Membangun Generasi Literasi

Umumnya, perayaan hari Kartini diisi dengan berbagai lomba, antara lain lomba berbusana kartini, lomba berbusana berbagai daerah, dan lomba memasak. Ada pula lomba yang bersifat edukatif, seperti cerdas cermat seputar Kartini, membuat tulisan tentang Kartini, atau membuat dan membaca puisi dengan topik Kartini. Pokoknya, 21 April tak pernah terlewat dari benak anak bangsa untuk mengapresiasi perjuangan Kartini pada abad ke-19 yang lalu.
Sayangnya, tidak banyak yang tahu betapa Ibu Kartini hatinya gundah. Anak-anak muda saat ini menyebutya dengan “galau”. Kartini meng-galau-kan pendidikan kaumnya. Kartini meng-galau-kan kitab suci Alquran yang belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia, sehingga sangat sulit dipahami orang awam. Kartini tidak hanya haus belajar, tetapi bercita-cita agar kaumnya pun memiliki rasa dan kesempatan yang sama.
Ke-galau-annya itu diungkapkannya di dalam surat-suratnya kepada Nyonya Rosa Abendanon, istri Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. Surat-surat itu ditulis saat usianya 23 tahun. Kartini hanyalah lulusan sekolah rendah Eropa. Akan tetapi, ide-idenya untuk bangsa Indonesia jauh lebih matang dari usia dan pendidikannya. Tidak kurang dari 115 pucuk surat Kartini dikumpulkan Abendanon. Setelah tujuh tahun berpulangnya Kartini, surat-surat yang inspiratif ini pun diterbitkan dengan judul Door Duisternis Tot Licht ‘Dari Kegelapan Menuju Cahaya’ yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi ‘Habis Gelap Teritlah Terang’.
Di zaman itu, perempuan-perempuan umumnya hanya “bicara keperempuanan”, tetapi tidak dengan Kartini. Ia bicara Quran, ia bicara pendidikan, ia bicara sekolah, ia bicara literasi, ia bicara nasib bangsa Indonesia. Ia tidak bicara tentang dirinya atau nasibnya karena orang yang senantiasa sibuk mengurus dirinya saja, tentu tak sempat mengurus amanah yang lebih besar.
Tatkala seorang perempuan yang sehari-harinya disibukkkan dengan topik berat badan, gagal diet, belanja, asesoris, model baju, rias wajah, dan segala tetek bengek pribadinya melulu, kapan akan memikirkan nasib bangsanya. Kapan ia punya ide memajukan bangsanya.
Surat-surat Kartini mengindikasikan bahwa Beliau telah memiliki jiwa literasi. Beliau telah menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana yang disampaikan Allah kepada Rasulullah saw pada wahyu pertama Iqro’. Seorang khalifah harus banyak membaca, banyak belajar, banyak menimba ilmu. Melalui ilmu ia dapat mencerdaskan bangsa. Melalui ilmu ia dapat memberikan pencerahan.
Melalui ilmu, bangsa yang besar ini tidak hanya menang jumlahnya, tetapi tinggi derajatnya, sesuai dengan janji Allah di dalam Alquran surat Almujadalah, ayat 11, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘berlapang-lapanglah di dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan”.
Di zaman kini, tentu harapan Ibunda Kartini sebagian besar sudah terlaksana. Begitu banyak perempuan yang tidak hanya menjadi istri, tidak hanya berpredikat sebagai ibu, tetapi juga menjadi perempuan-perempuan yang memiliki “panggung” di tengah masyarakat. Tidak diragukan lagi kiprah perempuan (Indonesia) saat ini. Sangat banyak perempuan yang berprofesi sebagai guru, tenaga kesehatan, pengusaha, birokrat, menteri, bahkan ada yang menjadi presiden.
Namun, Kartini-Kartini masa kini sungguh memiliki tugas yang tidak ringan. Di sana sini alarm berdengung kencang dengan berbagai pemberitahuan: Indonesia darurat miras, darurat narkoba, darurat ghibah, dan darurat kekerasan. Dan peran Kartini sangat besar dalam berperang melawan musuh-musuh bangsa tersebut.
Melalui dongeng-dongeng yang mengedukasi, Kartini-Kartini mestinya tetap berkesempatan membelai putra-putri mereka sambil bercerita hingga bermuara pada munculnya putra-putri yang berkepribadian santun dan penuh kasih sayang. Melalui lantunan ayat-ayat Alquran yang diperdengarkan kepada zuriyatnya secara berkesinambungan akan lahir generasi yang cinta Allah dan Rasul-Nya, generasi rabbani, yang cerdas akal dan cerdas hati. Melalui komunikasi dengan managemen waktu yang berkualitas akan hadir generasi-generasi yang lembut hati, tetapi tegas dalam pendirian.
Mari lanjutkan perjuangan Kartini di rumah-rumah masing-masing, sehingga akan menghasilkan komunitas bangsa yang kuat dan berkualitas yang lahir dari rahim-rahim ibu-ibu yang cerdas. Selamat hari Kartini. Selamat membangun generasi literasi. (*)

Oleh : Izzah Zen Syukri*
Pengasuh Ponpes Muqimus Sunnah dan Pengajar FKIP Unsri

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!