Melatih Kemampuan HOTS Siswa

Setelah pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk tingkat SMA, akun instagram milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan @kemdikbud.ri dibanjiri oleh keluh kesah dan kritikan. Ini terkait sulitnya soal-soal yang diujikan. Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy menanggapi hal tersebut dengan mengatakan bahwa sebenarnya soal-soal yang dianggap sulit tersebut adalah soal-soal HOTS (Higher-Order Thinking Skills), soal-soal yang memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk mengerjakannya.
Beliau menambahkan bahwa soal-soal HOTS tersebut persentasenya kurang dari 15 persen. Gagasan dasar disisipkannya soal-soal HOTS untuk menyiapkan generasi milenial yang memiliki karakter kuat, mampu memasuki arena persaingan tingkat tinggi, serta tidak lembek dan cengeng.
Keinginan pemerintah meningkatkan tingkat berpikir generasi milenial memang perlu didukung oleh semua pihak. Pencapaian nilai para siswa Indonesia yang berusia 15 tahun yang dipilih secara acak pada tahun 2015 dalam PISA (Programme for International Student Assessment), yaitu sistem ujian yang sifatnya diagnostik yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) setiap tiga tahunan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia, menunjukan bahwa kompetensi sains, matematika, dan membaca masih berada pada posisi di bawah rata-rata OECD. Generasi emas 2045 perlu dipersiapkan mulai dari sekarang agar cakap dalam menghadapi persaingan tingkat tinggi.

Apa itu HOTS?
Gagasan tentang HOTS pertama kali dicetuskan oleh Susan M. Brookhart pada 2010 dalam bukunya yang berjudul ‘How to Assess Higher-Order Thinking Skills in Your Classroom’. HOTS tidak sekedar mengingat kembali informasi, tapi mencakup kemampuan mentransfer satu konsep ke konsep lainnya, memproses dan menerapkan informasi, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan menelaah ide dan informasi secara kritis bahkan membuahkan ide-ide baru. HOTS diterapkan baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam proses penilaian melalui pembuatan soal-soal.
Soal-soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi dirancang sedemikian rupa. Sehingga materi yang akan ditanyakan diukur dengan perilaku sesuai ranah kognitif Bloom pada level analisis, evaluasi dan mengkreasi. Perlu diketahui bahwa seorang ahli psikologi pendidikan yang bernama Benjamin S. Bloom (1956) membagi ranah kognitif ke dalam 6 tingkatan, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pembagian ranah kognitif tersebut kemudian dikenal sebagai taksonomi Bloom. Lorin W. Anderson (1990) kemudian merevisinya menjadi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Soal-soal yang masih berada pada level mengingat dan memahami dikategorikan sebagai soal-soal yang hanya memerlukan kemampuan tingkat berpikir rendah (LOTS/Lower-Order Thinking Skills). Sementara itu, soal-soal yang sudah dirancang pada level menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta dikategorikan sebagai soal-soal HOTS.

Baca Juga :  Soal Diambil Tiap Pagi

Bagaimana menerapkan HOTS?
Penerapan HOTS bukan semata-mata membuat soal-soal yang menuntut tingkat berpikir tinggi, namun juga didahului oleh pembelajaran pada level HOTS. Tidak semudah membalikan telapak tangan memang, mengingat guru harus benar-benar memiliki komitmen dan kemampuan untuk merancang dan menerapkan pembelajaran yang di dalamnya mencakup model, metode, strategi, pendekatan dan teknik yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Model-model pembelajaran seperti pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), pembelajaran inkuiri (inquiry learning), dan pembelajaran dengan pemecahan masalah (problem-solving learning) merupakan model-model pembelajaran yang memungkinkan untuk diterapkannya HOTS.
Guru adalah ujung tombak dalam menerapkan HOTS. Langkah sederhana apapun yang dilakukan oleh seorang guru untuk menerapkan HOTS dalam pembelajaran perlu diapresiasi. Guru di era milenial harus mulai meninggalkan pembelajaran yang hanya menuntut siswa untuk datang, duduk, diam, dengar, catat, dan hafal. Pembelajaran yang menekankan pada hafalan untuk menghadapi ulangan harian maupun ujian bukanlah pembelajaran HOTS. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu. Namun menjadi fasilitator yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang konstruktivis.
Dalam pembelajaran yang konstruktivis, siswa berkolaborasi dengan siswa lainnya untuk membangun pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan yang sudah dimiliki melalui observasi, eksplorasi, diskusi secara kritis dan kreatif, dan presentasi. Guru hanya memberi arahan, rambu-rambu, umpan balik, dan penguatan.
Dalam perancangan soal-soal baik itu untuk latihan maupun ulangan, pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bersifat hafalan konsep perlu dikurangi bahkan perlu mulai ditinggalkan. Guru diharapkan tidak lagi sering menanyakan apa, siapa, di mana. Tetapi harus sering menanyakan mengapa, bagaimana, dan apa yang akan terjadi jika. Siswa harus selalu dilatih untuk lebih menangkap makna yang tersirat daripada tersurat. Pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan lebih dari satu jawaban benar perlu ditingkatkan.
Sosialisasi dan pelatihan tentang pembelajaran dan penilaian HOTS perlu dilakukan secara seksama dan merata. Dan yang tak kalah pentingnya adalah komitmen sekolah untuk secara terus-menerus melakukan supervisi terhadap penerapan pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS.

Baca Juga :  Soal Diambil Tiap Pagi

Peran orang tua
Sekolah bukan satu-satunya penentu keberhasilan siswa. Orang tua, khususnya orang tua yang anak-anaknya berada pada tingkat pendidikan dasar, juga memiliki andil dalam mengawali pembiasaan berpikir kritis dan konstruktif.
Dalam pendampingan belajar di rumah, orang tua diharapkan tidak memaksakan anak untuk menghafal atau memberi drill yang akan membuat anak tertekan. Anak perlu dihadapkan pada realita ketika ingin mengenalkan pengetahuan baru atau mengulas apa yang anak dapatkan di sekolah. Anak perlu ditantang untuk menerapkan pengetahuan yang sudah dipahami dalam realita. Pembelajaran melalui simulasi-simulasi, misalnya transaksi jual beli untuk menerapkan kompetensi matematika, sangat mendukung fungsi kritis dan kreatif anak.
Orang tua perlu lebih bersikap jeli dalam menyikapi tentang lembaga bimbingan belajar maupun les privat untuk anak pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah. Mencarikan lembaga bimbingan belajar atau les privat bukanlah mencarikan orang yang hanya dibayar untuk mengerjakan PR atau tugas-tugas anak saja, atau untuk melatih hafalan bank-bank soal beserta jawabannya semata.
Paradigma sebagian masyarakat (orang tua siswa) tentang belajar harus diluruskan. Belajar bukanlah semata-mata sebuah proses yang tujuan akhirnya adalah menghafal dan memahami pengetahuan yang pada akhirnya mendapatkan nilai pada rapot maupun ijazah sekolah saja. Hal yang lebih utama adalah bahwa pengetahuan yang anak dapatkan selama bertahun-tahun harus mampu diterapkan dalam kehidupan nyata dan harus mampu merangsang fungsi kritis, kreatif, dan inovatif dalam persaingan di era milenial. Mewujudkan generasi muda yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah tanggung jawab semua pihak baik pemerintah melalui kemdikbud, masyarakat, orang tua, sekolah, maupun guru. (**)

Baca Juga :  Soal Diambil Tiap Pagi

Oleh: Daniel D. Lesmana SPd
Guru SMA Xaverius 1 Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!