Melawan Arus, Alasan Lebih Cepat

ALIHKAN ARUS: Polisi dan anggota Dishub Kota Palembang berjaga di simpang lima Pasar Padang Selasa, kemarin (1/1). Foto: Muhammad Hatta/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Pemberlakuan jalur satu arah (one way) di sekitar Jl Srijaya Negara dan Padang Selasa, Bukit Besar, kemarin (11/1), cukup efektif mengatasi kemacetan. Langkah ini khususnya untuk memecah kemacetan yang sering terjadi tepat di sekitaran gerbang kampus Universitas Sriwijaya (Unsri) Bukit Besar.
Dari pantauan Sumatera Ekspres, sekitar pukul 16.00 WIB yang juga waktu yang sering terjadi kemacetan, justru kini lebih lengang. Tidak ada penumpukan kendaraan lagi. Begitupun kendaraan yang datang dari Jl Lunjuk jaya, langsung diarahkan menuju satu arah.
Namun, pemberlakuan jalur satu arah masih belum diketahui sebagian masyarakat. Karena terpantau ada beberapa pengendara yang nekat untuk bejalan melawan arus. Alasannya pun hampir sama, yakni tidak tahu jika kawasan tersebut diberlakukan jalur satu arah (one way)
“Dak tau kalo jalannyo jadi satu arah. Aku jugo lawan arus kareno dak jauh lagi. Repot kalau harus mutar ke arah Padang Selaso,” kelit Wawan, salah satu pengendara motor asal Bukit Kecil di depan petugas yang menghentikannya.
Ridho, salah satu mahasiswa juga nekat untuk melawan arus karena mengaku lebih hemat waktu. Ketimbang harus berjalan mutar mengikuti arus, seperti yang diterapkan. “Kareno yang aku tuju dak jauh, paling cuma 20 meter. Jadi ambek jalan pinggir bae, sambil lawan arah,” cetusnya.
Sementara itu, Nesty, pengendara mobil asal Plaju juga sempat bingung ketika masuk Jl Srijaya Negara. Karena ada beberapa petugas polisi mengarahkan kendaraannya menuju ke Jl Padang Selasa. “Agak kaget karena baru pertama. Tetapi secara keseluruhan lumayan bagus karena arus tidak terlalu macet lagi,” tuturnya.
Mahasiswi Poltek Unsri ini juga memberi masukan bahwa Jl Padang Selasa masih tidak terlalu lebar. Khususnya di depan Pasar Padang Selasa. Hal itu akan menyulitkan pengendara bila ada kendaraan lain yang berhenti atau parkir di pinggir jalan, membuat arus lalu lintas tersendat.
“Harusnya tidak ada lagi yang boleh berhenti mendadak atau parkir di pinggir jalan pasar. Harus benar-benar jalannya bebas. Sehingga pengendara plong untuk mutar lagi ke jalan depan Brimob menuju Unsri,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Palembang, Kurniawan, mengatakan, penerapan jalur one way membuat arus lalu lintas lebih lancar. Namun, jalur alternatif menjadi macet seperti di Jl Kemang Manis. “Kita menerjunkan 50 personel di kawasan itu,” terangnya.
Selain itu, lanjut dia, pihaknya berencana menerapkan aturan serupa untuk di Jalan Sekip, kawasan Patal, Taman Kenten, dan Lebung Siarang. Namun semuanya masih dalam kajian.
Dalam mengatasi kemacetan di 2018, Dishub Kota Palembang akan membangun Area Traffic Control System (ATCS) yang dipusatkan di Kantor Dishub Kota Palembang. Sebanyak 10 titik jalan akan dipasang CCTV dengan kualitas baik. “Titik yang dipasang terbilang crowded seperti wilayah Sekip, Patal, simpang lima DPRD, Angkatan 66, Kertapati, Simpang Charitas, simpang bandara, dan Angkatan 45. Kami nantinya bisa mengatur lampu jalan dengan panduan dari CCTV saja,” jelasnya.
Nantinya program tersebut juga terkoneksi dengan sound yang bisa memantau jalan. Untuk program ini, Pemkot Palembang menganggarkan dana Rp1 miliar untuk control room, dan Rp10 miliar dari pemerintah pusat untuk jaringan, kamera, CCTV, dan perlengkapan lainnya.
Saat ini, ungkap dia, program tersebut proses tender. “CCTV yang dibeli bisa di-zoom sampai ke pelat nomor polisi kendaraan. CCTV ini juga bisa digunakan oleh pihak kepolisian dan terkoneksi ke Lawang Jabo,” pungkasnya. (cj11/qiw/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!