sumsel tak mau kehilangan akal. Mereka pun ikuti tren belanja supaya tetap survive. Tak hanya jualan di offline, banyak UMKM pun ramah online.
————————————–

ERA teknologi tak bisa dibendung. Itu pula yang mengubah gaya hidup (life style) masyarakat salah satunya pola berbelanja. Tak heran jika belanja online via gadget pun kian diminati karena serba praktis, mudah, dan murah.
Kondisi ini membuat pengusaha UMKM harus ikut menjajaki market online. Tak hanya mengandalkan toko offline atau penjualan langsung, tapi untuk survive (bertahan), memasarkan via online salah satu strategi cerdas.
Kepala Bidang Diklat dan Pengembangan Usaha Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Sumsel, Andhy BR mengatakan saat ini sudah cukup banyak UMKM yang masuk ke pasar online. “Banyak juga di antara mereka yang punya ‘dapur’ produksi barang,” ujarnya, kepada Sumatera Ekspres, kemarin.
Tapi meski jualan online, UMKM ini tetap memasarkan produk lewat toko offline yang sudah lebih dulu ada. “Mereka menjual online agar bisa memperluas pasar, memperbesar omset,” sebutnya. Beberapa pelaku UMKM itu bergerak di bidang aksesoris dan konveksi, lalu ada juga yang kuliner contohnya Mie Berkah. “Selain menjual di warung sederhana, pedagang juga memanfaatkan aplikasi via online,” imbuhnya.
Terbukti, transaksi online sudah cukup menjanjikan. Untuk omset, rata-rata bisnis online menyumbang sekitar 35 persen, dan offline 65 persen. “Jadi kontribusi penjualan online itu sudah cukup besar. Kami melihat trennya ke sana,” ujarnya. Itulah kenapa Akumindo Sumsel pun mendorong UMKM untuk menjajaki bisnis online. “Belum lama ini kami ikut memberikan pelatihan e-commerce kepada 60 pengusaha UMKM secara gratis,” cetusnya.
Lagipula, bisnis online ini bisa menekan cost (biaya) investasi seperti membeli toko. Bayangkan saja bila membuat cabang toko atau resto di area atau lokasi yang besar, butuh biaya mahal. Tapi jualan online sudah memangkas biaya operasional untuk mendirikan toko offline itu. Dia pun mengingatkan bisnis online ini harus dikembangkan marketing dengan membuat jaringan reseller.
Selain Akumindo, Pemda pun ikut berkontribusi mendorong UMKM agar ikut berbisnis online. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Palembang, Drs Edwin Effendi MSi menerangkan pihaknya bekerja sama dengan Kominfo dan beberapa universitas untuk sharing teknologi terkait tren belanja online bagi UMKM. “Misalnya kami gandeng STMIK MDP, bagaimana produk UMKM Palembang bisa di-share juga ke media sosial,” ujarnya.
Kabid Pemberdayaan Usaha Mikro Diskop dan UKM, Juana Ria Ssos MM menambahkan, pihaknya sudah memfasilitasi pelaku UMKM dalam memasarkan produk termasuk via online. Sejak Maret lalu, mereka bekerja sama dengan PT Nurbaya dan PT Pos Indonesia terkait pengiriman dan penjualan online. “Kita daftarkan 50 pelaku UMKM secara gratis,” katanya.
Nah, November 2017 kemarin, ada 100 UMKM terdaftar di PT Shopee. “Pelaku UMKM ini kita berikan pelatihan secara tekhnik, kerjasama dengan Kominfo dan perusahaan e-commerce,” ujarnya. Dengan bekal ilmu memadai, diharapkan UMKM pun bisa bersaing di market online.
Plt Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disprindag) Kabupaten PALI, Irawan Slaiman MSI mengatakan, ke depan penjualan online tak dipungkiri bakal kian pesat, berkat kemajuan teknologi yang terus berkembang.
“Bagi kita di daerah pun harus harus mempersiapkan hal itu. Jadi ke depan kita tetap mampu bersaing dalam menjual hasil kerajinan khas PALI via online,” ujarnya. Itu supaya produk UMKM Kabupaten PALI pun dikenal masyarakat luas. Untuk itu pihaknya pun akan mewacanakan diadakan sosialisasi ataupun pelatihan terkait bisnis online ini.
Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Pemkab Ogan Ilir, Ir H Tapip mengatakan, memang saat ini mulai tren pemasaran online. “Tapi itu lebih digeluti para kaula muda,” kata Ir H Tapip.
Munculnya pergesaran pedagang offline ke online karena kecanggihan teknologi. “Ya itulah, manfaat teknologi. Bisa mengakses yang sulit menjadi mudah, yang jauh lebih dekat, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan benar, agar teknologi itu lebih banyak manfaat ketimbang mudoratnya,” katanya.
Terpisah, Ekonom Sumsel dari Universitas Muhammadiyah Palembang, DR Sri Rahayu SE MM menerangkan bisnis online di 2018 bakal semakin menguasai seluruh aspek kehidupan dan akan menjadi tren yang makin digandrungi konsumen.
“Jadi mau survive, mau maju, ya online harus diterapkan. Ini peluang bisnis yang besar bagi mereka yang bisa melihat ceruk pasar online,” terangnya. Apalagi banyak manfaat menjajal bisnis online, seperti tidak perlu tempat berdagang sehingga hemat biaya, penerapan paperless, dan efisiensi dalam transportasi fisik sehingga membantu mengurangi kemacetan dan penghematan bahan bakar serta resiko kecelakaaan.
Lalu efisiensi waktu. Dalam jangka panjang bisa meningkatkan kesehatan, karena berkurangnya aktivitas berbelanja di pasar menghindari dari risiko stres di kemacetan lalu lintas maupun ketidaknyamanan cuaca. “Tetapi ada juga sisi negatif, bisnis kecil harus mampu adaptasi kalau ingin tetap eksis dan akan kurangi silaturahmi,” pungkasnya. (rip/qiw/ebi/sid/bis/fad)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!