Meluncur Juni, Transfer Antarbank Rp4 Ribu

Ilustrasi

PALEMBANG – Biaya transfer antarbank via ATM bakal lebih murah. Jika semula Rp6.500 per transaksi, maka setelah program Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) berjalan, biayanya akan turun menjadi 4.000 per transaksi. Demikian juga saat transaksi di mesin EDC, biaya transaksi merchant discount rate (MDR) hanya 0,15 persen untuk bank yang sama (on us), dan 1,0 persen untuk bank berbeda (off us).

Diproyeksi, program GPN efektif berjalan pada Juni 2018. Saat ini beberapa bank sudah merancang kartu debit berlogo GPN. Menyiapkan infrastruktur serta jaringan pendukung. Baik pada mesin ATM maupun EDC. Itu diakui Deputi Direktur Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, M Seto Pranoto.

“Untuk pelaksanaannya kita harus memastikan perbankan sudah mengenakan logo GPN pada kartu debitnya yang baru. Logo GPN berupa burung garuda,” ujarnya kepada Sumatera Ekspres, kemarin (10/3).

Dia menerangkan, BI sendiri akan mengecek langsung kepesertaan bank. Berikut kartu debit GPN dan infrastrUktur penunjangnya. Sebab GPN ini akan berjalan jika bank sistem atau jaringan bank yang jadi peserta sudah siap. “Sehingga GPN itu berjalan dengan maksimal,” imbuhnya. Dia menyebut, biaya transaksi nanti lebih murah dibanding ATM Prima, Link, MasterCard, maupun VISA.

Bank yang ikut menjadi peserta GPN, transfer sesama bank tetap gratis alias tidak dikenakan biaya. Sementara jika antarbank ada biayanya namun lebih murah. “Tetap ada biaya, kan mereka ada biaya listrik, investasi, pengelolan sistem, dan lain sebagainya. Tapi tentu lebih murah, seperti transfer antarbank dari Rp6.500 per transaksi menjadi Rp4.000,” imbuhnya. Hanya saja, pihaknya belum bisa memastikan kapan peluncuran kartu debit GPN secara massal. Masih menunggu instruksi BI Pusat.

Seto menjelaskan, GPN ini sebagai wujud interkoneksi (saling terhubung) antar-switching dan interoperabilitas. Langkah ini akan membuat perbankan lebih efisien dalam hal pembangunan jaringan mesin ATM. “GPN tertuang dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 19/10/PADG/2017, tanggal 20 September 2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional/National Payment Gateway (PADG GPN),” rincinya.

Baca Juga :  Dana Bos Mulai Ditransfer

Deputi Direktur Pusat Program Transformasi Bank Indonesia, A Donanto H Wibowo, menyebut pihaknya sudah sosialisasi ke bank-bank di Sumsel terkait GPN ini. Tahap pertama BI akan menggarap koneksi ATM dan kartu debit untuk masuk ekosistem GPN. Selanjutnya baru uang elektronik dan e-commerce, termasuk kartu kredit.

Ini penting, sebab sistem pembayaran yang ada sekarang juga tidak efisien karena banyak kartu, banyak EDC, dan mesin ATM. Namun tidak dapat saling memproses kartu atau instrumen pembayaran ritel pihak lain. “Bahkan jika ditelaah kondisi itu berdampak pada pengeluaran devisa yang tak perlu, seperti impor kartu dan mesin EDC,” paparnya.

Donanto menambahkan fee atau biaya transaksi pembayaran saat ini masih tinggi dengan kisaran 1,6-2,2 persen, dibandingkan negara tetangga 0,2 – 1 persen.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo menyebut GPN efektif Juni 2018, setelah peluncuran sekitar Mei 2018. “Saat ini persiapan bank di Tanah Air sudah 60 persen. Tiap dua minggu kita monitor bank membuat kartu GPN ini,” imbuhnya. Total akan ada 115 bank yang terkoneksi dalam GPN.

Terpisah, beberapa bank sejauh ini sudah menyiapkan kartu debit GPN dan infrastruktur penunjangnya. Head of Consumer Business BNI Wilayah Palembang, Anak Agung Gede Putra, mengatakan, untuk soft launching kan sudah dilakukan BI. “Tapi peluncuran massal ke nasabah kita belum tahu, masih menunggu BI dan OJK. Karena kita hanya peserta,” tuturnya. Proyeksinya sendiri sekitar Mei 2018 nanti.

Meski demikian, BNI sendiri sudah siapkan kartu debit berlogo GPN. “Untuk transaksi dalam negeri kita prioritaskan pakai GPN ini. Tapi transaksi luar negeri tetap Master Card dan VISA, makanya kartu debit kita nanti bisa saja 2 logo GPN dan Master Card atau Visa,” imbuhnya. Nanti, kata dia, nasabah bisa melakukan penggantian kartu. Walau begitu, kartu debit yang lama, tanpa logo GPN pun, bisa langsung connect ke GPN.

Baca Juga :  Pakai Tambang, Tarik Mesin ATM

“Yang kita atur ini kan cuma biaya transaksi saja, tidak mesti ada perubahan kartu. Biaya transfer sesama BNI tetap berlaku ketentuan BNI, tapi yang antarbank itu diatur BI dalam GPN,” bebernya. Selain kartu debit, BNI juga melakukan penyesuaian mesin ATM maupun EDC ke sistem GPN. Dan saat ini semua ATM BNI sudah siap. “Ini jadi efisiensi cost, ujung-ujungnya pelayanan kepada publik menjadi lebih murah,” tuturnya.

Tidak itu saja, GPN kan sinkronisasi antarbank. Dengan begitu, justru seharusnya tidak butuh penambahan ATM, sehingga efisiensi operasional perbankan. “Reduce cost dan impact baik buat pasar. Secara dampak ke fee based akan berpengaruh, jika bicara per transaksi. Tapi kan jumlah transaksi akan naik sehingga tidak masalah. Justru berpotensi baik,” tegasnya.

Wakil Pemimpin Wilayah BRI Palembang, Susilo Sudana juga menyebut, BRI sudah keluarkan kartu debit GPN, tetapi saat ini masih uji coba di beberapa kantor cabang saja. Sedangkan kartu kredit belum ada, karena GPN sementara ini baru untuk kartu debet. “Kami siap jika GPN ini akan diberlakukan,” tuturnya.

Terpisah, Bank BUMD pun akan ikut program GPN seperti Bank SumselBabel dan Bank DKI. Sebab, GPN atau National Payment Gateway yang mendukung interkoneksi dan interoperabilitas sistem pembayaran nasional akan membuat bank berjejaring daerah jangkau seluruh Indonesia.

Sekretaris Perusahaan Bank SumselBabel, Faisol Sinin, mengaku, pihaknya segera bergabung dengan GPN. “Itu kan wajib bagi bank, tapi tentu bertahap. Target kita juga tahun ini,” ujarnya, kemarin. Namun sebelum itu pihaknya harus menyiapkan logo GPN untuk penerbitan pada kartu debit BSB. Selain itu menunggu perusahaan switching yang ditunjuk untuk mengelola GPN ini.

Baca Juga :  Terima SMS Banking, Oalaaa.... Tabungan Ibu ini Terkuras

“Kalau sudah ada perusahaannya, kita baru bisa kerja sama,” ujar dia. Untuk sementara, Faisol menyebut GPN menyasar kartu debit. Dalam GPN, biaya yang dikenakan atas transaksi di mesin EDC maupun ATM akan seragam. “Sebab kita kan hanya peserta jadi ikut,” lanjut dia.

Bagi BSB, program GPN justru sangat baik dan menolong nasabah khususnya yang transfer antarbank, karena biaya lebih murah. “Selain itu uang kita tidak berputar di luar negeri, karena GPN ini kan khusus transaksi dalam negeri. Kalaupun fee based income berkurang, Faisol mengaku itu tak jadi soal karena bank bisa mencari lini bisnis lain. “Tapi sebenarnya GPN ini ada biaya untuk transaksi antarbank, meskipun tidak besar,” imbuhnya.

Pimpinan KCP Bank DKI Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Kgs M Umar, menjelaskan rencana bisnis bank (RBB) 2018 Bank DKI salah satunya masuk GPN. “Tapi memang sementara baru bank umum dulu yang ikut. Kita BUMD akan menyusul, proyeksinya tahun ini juga,” kata dia.

Dia pun menyebut GPN ini akan menguntungkan Bank BUMD yang jejaringnya masih minim, tapi nasabahnya nanti bisa melakukan transaksi murah di seluruh Indonesia. “Artinya kami bisa menggaet market lebih luas lagi dan nasabah Bank DKI juga akan diuntungkan dengan program ini,” terang mantan Pemimpin Seksi Layanan Nasabah Bank DKI Cabang Palembang ini.

Sebab, pengenaan biaya transaksi seragam antarbank. Saat ini yang berlaku di Bank DKI, sekali transfer contohnya itu Rp6.500 per transaksi antarbank berbeda. Dengan masuk GPN, maka biaya transaksinya akan turun menjadi Rp4.000 per transaksi. Demikian juga dengan transaksi di mesin EDC juga akan lebih murah. (rip/cj10/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!